
Masih dengan suasana bahagia, Kanaya bahkan sesekali mengobrol dengan Axel dan tawa itu tak pernah pudar di bibir indah Kanaya.
Sedangkan di bawah, Vano sudah terbakar api cemburu dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.
"Sudahlah Van, lupakan Kanaya karena mustahil bagi mu mendapatkannya kembali" bisik Bram.
"Aku tidak akan menyerah" balas Vano dengan tetap yakin.
"Ck, lakukan saja dan jangan menyesal nanti nya" ucap Bram dengan kesal.
John, Bram dan Vano melangkah ke arah pelaminan, ketiganya akan memberikan ucapan selamat pada pengantin.
Namun, wajah Vano masih tetap datar dan terlihat sangat cemburu.
"Selamat Tuan Axel, Kanaya. Semoga kalian selalu bahagia" ucap Bram tersenyum.
"Nona, selamat dan semoga kebahagian selalu bersama kalian" timpal John dengan sopan.
Kanaya mengangguk dengan tersenyum.
"Terimakasih ya kalian udah mau datang" balas Kanaya dengan ramah.
Bram dan John membalas nya dengan anggukan serta tersenyum kecil, keduanya lalu berlalu untuk turun namun tidak dengan Vano.
"Aku akan tetap berusaha merebut Kanaya kembali" bisik Vano pada Axel.
"Coba saja kalau kau bisa" balas Axel santai dengan kekehan mengejek.
Vano tampak kesal, dia lalu beralih pada Kanaya.
"Selamat ya Nay, kalau dia nyakitin kamu kembali saja padaku" celetuk Vano tak tau malu.
Heh.
"Tidak akan pernah terjadi" balas Kanaya tegas.
Vano pergi begitu saja setelah penolakan dari Kanaya yang begitu tegas dan terkesan enggan.
Tanpa berpamitan ataupun menemui kedua sahabat nya, Vano berlalu pergi dari acara Kanaya dan Axel tersebut.
Dia langsung saja pulang karena ingin meredekan kekesalan yang saat ini menerpa nya.
*
Acara demi acara sudah di langsungkan dan beberapa tamu juga sudah pulang.
Tepat jam 12 malam acara resepsi pernikahannya pun usai, Kanaya langsung di boyong pulang oleh Axel ke mansion yang memang sudah di siapkan sejak lama oleh nya.
Tanpa ada acara menginap ataupun honeymoon, memang keduanya sepakat akan menikmati setelah pesta di rumah namun hanya mereka berdua saja.
"Kau sudah lelah sayang?" tanya Axel lembut.
"Lebih tepatnya agak gak nyaman dengan gaun ini, sudah ingin mandi dan ganti pakaian" jawab Kanaya tersenyum.
"Sebentar lagi kita sampai" jelas Axel mengusap lembut kepala Kanaya.
Axel membawa Kanaya ke dalam pelukannya, dia memeluk wanita yang sejak pertama mencuri perhatian dan hati nya.
Sedangkan Kanaya, dia melingkarkan tangannya pada pinggang Axel dengan keberanian yang sejak tadi di kumpulkannya, ia memejamkan mata sejenak karena merasa nyaman.
__ADS_1
Hingga beberapa saat kemudian mereka tiba juga di rumah yang akan mereka huni kedepannya.
"Lex, kamu boleh pulang" ucap Axel pada sang Asisten.
Setelah kepergian Asistennya, penjaga kembali mengunci gerbang utama dan sudah pasti nya Kanaya serta Axel sudah masuk ke dalam rumah.
Kanaya merasa sangat takjub akan keindahan rumah tersebut, namun ia tak mau lama-lama karena sudah sangat gerah.
Axel membawa sang Istri ke kamar utama dan disana sudah tersedia kebutuhan keduanya.
"Aku duluan ya, Mas" ucap Kanaya sambil membawa bathrobe.
Axel menganggukan kepala, dia juga akan membersihkan tubuh nya di kamar yang lain karena ia juga sudah merasakan lengket di tubuh nya.
Hampir 30 menit Kanaya menghabiskan waktu nya di dalam kamar mandi, dia keluar dengan keadaan serta wajah yang cukup segar.
