Ternyata Memang Cinta

Ternyata Memang Cinta
Kabar mengejutkan


__ADS_3

Dua hari telah berlalu dan sikap Davian pun masih seperti itu membuat Vidia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Lalu malam itu, Vidia memutuskan untuk tidak tidur semalaman hanya demi menunggu Davian sampai pulang.


Namun nasib berkata lain, ternyata Davian tidak juga kunjung pulang malam itu dan entah mengapa pagi itu, keadaan Vidia tiba-tiba saja menurun dan tubuhnya terasa sangat panas sehingga membuat dia tidak sanggup untuk bangun dari tempat tidur.


Vidia pun meraba-raba kasurnya dan mencari ponselnya. Hingga beberapa saat kemudian, dia menemukannya dan kemudian langsung menghubungi Syina.


“Halo,” ucap Vidia saat telepun di angkat oleh Syina.


“Halo, Vid. Lo di mana sekarang?” tanya Syina.


“Gue sekarang di rumah, Syin. Lagi sakit,” sahut Vidia.


“Lagi sakit?! Suami lo ke mana?” tanya Syina.


“Dia udah dua hari ini gak pulang, Syin. Gue gak tau dia kenapa dan dia di mana sekarang,” sahut Vidia.


“Lha kok?! Lo udah coba ngehubungi ponselnya?” tanya Syina lagi.


“Udah. Tapi ponselnya sama sekali gak bisa di hubungi,…” jelas Vidia, “lo bisa ke sini gak sekarang? Gue benar-benar gak bisa ngapa-ngapain nih sekarang.”


Mendengar ucapan Vidia yang seperti itu pun membuat Syina langsung berkata, “Iya.. Iya.. gue ke sana sekarang. Lo sabar ya.”


Telepon pun langsung diakhiri dan Syina pun bergegas menuju ke rumah Vidia.


Setelah menunggu beberapa lama. Syina pun akhirnya datang juga dan terkejut melihat keadaan Vidia.


“Vid, kenapa lo bisa sampai panas begini?...” ucap Syina saat memegang kening Vidia, “Lo udah minum obat?”


Vidia pun menggelengkan kepalanya dan dengan lirih berkata, “Aku gak kuat bangun, Syin. Kepalaku pusing banget.”


Mendengar jawaban Vidia, Syina pun langsung berinisiatif mencari obat pereda nyeri untuk segera di minum oleh Vidia. Setelah beberapa saat mencari, Syina pun akhirnya menemukan obat yang dia cari dan segera meminumkannya pada Vidia.


Setelah kondisi Vidia sudah baikan, Syina pun meminta ijin untuk pulang. Namun sebelum itu, tentunya Syina sudah menyiapkan makanan yang bisa Vidia makan sewaktu-waktu.


Di perjalanan pulang, Syina berpikir untuk mencoba mendatangi kantor Davian dan seperti biasa, Syina pun sama seperti Vidia saat pertama kali datang, yaitu di tahan sebentar oleh Scurity yang sedang berjaga.

__ADS_1


“Maaf, Mbak. Mbak ini mau bertemu siapa?” tanya scurity tersebut.


“Aku mau bertemu dengan Bapak Davian. Ini penting karena menyangkut nyawa seseorang,” ucap Syina yang sudah tidak terpikirkan apa-apa lagi agar bisa masuk.


“Oh. Tunggu sebentar,” ucap scurity tersebut dan Syina pun mengangguk.


Setelah beberapa saat kemudian, scurity tersebut pun mengantarkan Syina ke ruangan Davian.


Di dalam ruangan Davian, Syina pun melihat sesosok seorang pria yang sedang serius menatap layar komputernya.


“Ehm,” Syina pun mencoba memberitahukan keberadaannya.


“Oh. Ada apa?” tanya Davian.


“Begini, Bapak Davian yang terhormat. Saya tidak tahu ada masalah apa antara Bapak dengan Vidia. Namun hanya satu hal yang saya tahu, yaitu sekarang ini Vidia sedang sakit. Demamnya sangat tinggi dan dia kesulitan untuk bangun dari tempat tidur. Jadi, saya berharap agar bapak pulang ke rumah dan jangan biarkan Vidia menjadi lebih parah penyakitnya,…” ucap Syina, “ya sudah. Itu saja yang ingin saya sampaikan. Saya mohon pamit. Maaf sudah mengganggu waktu Bapak.”


