
“Dav,…”
Mama Rahma mencoba menegur Davian namun Davian hanya diam dan tidak menghiraukan teguran tersebut.
Sementara itu, Papa Sanjaya yang melihat ini pun akhirnya berkata, “Eh iya, At. Ada apa kalian datang ke sini?”
“Hmm begini, San. Kami ingin memohon sesuatu pada Davian. Tapi tampaknya Davian tidak bisa mengabulkannya deh,” sahut Papa Atmaja lirih sambil melirik ke arah Davian.
“Katakan saja. Siapa tahu aku bisa membantumu meyakinkan Davian untuk mengabulkan keinginan kalian,” ucap Papa Sanjaya.
Mendengar ucapan Papa Sanjaya, Papa Atmaja dan Mama Fanya pun terdiam. Mereka merasa apa yang akan mereka minta nanti itu akan membuat Davian marah.
Papa Sanjaya yang melihat mereka terdiam seperti ini pun akhirnya berkata, “Kok kalian malah diam saja?! Coba katakan saja. Siapa tahu aku bisa membantumu.”
Setelah mendapatkan ucapan seperti itu, akhirnya Papa Atmaja pun mencoba untuk mengatakannya.
“San, sebenarnya kami hari ini datang ke sini karena ingin meminta maaf pada keluarga kalian, khususnya pada Davian atas apa yang dilakukan oleh Tasya. Kami berharap Davian mau memberikan maaf dan membebaskan Tasya,” ucap Papa Sanjaya.
Davian yang mendengar hal itu pun sontak merasa muak dan emosi. Namun masih dengan nada sopan, Davian berkata, “Om, Tante.. untuk saat ini maaf. Aku masih belum bisa memaafkan Tasya setelah apa yang sudah dilakukannya pada istri dan anakku.”
Papa Sanjaya pun menunduk. Dia sangat meyadari kalau apa yang sudah dilakukan oleh putrinya itu memang bukan sesuatu yang bisa dimaafkan begitu saja. Tapi Papa Atmaja pun tidak tega melihat Tasya di dalam penjara. Mengingat kondisinya yang setiap saat dapat drop.
“Om tahu itu. Om juga sadar kalau apa yang sudah dilakukan oleh Tasya ini memang sesuatu yang sulit untuk dimaafkan. Tapi,…” Papa Atmaja pun menghentikan ucapannya lalu, “om mohon sama kamu agar mau mempertimbangkannya lagi setelah mengingat kalau saat ini Tasya sedang sakit.”
Davian pun terdiam dan di saat yang bersamaan Papa Sanjaya berkata, “Dav, kali ini tolong maafkan Tasya. Anggap penyakitnya ini sebagai hukuman dari perbuatannya.”
Davian yang mendengar itu pun sebenarnya sangat malas sekali dan juga sangat enggan sekali mewujudkannya. Apalagi setelah Davian melihat Vidia yang sedang terbaring koma seperti ini.
“Dav, tante mohon padamu,” ucap Mama Rahma mengharapkan pengertian dari Davian.
Davian pun masih saja terdiam. Dalam hatinya dia berkata, “Vid, apa yang harus aku lakukan sekarang?”
Davian pun lalu teringat semua sikap dan tingkah Vidia selama ini.
Hingga beberapa saat kemudian Davian pun berkata, “Baiklah, Tan. Aku akan mengabulkan permintaan Om dan Tante. Tapi untuk memaafkannya, aku tidak bisa,…” ucap Davian, “o ya, jika sampai Tasya melakukan kesalahannya untuk yang ke dua kalinya, saat itu aku tidak akan pernah mau memberinya kesempatan lagi.”
Papa Sanjaya dan Mama Fanya yang mendengar hal itu pun hanya bisa menerima. Bagi mereka yang terpenting saat ini adalah Tasya bisa bebas dan bisa berkumpul dengan mereka lagi.
__ADS_1
“Baiklah Dav. Kami mengerti. Kami akan pastikan kalau Tasya tidak akan melakukan kesalahan yang seperti ini lagi,…” ucap Papa Sanjaya, “terima kasih banyak, Dav.”
Davian pun hanya mengangguk dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
***
Keesokan harinya Davian bersama dengan orang tua Tasya pun memutuskan untuk peri ke kantor polisi. Sesuai dengan apa yang sudah diputuskan oleh Davian, Tasya pun akhirnya dibebaskan dengan bersyarat.
Tanpa mau menemui Tasya, Davian pun langsung memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Namun sebelum dia pulang, dia masih sempat berpesan pada orang tua Tasya agar selalu menjaga Tasya supaya tidak melakukan kesalahan yang sama untuk yang ke dua kalinya.
