
“Masih ngantuk sih masih ngantuk, tap minimal turunkan dulu kepala mas dari badanku. Aku harus segera berangkat ke kampus. Hari ini ada seminar dan itu wajib ha…”
“Cup.”
Davian langsung mencium Vidia dan entah mengapa hal itu pun akhirnya dilakukan kembali oleh ke duanya di pagi itu.
Setelah beberapa saat mereka bermesra-mesraan, tiba-tiba saja Vidia teringat kembali soal seminar di kampus.
“Mas, udah ah. Aku benar-benar harus cepat rapi-rapi dan berangkat ke kampus,” ucap Vidia sambil memukul-mukul tubuh Davian yang saat itu benar-benar tidak mau melepaskannya.
Dengan nada santai, Davian pun menyahut, “Sudah. Kamu santai saja. Nanti aku yang akan mengantarmu ke kampus.”
Walau sudah mendengar akan hal itu pun, Vidia masih saja bersikeras untuk tetap segera mempersiapkan diri untuk segera berangkat ke kampus.
Berusaha di singkirkannya tubuh Davian yang terus menerus memeluknya seperti layaknya sebuah guling sambil menggerutu, “Kenapa sekarang jadi seperti ini sih?”
“Apa kamu bilang?” tanya Davian yang rupanya mendengar samar gerutuan Vidia.
“Oh. Aku tadi gak bilang apa-apa,” sahut Vidia yang kemudian langsung saja kabur sesaat setelah berhasil melepaskan diri dari Davian.
Di dalam kamar mandi, Vidia lagi-lagi bergumam, “Dasar muka batu. Bisa telat ini ke kampus. Hadeuh.”
Setelah beberap saat kemudian, Vidia pun telah selesai menyelesaikan ritual mandinya dan juga sudah berpakaian rapih. Kini Vidia siap untuk berangkat. Namun di saat yang bersamaan, Davian pun masih berada di atas tempat tidur sambil memperhatikan gerak-gerik Vidia sambil bertanya, “Seminar di kampusmu itu memang mendatangkan seseorang?”
“Katanya sih iya. Tapi aku gak tahu siapa. Hanya saja seminar ini itu wajib ikut. Kalau gak, maka akan mempengaruhi nilai,” Jelas Vidia.
“Oh,” sahut Davian singkat.
“Ya sudah. Aku berangkat dulu,” ucap Vidia berpamitan dan di saat yang bersamaan Davian menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vidia yang gusrah gusruh.
***
Di kampus…
Setelah beberapa saat mengendarai motornya ke kampus, Vidia pun akhirnya sampai juga di kampus. Dia pun lalu mencari sosok sahabatnya itu.
“Di mana sih si Syina?! Apa jangan-jangan dia lagi asik pacaran sama Pak Radit,” gumam Vidia yang langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Syina.
__ADS_1
Setelah beberapa saat ponsel berdering, akhirnya dari seberang ponsel pun di angkat.
“Halo. Eh lo di mana?” tanya Vidia.
“Eh sori-sori. Gue bentar lagi sampai nih. Tamunya belum datang kan?” tanya orang tersebut yang ternyata Syina.
“Aih. Tumbenan banget lo belum sampai. Gue pikir gue yang kesiangan. Ternyata lo yang lebih kesiangan dari gue,…” ucap Vidia, “iya. Tamunya belum datang dan acaranya pun belum di mulai. Udah. Buruan lo datang.”
“Et dah. Iya.. iya.. ini gue lagi usahain. Soalnya tumbenan banget ini jalanan padat merayap,” sahut Syina.
“Ya sudah. Gue tunggu,” ucap Vidia.
“Hmm,” sahut Syina yang kemudian mengakhiri percakapan.
Setelah beberapa saat kemudian, Vidia yang sedang berdiri di pintu masuk ruang seminar pun bolak-balik melihat ke arah jam tangan yang ia kenakan. Karena terlalu jenuh, Vidia pun menggumam, “Ni anak ke mana sih? Lama banget.”
Vidia pun menengak-nengok ke kanan dan ke kiri. Dia sangat berharap kalau Syina dapat segera muncul di hadapannya.
Namun nasib berkata lain. Rupanya acara pun dalam waktu lima menit sudah akan di mulai sehingga membuat Vidia mau tidak mau masuk dan duduk di tempat yang telah di sediakan oleh panitia.
Di saat-saat detik-detik terakhir sebelum tamu datang, Syina dengan nafas terengah-engah pun akhirnya sampai dan segera duduk di sebelah Vidia.
“Hmm,” sahut Vidia singkat.
