Ternyata Memang Cinta

Ternyata Memang Cinta
Lebih baik jujur


__ADS_3

Setelah beberapa saat kemudian, Vidia yang sudah merasa baikan pun akhirnya di ajak pilang oleh Davian pulang.


Sesampainya mereka di rumah, Vidia dengan sangat berhati-hati di rebahkan di atas tempat tidur oleh Davian.


“Sudah. Sekarang kamu istirahatlah. Jika ada yang ingin kamu mau, kamu bilang aja padaku,” ucap Davian saat duduk di sebelah Vidia setelah membaringkannya.


Vidia pun tersenyum mendengar ucapan Davian lalu kemudian berkata, “Untuk saat ini, aku hanya ingin Mas gak pergi lagi.”


Davian pun terdiam mendengar ucapan Vidia lalu sesaat kemudian Davian berkata, “Kamu tenang aja. Aku gak akan pergi ke mana-mana lagi kok. Sudah. Sekarang kamu istirahat dan jangan punya pkiran macam-macam.”


Vidia pun mengangguk dan kemudian memejamkan matanya lagi. Setelah beberapa saat kemudian, Davian yang sudah merasa yakin kalau Vidia sudah tertidur itu pun akhirnya memutuskan untuk keluar dan duduk di teras rumah sambil mencoba menghubungi Steven agar mau datang.


Tak sampai menunggu hingga berjam-jam lamanya, Steven pun datang dan berkata, “Dav, kamu kok tiba-tiba ada di rumah?! Bukannya tadi kamu lagi bergalau durjana di kantor?”


Davian pun terdiam tidak menanggapi ucapan Steven yang ternyata memperhatikannya namun tidak ingin menanyakannya itu.


Merasa tidak dihiraukan, Steven pun menceletuk, “Yeee.. gak di jawab. Sudahlah. Aku pergi.”


Sadar kalau temannya itu kesal, Davian pun berkata, “Steve, tunggu. Iya, sorry. Gini.. aku pulang ke rumah karena ada urusan mendadak.”


“Urusan mendadak?! Urusan apaan?” tanya Steven.


Davian pun lagi-lag terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Aku barusan antar istriku ke Rumah Sakit.”


Steven yang mendengar kata-kata Rumah Sakit pun akhirnya bertanya, “Istrimu sedang sakit? Sakit apa?”


“Dia gak sakit, Stev. Tapi dia sedang hamil,” sahut Davian.


“Ooooh.. hamil,…” ucap Steven dengan nada santai namun beberapa saat kemudian dia kembali berkata, “Apaaaa? Hamil?”


Steven pun tampak terkejut mendengar kabar kehamilan Vidia. Dia gak habis pikir kalau ternyata temannya itu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


Davian pun mengangguk sambil berkata, “Iya, Stev. Vidia sedang hamil tiga minggu.”


Steven yang sudah yakin jelas kalau apa yang di dengarnya itu kenyataan akhirnya berkata, “Wow.. selamat ya, Dav. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah.”

__ADS_1


“Iya, Stev. Terima kasih banyak,” sahut Davian.


Mereka pun akhirnya terdiam untuk beberapa saat hingga akhirnya Steve bertanya, “Lha terus? Ada urusan apa kamu nyuruh aku datang ke sini?”


Davia pun terdiam sesaat. Dia merasa ragu dengan apa yang akan dia katakan. Namun mau bagaimana lagi, saat ini Davian memang merasa sedang membutuhkan seseorang untuk di ajaknya bicara.


Setelah merasa yakin, Davian pun akhirnya menceritakan semuanya pada Steven tentang semua masalah yang saat ini sedang mengganjal pikirannya.


Steven yang mendengar cerita Davian dengan sesama ini pun akhirnya menyadari tentang kebingungan yang sedang dihadapi oleh Davian.


Steven pun berusaha memberikan masukan agar Davian lebih baik mengatakannya dengan jujur pada Vidia dan jangan membuat Vidia bingung. Sebab itu akan menambah beban pikirannya.


Sementara Davian yang mendapatkan saran seperti itu pun merasa kalau apa yang disarankan oleh Steven itu memang ada benarnya juga. Segala sesuatu jika sudah di putuskan untuk hidup bersama memang harus saling jujur dan terbuka. Tidak pedui awal hubungan itu terjalin karena apa, tapi yang pasti kalau pernikahan mereka bukan lagi hanya sebatas kesepakatan, melainkan pernikahan yang sah dan benar-benar terjadi.


