Ternyata Memang Cinta

Ternyata Memang Cinta
Papa dan Mama Davian


__ADS_3

“Siapa, Vid?” tanya Davian sambil berjalan menuju Vidia berada.


“I—I—ini,…”


Vidia tidak bisa melanjutkan ucapannya karena dia bingung bagaimana cara memanggil ke dua orang tua Davian.


“Oh. Pa.. Ma.. kalian ke sini?!” ucap Davian.


Ke dua orang tua Davian pun mengangguk lalu oleh Davian dipersilahkan untuk masuk.


Sementara itu, sesaat setelah Mama dan Papa Davian masuk, Vidia pun menarik baju Davian dan Davian pun mengerti dengan kekhawatiran Vidia.


“Sudah. Kamu tenang saja,” ucap Davian lirih dan kemudian masuk mengikuti ke dua orang tuanya.


Di ruang keluarga, Mama Fanya dan Papa Sanjaya pun akhirnya duduk. Di saat seperti ini, Vidia pun memberanikan diri untuk bertanya, “Om dan Tante mau minum apa?”


“Baguslah kalau kamu sadar dan memanggil kami dengan sebutan om dan tante,…” Vidia pun tersenyum menahan getir di hati, “kami minum apa saja. Yang penting jangan dingin,” ucap Papa Sanjaya.


“Baik, Om,” sahut Vidia yang kemudian langsung segera ke dapur membuatkan dua gelas teh hangat.


Sementara itu, sesaat setelah Vidia ke dapur, Davian pun bertanya, “Sebenarnya tujuan Papa dan Mama datang ke sini itu untuk apa?”


Tanpa basa basi, Papa Sanjaya pun menyahut, “Kami hanya ingin memastikan kalau pernikahan ini benar adanya dan kamu tidak menipu kami.”


Davian yang mendengar itu pun akhirnya bertanya, “Pa, apa maksud Papa bicara seperti itu? Kami ini menikah sungguhan dan bukannya bohongan.”


“Dav, kamu jangan emosi dulu. Papamu tidak bermaksud seperti itu kok. Papamu hanya belum bisa percaya dengan kenyataan kalau kamu sudah menikah,” jelas Mama Fanya mencoba meredam emosi Davian.


“Iya. Davi tahu. Tapi bukan dengan cara seperti ini,” ucap Davian kesal.


“Iya.. iya.. kami minta maaf,” ucap Mama Fanya.


Di saat yang bersamaan, Vidia pun datang dengan membawakan dua gelas air teh hangat dan juga camilan.


“Silakan dimakan dan diminum, Om dan Tante,” ucap Vidia sopan.

__ADS_1


Namun mereka yang ada di ruangan tersebut pun semuanya terdiam. Tampak terpancar dari ekspresi wajah mereka yang terlihat sangat tegang.


Vidia pun langsung duduk diam di samping Davian. Lalu sesaat setelah itu tiba-tiba saja…


“Sudah papa putuskan. Papa dan Mama akan menginap di sini sampai kami benar-benar yakin dengan keseriusan pernikahan ini,” ucap Papa Sanjaya yang membuat Vidia spontan langsung melihat ke arah Davian.


Sementara itu, Davian dengan wajah datarnya pun berkata, “Terserah kalian sajalah, mau melakukan apa. Yang penting tidak ada hal apa pun yang kami tutup-tutupi dari kalian.”


Setelah mengatakan itu, Davian pun langsung bangun dan pergi meninggalkan ke dua orang tuanya. Sementara itu, Vidia yang tidak tahu harus berbuat apa itu pun akhirnya berkata, “Maaf, Om dan Tante. Aku akan coba bicara dengan Davian dulu.”


Mama Fanya pun mengangguk dan Vidia pun langsung segera menyusul Davian.


“Mas, mas kenapa bersikap seperti itu pada orang tua Mas?” tanya Vidia saat berhasil mengejar Davian.


Davian pun seperti biasa, lagi-lagi hanya diam dan tidak bicara apa-apa. Vidia yang sudah mulai terbiasa dengan sikap suaminya ini pun menghela nafas panjang.


“Baiklah Mas. Aku sungguh tidak tahu dengan apa yang sebenarnya telah terjadi. Tapi aku harap, mas jangan seperti itu pada orang tua Mas. Seburuk apa pun mereka, mereka tetaplah orang tua yang sudah melahirkan kita dan menjaga kita selama ini,” ucap Vidia yang kemudian langsung pergi meninggalkan Davian seorang diri di dalam kamarnya.


