Ternyata Memang Cinta

Ternyata Memang Cinta
Davian menghindari Vidia


__ADS_3

“Benarkah?! Ini,” ucap Tasya sambil melemparkan sebuah map ke atas meja kerja Davian.


Saat Davian melihat map itu, Davian sudah tahu apa isinya.


“Terus mau kamu apa sekarang?” tanya Davian.


“Mau aku apa?! Kenapa masih bisa tanya mau aku apa. Bukanny semuanya sudah jelas?!” ucap Tasya.


Davian pun terdiam sejenak lalu menyahut, “Aku tetap tidak bisa. Aku sampai kapan pun tidak akan menceraikan istriku.”


Dengan nada angkuh dan juga dengan rasa percaya diri, Tasya pun berkata, “Ok. Baiklah jika itu keputusanmu. Tapi jangan salahkan jika aku memberitahukan soal ini pada Om dan Tante.”


Mendengar ucapan Tasya yang seperti itu, Davian pun menjadi tersulut emosinya dan kemudian berkata, “Kamu!”


“Aku kenapa?” tanya Tasya dengan nada menantang.


Melihat sikap dan cara Tasya seperti itu, Davian merasa tidak ada gunanya jika dia melawan ucapan Tasya.


“Jadi gimana? Apa kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu itu?” tanya Tasya memastikannya lagi.


Davian pun terdiam. Dia bingung harus menjawab apa jika ancamannya seperti ini.


Sementara itu, Tasya yang merasa tidak dihiraukan oleh Davian pun berkata, “Ish. Gak di jawab. Ya sudahlah. Kalau begitu jangan menyesal ya.”


Tasya pun langsung mengambil map yang tadi dia lemparkan dan juga mengambil tasnya lalu kemudian berjalan menuju pintu.


Namun belum juga Tasya sampai di pintu, Davian pun sudah berkata, “Baik. Aku akan menceraikan istriku.”


Tasya yang mendengar ucapan Davian pun spontan menghentikan langkahnya dan kemudian berbalik badan lalu berkata, “Benarkah?”


“Iya. Tapi tolong jangan sakiti istriku,” pinta Davian.


“Ok. Lalu kapan kamu akan menceraikannya?” tanya Tasya.


“Nanti aku kabari lagi,” sahut Davian singkat.


“Ok. Nah gitu donk. Kenapa gak dari tadi aja kamu seperti ini? Kan ku tidak perlu repot-repot memasang ancaman seperti tadi,…” ucap Tasya sambil berjalan melenggang menuju pintu dan berkata, “ya sudah. Aku tunggu kabarnya.”

__ADS_1


Sesaat setelah Tasya pergi, Davian pun terdiam sambil kedua tangannya memegangi kepalanya. Dia tampak terlihat sangat frustasi sekali.


“Vid, maafkan aku. Aku benar-benar tidak tau harus bagaimana lagi,” gumamnya.


***


Sementara itu, di saat yang bersamaan, saat Vidia sedang tertidur, tiba-tiba saja dia bermimpi buruk. Dalam mimpinya, dia merasa kalau orang tua Davian dan juga orang tua Davian marah besar setelah mengetahui kalau pernikahannya ini berawal dari sebuah perjanjian. Karena terlalu merasa sedih dan juga merasa bersalah, Vidia pun terbangun dalam kondisi meneteskan air mata.


“Ayah, Ibu.. Maafkan Vidia,” gumam Vidia sambil menututpi wajahnya dengan ke dua telapak tangannya dan menangis.


Setelah merasa jauh lebih tenang, Vidia pun berpikir ulang tentang pernikahan yang sudah dia jalani itu. Dalam hatinya dia memang merasa kalau pernikahan ini memanglah tidak harus terjadi. Apalagi tidak ada restu dari orang tua dan tujuan awalnya pun sudah salah.


“Apa aku harus mengakhirinya saja ya?! Selagi aku belum hamil,…” gumam Vidia saat itu, “ya. Mungkin lebih baik seperti itu.”


Vidia pun langsung turun dari tempat tidur dan segera mengambil air minum di dapur. Lalu sesaat kemudian, Vidia pun memutuskan untuk memasak makanan untuk Davian.


***


Sore harinya, tidak seperti biasa Davian belum pulang ke rumah. Sehingga membuat Vidia menunggunya hingga larut malam.


