Ternyata Memang Cinta

Ternyata Memang Cinta
Ayo buat DeBay!!


__ADS_3

Masih di kampus…


Setelah menghadiri seminar yang sangat mengesalkan bagi Vidia, dia pun langsung meluncur ke kantin kampus dan membeli sebuah minuman yang bisa meredakan kekesalannya terhadap Davian.


“Sial tuh muka batu. Kenapa dia gak bilang jujur aja sih dari awal kalau yang jadi tamu itu ternyata dia sendiri,…” gerutu Vidia yang ternyata kesal akan hal itu, “udah gitu, gara-gara ulahnya, hampir aja aku tadi kecelakaan lagi gara-gara ngebut. Huh, sebal!”


‘Slurp..’


Vidia pun langsung menyedot minuman yang ada di tangannya dan kemudian di saat yang bersamaan…


“Woi, Vid. Gue bilang tunggu eh lo malah nyelonong main pergi gitu aja,” protes Syina yang ternyata memanggil Vidia, namun Vidia sendiri tidak mendengarnya karena sudah terbawa kesal gara-gara Davian.


“Eh, lo tadi manggil gue?” tanya Vidia yang baru tahu.


“Hilih,” sahut Syina singkat.


“Hehehe… sori.. sori,” ucap Vidia.


“Iya,…” sahut Syina, “Btw, lo tuh kenapa sih? Gue perhatiin dari tamu tadi datang, wajah lo tuh rasa kayak emosi banget gitu.”


Vidia pun menarik nafas panjang dan kemudian berkata, “Gue gak kenapa-kenapa.”


“Lha terus itu wajah kenapa?” tanya Syina yang masih tidak puas dengan jawaban dari Vidia.


Vidia pun terdiam sejenak dan kemudian berkata, “Tadi pagi gue hampir aja celaka gara-gara ngebut.”


Mendengar hal itu, Syina pun menepuk jidatnya dan kemudian berkata, “Lo kebiasaan, Vid. Walau bakal telat, kan juga gak harus ngebut kayak gitu.”


“Lha kalau gue gak ngebut, ntar gue gak boleh masuk. Terus bisa-bisa mempengaruhi nilai gue,” ucap Vidia yang sebenarnya bukan itu alasannya.


“Aih. Kalau gue sih, Vid. Gue bakal biarin nilai gue jelek daripada gue harus kehilangan nyawa gue gara-gara ngebut,” ucap Syina.


“Iya juga sih,” sahut Vidia.


***


Sore harinya, Vidia yang masih kesal dengan Davian pun enggan untuk pulang ke rumah. Dia yang sedang dalam keadaan suasana hati tidak enak pun memutuskan untuk berjalan-jalan seorang diri ke Mall terlebih dahulu.


Hingga akhirnya dia merasa lelah dan memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah, ternyata Davian sudah menunggunya sambil duduk menonton televisi.


“Jam segini baru pulang. Dari mana saja kamu seharian ini?” tanya Davian saat melihat Vidia berjalan melewati dirinya.

__ADS_1


“Bukan urusanmu,” sahut Vidia singkat dan kemudian langsung pergi ke kamar.


Sementara itu, Davian yang melihat sikap Vidia seperti itu pun langsung dengan segera menyusul Vidia.


“Mau apa kamu, Mas?” tanya Vidia sesaat setelah Davian berhasil menyusulnya bahkan memeluknya dari belakang.


“Idih.. galak banget,…” ucap Davian yang masih tetap memeluk tubuh Vidia, “kamu maunya apa?”


“Gak mau apa-apa. Aku mau mandi,” sahut Vidia.


“Mandi bareng yuk,” ajak Davian yang spontan membuat Vidia menginjak kaki Davian sehingga membuat pelukannya terlepas.


Dengan cepat, Vidia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi dan kemudian ia pun menggerutu, “Kenapa semenjak aku menyetujui penikahan ini menjadi nyata, sikap si muka batu ini berubah drastis. Gak seperti dia yang yang dulu awal-awal ketemu.”


Sementara itu, Davian yang di tinggalkan oleh Vidia pun tersenyum melihat sikap istrinya ini. Semenjak pernikahan ini berubah menjadi nyata, Davian pun semakin merasa kalau dia jadi sangat senang sekali menggoda istrinya itu tanpa harus merasa tidak enak.


Setelah beberapa saat kemudian, Vidia pun keluar dari kamar mandi dan saat Vidia baru saja melangkahkan kaki keluar pintu kamar mandi, tiba-tiba saja…


“Aaaaaaaaaah..”


