
Satu Minggu setelah kepulangan Vidia dari Rumah Sakit, dia lama-lama menyadari akan bagaimana perasaan sendiri pada Davian.
Malam itu, Vidia dengan inisiatifnya sendiri bertanya, “Mas, apa mas benar-benar mencintaiku walau keadaanku seperti ini?”
Davian yang kala itu sedang berada di depan laptopnya dan mengerjakan pekerjaannya ini pun akhirnya menghentikan sejenak aktivitasnya dan kemudian menatap ke arah Vidia yang sedang bersandar di tempat tidur.
“Sayang, kamu kenapa bilang begitu sih?! Ya jelas aja aku mencintaimu lha,” sahut Davian.
“Ta—tapi, tapi aku kan udah gagal mempertahankan anak kita,” ucap Vidia lirih sambil menunduk.
Mendengar akan hal itu, Davian pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan kemudian datang menghampiri Vidia.
“Vid, ini semua bukan kesalahanmu kok. Ini musibah. Mungkin anak kita belum berjodoh sama kita, jadinya dia harus gugur terlebih dahulu sebelum bertemu dengan kita,” ucap Davian lembut mencoba menenangkan hati Vidia.
“Ta—tapi, Mas. Kita juga kan gak tahu kapan kita bisa punya anak lagi,” ucap Vidia.
Melihat istrinya seperti itu, Davian pun langsung meraih tangan Vidia dan menggenggamnya.
“Vid, biar kapan pun kita diberi kepercayaan lagi, kita tidak boleh patah semangat. Kita akan terus berusaha sampai kita diberi kepercayaan lagi,...” ucap Davian dengan senyuman, “lalu bagaimana kalau kita coba berusahanya mulai dari sekarang aja?”
Tanpa menunggu bagaimana reaksi Vidia, Davian pun langsung mencium kening Vidia dan mengajaknya melakukan hal yang sudah lama sekali tidak mereka lakukan.
***
Keesokan paginya, belum juga mereka berdua beranjak dari tempat tidur, Vidia tiba-tiba saja teringat akan orang tuanya.
“Mas, kapan mas libur kerjanya?” tanya Vidia.
“Besok. Emang ada apa sayang? Kamu mau mas antar ke mana?” tanya Davian.
Vidia pun terdiam sejenak lalu kemudian menyahut, “Mas, dari awal kita nikah, kita sama sekali belum memberitahukan soal ini pada orang tuaku. Aku sekarang ingin sekali mereka tahu kalau ternyata aku udah menikah denganmu.”
Mendengar ucapan Vidia seperti itu, sontak membuat Davian merasa gelisah. Dia sangat khawatir kalau orang tua Vidia akan marah dan kemudian tidak merestui mereka.
Melihat Davian hanya terdiam, Vidia pun memukul pelan pundak Davian dan kemudian berkata, “Mas, mas tadi dengar tidak apa yang aku bilang?”
“Hmm,” sahut singkat Davian.
“Kok hmm sih, jawabannya,” protes Vidia.
“Maaf, sayang. Aku hanya khawatir orang tuamu akan marah,...” ucap Davian lirih, “ya sudah. Baiklah kalau begitu. Besok aku akan menemanimu bertemu dengan orang tuamu.”
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Davian, Vidia pun akhirnya tersadar kalau dia sudah melewatkan hal itu.
“Ta—tapi Mas,...”
Vidia seperti sudah ragu dengan apa yang barusan dia katakan pada Davian.
“Tapi apa, Vid?” tanya Davian bingung.
“Benar tadi yang mas bilang. Aku sama sekali tidak berpikir ke arah sana. Terus sekarang gimana donk Mas? Gak mungkin kan kita sembunyiin terus-terusan seperti ini?!” ucap Vidia lesu.
Davian pun terdiam sejenak dan berpikir hingga akhirnya dia menemukan sebuah solusi.
“Vid, bagaimana kalau kita minta bantuan Mama dan Papa aja? Siapa tahu mereka bisa membantu kita menjelaskan semuanya pada orang tuamu,” ucap Davian.
“Apa Mas?! Minta bantuan mereka? Apa mereka akan mau membantu kita?” tanya Vidia meragukan ide suaminya ini.
Davian pun mengangguk lalu berkata, “Mau bagaimana lagi? Cuma itu satu-satunya cara.”
