
“Hmm.. Tante.. aku hamil,” sahut Vidia lirih.
“Apa?!”
Itulah kata-kata yang terlontar dari Papa Sanjaya dan juga Mama Fanya secara bersamaan saat mendengar ucapan Vidia.
Sambil saling pandang antara Papa Sanjaya dan Mama Fanya, Mama Fanya pun kemudian bertanya, “Apakah yang tadi kamu bilang itu serius? Kamu beneran hamil?”
Vidia pun mengangguk sambil tersenyum sehingga sontak membuat Mama Sanjaya langsung memeluk tubuh Vidia dan kemudian berkata, “Terima kasih, sayang. Mama sangat senang sekali mendengarnya.”
Di saat yang bersamaan, Papa Sanjaya pun berkata, “Nah, kalau begitu mulai sekarang kamu harus membiasakan memanggil kami Papa dan Mama. Jangan Om dan Tante lagi.”
Vidia yang mendengar ucapan Papa Sanjaya pun terkejut sehingga dia melihat ke arah Davian. Davian yang mengerti dengan maksud tatapan Vidia itu pun akhirnya mencoba memastikan sesuatu dengan bertanya, “Jadi Papa dan Mama sudah bisa menerima Vidia ini sebagai menantu kalian berdua?”
Papa Sanjaya pun mengangguk sambil tersenyum sehingga membuat Davian spontan memeluk tubuh Papanya sambil berkata, “Terima kasih, Pa.. Ma..”
Mereka berempat pun tersenyum bahagia.
***
Keesokan harinya, di saat keluarga besar Davian sedang merasa bahagia dengan kehadiran calon baby yang sedang di kandung oleh Vidia, Tasya yang saat ini sedang berada di rumahnya pun merasa sangat kesal sekali. Karena pasalnya hingga saat ini, Davian belum juga mengabarinya tentang perihal perceraiannya dengan Vidia.
Sambil mondar-mandir di dalam kamarnya, Tasya pun merasa gelisah dan kemudian dia pun bergumam, “Apa aku harus datangi kantor Davian lagi, ya?!”
Karena merasa yakin dengan apa yang dia pikirkan itu, Tasya pun langsung bergegas hendak pergi ke kantor Davian. Namun belum juga Tasya melangkahkan kakinya ke luar dari rumah, Mama Fanya sudah menegurnya terlebih dahulu.
“Tas, kamu mau ke mana? Kenapa sangat terburu-buru sekali?” tanya Mama Rahma.
“Aku mau ke tempat Davian, Ma,” sahut Tasya.
“Mau ngapain lagi kamu ke sana? Apa kamu mau menganggu Davian lagi?” tanya Mama Rahma.
__ADS_1
“Bukan urusan Mama,” sahut Tasya ketus yang kemudian langsung pergi sehingga membuat Mama Rahma menggelengkan kepalanya.
Jarak antara rumah Tasya dan kantor Davian terbilang sangat jauh. Karena bisa memakan waktu sehari semalam untuk sampai jika menggunakan Bus. Namun jika menggunakan pesawat, maka bisa di tempuh kurang lebih dalam waktu satu jam saja.
Tasya yang di manja oleh orang tuanya ini pun tentunya bukan hal yang memberatkan jika harus menggunakan pesawat untuk alat transportasinya ke tempat Davian.
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, Tasya pun akhirnya sampai di kantor Davian. Tanpa menghiraukan Scurity yang sedang berjaga, Tasya pun langsung berjalan menuju ruang kerja Davian.
Namun sesaat setelah dia sampai di ruangan tersebut, dia tidak mendapati Davian di kantornya sehingga membuat dia bertanya pada sekretaris pribadi Davian tentang di mana Davian berada saat ini. Dengan tidak tahu apa-apa, sekretaris Davian itu pun berkata kalau Davian saat ini sedang ada tugas di luar kantor bersama dengan Steven dan kira-kira dua jam lagi baru bisa balik ke kantor.
Tasya yang mendengar itu pun tidak banyak bicara. Dia pun memutuskan untuk menunggu Davian sampai datang di dalam kantornya. Sekretatis Davian yang sudah mngatahui sifat Tasya ini pun tidak dapat berbuat apa-apa selain membiarkannya begitu saja.
