Ternyata Memang Cinta

Ternyata Memang Cinta
Ternyata bisa baik


__ADS_3

“Melihatmu sedang bersama pria lain, entah mengapa hati ini rasanya seperti diiris pisau? Perih.” -\=Davian\=-


***


Setelah sampai di gerbang, Vidia pun langsung masuk ke dalam mobil Davian. Namun belum juga ngadem, tiba-tiba saja Davian langsung bertanya, “Siapa pria tadi?”


Vidia yang baru saja masuk ke dalam mobil ini pun sontak menengok ke arah Davian lalu bertanya, “Maksudmu?”


“Heleh.. pura-pura gak ngerti,” ucap Davian.


“Eh. Ini beneran gak ngerti maksud mas itu apa, sih? Pria apa? Yang mana?” tanya Vidia yang tidak sadar kalau yang di maksud oleh Davian itu adalah Dosen kesayangannya, Pak Radit.


Davian pun terdiam. Dia berpikir ulang kenapa dia sampai segitunya menanyakan hal ini pada Vidia.


“Sudahlah. Lupain aja pertanyaanku tadi,” ucap Davian yang kemudian melajukan mobilnya.


Vidia yang merasa kalau tadi dia membawa motor pun akhirnya teriak, “Eh mas.. mas.. berhenti!”


Davian pun spontan langsung menghentikan mobilnya dan bertanya, “Ada apa?”


“I—i—tu. Motorku gimana?” tanya Vidia.


Davian yang mendengar pertanyaan Vidia pun spontan langsung memukul pelan kepala Vidia.


“Kok kepalaku malah di pukul sih?” protes Vidia.


Davian pun menarik nafas panjang lalu bertanya, “Sekarang jawab aku. Kamu memang taruh motornya di mana?”


“Di halaman parkir kampus.”


“Di parkiran kampusmu itu ada yang jaga gak?”


“Ada.”


“Ya sudah kalau ada. Berarti gak masalah donk kalau kamu biarkan di sana?”


“Cih. Orang kaya kalau ngomong gitu sih enak. Lha kayak aku gini. Butuh waktu panjang tau gak sih buat dapetin tuh motor,...” ucap Vidia, “apalagi itu motor aku dapat dari hasil tabunganku selama ini.”


Seakan tidak menghiraukan ucapan Vidia, Davian pun akhirnya melajukan mobilnya kembali sehingga membuat Vidia berteriak, “Woi, mas. Itu motorku gimana?”


“Biarkan saja hilang,” sahut Davian.


“Apa?! Aku gak mau. Gak rela. Huaaaaaaa..”


Melihat tingkah Vidia seperti ini, diam-diam Davian pun tersenyum.


Setelah lelah dengan dramanya, Vidia pun sadar kalau dirinya di bawa ke suatu tempat yang tidak dia kenal.


“Ini di mana?” tanya Vidia bingung.

__ADS_1


“Turunlah. Nanti kamu juga akan tahu sendiri,” ucap Davian.


Vidia pun akhirnya menurut dan kemudian turun dan kemudian di susul oleh Davian.


“Wow. Banyak sekali yang menjual makanan di sini,” ucap Vidia yang berlari ke sana ke sini menghampiri setiap tukang jualan makanan kuliner.


“Kamu mau beli?” tanya Davian dan Vidia pun mengangguk.


“Ya sudah. Ayo kita beli semua yang ada di sini,” ucap Davian membuat Vidia sangat senang.


Vidia pun langsung menarik tangan Davian dan mereka pun akhirnya membeli semua yang di jual di sana dan kemudian duduk di bangku taman tidak jauh dari tempat mereka membeli makanan.


“Hmm.. enak bener ya makanannya. Mas benar-benar tahu tempat jual makanan enak, ya?!” ucap Vidia sambil terus menikmati semua makanan yang sudah dia beli.


Davian pun tersenyum lalu berkata, “Dari semua yang kamu makan ini, tidak ada satu pun yang sesuai dengan seleraku.”


'Uhuk.. uhuk..’


Spontan Vidia pun spontan langsung tersedak makanan yang dia makan.


“Kamu gak apa-apa, Vid?” tanya Davian yang langsung memberikan sebotol air mineral.


Vidia pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Gak, gak apa-apa.”


Vidia pun langsung coba menenangkan diri dulu dari rasa ingin batuknya.


“Mas, kamu ini aneh deh. Makanan begini enak kenapa bisa tidak sesuai dengan seleramu?! Ish,” ucap Vidia.


Sebenarnya dalam hati Davian, hanya masakan yang di buat Vidia lah yang mampu menggugah seleranya.


Setelah beberapa saat kemudian...


