
Mama Fanya yang melihat itu pun menjadi cemas dan kemudian bertanya, “Dav, sebenarnya ada apa? Bagaimana keadaan Vidia?”
Sambil dengan memasang wajah sedih, Davian pun menggelengkan kepalanya sehingga membuat Mama Fanya semakin cemas.
“Hayolah, Dav. Katakan pada kami tentang keadaan Vidia yang sebenarnya,” ucap Mama Fanya memaksa.
Dengan menarik nafas anjang, Davian pun akhirnya menceritakan semuanya yang telah dikatakan oleh Dokter padanya. Sementara itu, Mama Fanya dan juga Papa Sanjaya yang mendengar penjelasan dari Davian pun syok dan seketika Mama Fanya langsung duduk mendekati Vidia yang sedang tak sadarkan diri sambil berkata, “Vid, kamu harus kuat. Mama yakin kamu bisa bangkit kembali.”
Sedangkan Papa Sanjaya, di saat yang bersamaan menepuk pundak Davian dan berkata, “Kamu yang sabar ya. Ini adalah ujian untuk kalian berdua.”
Davian pun mengangguk pelan. Dalam hatinya, walau pun ini adalah ujian, dia sangat tidak berharap untuk kehilngan lagi.
***
Keesokan harinya, Syina datang bersama dengan Pak Radit menengok Vidia. Di saat yang bersamaan itulah, Davian akhirnya menanyakan tentang kronologi kejadian yang telah menimpa Vidia.
Dengan mengandalkan ingatannya, Syina pun akhirnya menjelaskan kalau saat dia datang, dia melihat ada seorang wanita yang sedang membawa sebuah pisau kecil yang sudah berlumuran darah pergi dengan tertawa terbahak-bahak. Dia tidak tahu siapa wanita tersebut. Namun di saat yang bersamaan itulah dia melihat Vidia sudah tersungkur di lantai dengan berlumuran darah.
Davian yang mendengarkan penjelasan dari Syina pun memastikan lagi dengan menunjukkan sebuah foto yang ada di dalam ponselnya. Dia bertanya apakah wanita itu yang dia lihat atau bukan.
Syina pun akhirnya melihat foto tersebut dan dapat memastikannya kalau foto itu adalah orang yang telah mencelakai Vidia hingga sampai seperti ini.
Sesaat setelah mengetahui kebenarannya, Davian dengan penuh rasa amarah dan juga kebencian, melaporkan Tasya pada pihak yang berwajib.
Oleh pihak berwenang, kasus yang di laporkan oleh Davian pun segera diselidiki dan ditindaklanjuti. Sementara itu, orang tua Davian yang telah diceritakan oleh Davian pun merasa tidak habis pikir kenapa Tasya bisa sampai senekat itu.
“…lalu bagaimana sekarang perkembangan kasusnya? Apakah Tasya sudah ditemukan?” tanya Papa Sanjaya saat mereka sedang mejenguk Vidia yang masih belum juga sadar dari komanya.
Davian pun menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tasya masih belum ditemukan, Pa.”
“Oh,” ucap Papa Sanjaya singkat sambil menengok ke arah Vidia.
__ADS_1
“Terus sekarang bagaimana keadaan Vidia? Apakah dia sudah menunjukkan tanda-tanda yang positif?” tanya Mama Fanya.
Lagi-lagi Davian pun menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Belum, Ma. Dia sepertinya masih betah dengan tidur panjangnya. Namun Dokter sudah memastikan kalau keadaannya sekarang sudah stabil. Tinggal menunggu bagaimana tekad Vidianya aja untuk sadar.”
“Oh begitu rupanya. Kasihan juga Vidia. Jika mama berada di posisinya saat ini, mama mungkin memilih untuk tidak bangun dan tetap berada di dunia mimpi bersama anak mama,” ucap Mama sehingga membuat Davian dapat merasakan kepedihan Vidia jika dia sadar nanti.
***
Satu minggu setelah kejadian itu, perkembangan kasus Tasya masih belum juga menemukan titik temu dan keadaan Vidia pun masih belum juga menunjukkan perkembangan. Hingga suatu ketika…
“Halo. Dengan Pak Davian,” ucap seseorang dari seberang telepon.