“Mas, kenapa kamu belum pulang? Apa pekerjaanmu sedang banyak?” gumam Vidia yang kemudian memutuskan untuk tidur terlebuh dahulu.


Setelah beberapa lama di dapur, Davian pun memutuskan untuk pergi ke kamar. Di sana dia mendapati Vidia yang sedang tertidur lelap. Dengan berjalan perlahan-lahan, Davian pun mendekati Vidia dan duduk di sebelahnya.


“Aku tahu. Berapa kali pun aku menyesal dan harus meminta maaf, itu semua tidak akan dapat mengobati kepedihan dan kesedihan di hatimu,” gumam Davian sambil menyibakan sedikit rambut Vidia yang menutupi wajah cantiknya.


Setelah beberapa saat kemudian, Davian pun memutuskan pergi lagi meninggalkan Vidia yang sedang tertidur.


***


Keesokan paginya, Vidia pun terbangun dan mendapati tempat tidur yang biasa ditempati oleh Davian itu masih terlihat rapih.


“Apa dia benar-benar tidak pulang semalaman?” gumam Vidia yang kemudian duduk dan mencari ponselnya.


Lalu setelah berhasil menemukan ponselnya, Vidia pun langsung menghubungi Davian. Namun sayangnya ponselnya tidak di aktifkan oleh Davian sehingga membuat Vidia kesulitan menghubungi Davian.


“Mas, kamu itu kenapa sih? Kamu gak apa-apa kan?” gumam Vidia khawatir.

__ADS_1


Sementara itu di saat yang sama namun di tempat yang berbeda, ternyata Davian tertidur di dalam mobilnya yang dia parkir tidak jauh dari rumahnya. Hingga beberapa saat kemudian, Davian pun terbangun dan tersadar kalau ternyata semalaman dia tidur di luar.


Sambil mencoba memulihkan kesadarannya dari rasa kantuk, Davian pun terdiam sejenak dan kemudian melirik ke arah spion mobil. Saat itu dia melihat istrinya sedang bergegas menuju kampus dengan menggunakan motornya.


“Vid, maafkan aku,” ucap Davian.


Sesaat setelah Vidia sudah benar-benar tidak terlihat, Davian pun turun dari mobilnya dan kemudian bergegas masuk ke dalam untuk mandi dan mengganti pakaiannya.


***


Di kampus, Vidia duduk diam dan termenung di kantin. Sambil meminum minuman dan memakan makanan yang sudah dia beli, dia pun terus mengkhawatirkan keadaan Davian. Dia tidak tahu kalau Davian sedang menghindarinya karena Davian sendiri merasa bingung dengan apa yang sudah dia katakan pada Tasya.


Namun bukan salah Vidia karena Davian tidak menjelaskan apa-apa sehingga membuat Vidia khawatir.


“Hai, Vid. Lo pagi-pagi udah melamun. Melamunin apa sih?” tanya Syina kepo yang tiba-tiba saja datang.


“Ah lo, Syin. Buat gue kaget aja,” ucap Vidia setelah mengetahui kalau yang datang tiba-tiba itu adalah sahabatnya sendiri.


“Yeee.. lo sih melamun. Gimana lo gak kaget?!...” celetuk Syina, “BTW, lo kenapa sih? Kok melamun seperti itu?”


Vidia pun terdiam sambil memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Sementara itu, Syina yang merasa tidak di hiraukan pun akhirnya berkata, “Aih. Dicuekin. Kacang... kacang... harga kacang lagi mahal woi.”


Mendengar ucapan Syina yang seperti itu, Vidia pun tersadar dan langsung berkata, “Eh. Sori.. sori.. lo tadi ngomomg apa?”


“Au ah. Dah lewat,” sahut Syina sewot.


Mengetahui kalau Syina sedang merajuk pun akhirnya berkata, “Aih. Jangan marah gitu ah. Ntar Pak Radit kabur lho.”


“Eh. Kok bawa-bawa Pak Radit segala sih?” protes Syina.


“Wkwkwkk..”


***


Siang harinya saat Vidia sudah sampai di rumah, Vidia pun mendapati baju kotor Davian yang sudah ada di atas mesin cuci. Sambil memegangi bajunya Davian, Vidia pun merasa ada yang aneh. Dia merasa seperti Davian sedang menghindari dirinya.


“Mas, kamu itu sebenarnya ada apa sih?”

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2