
Dua hari setelah pertemuannya dengan keluarga Tasya, Davian yang mendadak ada tugas keluar kota itu pun terpaksa harus meninggalkan Vidia sendirian di rumah.
Tanpa memiliki pikiran atau pun firasat macam-macam, Davian pun pergi dengan tenang bersama dengan Steven.
Sesekali jika Davian sedang senggang, dia berusaha untuk menghubungi Vidia dan menanyakan kabarnya. Namun hari itu, entah mengapa pikiran Davian sangatlah dipenuhi oleh Vidia. Tapi sayangnya, di hari itu juga, pekerjaan Davian sangatlah padat sehingga tidak dapat menghubungi Vidia.
Di saat yang bersamaan, di rumah Davian, Vidia yang ditinggalkan seorang diri ini ternyata juga merasakan hal yang sama. Di hari itu dia sangat merasa gelisah dan akhirnya meminta Syina untuk datang menemaninya.
Hingga beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan pintu rumah. Vidia yang berpikir kalau Syina lah yang sudah datang pun akhirnya membukakan pintu.
Namun betapa terkejutnya Vidia saat melihat yang datang ternyata bukanlah Syina melainkan Tasya.
“Tasya?!” ucapnya.
Tasya yang tanpa menunggu untuk dipersilakan masuk oleh Vidia ini pun langsung masuk ke dalam sambil menyenggol pundak Vidia sehingga membuat Vidia hampir saja terjatuh.
Sesaat setelah berada di dalam, dengan angkuhnya Tasya berkata, “Eh, kamu! Masih betah kamu jadi istri pura-puranya Davian?”
Vidia pun terdiam tidak menanggapi ucapan Tasya. Dia tahu dan dia juga sadar kalau percuma saja jika dia menanggapinya.
“Kenapa diam? Susah ya buat melepaskan pria kaya?” tanya Tasya lagi.
“Tas, kamu salah paham. Aku dan Mas Davian tidak sedang berpura-pura. Hubungan pernikahan kami ini memang nyata adanya,” sahut Vidia.
“Halah, bohong. Mau sampai kapan kamu mau menikmati semua hal yang tidak seharusnya jadi milik kamu?” ucap Tasya ketus.
“Gak, Tas. Aku serius. Hubungan kami ini memang benar-benar nyata dan tidak sedang pura-pura. Malahan sekarang aku sedang hamil anaknya,” ucap Vidia sambil mengelus-elus perutnya sehingga membuat Tasya yang melihat itu pun menjadi sangat kesal dan emosi.
“Oooh.. jadi rupanya sekarang kamu sedang hamil?!...” ucapnya sambil berjalan mendekati Vidia dan membuat Vidia pun spontan berjalan mundur, “baguslah kalau begitu. Kebetulan sekali itu akan memudahkanku untuk membalas dendam pada kalian semua.”
“A—apa maksud kamu, Tas?” tanya Vidia yang seketika merasa sangat takut sekali.
__ADS_1
“Hahahaha… masih belagak gak ngerti segala. Ya tentu saja kamu dan juga semuanya juga harus ikut marasakan bagaimana rasanya kehilangan sebuah hharapan,” jelas Tasya yang berjalan semakin mndekati Vidia.
Belum juga Vidia membalas ucapan Tasya, tiba-tiba saja pandangan Vidia kabur dan dia pun terjatuh tersungkur ke lantai.
Di saat bersamaan itu lha, Syina datang dan melihat kejadian setelah Vidia tersungkur ke lantai. Sementara itu, tanpa menunggu lama, Tasya pun langsung pergi dengan tawanya yang terbahak-bahak tanda dia sangat puas dengan apa yang sudah menimpa Vidia.
“Vidia..!!!” teriak Syina yang langsung berlari ke arah Vidia yang sudah bersimbah darah.
Melihat kondisi Vidia yang seprti itu, Syina pun langsung memanggil ambulance dan juga menghubungi Pak Radit agar mau menghubungi Davian. Kerena saat itu Syina sama sekali tidak kepikiran tentang ponsel Vidia.
***
Satu jam lamamya Vidia berada di ruang operasi, Davian yang kala itu sedang sibuk-sibuknya pun terpaksa menunda pekerjaannya dan memutuskan untuk segera datang ke Rumah Sakit.
Sesampainya di Rumah Sakit, Davian langsung menanyakan keadaan Vidia pada Syina. Namun Syina menggelengkan kepalanya dan kemudian dia berkata, “Lbih baik Bapak tanyakan sendiri soal bagaimana keadaan Vidia pada Dokter.”