Sesaat setelah Davian pergi, Tasya pun keluar dan menemui Papa serta Mamanya.
“Kamu gimana keadaannya, sayang?” tanya Mama Rahma.
Tasya hanya terdiam saja. Dia tidak menyahuti pertanyaan Mamanya itu. Dia malah berjalan mendahului ke dua orang tuanya.
Papa Atmaja dan Mama Rahma yang melihat itu pun spontan saling lihat antara satu dengan lainnya lalu kemudian mengikuti Tasya dari belakang.
Dalam perjalanan pulang, Tasya pun hanya diam. Dia sama sekali tidak mengucapkan apa-apa. Hanya wajah datar yang ia tunjukkan.
Sesampainya mereka di rumah, Tasya pun langsung masuk ke dalam kamarnya meninggalkan orang tuanya.
“Biarkan saja dulu, Ma. Yang penting dia tidak melakukan hal yang salah lagi. Sekarang tugas kita hanya mengawasinya saja,” ucap Papa Atmaja.
“Iya, Pa. Papa benar,” ucap Mama Rahma.
***
Sementara itu di Rumah Sakit, Davian yang menggantikan mamanya menjaga Vidia pun duduk termenung di samping Vidia sambil terus memegangi tangan istrinya.
“Vid, maafkan aku jika keputusanku ini salah. Sebenarnya aku sendiri pun bingung harus bagaimana,…” ucap Davian lirih, “cepatlah bangun, Vid. Aku sangat merindukanmu yang selalu ceria dan membuatku selalu tersenyum.”
***
Saat di kantor, Davian yang sudah menitipkan Vidia pada Syina pun merasa tdak tenang. Karena sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya itu yang tak kunjung sadar.
“Dav, kenapa kamu diam saja seperti itu?” tanya Steven.
__ADS_1
Dengan sambil masih menunjukkan wajah termenungnya, Davian pun menyahut, “Aku kepikiran tentang Vidia terus, Stev.”
Mendengar jawaban Davian, Steven pun menarik nafas dalam-dalam dan kemudian berkata, “Aku tahu kamu sangat mengkhawatirkannya. Tapi kamu juga harus tetap berkerja, Dav. Karena pekerjaan ini sudah kamu tunda sangat lama sekali.”
Sambil menunduk, Davian pin berkata, “Ya. Kamu benar. Baiklah. Ayo sekarang kita lanjutkan pekerjaan kita.”
Steven pun mengangguk dan kemudian mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka.
Sementara itu, di rumah Tasya, Tasya yang baru saja keluar dari penjara ini pun selalu saja diam sehingga membuat Mama Rahma menjadi bingung sekaligus khawatir.
“Pa, Tasya gak apa-apa, kan?” tanya Mama Rahma pada Papa Atmaja.
Papa Atmaja pun menggelengkan kepalanya dan kemudian balik bertanya, “Apa Mama sudah mencoba mengajaknya bicara?”
“Sudah, Pa. Tapi dia hanya diam saja dan tidak menanggapi ucapan mama,” sahut Mama Rahma.
Papa Atmaja yang mendengar ini pun hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan kemudian berkata, “Ya sudah. Biar kali ini papa yang akan coba mengajaknya bicara.”
Mama Rahma pun mengangguk dan tanpa menunggu lama, Papa Atmaja pun langsung menghampiri Tasya yang saat itu sedang duduk di dekat jendela kamarnya.
“Tas, apa bisa papa ngobrol sama kamu?” tanya Papa Atmaja.
Mendengar dirinya di ajak bicara oleh Papa Atmaja, akhirnya Tasya pun mau menengok ke arah Papa Atmaja dan kemudian bertanya, “Ada apa, Pa?”
Mengetahui anaknya mau menanggapi ucapannya, seketika hati Papa Atmaja pun menjadi merasa lega. Lalu Papa Atmaja pun bertanya, “Tas, bagaimana keadaan kamu sekarang?”
Tasya pun terdiam. Dia masih dengan tatapannya yang lurus ke depan.
“Memang keadaanku bisa bagaimana?” tanya Tasya balik.
Papa Atmaja yang mendengar ucapan Tasya pun hanya bisa diam. Tanpa Tasya bilang pun Papa Atmaja sudah bisa mengetahui dengan jelas bagaimana keadaan Tasya sekarang.
“Maafin Papa dan Mama ya, Tas,” ucap Papa Atmaja lirih.
“Ck.. Maafin?! Aku mungkin bisa maafin Papa dan Mama karena kalian orang tuaku. Tapi tidak untuk mereka,” sahut Tasya yang membuat Papa Atmaja tercengang.
“Maksud kamu?”
__ADS_1
Bersambung…