Lalu tak lama setelah itu, tiba-tiba saja…
“Baiklah para mahasiswa semuanya. Sebelum kita mulai membuka acara seminar ini, terlebih dahulu kita sambut tamu kita,…” ucap salah seorang dosen yang bertugas menjadi MC, “Bapak Davian. Berikan tepuk tangan sambutan pada beliau.”
Vidia yang mendengar hal itu pun menjadi sangat terkejut. Dalam hatinya dia berguma, “Ha?! Kok bisa?!”
Dengan mulut yang menganga, Vidia pun tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya. Hal ini rupanya disadari oleh Davian yang seketika pandangannya langsung mengenai sasaran pada Vidia.
“Sial. Pantas saja tadi dia bersikeras memaksaku untuk santai. Ternyata ini penyebabnya,” gerutu Vidia sehingga membuat Davian menahan senyum namun juga masih bisa disadari oleh Steven yang juga ternyata ada di situ.
“Kamu kenapa, Dav?” tanya Steven yang bingung melihat Davian.
“Hehehe.. gak apa-apa. Aku hanya sedang melihat seseorang yang sangat lucu,” sahut Davian sambil masih memperhatikan wajah Vidia yang cemberut.
__ADS_1
Karena rasa penasarannya, Steven pun langsung menelusuri arah pandangan Davian tertuju. Betapa terkejutnya Steven yang mendapati Vidia sedang duduk di antara para mahasiswa yang hadir.
“Dia?” tanya Steven sambil menunjuk ke arah Vidia.
“Iya,” sahut Davian singkat sambil terus menerus memperhatikan ekspresi istrinya yang sedang kesal.
“Ya ampun, Dav. Rupanya ini tuh yang nyebabin kamu mau menerima undangan untuk mengisi seminar ini?” tanya Steven memastikan.
Mendapatkan pertanyaan itu, Davian pun tersenyum sambil mengangguk lalu berkata, ”Yup.’
Mendengar ucapan Davian, spontan membuat Steven pun menepuk jidatnya dan merasa semakin tidak habis pikir mengapa sikap Davian berubah.
“Apakah orang kalau sudah menikah itu dapat berubah ya kepribadiannya?!” gumam Steven dalam hati.
Sesaat kemudian seminar pun di mulai dan setelah melakukan beberapa pembahasan, kini tibalah saatnya di mana sesi tanya jawab.
Sesi tanya jawab yang tadinya kondusif, tiba-tiba saja berubah menjadi sesuatu di luar dugaan. Karena saat itu ternyata ada seorang mahasiswi yang berani bertanya, “Pak Davian, apakah Bapak sekarang sudah mempunyai pacar?”
Mendengar pertanyaan itu, sontak membuat orang-orang yang hadir di ruang seminar itu pun menjadi riuh.
Sementara itu Davian yang mendapatkan pertanyaan ini pun berusaha tetap tenang sambil melirik ke arah Vidia yang saat itu ternyata sedang menatap tajam dirinya.
Dengan tersenyum, Davian pun menjawab, “Bukan hanya pacar. Tapi aku justru sudah memiliki seorang istri.”
Seperti itu lah jawaban yang di katakan oleh Davian sehingga membuat Vidia menepuk jidatnya dan Steven pun langsung menoleh ke arah Davian dengan tatapan tidak percaya kalau sahabatnya itu akan menjawab seperti itu.
Mendengar pengakuan dari Davian, sontak membuat para mahasiswi menjadi merasa patah hati dan kemudian ada salah seorangnya yang bertanya, “Pak, kapan Bapak menikahnya? Kenapa tidak ada kabar beritanya?”
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, lahi-lagi Davian pun menyahut, “Jika saatnya sudah tepat, kami pasti akan memberitahukan pada teman-teman semua.”
“Pak, kalau boleh tahu, siapa wanita yang beruntung itu?”
Davian pun terdiam sejenak. Semenatara itu, Vidia masih dengan tatapan yang tajamnya terus memperhatikan Davian.
“Untuk perkara siapa wanita beruntung itu, sebenarnya bukan dia yang beruntung. Justru aku yang telah beruntung dapat bertemu dengannya. Dia sudah banyak sekali membantuku bahkan mengorbankan kebahagiaannya hanya untuk menolongku di saat aku sedang ada masalah,” sahut Davian sambil tersenyum.
“Waaaaaaah… jadi penasaran dengan siapa sebenarnya wanita tersebut,” ucap beberapa orang bergantian namun berkata tentang hal yang sama.
__ADS_1
Davian pun lagi-lagi tersenyum mendapatkan respon seperti itu. Tak lupa ia pun mengedipkan salah satu matanya ke arah Vidia sehingga membuat Vidia bukannya senang tapi malah menjadi sangat kesal.
Bersambung…