Ternyata Memang Cinta

Ternyata Memang Cinta
Vidia siuman


__ADS_3

Polisi yang telah mendapatkan petunjuk dari Davian pun akhirnya pergi ke lokasi tempat Tasya bersembunyi. Dengan sangat berhati-hati, polisi-polisi itu pun mengepung tempat itu.


Sementara itu, Davian yang ternyata juga ikut penyergapan itu pun selalu meningkatkan kewaspadaan manakala Tasya akan melarikan diri.


Dengan perlahan-lahan, beberapa polisi mendekati sebuah rumah yang dijadikan tempat persembunyian Tasya.


Polisi itu tanpa sungkan mendobrak pintu tersebut, namun ternyata Tasya sudah terlebih dahulu melarikan diri.


Mendapati keadaan seperti itu, polisi pun tidak patah arang. Mereka masih bisa melacak ke mana arah perginya Tasya.


Davian yang selalu mengikuti pengejaran itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya dan dalam hati dia bergumam, “Tas, ternyata kamu bisa seperti ini juga ya?!”


Tasya yang dalam pengejarannya pun akhirnya merasa terpojok. Dia nekat berlari tak tentu arah membelah keramian.


Lalu tak lama kemudian terdengar suara mobil yang sedang mengerem mendadak sehingga membuat semua polisi dan juga Davian langsung berlari ke arah tempat kejadian.


“Jangan-jangan,” batin Davian sambil langsung berlari kearah sumber suara.


Dan benar juga, ternyata telah terjadi sebuah kecelakaan yang mana orang yang menjadi korban adalah Tasya.


“Tasya!” teriak Davian.


Sebenci-bencinya Davian terhadap Tasya, tetap saja sebagai manusia, dia masih mempunyai hati nurani. Davian dengan di bantu oleh polisi yang ada di sana pun dengan segera memanggil ambulance.


Sesampainya di Rumah Sakit, ternyata takdir berbicara lain. Tasya meninggal dunia dalam perjalanan menuju Rumah Sakit.


Orang tua Tasya yang di beritahukan perihal ini pun langsung merasa syok. Bahkan Mama Rahma pun langsung pingsan saat melihat jenazah putri satu-satunya itu.


Sementara itu, Papa Atmaja hanya terduduk lemas di samping jenazah putrinya yang telah berlumuran darah akbat kecelakaan itu.


Davian yang melihat suasana seperti ini pun dalam hatinya jadi merasa bersalah.


“Om, maafkan aku,” ucap Davian yang duduk di sebelah Papa Atmaja.


Papa Atmaja pun hanya bisa terdiam saja. Sangat dimaklumi kenapa seperti itu. Walau pun tidak mendapatkan jawaban, Davian masih tetap berdiri di sebelah Papa Atmaja.


***


Satu minggu kemudian…


Baik Papa Atmaja atau pun Mama Rahma, keduanya sudah bisa menerima serta mengikhlaskan kepergian Tasya untuk selamanya.


Sementara itu, di saat yang bersamaan…


“M—M—Mas,” ucap suara Vidia lirih.


Davian yang saat itu sedang tidak sengaja tertidur sambil duduk di sebelah Vidia pun spontan terkejut dan kemudian terbangun. Di saat itu, Davian mendapati Vidia sedang sayu melihat ke arahnya.

__ADS_1


“Sayang, kamu udah bangun?!” ucap Davian antara percaya dan tidak.


Mendapatkan pertanyaan itu dan juga melihat ekspresi wajah Davian, membuat Vidia pun tersenyum.


Sementara itu, Davian yang melihat senyuman Vidia ini pun spontan langsung mengembangkan senyumannya dan kemudian berkata, “Oh syukurlah kamu udah sadar.”


Di kecupnya langsung kening Vidia.


“Ya sudah. Aku panggil Dokter dulu ya supaya mengecek keadaan kamu,” ucap Davian yang kemudian diangguki oleh Vidia.


Tak selang berapa lama kemudian, Dokter pun datang dan kemudian langsung memeriksa keadaan Vidia.


Di saat dokter sedang mememriksa inilah, Vidia sebenarnya ingin sekali menanyakan perihal kandungannya, namun karena berhubung kondisi yang masih sangat lemah, membuat Vidia masih belum bisa banyak bicara.


“Ya sudah. Kamu tunggu sebentar ya. Aku mau kasih tahu Papa dan Mama dulu ya,” ucap Davian sambil memegang ponselnya hendak menghubungi orang tuanya.


Melihat tingkah Davian seperti ini, lagi-lagi Vidia pun hanya tersenyum. Dia masih belum bisa banyak bicara dulu.


