
Keesokan harinya, Vidia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Syina, sahabatnya itu. Jika boleh jujur, sebenarnya dia tidak ingin bertemu dengan Syina. Namun dia teringat dengan pesan Davian yang menyuruhnya agar berusaha bersikap biasa saja.
“Haaaaaaa…”
Vidia pun menghembuskan nafas panjang. Dia berharap kalau sikapnya dan juga perasaan kecewanya dapat dia kendalikan seperti layaknya tidak pernah melihat apa-apa.
Sama halnya dengan Vidia, Syina pun merasa sedikit tidak enak pada Vidia. Walau pun dia sudah menolak Pak Radit, tapi dalam hati kecil Syina dia tidak dapat membohongi kenyataan yang telah terjadi pada dirinya dan juga Pak Radit.
“Bagaimana caranya aku mengekspresikan wajahku ini di depan Vidia?...” tanya Syina pada dirinya sendiri saat melihat Vidia yang sudah terlebih dahulu duduk di dalam kelas, “apa aku harus jujur saja padanya, ya?”
Dengan jantung berdegup kencang dan ada sedikit rasa takut kalau-kalau Vidia akan marah, Syina pun memberanikan diri untuk menghampiri Vidia.
“Vid,” Sapa Syina sehingga yang membuat si empunya nama pun menoleh.
“Eh lo, Syin. Lo kenapa?” tanya Vidia berusaha mengendalikan perasaanya.
“Vid, sebenarnya ada yang mau gue omongin sama lo. Tapi gue takut lo marah,” ucap Syina dengan nada seperti orang takut.
Sementara itu, Vidia yang mendengar ucapan Syina pun dalam hatinya berkata, “Pasti lo mau cerita kalau lo udah jadian kan sama Pak Radit?!”
Namun Vidia mencoba untuk tenang dan kemudian bertanya, “Lo mau ngomong apaan emangnya? Kok sampe lo takut kalau gue bakal marah?”
Syina pun langsung duduk di depan Vidia sambil menunduk sehingga membuat Vidia menyipitkan matanya dan kemudian bertanya lagi, “Ada apa?”
Dengan nada lirih, Syina pun berkata, “Vid, kemarin kan lo gak datang ke kelas tambahan Pak Radit,…”
“Terus?”
“Hmm.. saat itu, gue kaget karena tiba-tiba saja Pak Radit mengajakku untuk bertemu di taman kampus sebelum kelas di mulai.”
“Hmm, terus?”
“Terus.. Pak Radit tiba-tiba saja mengungkapkan perasaannya ke aku.”
Mendengar hal itu membuat jantung Vidia tiba-tiba saja ‘deg’. Namun lagi-lagi Vidia pun berusaha keras menyembunyikan perasaan gak enaknya dengan berkata, “Eh? Yang bener, Syin. Terus kamu jawab apa?”
Syina pun menunduk dan tidak menyahut sehingga membuat Vidia pun menjadi merasa gelisah.
__ADS_1
“Syin, kok diam? Ada apa?” tanya Vidia.
“Hmm.. aku menolaknya, Vid,” sahut Syina yang membuat Vidia terkejut kenapa bisa begitu.
Dalam hatinya dia bergumam, “Lha terus maksud kemarin mereka berpelukan apa?”
Di saat yang bersamaan, Syina lagi-lagi berkata, “Beneran, Vid. Aku menolak Pak Radit. Kerana aku tidak akan mungkin menerima seorang pria yang sahabatku sendiri juga menyukainya.”
Mendengar ucapan Syina, tiba-tiba saja Vidia tergelitik untuk bertanya, “Terlepas aku menyukai Pak Radit, sebenarnya perasaanmu sendiri bagaimana ke dia?”
Mendapatan pertanyaan seperti itu dari Vidia, Syina pun terdiam. Dia tidak mungkin jujur pada Vidia kalau sebenarya dia sendiri pun menyukai Pak Radit.
Melihat Syina hanya terdiam saja, Vidia pun berkata, “Syin, kamu kenapa diam saja? Gak apa-apa, Syin. Katakan saja. Aku gak akan marah kok.”
Syina pun langsung menoleh ke arah Vidia dan kemudian bertanya, “Kamu beneran gak marah kalau aku bilang yang sebenarnya?”
Vidia pun mengangguk dan kemudian berkata, “Nah. Sekarang katakan, bagaimana perasaanmu yang sebenarnya pada Pak Radit?”
“A—aku.. aku sebenarnya juga menyukai Pak Radit. Namun aku tidak berani mengakuinya karena aku tahu kalau kamu pun juga menyukainya,” ucap Syina yang membuat Vidia jadi merasa bersalah.
