
Sesampainya mereka di rumah orang tua Davian, Davian pun langsung membukakan pintu mobil tempat Vidia duduk. Dengan menggenggam tangan Vidia, Davian pun berkata, “Kamu jangan tegang. Kamu cukup diam saja. Biar selebihnya nanti aku yang atasi.”
Vidia pun mengangguk. Dia harus bisa berusaha memainkan perannya dengan baik.
“Dav, kamu sudah pulang?...” tanya Mama Tasya, “ini siapa?”
“Ma, kenalkan. Ini,...”
Ucapan Davian langsung dipotong oleh Tasya dengan berkata, “Ini bukannya pembantu di rumahmu, Dav?! Kenapa kamu bawa dia datang ke sini?”
“Pembantu?!” ucap Mama Fanya yang sepertinya kurang percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Tasya.
“Iya, Tan. Dia seorang pembantu. Tadi aku bertemu di rumah Davian,” sahut Tasya.
“Benarkah, Dav?” tanya Mama Fanya.
Davian pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Ma, mama masih ingat dengan kesepakatan kita. Hari ini adalah batas waktunya dan wanita ini adalah jawabannya.”
'Deg'
Seketika Mama Fanya pun merasa syok. Karena dia tidak habis pikir kalau ternyata putranya memang benar-benar sangat ingin membatalkan pertunangannya dengan Tasya.
“Kenapa, Ma? Mama tentunya ingat kan dengan janji Mama?!” ucap Davian dengan tatapan serius.
Sementara itu, Tasya yang mendengar pembicaraan itu pun menjadi bingung. Dia tidak mengerti dengan apa yang sedang di bicarakan oleh Davian.
“Tan, ini maksudnya apa?” tanya Tasya.
“Ck. Kamu sungguh ingin tahu, Tas?” tanya Davian dan Tasya pun mengangguk.
“Maaf. Aku dan Mama sudah membuat kesepakatan. Jika aku dalam waktu tiga hari bisa mendapatkan wanita yang mau menikah denganku, makan Mama berjanji akan membantuku untuk membatalkan pertunangan ini,” jelas Davian.
“A—a—apa?! Jadi wanita ini bukan,...” ucap Tasya syok sehingga dia tidak mampu melanjutkan ucapannya.
“Iya. Dia bukanlah pembantu melainkan dia istriku,” sahut Davian tegas dan Tasya pun langsung lemas hingga dia terduduk di sofa.
'Brak'
Suara seseorang menggebrak meja.
“Apa-apaan kamu ini?! Pertunangan dan pernikahan bukanlah sebuah permainan. Kamu jangan sembarangan,” ucap Papa Sanjaya.
“Siapa yang main-main sih, Pa. Aku tidak pernah main-main. Apalagi ini menyangkut pernikahan,...” ucap Davian yang tidak kalah tegas, “kalau Papa dan Mama atau bahkan Tasya, kalian semuanya tidak percaya. Kebetulan, aku bawakan buktinya. Ini.”
Davian pun langsung menunjukkan buku nikah mereka berdua.
__ADS_1
Dengan tangan gemetar, Mama Fanya pun mengambil buku tersebut dan membukanya. Betapa syoknya dia saat mengetahui kalau anaknya benar-benar tidak main-main.
Di saat yang bersamaan, Tasya pun juga ikut melihat buku nikah tersebut. Sama halnya dengan Mama Fanya, Tasya pun langsung syok. Baginya, ini seperti sambaran petir di siang bolong.
“Tidak. Pokoknya pernikahan ini tidak sah karena kami tidak mengakuinya,” ucap Papa Sanjaya emosi.
“Pa, walau Papa dan Mama tidak mengakuinya, tapi pernikahan ini tetap sah dan ini adalah hal yang aku inginkan. Jadi lebih baik Ma,...” Davian langsung menengok ke arah Mama Fanya, “mama harus menepati janji mama ke aku. Karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau mengakui Tasya.”
Davian pun langsung menarik tangan Vidia begitu saja. Mengajaknya untuk segera pergi dari rumah itu tanpa peduli bagaimana tanggapan dan ekspresi keluarganya.
“Mas, apa tidak apa-apa seperti ini?” tanya Vidia saat di perjalanan.
Davian pun hanya terdiam saja. Wajahnya terlihat sangat tegang sekali membuat Vidia menjadi merasa serba salah.
Setelah beberapa saat saling diam, Vidia pun lagi-lagi berkata, “Mas, bisa antarkan aku ke minimarket?”
Davian yang tadinya termenung pun akhirnya tersadar dan berkata, “Untuk apa kita ke sana? Bukannya semuanya sudah ada di lemari es?”
Vidia pun menggelengkan kepalanya lalu dia menjawab, “Tidak ada. Karena apa yang mau aku buat ini sesuatu yang sangat sederhana tapi lumayanlah buat kita santai sejenak.”
Davian pun menyipitkan matanya namun kemudian dia pun menuruti kemauan istrinya ini.
“Baiklah,” ucap Davian yang kemudian menepikan mobilnya ke sebuah minimarket yang kebetulan sedang mereka lewati.