__ADS_1
Vidia pun akhirnya terdiam setelah mendengar ucapan Davian.
***
Sore harinya, kebetulan Mama Fanya dan Papa Sanjaya datang ke rumah Davian untuk mengunjungi Vidia.
“Bagaimana Vid keadaanmu sekarang? Apa jauh lebih baik?” tanya Mama Fanya yang langsung saja memeluk tubuh Vidia saat mereka bertemu.
“Sudah jauh lebih baik kok, Ma. Mama dan Papa sendiri juga bagaimana kabarnya?” tanya Vidia.
“Kami juga baik-baik saja kok, Vid,” sahut Mama Fanya.
Dan di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja Davian menyela pembicaraan mereka dengan berkata, “Ma, kebetulan sekali Mama dan Papa datang ke sini. Ada hal yang ingin kami rundingkan dengan Mama dan Papa.”
Mendengar ucapan Davian, Mama Fanya pun langsung melihat ke arah Papa Sanjaya dan kemudian kembali menatap Davian bingung.
“Memangnya apa yang mau kalian rundingkan dengan kami, Dav?” tanya Mama Fanya.
“Begini Ma, kami besok berencana datang ke rumah orang tua Vidia. Namun kami ragu. Kami khawatir kalau orang tua Vidia akan marah dan akhirnya tidak merestui kami,” jelas Davian.
“Ja—jadi maksud kamu, kalian meminta kami agar mau membantu kalian menjelaskan ini semuanya pada orang tua Vidia?” tanya Mama Fanya mencoba menebaknya.
Davian pun mengangguk dan membenarkan tebakan Mamanya itu.
Melihat respons anaknya seperti itu, Mama Fanya pun melihat ke arah Papa Sanjaya lalu bertanya, “Bagaimana ini Pa menurut Papa?”
Tampak Papa Sanjaya pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Papa rasa memang kita harus membantu anak kita ini, Ma. Kita tidak mungkin membiarkan mereka berpisah setelah mengingat apa yang sudah terjadi pada mereka.”
Mama Fanya pun menganggukkan kepalanya karena sependapat dengan apa yang dikatakan Papa Sanjaya.
Sementara itu, Davian yang melihat respon orang tuanya ini pun Akhirnya mencoba menebak dengan berkata, “Jadi, Mama dan Papa mau membantu kami?”
“Iya,...” sahut Papa Sanjaya, “tapi dengan satu syarat.”
“Syaratnya mudah kok. Sebelum kami membantumu menjelaskan pada orang tua Vidia, kamu harus lebih dahulu mencoba bicara baik-baik dengan mereka. Gimana? Kamu bisa?” Tanya Papa Sanjaya.
“Iya, sayang. Biar bagaimana pun kan ini semua juga kesalahan awal ada di kamu. Jadi apa salahnya kalau kamu mencobanya dulu. Baru setelah tidak bisa, kami nanti yang akan turun tangan. Bagaimana?” ucap Mama Fanya menambahkan.
Davian pun terdiam sejenak dan memikirkan apa yang sudah dikatakan orang tuanya. Memang ada benarnya juga apa yang dikatakan orang tuanya. Semua ini adalah berawal dari kesalahannya. Jadi apa salahnya kalau dia menebusnya dengan mencobanya terlebih dahulu.
“Baiklah Pa, Ma. Aku akan mencobanya. Tapi Papa dan Mama janji ya akan bantu aku,” ucap Davian yang merasa tidak yakin usahanya akan berhasil.
“Iya sayang. Kamu tenang aja,” sahut Mama Fanya.
***
Keesokan harinya, seperti apa yang sudah direncanakan sebelumnya, akhirnya Davian, Vidia dan juga kedua orang tua Davian, mereka semua berangkat menemui orang tua Vidia.
Setelah beberapa saat menempuh perjalanan jauh, akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan.
“Di sini rumahmu, Vid?” tanya Mama Fanya saat melihat sebuah rumah sederhana namun asri.
Sambil menganggukkan kepalanya, Vidia pun menyahut, “Iya, Ma.”
“Ya sudah kalau begitu kita turun,” ucap Mama Fanya mengajak mereka semua yang berada di dalam mobil untuk turun.
Tanpa menunggu lama, mereka pun akhirnya turun.
Sementara itu orang tua Vidia yang tadinya sedang berada di dalam rumah pun tidak tahunya mengetahui kalau ada tamu yang datang.
