Ternyata Memang Cinta

Ternyata Memang Cinta
Pak Radit


__ADS_3

Pagi harinya...


'Drrt.. drrt.. drrrt'


Ponsel Vidia bergetar sehingga membuat yang empunya pun terbangun dan mengangkatnya.


“Halo,” ucap Vidia dengan suara khas orang yang baru saja terbangun dari tidur.


“Vid, lo masih tidur?” tanya orang itu yang ternyata Syina.


“Hmm,” sahut Vidia.


“Aih. Lo mending cepetan bangun deh. Lo gak inget ini hari apa?” tanya Syina.


Vidia pun terdiam sesaat lalu kemudian...


“Aaaaaaaargh!! Gue lupa, Syin,” ucap Vidia yang langsung bangun.


“Ya udah. Cepetan sana lo mandi. Gue tunggu di kampus,” ucap Syina kemudian langsung mengakhiri panggilannya.


Vidia pun langsung melemparkan ponselnya ke tempat tidur dan kemudian dia pun langsung segera menuju kamar mandi.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Vidia pun langsung memakai pakaian yang telah lama dia siapkan untuk hari ini. Sebuah pakaian dengan atasan kemeja wanita lengan pendek berwarna biru muda dan celana jeans hitam yang sangat pas dengan bentuk tubuhnya. Dia pun langsung melapisi pakaiannya dengan sebuah jaket bahan berwarna senada dengan celana sehingga membuatnya terlihat sangat rapi sekali dan terlihat enak di pandang.


“Hai, mau ke mana?” tanya Davian yang ternyata belum berangkat ke kantor.


“Ma—mau ke kampus. Dah ah. Aku berangkat duluan,” ucap Vidia yang langsung saja pergi meninggalkan Davian.


Dia tidak peduli dengan bagaimana ekspresi wajah Davian saat itu. Tanpa menunggu lama, dia pun langsung menyalakan mesin motornya dan dilajukannya dengan kecepatan yang terbilang cukup tinggi.


Setelah beberapa saat kemudian, Vidia pun sampai dan langsung memarkirkan motornya setelah itu bergegas ke kelas mencari Syina.


“Hhaaa.. hhaaaa..”


Nafas Vidia pun seperti terengah-engah. Bagaimana tidak, dia berlari dari halaman parkir menuju kelas.


“Lo lari, Vid?” tanya Syina saat melihat Vidia sampai di ruang kelas dengan nafas yang tersengal-sengal.


Vidia yang ditanya seperti itu pun akhirnya mengangguk sambil berkata, “Air.”


“Ckckck.. nih,” ucap Syina sambil menyodorkan sebotol air mineral.


“Haaaaa... Segarnya,...” ucap Vidia sambil mengelap mulutnya, “Nih. Makasih.”


“Hmm,” sahut Syina singkat.


“Btw, gue gak telat kan?” tanya Vidia.


“Hampir. Hampir aja telat,” sahut Syina.


“Ya sorry,” ucap Vidia.


Setelah beberapa saat kemudian, yang di tunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Dengan membenarkan posisi duduknya, Vidia pun memperhatikan dengan seksama orang yang hari itu akan mengajar di kelasnya.


Dengan mata berbinar-binar, Vidia memandangi Dosen kesayangannya itu hingga dia tidak sadar kalau ternyata dari mulutnya keluar air liur.


“Woi, Vid. Coba ya. Tuh mulutnya di kondisikan,” celetuk Syina.


Namun ucapan Syina ini tidak di hiraukan oleh Vidia. Dia masih saja terpaku melihat sosok Dosen yang dia kagumi.


“Hadeuh. Repot dah kalau gini urusannya,” gumam Syina.

__ADS_1


Sementara itu di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda...


'Brak'


Pintu ruangan Davian pun tiba-tiba saja ada yang membuka dengan kasar.


“Dav, kamu keterlaluan,” ucap orang tersebut yang ternyata Tasya.


Davian yang saat itu sedang merundingkan masalah pekerjaan dengan Steven pun terkejut dan begitu pula dengan Steven.


Steven yang merasa kalau ada hawa perang di ruangan itu pun langsung berkata, “Dav, kalau begitu aku pergi dulu. Kalian bicaralah.”


Steven pun langsung pergi begitu saja meninggalkan Davian bersama dengan Tasya.


Sesaat setelah Steven pergi, Davian pun langsung menatap tajam Tasya sambil berkata, “Ada apa?”


“Dav, kenapa kamu tega melakukan kesepakatan seperti itu dengan Mama mu?” tanya Tasya.


“Ck. Aku kira ada apa,” sahut Davian santai membuat Tasya semakin kesal.


“Dav, kok tanggapanmu seperti itu sih?!” protes Tasya.


Davian pun melipat kedua tangannya di atas meja dan kemudian bertanya, “Terus kamu maunya apa?”


“Aku maunya, kamu bujuk Tante supaya tidak jadi membatalkan pertunangan ini dan kamu pun harus menceraikan wanita itu,” ucap Tasya.


'Brak'


“Tas, dengar ya baik-baik. Asal kamu tahu. Aku melakukan kesepakatan ini memang karena bertujuan untuk bisa lepas dari belenggu pertunangan ini,...” ucap Davian tegas, “mengenai wanita itu, aku sampai kapan pun tidak akan pernah menceraikannya. Karena hanya dia yang bisa menjadi istriku.”