***


Saat itu, keadaan kelas masih agak sepi. Baru hanya beberapa orang saja yang hadir dalam kelas tersebut. Di saat sedang asik membaca buku, tiba-tiba saja ponsel Syina pun bergetar. Setelah dia melihatnya, ternyata ada satu pesan yang masuk.


“Syin, apa bisa kamu ke taman sebentar?”


Seperti itu isi pesan yang ternyata berasal dari Pak Radit. Syina pun menyipitkan matanya dan bergumam, “Lha.. Pak Radit ngapain kirim pesan seperti ini?”


Syina pun langsung meraih tasnya dan kemudian pergi menemui Pak Radit di taman. Sesaat setelah sampai di taman, Syina pun menyapa Pak Radit yang ternyata sudah ada di sana.


“Pak, ada apa Bapak menyuruhku ke sini?...” tanya Syina, “bukannya kelas Bapak sebentar lagi di mulai?”


Pak Radit pun langsung berjalan mendekati Syina dan berkata, “Syin, sebenarnya ada hal yang ingin aku katakan padamu.”


“Ada apa, Pak? Kalau emang ada yang mau Bapak bilang, bilang aja,” ucap Syina sambil menatap bingung wajah pria yang ada di hadapannya.


Untuk sesaat Pak Radit pun terdiam. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya dia memberanikan diri untuk berkata, “Syin, kamu mau gak jadi pasangan hidupku?”

__ADS_1


Bagai tertimpa durian runtuh. Walau buahnya rasanya enak tapi tetap saja sakit jika sampai kejatuhan buahnya.


“Pak, maksud bapak apa?” tanya Syina bingung.


“Syin,…” Pak Radit pun langsung menggenggam ke dua tangan Syina, “aku sayang sama kamu. Aku ingin kamu mau menerimaku sebagai calon sumimu,” ucap Pak Radit.


Syina pun hanya terdiam terpaku. Baginya, apa yang di katakan oleh pak Radit ini terlalu mendadak. Lagipula dia pun bingung karena dari yang dia tahu kalau Vidia sebenarnya juga sangat menyukai Pak Radit.


Mengetahui kalau Syina diam saja, Pak Radit pun berkata, “Kamu tidak usah menjawabnya sekarang. Aku akan tetap menunggumu sampai kapan pun kamu siap menerimaku.”


Walau sudah mendapatkan ucapan seperti itu dari Pak Radit, tetap saja membuat Syina terdiam terpaku.


“Syin, ayo sekarang kita ke kelas,” ajak Pak Radit.


Untuk sesaat kemudian, Syina pun tersadar dan kemudian mengangguk lalu berjalan berdampingan dengan Pak Radit menuju kelas.


***


Di rumah Davian, Vidia yang tidak menduga akan kedatangan oran tua Davian pun tidak tahu harus bagaimana. Lalu muncul ide membuat masakan untuk makan siang mereka berempat.


Dengan kemampuan memasak yang Vidia miliki, Vidia berharap dapat mencairkan suasana antara orang tua dan anak ini.


Di saat sedang asik memasak, tiba-tiba saja Mama Fanya datang dan bertanya, “Kamu sedang masak apa?”


“Oh, Tante,…” ucap Vidia terkejut, “ini, Tan. Aku sedang masak masakan kampung yang sederhana. Aku berharap Om dan Tante menyukainya.”


“Masakan kampung?! Masakan apa itu?” tanya Mama Fanya.


“Hehehe… ini lho, Tan. Masak sayur asem, sambal tomat, goreng ikan asin dan tempe. Tapi maaf, Tan. Kalau lauknya hanya ini dan tidak mewah,” ucap Vidia sopan.


Mama Fanya pun tersenyum lalu berkata, “Siapa bilang seperti itu tidak mewah. Ini sudah terbilang mewah kok. Soalnya coba kamu pikirin deh, berapa banyak orang di luar sana yang tidak bisa makan walau hanya dengan lauk seperti ini.”


Sambil tersenyum, Vidia pun mengangguk lalu berkata, “Aku setuju dengan ucapan Tante. Seharusnya kia bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini.”


Mendengar ucapan Vidia, Mama Fanya pun lagi-lagi tersenyum. Di saat yang bersamaan, ternyata ada seseorang sedang memperhatikan Vidia dan Mama Fanya di dapur.

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2