Teriak Vidia yang terkejut karena Davian tiba-tiba saja menggendong dirinya dan membawanya ke tempat tidur.


“Aku mau,…” ucapan Davian pun berhenti sejenak dan kemudian, “kita buat DeBay yuk, sayang.”


“Ha?!”


Tanpa mendengarkan persetujuan dari Vidia, Davian pun langsung melaksanakan tugasnya sebagai suami dan saat itu terjadilah sesuatu yang seharusnya terjadi.


***


Malam harinya, entah berapa ronde mereka lakukan. Namun yang pasti tubuh Vidia terasa remuk dan tidak bertenaga. Sementara itu, Davian memandangi istrinya yang sedang tampak kelelahan.


“Capek ya?” tanyanya.


“Pake segala tanya lagi,” sahut Vidia sewot.


“Ululu.. sini.. sini..” ucap Davian yang langsung meletakkan kepala Vidia di atas pundaknya.


“Maaf ya. Hari ini kamu pasti sangat kesal sekali karena aku tidak memberitahumu yang sebenarnya,” ucap Davian lembut.


Vidia pun hanya diam saja. Dia benar-benar jengkel dengan kelakuan suaminya itu. Melihat Vidia hanya diam dan tidak menyahut, Davian pun berbisik, “Kalau kamu tidak menanggapi ucapanku, maka jangan salahkan aku jika aku mengerjaimu lagi.”

__ADS_1


Mendengar hal itu, spontan membuat Vidia langsung melihat ke arah Davian dengan tatapan yang sangat jutek sekali.


“Mas, kamu itu ya. Asal kamu tahu, gara-gara kamu gak bilang, aku tadi pagi hampir aja celaka gara-gara buru-buru,” protes Vidia.


“Eh.. gimana bisa gara-gara aku sih? Kan aku udah bilang santai aja. Nanti aku yang antar kamu ke kampus,” protes Davian yang tidak kalah dari Vidia.


Memang benar sih kalau Davian sudah menawarkan untuk mengantar. Tapi kan tetap saja Vidia akan menolak. Pasalnya dia kan tidak tahu kalau ternyata Davian lha tamu yang di undang oleh pihak kampus.


Melihat Vidia hanya diam saja, Davian pun bertanya, “Kok diam?”


Lalu sesaat kemudian Vidia pun berkata, “Mas, gimana bukan gara-gara kamu. Kamu gak bilang sih kalau ternyata kamu sendiri lah yang jadi tamu di sana. Malahan inget gak, mas pake segala tanya emang ngundang tamu ya?! Inget gak?”


“Iya.. iya.. aku minta maaf. Tapi kalau kamu tahu tamunya ternyata aku, apa kamu tetap mau hadir dan mau aku antar ke kampus?” tanya Davian.


Vidia pun berpikir sejenak sebelum akhirnya dia menjawab, “Ya jelas aja aku tatap akan hadir. Kan seminar itu sangat mempengaruhi nilai mata kuliahku.”


“Lalu?” tanya Davian.


“Lalu apa maksudnya?” tanya balik Vidia.


“Lalu apa setelah kamu tahu, kamu mau berangkat bareng bersamaku?” tanya Davian.


“Hmm… untuk masalah itu, rasanya gak deh,” sahut Vidia.


“Kenapa?” tanya Davian bingung.


“Hmm, soalnya kan kita belum pasti akan bisa atau gak punya anak sebelum batas waktu yang diberikan papamu tempo hari. Kalau nyatanya gagal, gimana? Pasti kita bakal di suruh cerai kan?” ucap Vidia.


“Aih. Kamu ini. Kenapa pikirannya sampai ke sana sih?” protes Davian.


“Gimana aku gak punya pikiran ke sana. Aku kan khawatir. Jika kita gagal dan hubungan pernikahan ini sudah terlanjur diketahui pihak luar lalu setelah itu cerai gara-gara gagal punya anak, gimana coba? Apa gak malu?!” sahut Vidia.


Davian pun terdiam sejenak. Dia sangat mengerti kekhawatiran Vidia.


“Ya sudah. Kalau begitu, malam ini kita kerja lembur. Mana tahu ada salah satunya yang tokcer dan kita berhasil ngasih orang tuaku cucu,” ucap Davian nyeleneh.


“A—Apa?!” teriak Vidia namun tidak dihiraukan oleh Davian.


“Aaaaaaaaa… Mas. Kamu gila ih!”


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2