Ternyata Memang Cinta

Ternyata Memang Cinta
Keegoisan Tasya


__ADS_3

Sementara itu, Davian langsung mendatangi rumah orang tuanya dan lalu dengan tegas Davian berkata, “Pa, sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan Vidia. Walau dia menjauh dariku sekali pun, aku yang akan tetap mencarinya dan tidak akan aku lepaskan dia sampai kapan pun.”


Saat itu, Papa Sanjaya yang sedang kebetulan bersama dengan Papa Atmaja pun spontan langsung saling memandang antara satu dengan lainnya. Hingga akhirnya Papa Atmaja berkata, “Ya sudah. Gak apa-apa, Dav. Kami tidak dapat memaksamu melakukan hal yang tidak kamu sukai.”


Papa Sanjaya yang mendengar ucapan itu pun lalu bertanya, “Apa benar tidak apa-apa seperti itu? Lalu bagaimana dengan Tasya nanti?”


Papa Atmaja pun menghela nafas panjang dan kemudian berkata, “Inilah resiko dari sikap dia yang tidak menghargai nasihat kita. Aku sebagai orang tua juga tidak ingin egois dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain hanya demi menuruti keegoisan anak sendiri.”


Setelah mengatakan hal itu, Papa Atmaja lalu melihat ke arah Davian yang saat itu sedang duduk di hadapannya dan berkata, “Tolong sampaikan permintaan maaf bapak pada istrimu karena demi Tasya dan keluarga bapak, dia rela berusaha melepaskanmu.”


“Iya. Nanti aku sampaikan padanya,” sahut Davian.


“O ya satu lagi. Tolong jaga istrimu baik-baik. Dia terlalu berharga untuk disakiti,” pesan Papa Atmaja.


“Tidak usah di pesan seperti itu pun aku sudah pasti akan menjaganya baik-baik,” ucap Davian mantap sehingga membuat Papa Atmaja pun tersenyum.


Sementara itu, Papa Sanjaya mengetahui hal itu pun akhirnya tidak dapat berbuat apa-apa selain diam.


***


Dua hari setelah itu, Tasya yang sudah dinasihati oleh Papa Atmaja agar tidak mengharapkan Davian lagi pun menjadi tidak terima. Dia pun diam-diam memutuskan untuk pergi dari rumah dan mendatangi kantor Davian.


Sementara itu, Davian yang saat itu sedang kebetulan berada di ruangannya pun tiba-tiba terkejut dengan kedatangan Tasya.


“Tasya?! Mau apa kamu datang ke sini?” tanya Davian tidak bersahabat.


“Aku datang tentunya untuk menemuimu dan memintamu untuk segera menceraikan istrimu,” ucap Tasya memaksakan kehendaknya sendiri.


Davian yang melihat dan mendengar ucapan Tasya seperti itu pun menggelengkan kepalanya. Dia sangat tidak habis pikir kenapa Tasya sampai segitu merendahkan harga dirinya sendiri seperti ini.


“Tas, maaf. Aku tidak bisa,” sahut Davian tegas.


“Kenapa? Kenapa kamu sampai segitunya tidak suka padaku? Apa salahku?” tanya Tasya.


Davian pun terdiam. Dia sama sekali tidak menyahuti pertanyaan Tasya itu.

__ADS_1


Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja telepon yang ada di atas meja kerja Davian pun berdering.


“Halo,” ucap Davian.


“Pak, tamu yang bapak tunggu sudah datang,” ucap Prita, sekretaris Davian.


“Ya baiklah. Saya akan segera ke sana,” sahut Davian yang kemudian langsung menutup teleponnya.


Sesaat setelah menutup teleponnya, Davian pun langsung melihat ke arah Tasya dan berkata, “Labih baik kamu pulang sekarang. Jawabanku tidak akan berubah. Jadi percuma saja kalau kamu tetap berada di sini.”


“Enggak. Aku gak akan pergi sebelum kamu mau mengikuti keinginanku,” ucap Tasya yang sangat keras kepala dan egois.


“Terserah kamu,” ucap Davian singkat dan kemudian pergi meninggalkan Tasya seorang diri di dalam ruangan Davian.


***


Di kampus, Vidia merasa kalau masalah yang menimpanya beberapa hari belakangan ini sangat membuat nafsu makannya menjadi turun drastis. Sehingga membuat tubuh Vidia menjadi sangat lemas.


