
Sore harinya saat setelah pulang dari bertemu dengan orang tua Davian, Vidia pun terduduk termenung. Dia memikirkan semua yang telah di katakan oleh orang tua Davian saat itu.
“Apa yang harus aku lakukan?” gumam Vidia sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja terasa sakit.
Di saat yang bersamaan, Davian pun pulang dan melihat Vidia yang sedang memegangi kepalanya sehingga membuat dia mempercepat langkahnya ke arah Vidia.
“Vid, kamu kenapa?” tanya Davian.
Vidia yang mendengar suara Davian pun spontan langsung menengok ke arah Davian lalu bertanya, “Eh, Mas. Kamu udah pulang?”
Davian pun mengangguk dan kemudian mengulangi pertanyaannya lagi lalu oleh Vidia hanya di jawab dengan mengatakan bahwa dia tidak apa-apa.
Mendapatkan jawaban seperti itu, Davian tetap saja tidak percaya dan merasa kalau memang ada yang sedang Vidia tutup-tutupi. Namun Davian memutuskan untuk tidak menanyakannya lebih lanjut.
***
Beberapa hari setelah kejadian itu, Vidia pun telah sampai pada keputusannya untuk meninggalkan Davian. Dia berpikir, jika memang dia dan Davian adalah jodoh, pasti suatu saat nanti akan di pertemukan kembali namun dengan awal yang lebih baik lagi.
Pagi itu, Vidia mencoba untuk berbicara baik-baik pada Davian soal keputusannya ini. Dia berharap Davian mau memahami keputusan yang telah dia ambil ini.
“Mas,…” ucapnya pagi itu, “apa aku bisa bicara sesuatu? Tapi kamu jangan marah dan jangan salah paham padaku.”
Davian yang mendengar ucapan Vidia seperti itu merasa bingung. Dia merasa kalau Vidia begitu sangat aneh hari itu.
“Ada apa?” tanyanya.
Vidia pun terdiam sejenak lalu kemudian dengan nada lirih menjawab, “Mas, lebih baik kita sudahi saja pernikahhan kita ini. Lagi pula, pernikahan ini bukan didasari oleh rasa cinta. Jadi percuma saja kita lanjutkan.”
Davian yang mendengar jawaban Vidia seperti itu pun menjadi ‘deg’ dan dengan nada kesal, Davian pun berkata, “Kenapa? Kamu merasa menyesal sekarang?”
Vidia pun menggeleng kencang dan menyahut, “Bukan. Aku sama sekali tidak menyesali keputusanku tentang pernikahan ini. Namun,…”
__ADS_1
“Namun apa, Vid?” tanya Davian.
Lagi-lagi dengan nada lirih, Vidia pun berkata, “Namun, ada yang lebih membutuhkan dirimu dibanding aku.”
“Maksud kamu?” tanya Davian bingung dengan apa yang di katakan oleh Vidia.
Vidia pun terdiam. Dia menarik nafas dalam dan mencoba untuk menguatkan hatinya untuk berkata, “Mas, kembalilah ke tunanganmu. Biar bagaimana pun dia mencintaimu dibanding aku. Dia juga lebih membutuhkanmu dibanding aku.”
Mendengar ucapan Vidia, sontak amarah Davian pun terpancing dan dengan nada marah, Davian pun berkata, “Vid, bukannya kamu lebih tahu jelas di banding siapa pun alasan pernikahan kita terjadi?”
“Iya, Mas. Aku tahu,” saut Vidia.
“Kalau kamu tahu dan masih ingat dengan alasannya, lalu kenapa kamu sekarang malah menyuruhku untuk kembali menerima Tasya?” tanya Davian penuh emosi.
“Maaf, Mas. Tapi dia sekarang lebih membutuhkanmu,” ucap Vidia.
“Ah.. rumus dari mana itu?! Asal kamu tahu, Vid. Aku tuh sangat membenci dia. Dia lah yang sudah membuat adikku meninggal,” ucap Davian.
Vidia pun terdiam. Sebenarnya untuk hal itu, Vidia pun sudah di ceritakan oleh ke dua orang tua Davian. Saat itu orang tua Davian berkata kalau adiknya sangat mencintai Tasya. Namun saat hendak melamar Tasya, tiba-tiba saja adiknya Davian mengalami kecelakaan akibat dia tidak fokus berkendara karena kepikiran tentang dua fakta. Fakta pertama adalah Tasya mencintai Davian dan fakta ke dua adalah Vidia memiliki penyakit gagal ginjal.
