
“Ck.. Maafin?! Aku mungkin bisa maafin Papa dan Mama karena kalian orang tuaku. Tapi tidak untuk mereka,” sahut Tasya yang membuat Papa Atmaja tercengang.
“Maksud kamu?”
Papa Atmaja yang mendengar ucapan Tasya yang seperti itu pun seketika merasa kalau akan ada sesuatu yang akan di lakukan oleh Tasya.
Sementara itu, Tasya yang mendengar ucapan Papanya itu pun hanya bisa etrsenyum sinis.
***
Sore harinya di kantor Davian…
Davian sedang merasa bingung sekali. Pasalnya, ternyata pekerjaan yang waktu itu tertuda membuat Davian harus pergi ke luar kota lagi.
Sementara itu, Steven yang selalu memperhatikan ekspresi Davian pun akhirnya bertanya, “Vid, kamu baik-baik saja?”
Davian pun menggelengkan kepalanya dan kemudian menyahut, “Aku sedang tidak baik-baik saja. Aku bingung karena aku harus meninggalkan Vidia dengan keadaan seperti itu.”
***
Keesokan harinya, Davian yang harus pergi ke luar kota itu pun akhirnya meminta tolong pada ke dua orang tuanya agar mau membantunya menjaga Vidia. Hal ini tentu saja orang tuanya pun mau membantu Davian.
“Sudahlah Dav. Kamu tenang aja. Kami akan menjaga istrimu selama kamu di luar kota,” ucap Papa Sanjaya di telepon.
“Ya sudah. Kalau begitu aku akan berangkat. Papa dan Mama jangan terlalu lama ya. Kerena untuk sementara Davi akan menitipkan Vidia pada suster yang berjaga sebelum Papa dan Mama sampai,” ucap Davian.
“Iya, Dav. Kamu tenang aja ya,” sahut Papa Sanjaya.
“Terima kasih, Pa,” ucap Davian.
“Hmm,” sahut Papa Sanjaya yang kemudian mengakhiri panggilannya.
Setelah lega menitipkan Vidia pada Papanya, Davian pun berpamitan sebentar pada Vidia dan kemudian berangkat.
Namun sesaat setelah Davian pergi, seseorang masuk dan akhirnya melepaskan selang bantu okigen Vidia sehingga membuat Vidia menjadi sesak nafas.
Orang itu pun langsung pergi. Namun sebelum orang itu meninggalkan kamar, di saat yang bersamaan suster yang dititipkan oleh Davian pun memergokinya dan bertanya, “Siapa kamu?”
Susuter itu pun langsung melihat ke arah Vidia yang sedang merasa sesak. Melihat Vidia seperti itu, Suster itu pun langsung berteriak meminta tolong dan orang itu pun takut dan kemudian langsung kabur.
Di saat Papa Sanjaya baru saja tiba, dia pun terkejut karena ada beberapa orang polisi yang sedang baerada di ruang rawat Vidia.
“Ini ada apa?” tanya Papa Sanjaya pada semua orang yang ada di sana.
“Bapak ini siapanya pasien?” tanya salah satu polisi.
“Saya mertuanya. Ini kalau boleh tahu, ada apa, ya?” tanya Papa Sanjaya.
“Oh. Jadi Bapak ini mertuanya?...” tanya polisi itu dan Papa Sanjaya pun mengangguk, “begini, Pak. Beberapa saat yang lalu sudah ada orang yang ingin melakukan percobaan pembunuhan pada menantu Bapak.”
__ADS_1
“Apa?!...” ucap Papa Sanjaya terkejut, “lalu apakah sekarang pelakunya sudah di temukan?”
“Belum, Pak. Kami sedang dalam taraf pencarian. Beruntung ternyata di ruangan ini ada CCTV sehingga memudahkan kita untuk mengenalinya dan juga menangkapnya,” jelas polisi tersebut.
Papa Sanjaya yang mendengar itu pun langsung menarik napas lega dan kemudian bertanya, “Lalu apakah sekarang sudah diketahui siapa pelakunya?”
“Belum, Pak. Masih kami cek terlebih dahulu,” sahut polisi tersebut.
Lalu tak lama kemudian, ada satu orang polisi lagi yang datang dan membisikkan sesuatu pada polisi yang sedang berbicara dengan Papa Sanjaya.
Papa Sanjaya yang melihat ini pun akhirnya menduga kalau sudah diketahui siapa pelakunya.
“Bagaimana, Pak?” tanya Papa Sanjaya sesaat setelah polisi yang membisikkan sesuatu itu pergi.