“Vid, lo kenapa?” tanya Syina yang menyadari ada yang berubah dari diri Vidia.


“Eh?! Gak boleh.. gak boleh.. ini bukan jam yang bagus untuk tidur. Pokoknya gak boleh,” ucap Syina melarang tegas Vidia untuk tidur.


“Iya. Tapi gue ngantuk dan lemas banget,” ucap Vidia.


“Pokoknya gak boleh. Titik gak pakai koma,” ucap Syina.


Tapi karena memang Vidia sedang merasa mengantuk, Vidia pun tertidur selama jam mata kuliah berlangsung. Beruntung saat itu adalah jam mata kuliah Pak Radit. Jadinya melihat Vidia tertidur pun Pak Radit tidak mau menegurnya. Hanya saja ketika jam mata kuliah selesai, Pak Radit tidak langsung keluar dari kelas melainkan menghampiri tempat duduk Vidia.


Syina yang saat itu sedang duduk di sebelah Vidia pun melihat ke arah Pak Radit sambil mengangkat ke dua bahunya. Pak Radit yang melihat itu pun menyipitkan matanya lalu kemudian menggoyang-goyang tubuh Vidia mencoba membangunkannya.


Setelah beberapa saat kemudian, Vidia pun terbangun dan masih dengan mata yang sangat barat untuk terbuka, Vidia pun berkata, “Ya. Hum?”


Mendapatkan respon seperti itu, Pak Radit pun langsung melihat ke arah Syina dan Syina pun paham dengan apa yang Pak Radit sampaikan.


“Vid, bangun Vid. Ayo kita pulang saja. Rasanya lo hari ini sedang tidak fokus kuliah deh. Pulang aja yuk,” ajak Syina.

__ADS_1


Vidia yang saat itu masih setengah sadar pun akhirnya bertanya, “Pulang?! Memangnya sekarang bukannya ada di rumah?”


Syina yang mendengar ucapan Vidia seperti itu pun hanya bisa melongo. Dia tidak habis pikir dengan sikap Vidia yang hampir sama seperti orang mabuk.


“Gak, Vid. Kamu sekarang masih ada di kampus,” sahut Pak Radit.


“Ha?! Di kampus?!...” Vidia pun langsung mengucek-ngucek matanya dan mencoba menyadarkan dirinya, “Eh iya. Ternyata memang masih ada di kampus. Hehehe…” ucap Vidia kemudian membuat Syina menepuk jidatnya.


“Ya sudah Vid. Mending sekarang lo pulang aja ya. Kelihatannya lo emang lagi butuhh istirahat deh,” ucap Syina.


Vidia pun mengangguk dan setelah itu Vidia pun langsung mengambil tasnya dan kemudian pergi meninggalkan Pak Radit dan juga Syina sehingga keduanya pun saling menatap.


“Sepertinya Vidia sedang mengahadapi sebuah masalah yang bisa menguras energinya seperti itu,” ucap Syina.


***


Di rumah setelah Vidia sampai, Vidia langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan dirinya. Bukan hanya tubuhnya saja yang merasa lemas, kepalanya pun mendadak menjadi pusing.


“Aduh.. kenapa badanku rasanya seperti ini?!” gumam Vidia sambil memegangi kepalanya.


Sementara itu di kantor Davian, Tasya yang di tinggal sendirian di dalam ruangan Davian pun mencoba berjalan ke arah meja kerjanya Davian. Dia pun membuka satu persatu semua benda dan lemari yang ada di sana.


Hingga suatu ketika, saat dia membuka salah satu laci yang ada di meja kerja…


“Ini?!...”


Setelah setengah jam kemudian, Davian pun telah selesai menemui tamunya. Dia pun terkejut karena mendapati Tasya masih ada di ruangannya.


“Kamu kenapa masih ada di sini?” tanya Davian dengan nada ketus sambil melangkahkan kakinya menuju ke meja kerjanya.


“Ya tentu saja untuk membuatmu mengatakan kalau kamu bersedia menceraikan istrimu,” sahut Tasya santai sambil berjalan mendekati Davian.


“Kan aku tadi udah bilang kalau keputusanku tidak akan berubah,” ucap Davian kesal.


“Benarkah?! Ini,” ucap Tasya sambil melemparkan sebuah map ke atas meja kerja Davian.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2