Davian pun langsung melihat ke arah Vidia yang saat itu sudah di bawa ke ruang perawatan namun masih dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya.
“Baiklah. Aku akan menemui Dokternya. Aku titip Vidia sebentar,” ucap Davian yang kemudian beranjak pergi meninggalkan ruang perawatan Vidia.
Davian yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan Vidia pun langsung masuk ke dalam setelah di persilakan oleh Dokter.
“Maaf, Dok. Bagaimana keadaan istri saya, Vidia?” tanya Davian cemas.
Dokter itu pun terdiam sejenak sehingga membuat Davian benar-benar menjadi merasa sangat khawatir sekali.
“Dok?!” ucapnya sekali lagi yang benar-benar tidak sabar lagi menunggu jawaban dari Dokter.
Setelah beberapa saat kemudian, Dokter tersebut pun berkata, “Pak Davian, mohon maaf sebelumnya. Keadaan istri Bapak sekarang belumlah stabil. Dia sudah mengeluarkan banyak darah dan janin yang ada di dalam kandungannya pun tidak dapat diselamatkan.”
Mendengar perkataan Dokter, tiba-tiba saja Davian merasakan seluruh tubuhnya menjadi lemas dan tak bertenaga.
__ADS_1
“Jadi Dok, bagaimana keadaan istri saat ini? Kapan kira-kira dia bisa sadar dan apakah setelah mengalami keguguran seperti ini, istri saya masih bisa hamil kembali?” tanya Davian dengan sederet pertanyannya.
Dokter itu pun mengangguk dan kemudian berkata, “Tentu saja masih bisa, Pak. Hanya saja,…”
Dokter tersebut menghentikan ucapannya sehingga membuat Davian penasaran dan kemudian bertanya, “Tapi apa, Dok?”
“Tapi, untuk waktu kehamilannya itu tidak bisa diketahui, apakah bisa dalam waktu dekat ini atau apakah harus menunggu hingga bertahun-tahun. Sedangkan untuk keadaan istri Bapak, saya juga tidak dapat memastikannya. Kita lihat perkembangannya karena itu semua tergantung dari keinginannya untuk bangun,” jelas Dokter sehingga membuat Davian lebih merasa syok lagi.
Setelah mendengar penjelasan Dokter, Davian pun langsung kembali menuju kamar perawatan Vidia. Dengan langkah yang agak lemas, dia memasuki ruangan Vidia.
Di dalam ruangan, dilihatnya raut wajah Vidia yang sangat pucat. Dalam hatinya, Davian bergumam, “Vid, maafkan aku. Dari awal semua ini salahku.”
Syina yang dari awal sedang menemani Vidia pun dapat melihat kesedihan yang terpancar dari raut wajah Davian tapi dia memilih untuk diam. Hingga beberapa saat kemudian Pak Radit datang untuk menjemput Syina.
Tanpa menunggu lama, Syina pun langsung berpamitan pada Davian dan Davian pun hanya mengangguk menjawabnya.
Sesaat setelah Syina dan Pak Radit pergi, Davian pun duduk termangu memandangi Vidia yang sedang terbaring lemah.
Dalam keheningannya, Davian merasakan sangat takut sekali jika harus kehilangan Vidia.
“Vid, kamu harus kuat dan harus segera bangun. Aku tidak ingin kamu tinggalkan aku setelah anak kita pergi,” ucap Davian sambil menciumi tangan Vidia dan menangis.
Semenatara, Papa Sanjaya dan juga Mama Fanya yang ternyata sempat dihubungi oleh Davian sesaat setelah Syina pergi pun datang. Betapa terkejutnya mereka berdua saat mendapatkan kabar kalau terjadi musibah pada Vidia.
“Dav, apa yang sudah terjadi? Bagaimana Vidia bisa jadi seperti ini?” tanya Mama Fanya saat melihat kondisi Vidia yang sedang terbaring lemah.
Davian pun menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Davi sendiri kurang tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada Vidia. Davi belum sempat menanyakannya pada temannya. Davi terlalu khawatir jadinya tidak berpikiran sampai ke arah situ.”
“Hadeuh Dav,…” ucap Mama Fanya, “lalu sekarang bagaimana keadaan Vidia?”
Davian pun menunduk dan terdiam. Dia sangat sedih sekali jika teringat kenyataan yang harus dia dan Vida terima.
__ADS_1
Mama Fanya yang melihat itu pun menjadi cemas dan kemudian bertanya, “Dav, sebenarnya ada apa? Bagaimana keadaan Vidia?”
Bersambung…