Tanpa menunggu lama, Davian pun langsung menghubungi orang tuanya dan setelah beberapa saat kemudian…


“Halo Ma,” ucap Davian manakala teleponnya diangkat oleh Mamanya.


“Iya halo, Dav. Ada apa?” tanya Mama Fanya.


“Ma, ada kabar baik Ma,” ucap Davian.


“Ma, Vidia Ma,” ucap Davian.


“Vidia kenapa Dav?” tanya Mama Fanya yang bingung sekaligus menjadi merasa khawatir.


“Vidia udah sadar Ma,” ucap Davian.


‘Deg’


Mama Fanya yang mendengar ini pun spontan terkejut sekaligus senang.


“Beneran, Dav?” tanya Mama Fanya memastikan lagi kalau apa yang ia dengar barusan itu tidak salah.


“Beneran, Ma. Mama dan Papa cepetan ke sini ya,” ucap Davian.


“Iya.. iya.. mama dan Papa ke sana sekarang,” ucap Mama Fanya dan telepon pun langsung ditutup.


***


Satu jam kemudian, benar saja… Mama Fanya dan Papa Sanjaya pun datang dan langsung duduk mendekati Vidia.


“Sayang, bagaimana keadaan kamu?” tanya Mama Fanya.

__ADS_1


“Jauh lebih baik, Ma. Hanya saja masih agak lemas aja,” sahut Vidia.


“Oh syukurlah. Kalau begitu kamu harus banyak istirahat ya,” ucap Mama Fanya yang kemudian diangguki oleh Vidia.


Sementara itu, Davian ditarik keluar oleh Papa Sanjaya dan kemudian di ajak bicara.


“Dav, kamu udah bilang ke Vidia tentang bagaimana keadaan kandungannya?” tanya Papa Sanjaya.


“Belum, Pa. Davian masih ragu. Lagipula menurut Davian, ini bukan waktu yang tepat buat mengatakan hal itu,” ucap Davian.


“Iya. kamu benar,” ucap Papa Sanjaya yang menyetujui pemikiran Davian.


Setelah membahas itu, Davian dan Papa Sanjaya pun akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam dan di saat yang bersamaan, saat itu Vidia tampak terlihat sedang mengobrol serius dengan Mama Fanya.


“Eh… eh.. apa yang sedang kalian bicarakan?! Sepertinya bahagia sekali,” ucap Papa Sanjaya menggoda.


“Rahasia,” sahut Mama Fanya balik menggoda Papa Sajaya yang membuat Davian maupun Vidia tersenyum.


***


Setelah puas mengobrol panjang lebar dan juga setelah merasa lega dengan kondisi Vidia yang baik-baik saja, baik Papa Sanjaya maupun Mama Fanya, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk pulang. Namun sebelum itu, Mama Fanya berkata bahwa mereka nanti akan datang menjenguk Vidia lagi.


Mengetahui orang tuanya akan pulang, Davian pun kemudian berkata, “Vid, aku antar Mama Dan Papa sampai depan ya.”


Vidia pun menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


Di saat Davian pergi mengantarkan orang tuanya sampai di halaman parkir Rumah Sakit, di saat itu pula tiba-tiba saja Dokter datang mengecek keadaan Vidia.


“Bagaimana keadaan ibu sekarang? Apa merasa ada yang dikeluhkan?” tanya Dokter.


“Sudah jauh lebih baik di banding awal siuman Dok,” sahut Vidia.


“Oh syukurlah. Kalau begitu, Ibu harus banyak istirahat ya. Supaya keadaan Ibu cepat pulih,…” ucap Dokter tersebut, “ya sudah. Kalau begitu saya pamit pergi dulu. Nanti, jika ada apa-apa, Ibu bisa langsung memanggil suster atau pun saya.”


Belum juga Dokter tersebut melangkahkan kakinya pergi, Vidia tiba-tiba saja berkata, “Tunggu sebentar, Dok.”


Merasa dipanggil, Dokter tersebut pun mengurungkan niatnya untuk pergi dan kemudian berkata, “Ya, Bu. Apa ada yang bisa saya bantu?”


“Hmm, begini Dok. Maaf saya mau tanya. Setelah kejadian kecelakaan yang menimpa saya tempo hari, sekarang bagaimana kondisi janin yang ada di dalam kandungan saya? Apakah dia selamat, Dok?” tanya Vidia.


Untuk sesaat Dokter tersebut pun terdiam. Namun setelah itu ia berkata, “Maaf, Bu. Janin yang ada dalam kandungan ibu tidak bisa kami selamatkan.”


‘Deg’


“Apa, Dok?...”


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2