“Iya. Ini dengan saya sendiri. Maaf. Kalau boleh tahu, saya sedang bicara dengan siapa ya?” tanya Davian yang merasa tidak mengenali nomor pangilan tersebut.
“Saya dari kepolisian ingin memberitahukan pada Bapak bahwa saudari Tasya sudah kami temukan dan saat ini yang bersangkutan sedang berada di kantor kami,” ucap orang itu yang ternyata polisi.
Davian yang mendengar kabar itu pun langsung mengtakan kalau dirinya akan segera ke kantor polisi saat itu juga.
Setelah mengatakan hal itu, telepon pun diakhiri dan Davian langsung menghubungi Mamanya agar mau menolongnya menjaga Vidia selama dia pergi.
Sesuai dengan yang di minta oleh Davian, Syina pun akhirnya mendatangi kantor polisi dengan didampingi oleh Pak Radit.
***
Di kantor polisi…
Davian yang telah datang terlebih dulu dari Syina ini pun langsung menemui Tasya di dalam. Davian sangat tidak habis pikir dengan apa yang dia lihat. Saat itu, Tasya terlihat sangat tenang bahkan cenderung bahagia. Namun hal itu malah membuat Davian semakin emosi sehingga berkata, “Tas, kamu rupanya sangat puas melihat keluargaku menderita.”
Tasya pun tidak menanggapi ucapan Davian. Dia bahkan terlihat acuh melihat kehadiran Davian di sana.
Di saat yang bersamaan, Syina pun datang dan melihat Tasya. Betapa kesalnya Syina saat teringat dengan apa yang sudah dilakukan Tasya pada Vidia.
__ADS_1
“Pak. Dia... dia orangnya, Pak yang telah membuat Vidia jadi seperti sekarang ini,” ucap Syina sambil mengarahkan jari telunjuknya pasa Tasya.
Setelah mendengar ucapan Syina, kini jelas sudah keraguan yang selama ini Davian rasakan. Rupanya memang benar kalau Tasya lah yang telah melakukan ini semua.
“Tas, kamu kenapa tega melakukan itu pada istriku bahkan dengan anak dalam kandungan istriku?” tanya Davian kesal dan emosi.
Dengan pandangan sinis, Tasya pun akhirnya membuka mulut dengan berkata, “Hahaha.. biar tahu rasa kalian.”
Davian dan Syina bahkan Pak Radit yang melihat respon dari Tasya ini pun langsung saling menatap antara satu dengan yang lainnya. Mereka benar-benar merasa kalau Tasya ini sudah tidak memiliki akal sehat.
“Tas, kamu ini udah gak waras ya?! Apa di hatimu tidak ada penyesalan sedikit pun?” tanya Syina.
“Apa?! Penyesalan?! Ck.. kalau boleh jujur, aku sama sekali tidak menyesal. Aku malah merasa puas karena orang yang telah membuat aku tidak bisa mendapatkan orang yang aku cintai pun ikut merasa menderita. Hahaha…” ucap Tasya dengan penuh rasa kepuasan.
Davian yang mendengar ini pun akhirnya berkata, “Baiklah, Tas. Sekarang lebih baik kamu nikmati saja rasa puasmu itu di dalam penjara.”
Davian pun langsung pergi dengan diikuti oleh Syina dan Pak Radit di belakangnya.
Semenatara itu, Pak Radit yang tidak tahu menahu cerita dari awalnya pun sebenarnya merasa bingung. Namun dia urungkan untuk bertanya karena dia merasa kalau saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk dia bertanya.
Setelah menemui Tasya di kantor plisi, Davian pun memutuskan untuk kembali ke Rumah Sakit. Sementara itu, Syina dan juga Pak Radit memutuskan untuk pulang.
***
Di rumah sakit…
Papa Sanjaya yang melihat Davian kembali pun akhirnya bertanya, “Bagaimana? Apakah benar kalau Tasya lha yang telah melakukannya?”
Davian pun mengangguk dan di saat yang bersamaan, orang tua Tasya pun datang dan menemui Davian.
Sementara itu, Davian yang sudah sangat enggan sekali berurusan dengan keluarga Tasya pun hanya bisa diam dan duduk sambil memegangi tangan Vidia.
__ADS_1
“Dav,…”
Bersambung…