“Hmm.. begini, Pak. Jadi ternyata pelakunya adalah…”
Sementara itu, di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda, orang yang tadi berniat mencelakakan Vidia pun tiba-tiba terkejut karena ada yang memegang pundaknya.
“Kamu?!”
***
Mama Fanya yang saat itu tidak ikut bersama Papa Sanjaya pun langsung dikabari oleh Papa Sanjaya. Dengan sangat terkejut, Mama Fanya pun akhirnya langsung datang ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan Vidia.
“Bagaimana keadaannya sekarang, Pa?” tanya Mama Fanya.
“Sudah stabil, Ma. Beruntung tadi langsung ada yang mengetahuinya,” sahut Papa Sanjaya.
“Sudah, Ma. Hanya saja waktu itu Davian tidak bisa langsung balik karena pekerjaanya sedang tanggung,” jelas Papa Sanjaya.
“Oh begitu,” sahut Mama Fanya.
***
Malam harinya, setelah pekerjaannya selesai, Davian pun langsung pergi ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan Vidia.
“Pa, Ma, bagaimana keadaan Vidia?” tanya Davian.
“Dia sudah stabil, Dav,” sahut Papa Sanjaya.
“Oh, syukurlah,” ucap Davian sambil menarik nafas lega.
Dan di saat yang bersamaan, telepon Davian pun berbunyi. Tanpa menunggu lama, Davian pun langsung mengangkatnya.
“Halo.”
“….”
“Ya. Baiklah. Aku akan ke sana sekarang.”
__ADS_1
Papa yang melihat wajah serius Davian pun akhirnya bertanya, “Ada apa, Dav? Apa sudah terjadi masalah?”
“Gak kok, Pa. semua baik-baik saja. Hanya saja ada hal yang harus aku selesaikan. Sepertinya aku akan meminta tolong pada kalian lagi untuk menjaga Vidia,” ucap Davian.
“Gak apa-apa, Dav. Kamu pergilah. Biar kami yang menjaga Vidia,” ucap Mama Fanya.
“Terma kasih, Ma, Pa,” ucap Davian.
Mama Fanya pun mengangguk sambil tersenyum lalu kemudian Davian pun pergi.
***
Davian pun langsung pergi ke suatu tempat yang kemudian sesaat setelah sampai di sana, Davian langsung menemui seseorang.
“Bagaimana?” tanya Davian pada seseorang.
“Pak, tadi kami sempat menemukannya dan juga menangkapnya. Tapi wanita ini begitu licik sehingga membuat dia bisa kabur dari kami,” jelas orang itu.
Davian pun terdiam dan kemudian bertanya, “Tapi apa kalian sempat menaruh alat pelacak pada dirinya?”
“Sudah, Pak,” sahut orang itu.
“Bagus. Sekarang lebih baik kita beritahu soal ini pada pihak polisi. Biar mereka yang mengejarnya,” ucap Davian yang diangguki oleh orang tersebut.
***
Di Rumah Sakit…
Mama Fanya yang dari awal tidak tahu siapa pelaku yang ingin mencelakai Vidia ini pun akhirnya bertanya, “Pa, sebenarnya siapa pelakunya?”
Papa Sanjaya hanya terdiam dan tidak menyahut sehingga membuat Mama Fanya semakin penasaran.
“Pa, tolong beritahu mama tentang siapa pelakunya,” pinta Mama Fanya.
Papa Sanjaya pun menarik napas dalam-dalam dan kemudian bertanya, “Yakin mama ingin mengetahui siapa pelakunya?”
Mama Fanya pun mengangguk dan kemudian bertanya, “Siapa, Pa?”
Papa Sanjaya pun terdiam sesaat dan kemudian menjawab, “Orang itu adalah Tasya, Ma.”
Mama Fanya yang mendengar jawaban Papa Sanjaya pun syok dan merasa percaya tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Kenapa bisa Tasya, Pa?” tanya Mama.
“Papa sendiri juga tidak tahu, Ma,” sahut Papa Sanjaya.
“Terus Davian sudah tahu masalah ini?” tanya Mama Fanya.
Papa Sanjaya pun menggelengkan kepalanya dan kemudian berkata, “Davian belum tahu, Ma. Papa belum memberitahukan padanya. Karena papa sangat khawatir jika Davian sampai tahu soal ini, entah apa yang akan dia lakukan pada Tasya nantinya.”
__ADS_1
Mama Fanya pun menuduk sambil dengan lirih berkata, “Memang benar apa yang Papa khawatirkan itu.”
Bersambung…