Ternyata Memang Cinta

Ternyata Memang Cinta
Bau-bau masalah


__ADS_3

Keesokan harinya di rumah kediaman keluarga Atmaja, Tasya yang masih tidak terima dengan keputusan Davian pun bersikeras memaksa Mama dan Papanya untuk segera mendatangi keluarga Davian dan meminta orang tua Davian agar segera menceraikan Vidia. Mendapatkan permintaan ini, Mama Rahma dan Papa Atmaja pun bingung bagaimana cara menasihati putrinya ini.


“Ma, ini bagaimana?...” tanya Papa Atmaja, “Apa yang harus kita lakukan?”


Mendapatkan pertanyaan seperti ini, Mama Rahma pun menjadi bingung. Dia sendiri pun tidak tahu lagi harus bagaimana.


“Pa, mama juga bingung,” sahut Mama Rahma.


Mereka berdua pun akhirnya terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya Papa Atmaja berkata, “Tidak ada jalan lain, Ma. Lebih baik kita memang harus segera rundingkan masalah ini dengan keluarga Sanjaya tapi dengan tanpa sepengetahuan Tasya.”


Mama Rahma pun mau tidak mau menyetujui keputusan suaminya itu.


***


Di rumah Davian…


Vidia yang pagi-pagi sudah bangun dan rapih itu pun berjalan mendekati Davian dan duduk di sebelahnya.


“Mas, bangun mas. Mas gak ke kantor?” tanya Vidia yang melihat suaminya masih terlelap tidur.


“Eeeeee… gak ngantor aku hari ini Vid,” sahut Davian dengan nada khas orang yang baru bangun tidur.


“Ya sudah. Kalau begitu aku berangakat ke kampus dulu ya,” pamit Vidia.


“Hmm,” sahut Davian.


Setelah berpamitan, Vidia pun berdiri dan kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. Namun belum juga Vidia membuka pintu kamar, tiba-tiba saja dia terkejut karena…


“Vid, tunggu sebentar. Jangan berangkat dulu. Awas kalau kamu berani berangkat,” ucap Davian yang langsuung masuk ke dalam kamar mandi.


Vidia yang melihat tingkah laku Davian itu pun menjadi melongo. Dia tidak habis pikir dengan sisi lain yang ditunjukkan suaminya itu.


Kerena mendapatkan peringatan seperti itu dari Davian, Vidia pun akhirnya menunggu Davian di ruang keluarga sambil menonton acara berita di televisi.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Davian pun telah siap. Sementara itu, Vidia yang melihat Davian seperti itu pun menjadi bingung karena bukannya tadi Davian berkata kalau dia tidak akan ke kantor.


“Mas, Mas mau ke mana?” tanya Vidia.


“Mau mengantarmu ke kampus,” sahut Davian santai.


“Haiyaaaa.. kan aku sudah bilang jangan antar aku. Mas lupa ya?” tanya Vidia.


“Inget kok,” sahut Davian masih dengan nada santainya.


“Kalau ingat, kenapa sekarang mau mengantarku ke kampus?” tanya Vidia bingung.

__ADS_1


Davian pun hanya diam. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan istrinya itu. Tapi dia justru manarik tangan Vidia dan membawanya ke mobil.


Vidia yang sudah terbiasa dengan kebiasaan suaminya ini pun hanya bisa pasrah dan mengikuti semua kemauan suaminya ini.


Di perjalanan, tidak banyak yang mereka bicarakan. Karena Vidia fokus dengan ponselnya, sementara itu Davian fokus dengan kemudinya. Hingga beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di kampus.


“Mas, sudah sampai di sini aja. Jangan sampai masuk ke dalam. Bisa runyam urusan kalau sampai ada yang tahu tentang kita,” pinta Vidia yang kemudian Davian pun menghentikan mobilnya di lokasi yang tidak terlalu jauh dari kampus.


“Kenapa?” tanya Davian pura-pura tidak paham dengan maksud Vidia.


“Aih, masih pura-pura gak ngerti,” ucap Vidia sewot.


“Wkwkwkk… ya sudah.. ya sudah.. tapi ada syaratnya,” ucap Davian.


“Apa itu?” tanya Vidia bingung.


“Ini,” sahut Davian sambil menyentuh pipinya sebelah kiri sehingga membuat raut wajah Vidia pun memerah.


“Ih, genit,” celetuk Vidia.


“Biarin. Kan sama istri sendiri,…” sahut Davian, “udah ah. Buruan. Kalau nggak aku nekat nih masukin mobilnya ke dalam halaman kampus.”