“Sudah teleponnya, Mas?” tanya Vidia sambil menyantap makanannya.


Davian pun mengangguk lalu duduk di sebelah Vidia. Mereka pun berada di sana untuk beberapa waktu hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.


Sesampainya di rumah, Vidia terkejut karena motor ternyata sudah terparkir di halaman rumah.


“I—i—itu?!” ucap Vidia sambil menunjuk ke arah motornya.


Davian seperti biasa. Dia hanya diam saja tidak mengatakan apa-apa melainkan langsung turun.


Melihat itu, Vidia yang sudah mulai terbiasa dengan sikap Davian ini pun akhirnya ikut turun dan menyusul langkah Davian.


“Terima kasih ya,” ucap Vidian.


“Sama-sama,” sahut Davian singkat sehingga membuat Vidia menghentikan langkahnya.


“Ternyata memang benar dia yang sudah melakukannya,...” ucap Vidia sambil tersenyum, “Eh tunggu aku!”

__ADS_1


***


Di saat yang bersamaan, di rumah keluarga Putra Sanjaya, Tasya yang sudah benar-benar kesal dan marah pun akhirnya memutuskan untuk pulang.


“Tas, kamu mau pulang?” tanya Mama Fanya baik-baik.


“Iya, Tan. Soalnya aku sudah tidak punya arti lagi di keluarga ini,” sahut Tasya.


“Maafkan Tante, Tas. Tante sendiri gak tahu bagaimana jadi seperti ini. Soalnya tante sendiri gak menyangka kalau Davian akan benar-benar bisa melakukannya,” ucap Mama Fanya merasa bersalah.


“Iya. Gak apa-apa, Tan. Aku bisa ngerti kok. Aku pamit pulang ya, Tan. Salam buat Om,” ucap Tasya yang kemudian pergi.


***


Setelah melakukan perjalanan beberapa saat, Tasya pun akhirnya sampai di rumahnya. Dengan wajah sedih, Tasya pun langsung memeluk Mama Rahma sambil menangis.


Mama Rahma yang melihat putrinya seperti itu menjadi bingung lalu bertanya, “Tasya sayang. Ada apa?”


“Ma, Davian Ma,” rengek Tasya.


“Davian kenapa, Tas?” tanya Mama Rahma.


“Huhu... Davian menikah, Ma. Dia menikah karena dia gak mau sama aku, Ma. Huaaaaa..”


Tasya pun tidak dapat menahan kesedihannya. Dia meluapkan semuanya dengan menangis sekencang-kencangnya. Sementara itu, Mama Rahma yang mendapatkan kabar seperti itu pun menyipitkan matanya.


Dalam hati Mama Rahma, dia berkata, “Ternyata memang benar. Dari awal dia tidak pernah mengakui dan juga tidak mau menerima Tasya.”


Melihat Tasya seperti itu, Mama Rahma akhirnya berkata, “Ya sudah. Mama akan coba bicarakan ini dengan Papamu, ya. Sudah. Kamu jangan menangis lagi.”


Tasya pun mengangguk sambil menyeka air matanya.


“Nah. Begini baru anak mama. Ya sudah. Kamu Istirahatlah,” ucap Mama Rahma dan Tasya pun mengangguk lalu kemudian berjalan menuju kamarnya.


Sambil melihat punggung Tasya yang kian menjauh, Mama Rahma pun menggelengkan kepalanya sambil bergumam, “Tas, Maafkan Mama dan Papa yang mungkin tidak akan bisa berbuat banyak tentang masalah ini. Tapi Mama tetap akan berusaha walau sebenarnya Mama tahu hasil akhirnya seperti apa.”


***


Malam harinya, perut Vidia terasa sangat sakit sekali. Dia bolak balik keluar masuk toilet.


Sambil meringis kesakitan, dia pun bergumam, “Selalu saja seperti ini. Aduh!”


Vidia pun tidur meringkuk di atas tempat tidurnya. Dia benar-benar tidak tahan dengan rasa sakitnya. Dia menangis merintih sambil memegangi perutnya.


Di saat yang bersamaan, ternyata Davian mendengar suara rintihan Vidia membuat dia pun mengetuk pintu kamar Vidia namun sayangnya tidak juga mendapatkan jawaban.


Karena semakin merasa khawatir, Davian pun membuka pintu kamar Vidia dengan kunci duplikat. Namun sayangnya kunci kamar Vidia masih menempel pada pintu sehingga membuat Davian tidak ada cara lain selain mendobraknya.


Setelah pintu berhasil terbuka, Davian pun terkejut. Ternyata...

__ADS_1


“Vidia..!!”


Bersambung...


__ADS_2