“Ya sudah kalau bergitu Stev. Terima kasih banyak ya atas masukannya. Aku mungin akan cari waktu yang tepat untuk mengataknnya pada Vidia,” ucap Davia.


Steven yang mendengar ucapan Davian pun tersenyum. Sambil memegang salah satu pundak Davian, Steven pun berkata, “Nah gitu donk. Aku percaya dan yakin kalau Vidia akan bisa mengerti posisimu saat itu.”


Davian pun mengangguk lalu berkata, “Iya. Kamu benar.”


Sesaat setelah kepergian Steven, Davian pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam dan melihat bagaimana keadaan Vidia.


Di dalam kamar, Davian pun mencoba memegang kening Vidia yang ternyata sudang tidak panas lagi.


“Syukurlah,” gumam Davian sambil membetulakn selimut yang sedang menutupi tubuh Vidia.


***


Sore harinya, Vidia pun terbangun dengan kondisi badan yang sudah jauh merasa lebih baik.dan saat itu, Vidia baru merasakan kalau dirnya lapar.


Davian yang saat itu sedang tertidur di samping Vidia pun akhirnya dibangunkan oleh Vidia.


Sambil menggoyang-goyangkan tubuh Davian, Vidia pun berkata, “Mas, bangun. Aku kok lapar ya, Mas.”


Davian yang ternyata tidak sepenuhnya tertidur ini pun akhirnya langsung bangun dan bertanya, “Kamu kan emang seharian belum makan. Wajar aja kalau sekarang merasa lapar. Ya sudah. Kamu mau makan apa?”

__ADS_1


Vidia pun terdiam sejenak berpikir makanan apa yang ingin dia makan. Hingga sesaat kemudian dia pun menyahut, “Mas, aku pingin makan batagor. Mas bisa belikan gak?”


“Oh. Batagor ya?! Ya sudah. Aku pesankan dulu ya,” ucap Davian yang langsung mengambil ponselnya dan segera memesankannya lewat on line.


Sementara itu, sambil menunggu pesanan datang, Davian pun memutuskan untuk mandi dan menggati pakaiannya di susul oleh Vidia yang dengan pelan-pelan juga membasuh mukanya dan mengganti pakaiannya.


Setelah mereka berdua sudah merasa segar, mereka pun memutuskan untuk menunggu pesanan di ruang keluarga sambil menoton televisi.


Tak selang berapa lama kemudian, pesanan mereka pun datang dan mereka pun memekannya. Karena berhubung yang namanya sedang hamil muda, Vidia pun hanya menyicipinya sedikit dan kemudian sisanya diberikan pada Davian.


Davian yang melihat itu pun bertanya, “Kenapa gak dihabiskan? Bukanya kamu seharian belum makan?”


Vidia pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Gak ah. Aku sudah kenyang. Buat mas aja.”


Davian yang mendengar itu pun meyipitkan matanya dan kemudian berkata, “Ya sudah. Terus sekarang kamu mau makan apa?”


Vidia pun lagi-lagi menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Aku gak mau makan apa-apa. Aku hanya ingin melihat Mas yang sedang makan aja.”


Davian pun menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Kamu itu ada-ada aja, Vid. Ya sudah. Kalau begitu aku habiskan, ya?”


Vidia pun menganggukan kepalanya.


“O ya, Vid. Ada yang ingin aku sampaikan padamu,” ucap Davian sesaat setlah itu.


“Ada apa, Mas?” tanya Vidia.


Davian pun menghentiksn makannya dan kemudian berkata, “Aku mau bilang alasanku kemarin jarang pulang.”


“Oh. Aku kira apa,…” ucap Vidia, “Mas jarang pulang karena sedang banyak pekerjaan yang harus mas selesaikan kan?”


Mendengar tebakan Vidia seperti itu, Davian pun menggelengkan kepalanya sehingga Vidia pun bertanya lagi, “Lha terus apa?”


“Hmm.. ini soal kelangsungan pernikahan kita ini,” sahut Davian.


“Maskdunya?”

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2