Ternyata Memang Cinta

Ternyata Memang Cinta
Perasaan tidak enak


__ADS_3

Karena merasa kalau Vidia tidak mungkin untuk memasak, Davian pun akhirnya memutuskan untuk menepikan mobilnya ke sebuah rumah makan. Batapa terkejutnya ia saat melihat Steven juga ada di sana.


“Steve, kamu ada di sini juga?” tanya Davian sambil menyipitkan matanya.


Bukan hanya Davian saja yang terkejut, ternyata Steven pun juga terkejut. Pasalnya ia merasa seperti sedang tertangkap basah karena sudah ketahuan berada di luar kantor. Namun Steven sendiri pun tidak mau kalah dengan menjawab, “Lha kenapa aku gak boleh ada di sini?! Sekarang kan sedang jam istirahat. Lha sendirinya juga kenapa gak masuk kantor?”


“Gak ada alasan. Lagi gak mau masuk aja,” sahut Davian santai membuat Steven menahan kesal.


Di saat yang bersamaan, Vidia yang sedang merasa kurang sehat pun hanya bisa diam. Dia sangat tidak antusias untuk ikut mengobrol. Hal ini rupanya disadari oleh Steven yang dari tadi memperhatikan Vidia.


“Eh, Dav. Istrimu kenapa?” tanya Steven.


Davian yang mendapatkan pertanyaan itu pun akhirnya tersadar akan tujuan awalnya dia datang ke rumah makan itu karena apa.


“Oh iya. Aku hampir aja lupa. Aku ke sini gara-gara dia lagi kurang enak badan,” sahut Davian.


Steven yang mendengar itu pun bingung lalu bertanya, “Kalau istrimu sedang tidak enak badan, kenapa kamu malah bawa dia ke rumah makan dan bukannya ke rumah sakit?”


“Eh?! Emang kenapa? Kan gara-gara dia kurang enak badan ini lha jadinya gak ada makanan di rumah,” sahut Davian dengan logat santainya.


“Astaga...” Steven pun menepuk jidatnya.


***


Sementara itu di tempat lain namun di tempat yang berbeda, sesuai dengan kesepakatan sebelumnya, Papa dan Mama Davian pun bertemu dengan Papa dan Mamanya Tasya.


Setelah mengobrol ngalor ngidul, tiba saatnya mereka pun akhirnya membahas tentang pemasalahan anak-anak mereka.


“…jadi bagaimana kira-kira solusi yang terbaik?” tanya Papa Atmaja.


Baik dari pihak Papa Sanjaya maupun dari pihak Papa Atmaja, mereka sama –sama terdiam hingga akhirnya Papa Sanjaya berkata, “Kita tidak ada jalan lain selain meminta bantuan pada istrinya Davian.”


Mendengar ucapan Papa Sanjaya seperti itu, Mama Fanya pun terkejut dan akhirnya bertanya, “Apa yang mau Papa lakukan padanya?”


“Haiz, Ma. Papa tidak akan melakukan apa-apa padanya. Papa hanya ingin menterlibatkannya untuk mengambil keputusan. Sebab kita semua yang ada di sini kan tahu bagaimana sifat Davian. Jadi apa salahnya jika kita merundingkan hal ini juga pada istrinya Davian,” jelas Papa Sanjaya sehingga membuat Mama Fanya pun terdiam.


Sementara itu, Papa Atmaja dan Mama Rahma yang juga mendengar akan hal itu pun bingung hingga Papa Atmaja pun bertanya, “Apakah istri Davian akan mau membantu kita?”


“Aku pun gak tahu. Kita coba aja. Soalnya ini sudah tidak ada jalan lain selain seperti itu,” sahut Papa Sanjaya dan Papa Atmaja pun mengangguk-angguk merasa kalau memang ada benarnya juga ucapan dari Papa Sanjaya.

__ADS_1


***


Di saat yang bersamaan di rumah makan…


‘Uhuk.. uhuk..’


Vidia tiba-tiba saja tersedak dan membuat Davian terkejut lalu bertanya, “Kamu kenapa, Vid? Gak apa-apa kan?”


Vidia pun menggelengkan kepalanya lalu meminum segelas air di depannya dan kemudian berkata, “Aku gak tahu. Tiba-tiba saja tersedak. Tapi aku gak apa-apa.”


Steven yang juga ternyata jadi ikut makan bersama mereka pun menceletuk, “Kayaknya ada yang lagi ngomongin istrimu deh.”


Medengar ucapan Steven, Davian merasa ada percayanya juga tidak ada percayanya. Tapi kalau pun dia percaya dengan hal itu, lalu siapa yang telah membicarakan istrinya.


Davian pun larut dalam pikirannya sendiri dan di saat yang bersamaan Vidia pun menyahut, “Kalau emang ada yang ngomongin aku, pastinya mungkin saja dia itu temanku dan pacarnya. Hehehe… soalnya temanku itu kan orangnya bawel.”