Tasya yang mendengar itu pun seketika langsung berlari meninggalkan ruangan Davian sambil menangis.


Sementara itu, Davian yang di sudah sendirian di dalam ruangannya pun terduduk lemas. Suasana hatinya benar-benar kacau. Karena biar bagaimana pun, dia sangat membenci Tasya.


“Batalkan semua meeting hari ini,” ucap Davian pada sekretarisnya.


Davian pun langsung bangkit dari duduknya dan kemudian pergi. Saat ini entah mengapa rasanya dia ingin sekali bertemu dengan Vidia.


***


Di kampus...


“Vid, gila lo,” ucap Syina saat di kantin kampus.


“Gue gila kenapa, Syin?” tanya Vidia bingung.


“Masih segala tanya lagi. Eh, lo sadar gak sih kalau mupeng mu itu kelihatan banget saat lihat Pak Radit,” ucap Syina.


“Hehehe.. iya, kah?!” ucap Vidia.


“Hehehe..” gumam Syina mengikuti ucapan Vidia.


Sebagai informasi kalau Pak Radit ini adalah Dosen yang dikagumi oleh Vidia dari awal mereka bertemu. Bagaimana tidak, pasalnya Pak Radit inilah yang sering menolong Vidia saat dirinya berada dalam kesulitan.


Dan di saat yang bersamaan, Tiba-tiba saja...


“Apa aku boleh duduk di sini?” tanya orang tersebut yang ternyata Pak Radit.


Vidia pun spontan melongo dan sementara itu Syina menyahut, “Boleh, Pak. Silakan.”


Pak Radit pun langsung duduk di hadapan Vidia dan juga Syina.

__ADS_1


“Kalian masih belum pulang?” tanya Pak Radit.


“Belum, Pak. Kami lapar, jadinya kami mengisi perut kami dulu sebelum pulang,” sahut Syina.


“Oh,” ucap Pak Radit singkat.


Sementara itu, Syina yang selalu memperhatikan Vidia pun spontan menginjak kakinya Vidia sehingga membuat Vidia spontan berteriak.


“Kamu kenapa, Vid?” tanya Pak Radit yang terkejut mendengar teriakkan Vidia.


“Oh. Aku gak apa-apa kok Pak. Tadi aku seperti digigit semut gede deh. Jadinya aku teriak,” jelas Vidia.


“Oh semut. Aku kira ada apa tadi teriak,...” ucap Pak Radit, “o ya, akhir pekan ini kalian ada acara gak?”


“Acara?! Kalau aku sih kayaknya gak ada, Pak. Cuma aku gak tahu kalau si Vidia. Dia ada acara apa gak,” ucap Syina sambil menoleh ke arah Vidia.


“Oh. Aku... Aku masih belum tahu. Memangnya ada apa, Pak?” tanya Vidia.


“Gak ada apa-apa sih. Hanya saja akhir pekan ini Bapak mau ngadain kelas tambahan buat menghadapi ujian akhir nanti,” jelas Pak Radit.


“Semacam les gitu ya, Pak?” tanya Syina.


“Yup betul,” sahut Pak Radit.


“Oh,” ucap Syina.


Di saat yang bersamaan tiba-tiba saja ponsel Vidia bergetar. Dengan segera, Vidia pun melihatnya.


'Muka batu is calling...'


“Eh, mau ngapain ni orang ngehubungi saat jam segini?!” gumam Vidia lirih.


Vidia pun mengangkat teleponnya dan kemudian...


“Vid, masih ada jam?” tanya Davian.


“Udah kosong. Ada apa?” tanya balik Vidia.


“Aku tunggu di gerbang,” ucap Davian yang langsung menutup teleponnya.


Sesaat setelah itu..


“Ih, apa-apaan sih ni orang satu. Seenaknya sendiri aja,” gumam Vidia lagi sambil memandangi ponselnya.


Syina yang melihat itu pun akhirnya bertanya, “Dari siapa, Vid?”


“Eh. Bukan dari siapa-siapa,...” sahut Vidia, “ya udah. Sori nih semua. Aku harus balik sekarang. Mendadak aku ada urusan.”


“Kebetulan. Aku juga mau pulang,” ucap Pak Radit.


Sementara itu, Syina yang merasa bakal di tinggalkan sendirian ini pun akhirnya menceletuk, “Lha pada pergi. Kalau begitu, aku juga ikut pulang deh.”


“Ayo atuh kalau begitu,” ajak Vidia.


Sesaat setelah di luar, Pak Radit tiba-tiba saja teringat kalau ada tertinggal di kantornya. Membuat dia pun langsung memisahkan diri dan pergi ke kantor.


Sesaat setelah itu, Syina pun kebetulan juga ingin ke toilet. Jadinya dia pun sama seperti Pak Radit, langsung meninggalkan Vidia sendirian.


“Mereka ini, ya. Ya sudahlah. Lagian juga kebetulan sekali mereka gak ada. Jadinya kan rahasiaku aman. Hehehe...” gumam Vidia yang kemudian melanjutkan langkahnya menemui Davian.


Setelah sampai di gerbang, Vidia pun langsung masuk ke dalam mobil Davian. Namun belum juga ngadem, tiba-tiba saja Davian langsung bertanya, “Siapa pria tadi?”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2