Ternyata Memang Cinta

Ternyata Memang Cinta
Dihadapi bersama


__ADS_3

“Hmm.. ini soal kelangsungan pernikahan kita,” sahut Davian.


“Maksudnya?”


Vidia pun merasa bingung dengan ucapan Davian. Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di katakan suaminya itu.


Davian yang mengerti dengan kebingungan Vidia pun akhirnya mejelaskan semuanya dari awal hingga akhir tanpa ada satu pun yang ditutup-tutupi oleh Davian.


Vidia yang mendengarkan semua penjelasan yang diberikan oleh Davian pun hanya bisa menyipitkan mata dan kemudian protes dengan berkata, “Kenapa Mas gak bilang soal ini dari awal? Kenapa malah memilih meyimpannya sendiri?”


“Aku hanya gak mau membuat kamu sedih waktu itu,” sahut Davian.


“Mas, justru kalau mas gak menjelaskan apa-apa malah membuat aku menjadi sedih dan juga bingung,…” ucap Vidia, “Justru jika sudah terbuka seperti ini, kita kan bisa cari jalan keluarnya sama-sama?!”


Mendengar ucapan Vidia seperti itu, Davian pun akhirnya meminta maaf karena sudah salah mengambil langkah.


“Ya sudah. Gak apa-apa. Lalu sekarang, apa yang akan mas putuskan? Apa masih berniat ingin menceraikan aku?” tanya Vidia pasrah.


Davian yang mendengar pertanyaan Vidia seperti itu pun langsung memukul pelas kepala Vidia sambil berkata, “Bisa-bisanya kamu bertanya seperti itu. Ya jelas aja aku gak akan menceraikan kamu. Apalagi sekarang kita akan menjadi orang tua. Mana mungkin aku setega itu padamu.”


“Ya kali aja kayak begitu,” celetuk Vidia.


“Ish. Kamu ini,” ucap Davian.


“Lha kalau keputusan mas sepertu itu, lalu bagaimana dengan Tasya? Pasti dia akan marah besar. Secara kan ini sama aja mas memberikan dia sebuah harapan palsu?!” ucap Vidia.


“Ya mau bagaimana lagi, Vid. Lebih baik seperti ini daripada aku harus mengorbankan anak kita demi orang egois seperti Tasya,” ucap Davian.


“Oh,” Sahut Vidia singkat.


***


Keesokan harinya, entah ada angin apa, tiba-tiba saja Vidia berkata, “Mas, kita ke rumah orang tuamu yuk.”


Davian pun terkejut mendengar ucapan istrinya itu lalu kemudian bertanya, “Mau ngapain kita ke sana?”

__ADS_1


“Ya jelas mau kasih tahu kabar bahagia ini lha sambil kita jujur pada mereka sebelum mereka tahu duluan dari Tasya,” ucap Vidia sambil mengelus-elus perutnya.


Davian yang awalnya sedang bersiap-siap berangkat ke kantor ini pun akhirnya menghentikan aktivitasnya dan kemudian duduk di pinggir tempat tidur.


“Vid, apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan itu?” tanya Davian yang tahu benar bagaimana karaketer kedua orang tuanya.


“Aku yakin, Mas. Kita gak usah menutup-nutupinya lagi dari orang tuamu,” ucap Vidia.


Mendengar ucapan Vidia, Davian pun terdiam sejenak lalu berkata, “Ya sudah. Kalau begitu nanti agak siangan kita ke sana.”


Davian pun langsung melepaskan kembali baju kantornya dan menggantinya dengan pakaian santai di rumah. Sementara itu, Vidia yang melihat suaminya mengganti pakaian ini pun bertanya, “Eh Mas. Kok ganti baju? Emang gak berangkat ke kantor?”


Davian pun menggelengkan kepalanya dan kemudian menyahut, “Gak lah. Bukannya kita mau ke rumah orang tuaku?”


“Aih..” ucap Vidia singkat.


***


Siang harinya, seperti yang sudah mereka rencanakan sebelumnya, Davian dan Vidia pun akhirnya berangkat menuju rumah orang tua Davian.


“Kalian kok gak bilang-bilang kalau mau datang?” tanya Mama Fanya.


“Iya. Maaf, Tan. Kami memang ke sininya dadakan,” sahut Vidia sopan.


