Ternyata Memang Cinta

Ternyata Memang Cinta
Cucu


__ADS_3

Siang harinya, Vidia yang sudah selesai masak pun akhirnya memutuskan untuk memanggil Davian untuk makan.


“Mas, ayo kita makan sekarang,” ajak Vidia.


Davian yang saat itu sedang menyibukkan diri dengan pekerjaan kantornya itu pun akhirnya menatap Vidia dan berkata, “Makan?! Kamu masak?”


Vidia pun mengangguk lalu berkata, “Ayo, mas. Udah di tunggu oleh Om dan Tante tuh.”


Mendengar ucapan Vidia yang menyebutkan orang tuanya, sontak membuat ekspresi Davian pun berubah drastis dan ini disadari oleh Vidia.


“Mas, kenapa? Mas gak mau makan?” tanya Vidia namun Davian hanya terdiam.


“Baiklah kalau mas gak mau makan, aku tidak akan memaksa. Tapi mas,…” Vidia pun terdiam sejenak lalu berkata, “coba mas pikir sekali lagi deh. Bukannya lebih bagus kalau di saat seperti ini kita menunjukkan kemesraan kita di depan orang tuamu?”


Davian pun terdiam sejenak. Dia merasa kalau ucapan Vidia ini memang ada benarnya juga. Saat-saat seperti ini adalah saat yang tepat untuk membuktikannya.


“Baiklah Vid. Aku akan makan. Kamu tunggu sebentar,” ucap Davian dan Vidia pun mengangguk sambil tersenyum.


Di ruang makan, saat mereka semua sedang berkumpul, tampak hanya ada ekpresi tegang yang selalu mereka tunjukkan sehingga membuat Vidia menghela nafas panjang.


“Om dan Tante, silakan dimakan. Aku berharap semoga saja kalian suka dengan masakanku,” ucap Vidia memberanikan diri membuka obrolan.


Mama Fanya pun mengangguk sambil tersenyum dan kemudian berkata, “Pa, ini coba di makan.”


Mama Fanya pun mengambilkan makan untuk Papa Sanjaya. Sementara itu, Vidia pun tidak mau kalah. Dia pun langsung bertanya pada Davian tentang apa yang ingin dia makan.


Davian pun menyahut kalau apa pun yang diambilkan oleh Vidia, dia pasti akan memakannya. Melihat sikap Davian dan Vidia yang seperti itu, Mama Fanya pun tersenyum. Namun untuk kesekian kalinya mereka terkejut karena tiba-tiba saja…


“Kapan kalian akan memberikan kami berdua seorang cucu?” tanya Papa Sanjaya.


“Uhuk.. Uhuk..” Vidia tiba-tiba saja tersedak mendengar pertanyaan dari Papa Sanjaya.


Sementara itu, Davian, walau dia pun terkejut, tapi dia berusaha mengendalikan rasa terkejutnya itu dengan berkata, “Kami belum ada rencana ke arah sana. Soalnya Vidia masih harus kuliah. Jadi biarkan dia fokus dengan belajarnya dulu.”

__ADS_1


Mendengar ucapan Davian, Vidia pun langsung mengangguk-angguk tanda dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Davian.


“Kenapa?! Apa kalian memang benar-benar sudah membohongi kami?” tanya Papa Sanjaya.


“Waduh. Rupanya ucapan Om tadi adalah ucapan yang menjebak,” gumam Vidia dalam hati.


Sementara itu, Davian berkata, “Kami sama sekali tidak membohongi Papa dan Mama. Hanya saja untuk masalah itu memang masih belum kami pikirkan untuk saat ini.”


Namun walau Davian sudah berkata seperti itu, tetap saja Papa Sanjaya sepertinya tidak mau terima dan tidak mau tahu. Papa Sanjaya tetap berkata, “Pokoknya papa tidak mau dengar banyak alasan lagi. Papa akan kasih waktu kalian selama setengah tahun untuk memberikan kami kabar baik.”


Mendengar ucapan Papa Sanjaya, Vidia pun langsung melihat ke arah Davian yang sedang menunjukkan ekspresi datarnya.


Sementara itu, Mama Fanya pun mencoba menengahi dengan berkata, “Sudahlah, Pa. Jangan seperti itu. Untuk masalah anak, tentunya merekalah yang lebih tahu kapan mereka siapnya.”


“Gak bisa, Ma. Papa minta secepatnya supaya kita pun bisa dengan yakin memutuskan pertunangan Davian dengan keluarga Tasya,” ucap Papa Sanjaya yang membuat Mama Fanya menjadi terdiam.