Syina pun langsung saja pergi tanpa menunggu bagaimana tanggapan Davian. Dia seperti itu karena dia merasa apa yang seharusnya dia sampaikan, sudah dia sampaikan. Untuk urusan bagaimana yang akan di lakukan oleh Davian, dia merasa itu bukan urusannya.


Sementara itu, sesaat setelah Syina pergi, Davian pun langsung termangu. Dia merasa kalau dirinya sudah sangat jahat sekali pada Vidia. Bahkan di pun merasa kalau dirinya sudah bersikap tidak adil pada Vidia.


Tanpa pikir panjang, Davian pun langsung mengambil kunci mobilnya dan kemudian bergegas pulang.


Dengan segera Davian pun duduk di samping Vidia dan memegang kening Vidia. Benar saja dengan yang di katakan Syina. Vidia memang sedang demam tinggi dan di saat yang bersamaan, Vidia pun membuka matanya.


“Mas, akhirnya kamu pulang juga,” ucap Vidia lirih.


“Maafkan aku, Vid.”


Hanya itu kalimat yang mampu diucapkan oleh Davian saat ini. Betapa jahatnya dia terhadap wanita di hadapannya itu. Seorang wanita yang sudah banyak membantunya selama ini.


“Gak apa-apa, Mas. Sekarang aku bisa tenang setelah tahu Mas baik-baik aja,” ucap Vidia yang masih dengan suara lirih.


Mendengar ucapan Vidia, Davian pun semakin merasa bersalah hingga dia tidak tega ingin mengatakan kalau dirinya ingin bercerai.


“Hmm,…” sahut Davian, “aku baik-baik aja. Ya sudah. Sekarang kita ke rumah sakit ya.”

__ADS_1


Vidia pun mengangguk dan kemudian Davian pun mengangkat tubuh Vidia lalu membawanya ke mobil.


***


Di Rumah Sakit…


Vidia langsung di periksa oleh seorang Dokter perempuan. Dokter tersebut menanyakan beberapa hal pada Davian untuk memastikan kembali diagnosanya. Davian pun menjawab sesuai yang dia ketahui dan Dokter itu pun kemudian tersenyum. Davian yang melihat itu pun akhirnya menerka-nerka seperti apa diagnosa yang akan di sampaikan oleh Dokter tersebut.


“Ma—maksud Dokter, istri saya, dia…” ucap Davian ragu.


Sambil masih tersenyum, Dokter tersebut pun berkata, “Selamat ya, Pak. Istri Bapak sedang hamil 3 minggu.”


“Apa Dok?! Hamil?” tanya Davian yang masih tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


“Iya, Pak. Istri Bapak sedang hamil dan saran saya pada Bapak agar Bapak mau mejaga dan memperhatikan keadaan istri Bapak dan juga janin dalam kandungannya. Jangan biarkan istri Bapak kelelahan dan juga stres, ya. Karena usia kandungannya masih rawan,” ucap Dokter tersebut.


“Iya, Dok. Terima kasih banyak,” sahut Davian dan Dokter itu pun langsung memberikan resep untuk segera di tebus oleh Davian.


Vidia yang saat itu sedang berada di UGD pun di tinggal sebentar oleh Davian. Hingga beberapa saat kemudian, Davian pun kembali menemui Vidia.


Vidia yang masih memejamkan mata karena pusing ini pun tiba-tiba terkejut karena tangannya di genggam erat oleh Davian.


“Mas, ada apa?” tanya Vidia bingung melihat Davian yang tanpa sadar meneteskan air mata.


Davian pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Vid, terima kasih banyak ya.”


Vidia pun bingung dengan maksud ucapan Davian itu lalu dia pun bertanya, “Terima kasih untuk apa, Mas?”


Davian pun terseyum dan kemudian berkata, “Vid, sebentar lagi kita akan punya anak.”


Mendengar ucapan Davian, Vidia pun spontan ingin bangun. Namun di saat yang bersamaan, kepalanya terasa sangat pusing sekali. Davian yang melihat itu pun langsung memegangi tubuh Vidia dan berkata, “Kamu istirahatlah dulu sebentar sampai pusingmu membaik. Setelah itu kita pulang.”


Davian pun dengan perlahan-lahan merebahkan kembali tubuh Vidia dan setelah itu Vidia kembali bertanya, “Mas, beneran kita akan punya anak?”


“Iya, sayang. Kita akan punya anak,..” sahut Davian lembut, “Ya sudah. Kamu istirahatlah. Ok?!”

__ADS_1


Vidia pun mengangguk. Sementara itu, Davian pun tidak melepaskan genggaman tangannya dari Vidia.


Bersambung…


__ADS_2