“Oh,” sahut sngkat Steven.


Namun walau pun seperti itu, tetap saja perasaan Davian jadi tidak enak. Entah apa yang akan terjadi, tapi dia berharap kalau semuanya baik-baik saja.


***


Saat perjalanan pulang, Davian bolak balik menengok ke arah Vidia. Dia memperhatikan wajah Vidia yang sangat pucat.


Vidia pun menggelengkan kepalanya lalu menyahut, “Gak apa-apa. Hanya ingin istirahat aja. Rasanya lelah sekali.”


“O ya sudah. Nanti sesampainya di rumah, kamu langsung istirahat. Aku pergi sebentar. Mendadak ada hal yang harus aku kerjakan di kantor,” ucap Davian dan diangguki oleh Vidia.


Lalu beberapa saat kemudian, mereka pun akhirnya sampai dan Vidia pun langsung segera turun. Sementara itu, davian pun lalu pergi lagi.


Sesuai dengan apa yang di katakan oleh Davian, Vidia pun langsung merebahkan dirinya untuk beristirahat. Namun sebelum itu, Vidia pun bergumam, “Kenapa badanku rasanya gak enak seperti ini?”


***


Davian yang beberapa saat kemudian sudah sampai di kantor pun langsung masuk ke dalam ruangan Steven. Sehingga membuat yang empunya ruangan pun spontan berkata, “Eh kutu kupret. Ngagetin aja. Bukannya kamu gak ngantor?! Napa hari gini datang? Masih kangen aku ya?”


‘Pletak’


Davian langsung melemparkan sebuah pulpen yang ada di atas meja kerja Steven sehingga yang bersangkutan pun spontak memekik kesakitan lalu protes dengan berkata, “Hai, sakit tahu.”

__ADS_1


Namun ucapan Steven ini tidak ditanggapi oleh Davian. Justru Davian malah mengatakan hal lain.


“Stev, semenjak kejadian tadi di rumah makan, kenapa perasaanku jadi gak enak ya?!” ucap Davian.


“Gak enak gimana?” tanya Steven sambil masih memegangi kepalanya yang tadi dilempari pulpen oleh Davian.


“Ya gak enak aja pokoknya. Kayak seperti akan terjadi sesuatu yang benar-benar tidak di harapkan,” jelas Davian.


“Ish. Kamu ini jangan terlalu banyak berpikiran negatif begitu. Berdoa aja agar semuanya baik-baik saja,” ucap Steven.


“Iya, Stev.”


***


Keesokan harinya, Vidia yang merasa tidak ada perubahan pada dirinya pun akhirnya memutuskan untuk memeriksakan diri ke Dokter namun tanpa sepengetahuan Davian.


Sesampainya di sana, dia di tanya beberapa pertanyaan yang di lontarkan oleh seorang Dokter dan setelah beberapa saat kemudian, Dokter tersebut pun menyimpulkan bahwa Vidia hanya kelelahan dan kurang istirahat. Dokter itu pun menyarankan agar Vidia tidak sering melakukan kegiatan malam bersama suami.


Mendapatkan saran seperti itu, spontan raut wajah Vidia pun memerah karena malu sehingga membuat Vidia dalam hati menggerutu, “Ini semua gara-gara si wajah batu itu. Kenapa sih begitu semangat. Bukannya kalau udah waktunya punya anak juga bakal punya anak?!”


***


Sesampainya di rumah, Vidia pun terkejut karena tiba-tiba saja ponselnya berdering.


“Halo,” ucap Vidia saat mengangkat teleponnya.


“Vid, lo udah gak ada di kost-kostan lo ya?! Lo pindah ke mana? Gue pingin main,” ucap Syina.


“Iya, Syin. Gue udah pindah. Ntar gue kirim alamatnya deh,” sahut Vidia.


“Ok. Jangan lupa,” pesan Syina.


“Iya,” sahut Vidia singkat yang kemudian mengakhiri panggilannya.


Vidia yang langsung seketika itu juga mengirim pesan singkat berisi alamat rumahnya pun tiba-tiba teringat kalau rumah itu adalah rumah pribadi Davian sehingga membuat Vidia spontan menepuk jidatnya sambil bergumam, “Aduh. Aku kenapa bisa sampai lupa. Gimana nih? Mana pesannya udah terlanjur terkirim.”


Lalu di saat yang bersamaan, Davian pun tiba-tiba juga pulang sehingga membuat Vidia tiba-tiba saja mengeluarkan keringat dingin.


“Vid, kamu kenapa? Kok gak masuk ke dalam?” tanya Davian yang merasa aneh dengan istrinya yang masih berdiam diri mematung di halaman rumah mereka.

__ADS_1


“Eh?! Itu,…”


Bersambung…


__ADS_2