Ternyata Memang Cinta

Ternyata Memang Cinta
Khawatir


__ADS_3

“Dok, bagaimana keadaan istri saya?” tanya Davian sesaat setelah mengantarkan Vidia ke Rumah Sakit.


“Tidak apa-apa, Pak. Istri anda baik-baik saja. Ini hal biasa untuk seorang wanita yang sedang datang bulan,” jelas Dokter.


“Datang bulan?!...” ucap Davian, “ta—ta—tapi kenapa dia sampai terlihat seperti orang tersiksa seperti ini?”


Dokter itu pun hanya tersenyum lalu berkata, “Memang, Pak. Ini umum terjadi saat hari pertama datang bulan, di mana saat ini terjadi perubahan hormon selama siklus datang bulan dan ini hanya berlangsung beberapa hari saja.”


“Oh,” sahut Davian yang baru kali pertama itu tahu masalah datang bulan.


Sambil mengangguk, Dokter itu berkata, “Baik, Pak. Saya akan buatkan resep untuk mengurangi nyerinya. O ya, di sarankan agar bapak juga mau mengelus-elus perut istri bapak agar lebih membuatnya nyaman dan juga mengurangi rasa nyerinya.”


Mendengar ucapan Dokter tersebut, seketika wajah Davian menjadi memerah. Lalu dia pun bertanya, “Memang bisa juga dengan cara itu ya, Dok?”


Sambil tersenyum, Dokter tersebut pun mengangguk lalu memberikan selembar kertas resep.


***


Di rumah, Vidia yang masih dalam kondisi lemas pun di dudukkan dengan posisi setengah tidur di atas tempat tidur oleh Davian.


“Nih. Kamu minum obat dulu supaya rasa nyerinya hilang,” ucap Davian sambil memberikan obat dan segelas air minum.


Tanpa banyak bicara, Vidia pun menerima obat tersebut dan kemudian di minumnya.


“Ya sudah. Sekarang kamu tidur,” ucap Davian dan Vidia pun mengangguk.


Dengan di bantu Davian, Vidia pun pelan-pelan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Saat sedang terlelap, tiba-tiba rasa nyeri itu datang lagi sehingga membuat Vidia merintih kesakitan. Davian yang rupanya tertidur sambil duduk di sebelah Vidia pun menjadi terbangun.


Dilihatnya kondisi Vidia yang sedikit pucat akibat menahan sakit membuat Davian pun teringat ucapan Dokter tadi. Dengan agak canggung, Davian pun mengelus-elus perut Vidia sehingga membuat wanita tersebut menjadi nyaman dan kembali tidur.


Davian yang melihat ini pun spontan tanpa dia sadari menjadi tersenyum. Ini adalah pengalaman pertama kalinya dia benar-benar merawat seseorang.


Sambil masih dengan tangan di atas perut Vidia, lagi-lagi Davian pun tertidur. Namun kali ini dia tertidur berbaring di samping Vidia.


Vidia yang terbangun pun tiba-tiba terkejut saat tahu tentang posisi tidur mereka berdua. Saat hendak teriak karena hal itu, tiba-tiba saja Vidia merasakan ada sesuatu sehingga membuat dia spontan...


“Oh, tidak.”


Vidia pun langsung bergegas bangun dan berlari ke arah kamar mandi. Sementara itu, Davian yang merasakan ada sesuatu yang sedang terjadi pun menjadi terbangun dan mendapati Vidia tidak ada di sampingnya.


“Jangan-jangan,...” ucap Davian yang kemudian ikut berlari ke arah kamar mandi dan menggedor pintunya, “Vid, kamu baik-baik aja kan?”


Tak selang berapa lama kemudian, Vidia pun keluar dan kemudian berkata, “Hehehe.. deras mas.”


“Ha?!”


***


Di minimarket...

__ADS_1


“Kenapa aku berakhir di sini?!” gumam Davian sambil melihat ke arah deretan macam-macam pembalut.


\=\=Flash back On\=\=


“Ha?!”


“Mas, boleh minta tolong gak?”


“Apa?”


“Tolong belikan aku pembalut. Pembalutku habis dan aku belum sempat beli. Gak mungkin kan aku dalam keadaan seperti ini keluar?!” ucap Vidia yang spontan membuat Davian melihat Vidia dari atas ke bawah.


Dan benar saja. Vidia hanya menutupi bagian bawahnya dengan balutan handuk.


“Iya.. iya.. aku beli sekarang,” sahut Davian yang kemudian pergi.