Vidia pun tersenyum-senyum sendiri membayangkan seperti apa suasana yang akan dia buat nanti.
Davian pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
“Waaaah.. ternyata tampan juga suamiku ini,” celetuk Vidia yang baru kali pertamanya ini melihat Davian tersenyum.
“Apa sih?! Kamu ini,” ucap Davian yang menjadi salah tingkah namun sebisa mungkin dia menetralkannya.
Mereka berdua pun turun dari mobil dan masuk. Dengan terampil, Vidia pun langsung mengambil sebuah ranjang dan kemudian memasukkan semua barang yang ingin dia beli.
Sementara itu, Davian yang melihat tingkah Vidia ini pun hanya bisa melongo. Dia tidak habis pikir kenapa Vidia seperti seorang pemulung sejati.
“Hai, Vid. Kamu yakin mau beli ini semua?” tanya Davian sambil menunjuk ke arah semua barang yang ada di ranjang.
Vidia pun mengangguk mantap sambil tersenyum. Sementara itu, Davian hanya bisa menepuk jidatnya.
Sesuai permintaan Vidia, Davian pun akhirnya lah yang membayar semua barang belanjaan.
Setelah semuanya selesai, mereka pun pulang.
Dengan hati riang, Vidia pun menenteng semua barang yang sudah dia beli. Hal ini membuat Davian menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“O ya, Mas. Mas jangan tidur dulu ya. Mas kan belum makan. Akan aku buatkan makan malam,” ucap Vidia sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.
Sementara itu, Davian yang baru saja turun dari mobil pun untuk yang kesekian kalinya melongo melihat tingkah laku Vidia.
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya makanan pun jadi. Davian yang memang belum makan ini pun merasakan lapar ketika mencium bau aroma nasi goreng yang dibuat oleh Vidia sehingga tanpa sadar, Davian pun melangkahkan kaki menghampiri Vidia.
“Vid, kamu lagi masak apa sih?” tanya Davian sambil celingak-celinguk mencari sumber bau.
“Tara... Ini dia. Nasi goreng ala kampung yang sangat sederhana namun menggoda selera,” ucap Vidia sambil meletakkan sebuah piring berisi nasi goreng di depan Davian.
Memang sih terlihat sederhana, tapi aroma yang tercium di hidung Davian ini yang membuat Davian semakin tidak sabar ingin melahapnya.
Tanpa menunggu aba-aba dari yang buat, Davian pun langsung menyantap nasi goreng tersebut. Dan pada kunyahan yang pertama...
“Bagaimana?” tanya Vidia menatap Davian.
Davian pun mengangguk sambil melanjutkan makannya.
“Syukurlah kamu menyukainya,” ucap Vidia yang kemudian ikut makan bersama Davian.
Memang tidak bisa dipungkiri, awal kali Davian memakan masakan Vidia saat itu, Davian merasa sangat ketagihan dan menyukainya. Namun dia sangat gengsi jika dia harus mengakuinya.
Sesaat setelah selesai makan malam, Davian pun hendak langsung pergi ke kamarnya. Namun untuk kali pertamanya, Vidia pun menarik tangannya dan menyuruhnya duduk di sofa lalu menyalakan televisi.
Setelah televisi menyala, Vidia pun langsung memberikan beberapa bungkus camilan yang tadi sudah di belinya di minimarket.
“Vid, ini maksudnya apa?” tanya Davian bingung melihat semua bungkusan yang ada di pangkuannya.
“Ya di makan lha, Mas. Masa' mau di buat pajangan,” celetuk Vidia.
“Gak ah. Gak bagus makan seperti ini sebelum tidur,” ucap Davian sambil menaruh semuanya ke atas meja.
Vidia yang melihat itu pun lalu berkata, “Eh, Mas. Denger ya. Boleh kita menjaga. Tapi apa salahnya jika sesekali kita memanjakan diri kita. Terlebih lagi jika suasana hati sedang tidak enak, lebih baik lampiaskan saja ke hal seperti ini atau hal yang lainnya.”
Vidia pun langsung melanjutkan memakan camilan sementara Davian pun terdiam. Dia mencerna apa yang sudah dikatakan oleh Vidia.
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Davian pun mengambil dan membuka salah satu camilan yang tadi dia singkirkan.
Dia pun memakannya sambil menonton acara televisi yang Vidia setel dan setelah beberapa saat kemudian, mungkin entah karena lelah atau kenyang, dengan cepatnya Vidia pun tertidur.
Davian yang melihat ini pun untuk kesekian kalinya menggelengkan kepalanya dan kemudian mengangkat tubuh Vidia lalu membawanya ke kamar.
“Terima kasih, ya. Kamu walau kadang keras kepala, tapi berkat dirimu, aku bisa keluar dari masalah pertunangan ini. Terima kasih,” ucap Davian sambil menyelimuti Vidia dan mematikan lampu kamar.
Sementara itu Vidia, entah terasa atau hanya sedang bermimpi, dia pun tersenyum.
__ADS_1
Bersambung...