Disana terlihat Axel yang juga sudah selesai membersihkan dirinya dan di hadapannya sudah ada makanan ringan untuk keduanya.
"Ayo makan dulu, sejak tadi kamu tak makan apapun" ucap Axel.
Kanaya mengangguk, dia melangkah mendekati Axel dan duduk di samping nya.
Keduanya makan terlebih dulu sebelum lanjut tidur.
*
Kanaya merebahkan tubuh nya di atas ranjang, begitupun dengan Axel.
Namun, baru saja beberapa detik merebahkan tubuh Axel sudah mengukung tubuh Kanaya yang ada di bawah nya.
Cup.
"Heem" jawab Kanaya dengan menganggukan kepala dan wajah yang sudah memerah.
Ah, dan kalian tau kelanjutannya ya readers😜
🐰
Ke esokan pagi nya, matahari sudah menampakan dirinya dan memberikan cahaya pada mahluk yang masih bergulung dengan selimut.
Cahaya tersebut masuk ke dalam kamar dengan melalui celah gordeng.
"Eummm" Axel menggeliatkan tubuh nya karena merasa terganggu.
Perlahan kelopak mata Axel pun terbuka dan ia melihat Kanaya yang masih anteng terlelap di pelukannya.
Bahkan keduanya masih tanpa busana setelah semalaman berperang di atas ranjang.
Cup.
"Selamat pagi Cantikku" gumam Axel dengan lembut.
Sedangkan Kanaya? Dia masih enggan membuka mata dan memeluk tubuh Axel dengan erat.
"Hei bangun sayang, ini sudah siang" ucap Axel dengan gemas.
"Sebentar lagi Mas, masih ngantuk" rengek Kanaya dengan manja.
Axel terkekeh, dia lalu melepaskan pelukannya dan membiarkan sang Istri untuk terlelap.
__ADS_1
Sedangkan dirinya langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya.
*
Berbeda dengan pengantin baru, di Rumah Vano malah terjadi perdebatan yang cukup menegangkan.
Cintya yang mendapati sang Suami sudah berada di rumah nya yang entah sejak kapan datang.
"Kenapa kamu menatapku begitu?" tanya Vano ketus.
Heh.
"Kapan kamu datang? Tau-tau udah disini saja"
"Ah aku tau, apa kamu patah hati dengan pernikahan Kanaya?" tebak Cintya dengan ejekan pada Vano.
Brak.
"Diam kau, dia itu akan kembali lagi padaku" teriak Vano tak terima dengan ucapan sang Istri.
"Sadar kamu Vano, dia tidak akan pernah mau pada mu kembali yang sudah membuatnya sakit hati. Harus nya kamu bersyukur karena aku mau bertahan" bentak Cintya.
Cih.
"Kau bertahan karena harta ku saja, aku tau akan hal itu"
"Kau itu wanita matre yang haus akan barang-barang mewah, mana mungkin wanita seperti mu mau di umpetin bertahun-tahun lama nya kalau tidak ada uang yang ngalir" ejek Vano dengan tatapan merendahkan Cintya.
Plak.
"Jaga ucapanmu, Mas" teriak Cintya dengan tangan yang sudah melayangkan tamparan pada Vano.
Vano menatap Cintya dengan datar, dia lalu mengepalkan tangannya.
"Berani kau menamparku wanita jala*g" bentak Vano.
Plak.
Plak.
"Itu balasan untuk Istri yang sudah berani sama Suami nya, dan tak ada uang bulanan bulan ini untukmu, Cintya" ucap Vano penuh penekanan.
Cintya terdiam membisu dengan tangan yang memegang pipi nya yang sakit karena tamparan dari Vano.
Dia menatap nanar pada Vano yang sudah masuk ke dalam kamar nya dan menutup pintu dengan sangat keras.
"Awas saja kau Kanaya, karena mu Mas Vano jadi berubah begini padaku" gumam Cintya.
Cintya melenggang pergi ke dapur, dia akan menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri karena Vano seperti nya sudah sarapan.
.
.
.
.
.
__ADS_1