Mengetahui kenyataan ini, dalam hati Vidia pun bergumam, “Kenapa aku bisa sampai terjebak dalam masalah mereka?!”


***


“Menurutmu?” tanya Davian balik sehingga membuat Vidia menyipitkan matanya karena bingung.


Vidia pun memutuskan untuk menghampiri Davian dan kemudian duduk di sebelahnya lalu bertanya, “Ada apa, Mas?”


Davian pun terdiam. Terpancar jelas dari raut wajahnya kalau sepertinya sedang ada yang mengganjal pikirannya dan dia pun ragu untuk mengatakannya.


“Mas?!” ucap Vidia mencoba membuat Davian merespon.


Tak selang berapa lama kemudian, dengan ragu Davian pun berkata, “Vid,”


“Ya Mas,” sahut Vidia.


“Soal anak,…” ucap Davian membuat Vidia ‘deg’, “bagaimana menurutmu?”

__ADS_1


Vidia pun terdiam menunduk. Dia tidak tahu harus bagaimana. Pasalnya hubungan pernikahan ini hanya didasarkan pada sebuah kesepakatan saja dan bukan hubungan pernikahan yang sebenarnya. Namun di saat yang bersamaan, Vidia juga tahu tentang tuntutan yang di berikan Papa Sanjaya pada Davian, suaminya.


“Mas, aku sendiri tidak tahu kita seharusnya bagaimana. Karena dari awal, pernikahan ini terjadi karena adanya kesepakatan antara kita dan bukannya karena adanya perasaan yang menyebabkannya,” ucap Vidia.


“Aku tahu. Tapi jika kita tidak dapat membuktikannya, maka apa yang kita lakukan sekarang pun menjadi sia-sia dan ini sama saja membuat aku menerima Tasya menjadi tunanganku. Aku tidak mau itu,” ucap Davian yang terlihat sangat frustasi.


“Dav,…” Vidia pun menarik nafas panjang karena dia sendiri pun ragu dengan apa yang akan dia katakan, “jika aku membantumu dalam masalah anak, apa kamu yakin mau membatalkan perjanjian pernikahan kita ini dan membuat pernikahan ini menjadi pernikahan yang sesungguhnya?” tanya Vidia.


Davian pun terdiam tidak menyahut. Dia mengerti benar kenapa Vidia mengatakan hal itu. Namun dia pun ragu apakah dia bisa menjalani hubungan pernikahan yang tanpa perasaan itu seumur hidupnya ataukah tidak.


Vidia yang melihat Davian terdiam seperti itu pun akhirnya berkata, “Baiklah, Mas. Diammu sudah mewakili jawabanmu. Lebih baik kamu mencari jawabanmu sendiri tanpa menterlibatkan aku lagi.”


Vidia pun langsung naik ke atas tempat tidur dan mengambil posisi untuk tidur. Sementara itu, Davian masih bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Hingga sesaat kemudian…


“Vid, kamu uda tidur?” tanya Davian.


“Hmm. Ada apa?” tanya Vidia dengan nada malas karena dia hampir saja tertidur.


“Jika aku menjadikan hubungan kita ini hubungan yang serius dan nyata, apakah kamu yakin tidak akan menyesal karena mulai saat itu kamu tidak akan bisa mewujudkan mimpimu menyukai pria lain?” tanya Davian yang membuat Vidia terdiam dan tidak dapat menjawab apa-apa lagi.


***


Pagi harinya, Papa Sanjaya selalu saja membuat orang menjadi terkejut. Pasalnya dengan tiba-tiba Papa Sanjaya memutuskan untuk pulang. Namun, walau seperti itu, Papa Sanjaya tetap saja mengingatkan pada Davian agar segera memberikan kabar baik jika memang ingin pertunangannya dengan Tasya benar-benar berakhir.


Setelah kepulangan Papa Sanjaya dan Mama Fanya, Vidia yang merasa canggung dengan Davian pun akhirnya memutuskan untuk meminta ijin agar dibolehkan main ke rumah Syina.


Davian pun tidak dapat melarang Vidia. Di ijinkannya Vidia main. Namun sebelum itu, Davian pun berpesan agar pulang jangan terlalu larut.


Karena sudah mendapatkan ijin, Vidia pun langsung berangkat. Namun siapa sangka, setelah sampai di taman dekat rumah Syina, Vidia melihat sesuatu kenyataan yang membuat hatinya seperti teriris pisau. Perih.


Vidia pun akhirnya mengurungkan niatnya untuk main ke rumah Syina dan langsung kembali pulang.


Sementara itu sesaat setelah sampai di rumah, Davian tampak bingung melihat Vidia.

__ADS_1


“Kamu kenapa?”


Bersambung….


__ADS_2