
Keberangkatan Vano pun tiba, dia sudah bersiap sejak pagi dan akan pergi menggunakan mobil milik Bram yang memang sengaja ia simpan disana.
"Ayah jangan lama" rengek Andreas, entah kenapa sejak semalam ia terus saja rewel dan merengek jangan pergi pada Vano.
"Tidak sayang, nanti sore juga pulang lagi kesini" jelas Vano lembut.
Andreas menatap kepergian sang Ayah dengan air mata yang terus saja menetes dan rontaan ingin ikut.
Ayah, Ibu serta John merasa heran melihat nya, pasalnya bukan hanya kali ini Vano pergi namun Andreas tak pernah seperti ini.
"Kenapa ganteng?" tanya John saat Andreas menatap nya.
"Kenapa Ayah pergi, aku gak mau Ayah pergi dan gak kembali lagi"
"Aku semalam mimpi kalau Ayah gak pulang lagi, ia malah tidur saja di sana" jelas Andreas.
Deg.
Jantung Ibu berpacu dengan cepat, dia kaget mendengar bahwa Andreas punya alasan sendiri ketika rewel saat sang Ayah akan pergi.
"Tidak akan Nak, Ayah akan pulang kembali dan main dengan Andre" jelas Ayah dengan lembut.
Setelah puas menangis, Andreas kembali terlelap dengan masih ada isak tangis dari mulut mungil nya.
Ibu serta Ayah meninggalkan nya sendirian di kamar, mereka akan membantu John membuka Restoran sebentar dan setelah nya akan kembali lagi.
__ADS_1
🍅
Sedangkan Vano, dia terus saja bersenandung dengan bahagia karena akan bertemu dengan Kanaya.
Padahal, ia tidak tau akan bertemu atau tidak nya!
Apakah nasib baik akan memihak nya atau malah nasib malang?
Entahlah.
Perjalanan kali ini serasa sangat cepat karena ia sudah merasa tak sabar,
Hingga beberapa saat kemudian dia sampai di Kota, tujuan pertama nya adalah Bram yang sudah menunggu.
Di Rumah Bram bahkan Vano tak bisa berlama-lama karena ia akan belanja dan takut kehabisan stok, itulah alasan yang di pakai nya pada Bram.
*
Hampir 1 jam belanja dan meminta petugas mengantarkannya, setelah itu Vano menuju ke perusahaan milik Kanaya.
Karena ia sangat yakin bahwa Kanaya ada disana dan ia akan memohon untuk kembali lagi seperti dulu.
Sekitar beberapa saat, Vano tiba juga di depan gedung tinggi yang di penuhi oleh para pekerja.
Dengan santai dan sok cool nya Vano keluar dari mobil, ia langsung menuju ke meja resepsionis.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan" sapa resepsionis dengan sopan nan ramah.
"Saya ingin bertemu dengan Nona Kanaya" jawab Vano.
"Maaf, Nona Kanaya sudah tidak lagi disini. Dia cuti beberapa saat karena sedang sakit" jelas nya dengan sopan.
Hah.
Vano langsung saja pamitan dan kembali masuk ke dalam mobil, dia akan menghampiri Rumah Kanaya yang saat ini dia tempati dengan Axel.
Tak tau malu? Itulah Vano dengan segala ambisi nya!
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, dia memang tau alamat Axel sejak saat ia mengikuti Kanaya dulu.
Saat sudah sampai di depan mansion Axel, Vano mengernyit karena di seberang jalannya ada Cintya yang sedang mengamati suasana disana.
"Ada apa dengan wanita itu, jangan bilang bahwa ia akan berbuat sesuatu pada Kanaya" gumam Vano.
Vano langsung mendekat kan mobil nya dan langsung turun begitu berhenti.
"Cintya"
"Sedang apa kau disini? Apa yang akan kau perbuat hah?" teriak Vano dengan kesal.
Apalagi Vano melihat Cintya membawa sesuatu di tangannya yang sedang berusaha ia sembunyikan.
__ADS_1