Memang benar jika Vidia pun menyukai Pak Radit. Namun setelah melakukan hubungan kemarin dengan Davian, membuat Vidia sudah tidak dapat mundur apalagi menyesal. Karena keputusan itu adalah keputusan yang telah ia putuskan sendiri tanpa ada paksaan sama sekali.
Vidia pun menghentikan sejenak ucapannya sehingga membuat Syina berkata, “Jangan merasa kasihan padaku, Vid. Biar bagaimana pun kamu lah orang pertama yang terlebih dahilu menyukai Pak radit.”
Mendengar ucapan Syina, Vidia pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Kamu salah, Syin. Aku beneran gak apa-apa. Aku justru senang kalau kamu bisa bersama dengan Pak Radit. Mengenai perasaanku, sebenarnya ada orang lain selain Pak Radit yang aku sukai. Bahkan orang tersebut bisa di bilang adalah orang yang aku cintai.”
“Benarkah itu, Vid? Siapa?” tanya Syina penasaran dan Vidia pun mengangguk.
“Nanti saja aku kasih tahu kalau waktunya sudah tepat. Sekarang yang penting kamu terlebih dahulu katakan yang sebenarnya bagaimana perasaan kamu pada Pak Radit. Ok,” ucap Vidia yang merasa ini jauh lebih baik jika harus egois dan memaksakan keinginan sendiri tanpa menghiraukan orang lain.
Toh, dengan kejadian seperti ini, Vidia semakin menyadari satu hal. Yakni, cinta itu tidak harus memiliki. Bentuk rasa cinta bisa sebagai apa saja dan bisa dengan berbagai banyak cara untuk mengungkapkannya. Vidia melepaskan Pak Radit karena itu adalah cara Vidia menunjukkan rasa cintanya. Dia bahagia jika melihat orang yang dia sayangi juga bahagia walau tidak bersama dengan dirinya.
Sementara itu, Syina yang mendengar ucapan Vidia pun mengangguk dan kemudian berkata, “Iya, Vid. Nanti aku akan katakan padanya. Terima kasih banyak karena kamu tidak marah padaku.”
Vidia pun tersenyum dan kemudian berkata, “Sama-sama, Syin.”
***
__ADS_1
Siang harinya, Vidia mendapatkan telepon dari Davian yang menyuruhnya untuk datang ke kantor Davian dan di saat yang bersamaan, Syina juga mendengar percakapan Vidia dan Davian sehingga membuat dia bertanya, “Ada apa, Vid?”
“Hehehe.. dia nyuruh aku datang ke kantornya,” sahut Vidia sesaat setelah menutup teleponnya.
“Oh. Ya sudah. Sana. Kebetulan aku juga mau bertemu dengan Pak Radit dan mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya padanya,” ucap Syina dengan nada malu-malu.
“Cie.. cie.. semangat ya,” ucap Vidia.
Syina pun mengangguk sambil tersenyum sambil berkata, “Salam ya.”
“Iya. Nanti akan aku sampaikan padanya,…” sahut Vidia, “ya sudah. Aku pergi dulu ya.”
“Iya,” sahut Syina yang kemudian mereka berdua pun berpisah jalan.
***
Di kantor Davian…
Vidia yang sudah sampai di sana pun meminta petugas scurity untuk menyampaikan pada Davian bahwa dia sudah sampai. Tanpa menunggu sampai lama, Vidia pun langsung di perbolehkan masuk. Dengan langkah yang santai, Vidia pun berjalan menuju ruang kerja Davian.
Namun siapa sangka di depan ruangan Davian, dia bertemu dengan Prita, si sekretaris.
“Maaf, Mbak. Mbak gak boleh masuk ke dalam tanpa membuat janji terlebih dahulu,” ucapnya.
“Iya. Tapi aku di suruh sendiri oleh Pak Davian untuk datang ke sini,” sahut Vidia.
“Mana mungkin. Soalnya setiap orang yang akan menjadi tamunya pasti beliau sendiri yang meyuruhku untuk menghubungi orang tersebut. Mbak pasti bohong kan?” tuduh Prita.
“Ya sudah jika menurut Mbak, aku bohong. Aku akan menunggu di sini saja kalau begitu,” ucap Vidia yang menunggu di kursi tempat tunggu tamu depan ruangan Davian.
Sementara itu, Davian yang berada di dalam pun merasa aneh. Kenapa Vidia sangat lama sekali tidak sampai juga ke ruangannya. Di putuskannya untuk menghubungi Vidia lagi, namun ternyata ponsel Vidia tidak aktif. Hal ini membuat Davian pun mau tidak mau memutuskan untuk melihat keluar.
Setelah di luar…
“Vidia! Ngapain kamu masih di sini? Bukannya masuk ke dalam?”
“Hehehehe…”
__ADS_1
Bersambung…