Ternyata Memang Cinta

Ternyata Memang Cinta
Sudah seharusnya


__ADS_3

Setelah di luar…


“Vidia! Ngapain kamu masih di sini? Bukannya masuk ke dalam?” tanya Davian spontan saat melihat Vidia.


“Hehehehe…”


“Ayo masuk sekarang. Aku sudah pesankan kamu makan siang tadi. Cepat dimakan!” perintah Davian.


Melihat wajah serius Davian, Vidia pun tidak mau banyak bicara. Dia pun langsung masuk ke dalam. Sementara itu, Prita si sekretaris pun melongo melihat sikap bosnya pada Vidia.


“Memang siapa wanita tadi? Kenapa sampai Pak Davian memperlakukannya seperti itu?” Gumam Prita yang ternyata masih bisa di dengar oleh seseorang yang tiba-tiba baru saja datang.


Orang tersebut bertanya, “Siapa?”


Merasa mendengar ada orang yang bertanya, Prita pun langsung menengok dan terkejut.


“Ba—ba—bapak Steven?!” ucapnya gugup.


“Iya. Ini saya. Tadi memangnya siapa orang yang kamu maksud?” tanya Steven kepo.


Prita pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Tidak tahu, Pak. Tapi yang pasti Pak Davian memperlakukannya tidak biasa.”


Mendengar ucapan Prita, Steven pun menyipitkan matanya dan kemudian bertanya lagi, “Tidak biasa?! Tidak biasa gimana maksudnya?”


“Hmm.. tadi Pak Davian langsung menyuruhnya masuk dan bilang kalau Pak Davian juga sudah membelikannya makan siang,” jelas Prita.


“Makan siang?!...” ucap Steven, “ya sudah. Kamu lanjutkan pekerjaanmu.”


Prita pun mengangguk dan Steven pun langsung segera masuk ke ruangan Davian untuk memastikan sendiri siapa sebenarnya orang yang dimaksud oleh Prita.


Setelah berada di dalam, Steven pun terkejut karena ternyata oang yang dimaksud oleh Prita adalah Vidia. Langsung di hampirinya Davian dan di pastikannya tentang sesuatu yang sangat mengganjal pikirannya.


“Dav, kamu dan dia?” tanya singkat Steven tapi masih bisa dimengerti oleh Davian dan Davian pun mengangguk sehingga membuat Steven terkejut.


“What?! Kok bisa?” tanya Steven.


Davian pun diam saja, tidak banyak bicara. Dia hanya menunjukkan seulas senyum yang membuat Steven pun jadi merasa kalau sahabatnya ini telah sedikit berubah. Diliriknya Vidia yang sedang menikmati makan siangnya tanpa mengiraukan kehadiran Steven di sana.


Steven pun menepuk jidatnya sambil menghela nafas panjang.


“Dav, pokoknya aku gak mau tahu. Kamu harus menjelaskannya padaku,” ucap Steven berbisik namun dengan nada memaksa.


Davian pun mengangkat ke dua bahunya tanda dia tidak berjanji kalau akan mengatakannya. Melihat respon yang diberikan oleh Davian, Steven pun menarik nafas dalam-dalam dan kemudian berjalan mendekati Vidia.

__ADS_1


“Vid?!” ucap Steven.


“Ya. Saya. Siapa ya?” tanya Vidia yang tidak merasa mengenal Steven.


“Oh. Aku Steven. Sahabatnya Davian sekaligus orang kepercayaannya Davian di kantor ini,” ucap Steven memperkenalkan dirinya sendiri.


“Oh. Aku Vidia,” sahut Vidia yang juga memperkenalkan dirnya sendiri.


Karena merasa tidak ada banyak hal yang bisa dibicarakan dengan Vidia, Steven pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke ruangannya sendiri. Namun tentunya sebelum itu dia sekali lagi menegaskan pada Davian agar mau menjelaskan hal yang sebenarnya pada dirinya jika mereka sedang berdua.


Sesaat setelah Steven pergi, Davian pun berkata, “Bagaimana tadi kamu dengan temanmu itu? Ketemu gak?”


Sambil mengunyah makanannya, Vidia pun menyahut, “Ya gak gimana-gimana. Kami tadi bertemu kok.”


“Lalu?”


Vidia pun sejenak menghentikan sejenak aktifitas makannya dan kemudian berkata, “Saat aku bertemu dengannya, dia bilang kalau ternyata dia sudah menolak cowok itu.”


“Menolak?” tanya Davian terkejut.


Vidia pun mengangguk lalu kemudian pun menyahut, “Iya. Dia menolaknya karena merasa tidak enak padaku.”


“Terus?”