“Oh begitu. Ya sudah. Ayo masuk ke dalam,” ucap Mama Fanya yang memang saat itu dia sedang menyiram tanaman di halaman rumah.


Tanpa menunggu lama, Davian dan Vidia pun masuk ke dalam rumah. Di dalam mereka melihat Papa Sanjaya sedang asik menoton berita di televisi.


“Pa,” sapa Davian.


Mendengar dirinya di sapa, Papa Sanjaya pun menengok dan kemudian berkata, “Eh kamu, Dav. Papa kira tadi siapa.”


Davian pun tersenyum mendengar ucapan Papanya. Semenatra itu, Papa Sanjaya ternyata menyadari kehadiran Vidia dan kemudian berkata, “Kalian makin lengket aja kaya perangko dan amplop.”


Vidia pun yang kali ini tersenyum mendengar ucapan Papa Sanjaya. Di saat bersamaan, Mama Fanya datang sambil membawa camilan dan juga minuman.

__ADS_1


“Kalian tumben datang ke sini. Ada apa?” tanya Mama Fanya bingung.


Davian dan Vidia pun terdiam. Namun pertanyaan Mama Fanya ini justru di jawab oleh Papa Sanjaya dengan berkata, “Mama ini gimana. Masa’ anak datang ke rumah orang tuanya pakai di tanya segala ada apa. Ya jelas aja untuk mengunjungi kita. Iya kan, Dav?”


Davian pun tersenyum sekaligus terkejut karena baru kali ini Papa Sanjaya begitu sangat pengertian seperti itu.


“Hmm.. Begini Pa, Ma. Aku dan Vidia ke sini mau memberitahukan dua hal pada kalian. Yang pertama hal baik dan yang ke dua, kami sendiri gak tahu bagaimana pendapat Papa dan Mama setelah mengetahui hal tersebut,” ucap Davian memberanikan diri untuk mencoba mengatakannya.


Mendengar ucapan Davian, Papa dan Mamanya pun saling pandang antara satu dengan lainnya karena merasa bingung dengan apa maksud dari ucapan Davian.


“Sebenarnya hal apa yang ingin kamu sampaikan pada kami, Dav?” tanya Papa Sanjaya.


Davian pun menarik napas panjang dan coba mempersiapkan diri untuk segala hal yang mungkin saja akan terjadi.


“Pa, Ma, maaf sebelumnya. Kedatangan kami datang ke sini karena kami ingin mengakui kesalahan yang telah kami perbuat,” ucap Davian semakin membuat Papa dan Mamanya tidak mengerti dan bingung.


“Maksud kamu apa, Dav?” tanya Mama Fanya.


“Pa, Ma, sebenarnya awal kami menikah itu tujuan awalnya hanyalah agar aku bisa terbebas dari pertunangan dengan Tasya. Namun setelah kami berpikir ulang, ternyata kami sudah merasa nyaman dengan status penikahan ini sehingga membuat kami membatalkan kesepakatan di antara kami dan menganggap pernikahan ini adalah pernikahan yang nyata,” jelas Davian panjang dan lebar karena berharap Papa dan Mamanya bisa mengerti.


Mendengar ucapan Davian, Papa Sanjaya pun menghela napas panjang dan kemudian berkata, “Ya sudahlah. Kami berdua tidak akan mempermasalahkan alasan kalian bisa menikah itu karena apa. Karena biar bagaimana pun, kalian bisa seperti ini itu juga karena kami.”


Mendengar tanggapan Papa Sanjaya, Davian pun antara percaya dan tidak percaya sehingga dia pun memastikannya dengan bertanya, “Jadi Papa gak marah pada kami?”


Papa Sanjaya pun menggelengkan kepalanya di iringi oleh pertanyaan Mama Fanya yang bertanya, “Lalu hal yang kata kalian itu baik apa?”


Mendapatan pertanyaan itu, Davian pun tersenyum dan kemudian berkata, “Kalau untuk hal itu, alangkah lebih baiknya jika Vidia sendiri yang menjawab.”


Mendengar ucapan Davian, Mama Fanya pun langsung melihat ke arah Vidia yang sedang malu-malu sehingga membuat Mama Fanya bertanya, “Sebenarnya ini ada apa sih?”


“Hmm.. Tante.. aku hamil,” sahut Vidia lirih.


“Apa?!”


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2