“Eh.. iya.. iya..” ucap Vidia yang kemudian langsung mengecup pipi Davian dan kemudian turun meninggalkan Davian.


Vidia yang mendengar terikan Davian pun hanya melambaikan tangannya tanda terserah dan Davian yang melihat itu pun tersenyum lalu kemudian melajukan mobilnya kembali.


***


Di rumah keluar Papa Sanjaya…


Mama Fanya yang saat itu sedang membersihkan rumah pun tiba-tiba saja terkejut dengan suara telepon yang berdering. Tanpa menunggu lama, Mama Fanya pun mengangkatnya dan dia pun lagi-lagi terkejut setelah mengetahui siapa yang menelepon.


“Rahma?! Apa kabar?” sapa Mama Fanya.


“Baik Fan. Kamu sibuk gak hari ini?” tanya Mama Rahma.


“Hari ini?! Rasanya gak. Ada apa, Rahma?”


“Aku dan Papanya Tasya berencana ingin merundingkan sesuatu pada kalian. Ini masalah anak-anak kita,…” sahut Mama Rahma, “bagaimana kalau siang ini kita ketemuan di luar. Tapi jangan sampai anak-anak kita ada yang tahu soal pertemuan ini.”


“Oh begitu. Baiklah. Nanti kamu kirim saja alamatnya. Kami nanti akan ke sana,” ucap Mama Fanya.


“Ok,” sahut Mama Rahma yang kemudian menutup teleponnya.


Sementara sesaat setelah itu, Mama Fanya yang baru saja mendapatkan telepon seperti itu pun terdiam terpaku sehingga membuat Papa Sanjaya yang kebetulan sedang melewati Mama Fanya pun bertanya, “Kamu kenapa Ma? Tadi itu telepon dari siapa?”

__ADS_1


Mama Fanya yang sedang terdiam ini pun akhirnya menyahut, “Itu dari Rahma, Pa. Mereka mengajak kita buat ketemuan siang ini.”


“Ketemuan?! Memangnya ada apa?” tanya Papa Sanjaya.


“Katanya sih mau membahas soal anak-anak kita,” sahut Mama Fanya.


“Oh begitu,…” sahut Papa Sanjaya, “Ya sudah. Yang seharusnya terjadi memang harus terjadi.”


“Iya,” sahut Mama Fanya singkat.


***


Di kampus…


Vidia yang sedang duduk dalam kelas pun merasa kalau seluruh badannya remuk. Dia benar-benar merasa tidak enak sekali.


“Aih. Badanku benar-benar rasanya gak karuan,” gerutu Vidia sambil memegangi pinggangnya.


Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja Syina datang dan langsung duduk menatap Vidia.


“Lo kenapa?” tanya Syina bingung.


“Gue sendiri juga gak tahu, Syin. Gue ngerasa badan gue sakit semua,” sahut Vidia.


“Ya kalau lo ngerasa gak enak badan, kenapa hari ini lo ke kampus?” tanya Syina bingung.


“Gue harus nyerahin tugas makalah yang waktu itu belum sempat gue serahin, Syin dan sekarang batas waktu penyerahannya,” jelas Vidia.


“Ya ampun, Vid. Ya sudah. Kalau lo udah nyerahin tugas makalah lo, lo mendingan pulang aja deh. Muka lo pucat banget tahu gak sih?!” ucap Syina yang kemudian di iya kan oleh Vidia.


***


Siang harinya, sesuai dengan ucapan Davian, dia pun sudah menunggu Vidia tidak jauh dari gerbang kampus dan tak selang berapa lama kemudian Vidia pun keluar. Melihat itu, Davian pun langsung membunyikan klakson agar Vidia menghampirinya.


Dan benar saja… sesaat setelah klakson dibunyikan, Vidia pun langsung menghampiri mobil Davian dan kemudian masuk ke dalam mobil.


“Vid, kamu kenapa?” tanya Davian yang melihat wajah Vidia yang sangat pucat.


“Entahlah, Mas. Badanku sakit semua. Rasanya tuh tulang-tulang berasa kayak patah gitu,” sahut Vidia sambil menyenderkan kepalanya di kursi mobil.


“Ya sudah. Kamu istirahatlah,” ucap Davian yang kemudian melajukan kendaraannya.


Karena merasa kalau Vidia tidak mungkin untuk memasak, Davian pun akhirnya memutuskan untuk menepikan mobilnya ke sebuah rumah makan. Batapa terkejutnya ia saat melihat…


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2