Dengan manarik nafas dalam, Vidia pun berkata, “Mas, beberapa hari yang lalu, orang tua mas mengajakku bertemu. Mereka berdua sudah menjelaskan semuanya dan kini mereka bingung karena penyakit Tasya kambuh lagi. Hanya mas yang bisa membuatnya jadi lebih bersemangat lagi menjalani hidupnya.”
Davian pun terdiam sejenak. Dia kini tahu kalau ternyata keputusan Vidia kali ini bukan kerena telah menyesal tapi karena dia ingin mengorbankan dirinya sendiri untuk wanita lain.
“Vid, maaf. Tapi aku benar-benar gak bisa menceraikanmu. Aku gak mau,” ucap Davian tegas.
“Tapi mas,…” ucapan Vidia langsung di potong oleh Davian dengan mengatakan, “Sudah. Tidak ada tapi-tapian lagi. Urusan Tasya, biar aku yang akan bilang pada orang tuaku. Kamu gak usah terlalu banyak mikir soal ini lagi.”
Vidia pun menghela nafas panjang dan kemudian berkata, “Baiklah. Tapi apa pun yang terjadi nanti, aku akan siap untuk segala kemungkinan terburuk keputusan mas nanti.”
Davian pun menyipitkan matanya karena dia merasa kalau Vidia sudah pasrah. Sambil di elusnya kepala Vidia, Davian pun berkata, “Keputusanku tidak akan berubah. Dari awal kita memutuskan untuk menganggap pernikahhan ini nyata, dari situ lha aku bertekat kalau menikah hanya untuk satu kali walau pun itu tanpa ada dasar cinta.”
__ADS_1
Vidia yang mendengar ucapan Davian seperti itu pun sebenarnya ada rasa bahagia sekaligus sedih. Dia pun tidak tahu bagaimana seharusnya dia mengespresikan wajahnya.
***
Keesokan harinya, saat di kampus, Vidia pun langsung mencari sosok sahabatnya itu.
“Syin, lo di mana sih?” gumam Vidia sambil berjalan namun matanya berkeliaran mencari sosok Syina, sahabatnya itu.
Setelah beberapa saat mencari, akhirya sosok yang telah di carinya pun muncul dan Vidia pun langsung memeluk Syina sehingga membuat Syina bingung.
“Vid, lo kenapa?” tanya Syina.
Tanpa menjawab pertanyaan Syina, Vidia pun langsung menangis sesenggukan di pelukan Syina.
“Vid, lo itu kenapa sih?” tanya Syina mengulangi pertanyannya lagi.
Vidia pun masih tidak mau menjawab hingga akhirnya Syina pun memutuskan untuk mengajak Vidia duduk di tempat yang agak sepi.
Dan beberapa saat kemudian,…
“Vid, coba deh lo sekarang cerita. Lo itu kenapa? Ada apa?” tanya Syina.
Vidia pun mencoba untuk mengendalikan rasa sedihnya dan kemudian menceritakan semuanya pada Syina. Semenatara itu, Syina yang mendengar cerita Vidia pun tiba-tiba saja spontan mengubah ekspresi wajahnya lalu berkata, “Vid, lo udah benar-benar jatuh cinta padanya?”
“Gue gak tahu, Syin. Gue hanya merasa kalau di satu sisi gue bahagia dengan ucapannya tapi di sisi lain gue seperti orang jahat karena telah egois,” ucap Vidia.
“Hais… Vid. Egois atau gaknya, itu bukan salah lo. Ini keputusan Davian. Lo cukup ikuti alurnya aja,” ucap Syina.
Vidia pun mengangguk kemudian berkata, “Iya, Syin.”
***
__ADS_1
Sementara itu, Davian langsung mendatangi rumah orang tuanya dan lalu dengan tegas Davian berkata, “Pa, sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan Vidia. Walau dia menjauh dariku sekali pun, aku yang akan tetap mencarinya dan tidak akan aku lepaskan dia sampai kapan pun.”
Bersambung…