
Dengan semamgat penuh Cintya kembali lagi ke Rumah sakit, dia tidak akan menyianyiakan waktu yang cukup berharga ini.
Langkah kaki nya terus saja menyusuri setiap ruangan di Rumah sakit,
Hingga kini ia tiba di salah satu ruangan VIP dan ia melihat ke satu ruangan yang mana dia yakini bahwa di dalam nya adalah Kanaya.
Satu langkah,
Dua langkah,
Hingga langkah nya semakin dekat dan membuat Cintya tersenyum bahagia.
"Tunggulah aku, Kanaya" gumam Cintya.
Tepat di hadapan ruangan itu Cintya menghentikan langkah nya, dia lalu melihat ke seluruh sekitar agar benar-benar aman.
Ceklek.
"Mau bertemu siapa Nona?" tanya suster yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Dengan pasien di dalam" jawab Cintya berusaha tenang.
"Sudah pulang tadi sekitar jam 9 pagi" jelas suster dengan sopan.
Hah.
Cintya merasa seperti seorang yang bodoh, dia lalu masuk begitu saja ke dalam dan ternyata memang Kanaya sudah tak ada di sana.
Dengan langkah yang penuh dengan kekesalan Cintya pun pergi dari sana, dia terus saja menggerutu hingga tiba di depan mobil milik nya.
__ADS_1
Namun, ia merasa kaget karena ada yang menempelkan kertas tepat di pintu mobil milik nya.
"Bagaimana Cintya? Apa kau menemukan Nona kami?"
"Sialan kalian" ucap Cintya dengan begitu emosi saat membaca tulisan tersebut bahkan ia merasa di permainkan dengan melihat emoticon terbahak.
Cintya memilih pergi dari sana, dia akan ke tempat dimana ia mendapatkan kesenangan dan juga uang.
Rasanya sangat kesal, marah dan juga emosi saat semua rencana gagal dengan telak di depan mata.
🐰
Berbeda dengan Vano, saat ini ia dan John sedang membuka usaha Restoran kecil-kecilan di kampung itu.
Meskipun kampung, namun suasana malam nya sudah sangat di Kota.
"John, besok jadwal belanja mingguan ke supermarket dekat Kota kan?" tanya Vano.
"Heem, gue yang akan belanja sekalian ke rumah Bram" putus Vano.
John menganggukan kepala, dia lalu fokus kembali pada pekerjaannya yang bertempat di depan, ia menjadi kasir di Restoran itu.
Sedangkan Vano, dia menjadi peracik cofe yang sudah dia pelajari dari Ayah nya selama ini.
Tak banyak karyawan, hanya ada dua pelayan dan juga satu Koki yang sangat enak hasil pasakannya,
Meskipun kecil, namun sering kali mereka ke banjiran pembeli jika di hari weekend.
*
__ADS_1
Vano duduk sebentar, dia lalu mengambil ponsel nya dan menatap poto seorang wanita dengan cukup intens.
"Apa kabarmu, Nay? Tunggu aku"
Ya, wanita itu adalah Kanaya!
Vano diam-diam masih dengan ambisi dan juga obsesi nya untuk mendapatkan Kanaya kembali, entah apa yang ada dalam pikirannya hingga ia punya pikiran untuk merebut Kanaya kembali.
Setelah puas menatap poto Kanaya, Vano kembali bekerja karena ada yang memesan cofe.
Semangat?
Tentu saja, karena ia akan membuktikan bahwa ia juga bisa sukses dan merebut Kanaya kembali dari Axel.
Namun, satu hal yang tak pernah Vano pikirkan!
Kanaya belum tentu mau kembali setelah apa yang pernah dia perbuat pada Kanaya.
Bahkan John, Bram dan keluarga Vano pun tidak tau bahwa Vano punya ambisi tersebut pada Kanaya.
Karena mereka mengira bahwa Vano sudah melupakan Kanaya dan merelakannya untuk Axel bahagiakan.
.
.
.
.
__ADS_1
.