\=Flash back off\=\=


Karena kurangnya ilmu tentang dunia pembalutan, Davian pun akhirnya mengambil satu persatu dari setiap merek dan jenis pembalut yang di jual sehingga saat membayar, orang yang menjaga kasir pun tersenyum lalu bertanya, “Mau di jual lagi, Mas?”


“Oh, nggak kok. Ini untuk istri saya,” sahut Davian.


“Oh, berarti Mas ini pengantin baru ya?!” goda petugas kasir tersebut yang juga seorang perempuan.


Mendengar pertanyaan itu, Davian pun merasakan malu yang teramat sangat. Dia pun segera membayar belanjaannya dan kemudian langsung pergi.


Di dalam mobil, sambil memegang salah satu pembalut, Davian pun menggerutu, “Gila. Baru kali ini aku merasakan malu seperti ini dan ini semua karena kamu.”


***


Di rumah...


“Ini. Pesanan kamu,” ucap Davian sambil memberikan semua pembalut yang tadi dia beli.


Vidia yang sedang duduk terdiam tak bisa ke mana-mana ini pun spontan melongo melihat semua yang telah di beli oleh suaminya itu dan sesaat kemudian,...


“Wkwkkwkwk..”


Tawa Vidia pun pecah. Dia tidak habis pikir kenapa suaminya bisa sampai membeli semua itu.


Sementara itu, Davian yang merasa di tertawakan pun akhirnya protes dan berkata, “Kamu?! Kamu kenapa ketawa seperti itu?”


“Wkkwkwk.. gak.. gak.. sori.. sori.. habisnya heran aja. Kenapa mas kok beli hampir semua merk dan jenis pembalut sih?” tanya Vidia sambil berusaha menahan rasa ingin tertawanya.


“Gimana aku gak beli semuanya?! Aku kan gak tahu kamu biasa pakai yang mana,” ucap Davian.


“Ya ampun, Mas. Kan kalau mas gak tahu, mas bisa telepon aku dan tanya,” ucap Vidia.


“Oh iya ya. Bener juga ya. Kenapa aku sampai gak bisa kepikiran ya?!” gumam Davian yang masih bisa di dengar oleh Vidia.


Vidia pun tersenyum lalu berkata, “Ya sudah mas. Gak apa-apa. Biar bagaimana pun aku ucapkan banyak terima kasih karena mas mau membelikannya untukku. Ya sudah. Kalau begitu aku ganti dulu. Yang sekarang kayaknya udah penuh nih. Gak nyaman.”

__ADS_1


Vidia pun tidak memedulikan bagaimana ekspresi Davian saat itu. Dia langsung pergi ke kamar mandi untuk mengganti dengan yang baru agar lebih nyaman.


Setelah semuanya sudah kembali nyaman, Vidia pun menghampiri Davian di ruang keluarga yang sedang duduk menonton televisi.


“Sudah nyaman?” tanya Davian.


Vidia pun mengangguk dan kemudian berkata, “Terima kasih ya.”


“Sama-sama,” sahut Davian singkat.


“O ya, Mas. Mas hari ini gak kerja?” tanya Vidia.


“Gak. Hari Sabtu kantorku libur,” sahut Davian.


“Oh.”


Di saat yang bersamaan, ponsel Vidia pun bergetar.


“Halo.”


“Vid, lo di mana sekarang?”


“Gue di rumah, Syin. Ada apa?”


“Lo gak inget hari ini Pak Radit ada kelas tambahan buat persiapan ujian?”


“Oh iya ya. Gue lupa, Syin. Tapi,...”


“Tapi apa, Vid?”


“Gue rasanya gak bisa datang deh. Soalnya ini hari pertama gue datang bulan. Lo kan tahu sendiri gimana gue kalo lagi kayak gini.”


“Oh. Ok deh. Pake istirahat aja deh kalau gitu.”


“Ok. Thanks ya, Syin.”


“Hmm.”


Telepon pun akhirnya diakhiri. Sementara itu, Davian yang ada di situ pun hanya diam saja walau pun sebenarnya dia ingin sekali tahu tentang apa yang tadi di bahas oleh Vidia dengan temannya.


Lalu di saat yang bersamaan...


'Ting tong..’


Vidia pun langsung bangun dan membukakan pintu rumahnya. Betapa terkejutnya Vidia melihat siapa yang datang.


“Siapa, Vid?” tanya Davian sambil berjalan menyusul Vidia.


“I—i—ini,...”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2