“Maksudnya terus?” tanya Vidia bingung dengan arah pertanyaan Davian.


Untuk beberapa saat Vidia pun terdiam. Dia mencoba memikirkan lagi pertanyaan yang di lontarkan oleh Davian pada dirinya dan kemudian setelah dia merasa yakin, Vidia pun akhirnya menyahut, “Awalnya saat aku mendengar penjelasan Syina, mungkin aku menyesal. Tapi setelah aku berpikir ulang, aku tidak seharusnya memaksakan perasaanku ini. Jadinya,…”


Vidia pun menghentikan ucapannya seingga membuat Davian bertanya, “Jadinya apa, Vid?”


“Jadinya aku memutuskan untuk mengikhlaskannya dan membiarkan Syina mengakui perasaannya sebenarnya pada cowok tersebut,” jelas Vidia.


Mendengar penjelasan Vidia, Davian pun meyipitkan matanya karena merasa tidak yakin kalau apa yang dikatakan oleh Vidia itu benar-benar yang dia inginkan.


“Apa kau yakin dengan semua itu?” tanya Davian dan Vidia pun mengangguk lalu kemudian melanjutkan makannya yang masih tersisa sedikit.


***


Sementara itu di saat yang bersamaan dan di tempat yang berbeda, ada seorang wanita sedang duduk sendiri di bangku taman kampus manunggu seseorang.


“Syin, maaf. Kamu sudah lama ya nunggunya?” tanya orang tersebut yang ternyata Pak Radit.


Syina pun menggelengkan kepalanya lalu berkata, “Gak kok. Aku juga baru saja sampai di sini. Tadi soalnya makan dulu di kantin.”

__ADS_1


“Oh. Syukurlah kalau begitu,” ucap Pak Radit yang merasa lega.


Setelah mengatakan hal itu, ke duanya pun tampak canggung sebelum akhirnya Syina memulai membuka obrolan terlebih dahulu.


“Hmm.. Pak,” ucap Syina yang merasa ragu-ragu dengan apa yang ingin dia katakan.


“Ada apa, Syin?” tanya Pak Radit.


“Hmm.. begini, Pak. A—aku… ada hal yang ingin aku katakan pada Bapak,” ucap Syina.


“Apa itu? Katakan saja,” sahut Pak Radit.


“Hmm.. begini, ini soal perasaan yang tempo hari,…” Syina pun menghentikan ucapannya sejenak lalu berkata, “A—aku udah putuskan untuk mau menerima Bapak.”


Mendengar hal itu, Pak Ardit pun terkejut dan kemudian berkata, “Kamu barusan tadi bilang apa?”


Sambil menunduk dan dengan suara yang lirih, Syina pun berkata, “Aku sudah putuskan untuk menerima Bapak sebagai calon pasangan hidupku.”


“Apa?! Aku tidak salah dengarkan?” tanya Pak Radit yang merasa seperti sedang menerima rezeki tak terduga.


Syina pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Bapak gak sedang salah dengar kok.”


Mengetahui kalau cintanya berbalas, spontan Pak Radit pun langsung memeluk Syina sehingga membuat Syina terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu.


“Pak, sudah. Lepaskan. Tidak enak jika ada yang sampai melihat kita seperti ini,” ucap Syina.


Mendengar ucapan Syina, Pak Radit pun melepaskan pelukannya dan kemudian berkata, “Maaf. Aku terlalu senang hingga gak bisa mengontrol diriku sendiri.”


“Gak apa-apa, Pak,” sahut Syina yang membuat Pak Radit tersenyum lalu mengelus-elus pucuk rambut Syina.


***


Di kantor Davian…


Vidia berada di kantor Davian hingga sore hari. Tidak banyak yang bisa dia lakukan di sana hingga akhirnya Davian bertanya apakah Vidia besok ada jam kuliah dan Vidia pun mengangguk. Pasalnya jika dia tidak salah ingat, besok akan ada seminar yang akan menghadirkan tamu penting.


Dan keesokan paginya…


“Mas, bangun mas. Berat kalau setiap pagi harus seperti ini,” ucap Vidia yang melihat posisi tidur Davian selalu saja kepalanya sedang berada di atas tubuh Vidia sambil merangkul Vidia layaknya guling.


“Aaaaa… bentar lagi lha, Vid. Masih ngantuk,” sahut Davian dengan nada khas orang baru bangun tidur.


“Masih ngantuk sih masih ngantuk, tap minimal turunkan dulu kepala mas dari badanku. Aku harus segera berangkat ke kampus. Hari ini ada seminar dan itu wajib ha…”

__ADS_1


“Cup.”


Bersambung…


__ADS_2