***
Sementara itu, semenjak tahu kalau Vidia sedang hamil, Mama Fanya merengek mengajak Papa Sanjaya untuk datang ke rumah Davian. Sehingga Papa Sanjaya mau tidak mau pun mengikuti kemauan istrinya itu.
Di rumah Davian, Vidia yang saat itu sedang masak pun tiba-tiba dikejutkan oleh suara ketukan pintu rumah.
Vidia pun langsung mamatikan kompornya dan kemudian membukakan pintu rumah. Dia sangat terkejut saat melihat ternyata siapa yang telah datang.
“Papa.. Mama.. Kok datang gak bilang dulu?” tanya Vidia sambil mencuium punggung tangan keduanya.
“Sengaja. Kami tidak ingin membuatmu repot dengan mempersiapkan macam-macam untuk menyambut kami,” sahut Mama Fanya.
“Bohong itu, Vid. Mamamu ini tahu gak?! Dari semalam merengek kaya anak kecil ingin cepat datang ke sini. Padahal tahu gak kamu, itu tuh tengah malam. Masa’ iya langsung berangkat?!” keluh Papa Sanjaya sehingga membuat Vidia tersenyum.
“Apaan sih Papa ini? Malu tahu,…” ucap Mama Fanya sambil mencubit pinggang suaminya, “Sudah. Kamu jangan dengarkan ucapan Papamu ini.”
Vidia yang melihat cara mereka berkomunikasi antara satu dengan lainnya ini pun spontan tertawa kecil. Dia sangat bahagia melihat pemandangan yang penuh kebahagiaan itu.
Hingga beberapa saat kemudian, Mama Fanya pun bertanya, “Kamu sedang masak ya?! Baunya harum sekali.”
__ADS_1
Vidia pun mengangguk yang kemudian Mama Fanya pun langsung berkata, “Ayo sini mama bantu.”
Mereka berdua pun langsung berjalan ke arah dapur dan meninggalkan Papa Sanjaya yang saat itu sedang berdiri di ruang kaluarga dengan membawa tas menjadi sendirian.
“Ya.. ya.. aih di tinggal. Udah deh. Begini ini kalau perempuan udah kumpul. Gak pernah menghiraukan apa-apa lagi. Hadeuh..” gerutu Papa Sanjaya yang kemudian langsung duduk dan meyalakan televisi.
***
Dua jam telah berlalu dan benar saja, Davian sudah datang dari tugasnya di luar kantor. Saat Davian memasuki ruangannya, dia sangat terkejut sekali karena mendapati Tasya sedang duduk diam memainkan ponselnya.
Tasya yang sadar kalau Davian sudah sampai ini pun kemudian berkata, “Eh, Dav. Kamu sudah datang rupanya.”
“Hm. Kamu mau apa datang ke sini?” tanya Davian dengan nada ketus.
“Kok kamu pakai tanya segala sih kenapa aku datang. Harusnya kamu tuh sadar kenapa aku datang. Kamu ingat gak dengan ucapanmu waktu itu?! Kamu akan memberi kabar padaku jika kamu sudah dalam proses perceraian dengan istrimu,” ucap Tasya.
Davian yang mendengar itu pun terdiam. Dia sudah bisa menebak bahwa akan ada hari seperti ini.
“Kamu kenapa diam?” tanya Tasya saat Davian hanya diam saja tidak bergeming sama sekali.
Davian pun menghela napas panjang dan kemudian berkata, “Tas, lebih baik kamu lupakan saja aku.”
Mendengar ucapan Davian seperti itu, sontak membuat Tasya menjadi sedikit emosi dan kemudian berkata, “Jadi kamu gak tega menceraikan istri kamu? Kamu lupa dengan apa yang aku katakan jika kamu tidak jadi menceraikan istrimu?”
Davian pun terdiam. Dia sebenarnya sangat malas sekali menanggapi keegoisan Tasya. Namun dia tidak tahu harus bagaimana caranya agar Tasya berhenti terobsesi padanya.
“Dav?! Jangan bilang kalau kamu lupa dengan apa yang pernah aku katakan waktu itu,” ucap Tasya.
“Gak. Aku gak lupa. Tapi aku memang tidak bisa dan tidak akan menceraikan istriku sampai kapan pun juga,” sahut Davian.
“Baik. Jika itu mau kamu. Jangan salahkan aku.”
__ADS_1
Bersambung…