__ADS_1
Dengan segera mereka pun menyambut kedatangan keluarga Davian.
Namun sesaat setelah sampai di luar, betapa terkejutnya mereka karena melihat Vidia ternyata juga berada bersama mereka.
“Ma,” sapa Vidia.
“Vid, kamu pulang? Bagaimana kuliah kamu? Mereka siapa?” tanya Mama Indah bertubi-tubi.
“Hmm, Ma. Mendingan kita persilakan mereka untuk masuk ke dalam dulu,” ucap Vidia sambil merangkul tangan Mamanya.
“Oh iya ya,...” ucap Mama Indah, “mari silakan masuk.”
Keluarga Davian pun mengangguk sambil tersenyum ramah.
Di saat mereka semua sudah berada di dalam, Mama Indah pun bertanya, “Kalau boleh saya tahu, kalian ini siapa ya?”
“Maaf, Bu. Kenalkan, nama saya Fanya dan ini suami saya, Sanjaya. Kami ke datang ke sini untuk mengantarkan menantu kami pulang,” ucap Mama Fanya.
“Menantu? Maksudnya menantu?” tanya Mama Indah bingung.
“Iya, Tante. Maaf. Tapi tanpa sepengetahuan dari Tante, saya sudah menikahi anak Tante,” ucap Davian lirih.
“Apa?!...” teriak Mama Indah terkejut sambil menengok ke arah Vidia, “Kenapa kalian tidak meminta ijin pada kami dulu?”
“Maaf, Tante. Waktu itu memang kesalahan dari saya. Oleh sebab itu, saya akan menerima apa pun hukuman yang diberikan Tante pada saya asal Tante mau merestui kami,” ucap Davian sungguh-sungguh.
Mama Indah pun terdiam sehingga membuat seluruh orang yang ada dalam ruangan pun cemas.
“Bu, maaf. Untuk soal ini, kami bisa menjelaskan semuanya pada ibu,” ucap Mama Fanya angkat bicara.
Namun walau sudah seperti itu, tetap saja Mama Indah diam dan tidak bergeming.
Tanpa menunggu persetujuan dari Mama Indah, Mama Fanya pun akhirnya mencoba menceritakan alasannya dari awal hingga akhir.
Setelah beberapa saat kemudian, “..., begitulah Bu. Jadi saya berharap Ibu mau memaafkan kesalahan mereka.”
Mama Indah pun terdiam sejenak. Tampak terlihat dari wajahnya jika ia sebenarnya sedang memikirkan sesuatu.
Hingga beberapa saat kemudian, Mama Indah pun berkata, “Ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Yang sudah terjadi tidak bisa disesali.”
“Ja—jadi ini artinya Mama,...” ucap Vidia ragu sehingga dia tidak melanjutkan ucapannya.
Mama Indah pun mengangguk sambil tersenyum lalu kemudian berkata, “Iya sayang. Mama restui kalian berdua. Tapi ada syaratnya.”
“Syarat? Apa syaratnya, Ma?” tanya Vidia.
“Syaratnya pernikahan harus dirayakan supaya tetangga di sini semuanya tahu kalau kalian sudah menikah. Mama gak mau ada suara macam-macam tentang kamu. Terlebih lagi Papamu sudah lama gak ada,” ucap Mama Indah.
Mendengar akan hal itu, Mama Fanya pun langsung angkat bicara lagi dengan berkata, “Ibu tenang saja. Kami memang juga sudah memikirkan masalah itu dan rencananya perayaan akan dilaksanakan bulan depan.”
Antara terkejut sekaligus senang Davian dan Vidia mendengarnya. Namun mereka berdua memutuskan untuk diam.
Sementara Mama Indah yang mendengar hal ini pun berkata, “Baiklah kalau memang begitu. Lebih baik mulai dari sekarang kita persiapkan semuanya.”
Mama Fanya pun mengangguk menyetujui ucapan Mama Indah.
Betapa lega hati Davian saat ini. Ternyata apa yang dikhawatirkan tidak terjadi.
***
__ADS_1
Satu bulan pun telah berlalu. Kini tibalah waktu yang dinantikan Davian dan Vidia. Walau mereka dikatakan sudah cukup lama menikah, namun baru kali itu hubungan mereka dipublikasikan.
\=\=Tamat\=\=