
Sesaat setelah menjelaskan semua kebenarannya, Dokter itu pun pergi. Kini hanya Vidia yang berada dalam kamarnya. Dengan pandangan kosong, Vidia memandang jauh ke arah luar jendela.
Di saat yang bersamaan, Davian yang baru saja mengantar orang tuanya ini pun masuk dan mendapati Vidia sedang duduk termangu di tempat tidurnya.
“Sayang, kamu sedang melihat apa?” tanya Davian.
Namun sayang, Vidia masih saja terdiam dan tidak bergeming sama sekali. hal ini membuat Davian merasa aneh. Lalu dicobanya memegang tangan Vidia sambil bertanya, “Vid, kamu kenapa?”
Namun pertanyaan Davian ini lagi-lagi tidak dijawab oleh Vidia. Dia bahkan menepis genggaman tangan Davian sehingga membuat Davian merasa bingung.
Masih dengan nada lembut, Davian mencoba berkata, “Vid, kamu jangan seperti ini. Coba ceritakan padaku, sebenarnya apa yang sebenarnya sedang terjadi? Jujur aku bingung dengan sikapmu ini.”
Walau Davian yang sudah berbicara panjang lebar seperti itu, tapi tetap saja tidak membuat Vidia membuka suaranya.
Mendapatkan respon seperti ini dari Vidia, Davian pun menghela nafas panjang.
“Ok, Vid. Kalau kamu tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya aku tidak akan memaksamu. Tapi kalau nanti aku berubah pikiran dan ingin mengatakannya padaku, aku siap kapan pun,” ucap Davian sambil mengelus-elus rambut Vidia.
Vidia pun masih saja terdiam seribu bahasa. Namun walau begitu, Davian masih dengan sabar menanggapinya.
***
Beberapa hari setelah Vidia sadar, kini keadaan Vidia jauh lebih stabil dan lebih baik dari keadaan dia yang sebelumnya.
Mengetahui hal ini, baik Davian maupun orang tuanya, mereka semua menyambut baik hal itu. Namun sayangnya ini berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Vidia.
Dari semenjak dia mengetahui kabar kegugurannya, Vidia masih tetap saja diam seribu bahasa. Melihat keadaan Vidia yang seperti ini, Davian dan keluarganya pun menjadi agak sedikit khawatir. Mereka sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya sudah terjadi pada Vidia.
“Dav, sebenarnya ada apa dengan Vidia? Apa kamu yang udah membuatnya jadi seperti ini?” tanya Mama Fanya.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, spontan Davian langsung menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berkata, “Bukan, Ma. Bukan aku yang membuat Vidia seperti ini.”
“Lalu, kalau bukan kamu, terus apa yang bisa membuat dia jadi seperti ini?” tanya Mama Fanya bingung sambil melirik ke arah Vidia yang masih saja suka memandang ke arah luar jendela dengan tatapan yang kosong.
__ADS_1
“Aku sendiri tidak tahu, Ma. Dari waktu aku mengantar kalian keluar saat itu, saat aku balik, dia sudah seperti ini,” jelas Davian.
Sementara itu, Papa Sanjaya yang juga ada di sana dan mendengarkan percakapan Ibu dan Anak ini pun akhirnya ikut angkat bicara.
“Atau jangan-jangan tanpa kita ketahui, Vidia sebenarnya sudah mengetahui keadaan kandungan dia yang sebenarnya,” ucap Papa Sanjaya mencoba menerka-nerka.
Mendengar ucapan Papa Sanjaya, memang rasanya sangat masuk akal kalau melihat sikap Vidia yang seperti ini.
Dengan mencoba tenang, Mama Fanya pun berkata, “Biar mama yang bicara dengannya kalau begitu. Kalian pergilah keluar sebentar.”
Baik Papa Sanjaya maupun Davian, keduanya langsung saling menatap antara satu dengan lainnya kala mendengar ucapan Mama Fanya.
“Baiklah, Ma. Coba Mama bicara baik-baik dengannya,” ucap Papa Sanjaya yang kemudian merangkul pundak Davian dan menariknya berjalan keluar.
Di saat Papa Sanjaya dan juga Davian sudah pergi, Mama Fanya pun perlahan mencoba duduk di sebelah Vidia.
“Vid, maaf. Kalau boleh mama tahu, apa yang sebenarnya sedang mengganjal pikiranmu? Coba ceritakan sama Mama. Siapa tahu mama bisa mengurangi beban pikiranmu,” ucap Mama Fanya lembut dan penuh dengan rasa keibuan.
Vidia yang kala itu sedang terdiam mematung ini pun perlahan memengok ke arah Mama Fanya dengan tatapan sendu.
Mama Fanya pun menunduk dan terdiam sesaat hingga akhirnya beliau berkata, “Vid, bukan kami tida mau mengatakannya padamu. Tapi kami berpikir kalau keadaan kamu ini belum cukup bisa menerima kabar tersebut. Kami sangat mengkhawatirkan dirimu. Kami tidak ingin membuatmu sedih.”
“Tapi, Ma. Walau kabar itu aku dengar kemarin, sekarang atau pun besok, tetap saja efeknya sama, Ma. Gak berubah. Aku sedih, Ma. Aku sedih kehilangan anakku. Aku sangat sedih,” ucap Vidia yang sudah tidak mampu lagi membendung air matanya.
Mama Fanya yang melihat Vidia seperti ini pun langsung memeluk Vidia sehingga membuat Vidia benar-benar tidak bisa manahan tangisannya lagi.
Dengan meluapkan semua kesedihannya, Vidia pun menangis sesenggukan dalam pelukan Mama Fanya. Mama Fanya pun menepuk-nepuk pelan punggung Vidia sambil berkata, “Puaskanlah kamu menangis. Tapi setelah ini kamu harus berusaha tersenyum ya. Karena walau bagaimana pun, kamu masih memiliki kami yang akan selalu ada di dekatmu.”
Entah Vidia mendengar ucapan Mama Fanya atau tidak, tapi yang pasti dia terus menangis hingga beberapa saat.
Sementara itu, Davian yang mengintip dari luar ini pun tanpa sadar ikut meneteskan air matanya. Hal ini ternyata diketahui oleh Papa Sanjaya. Dengan lembut, Papa Sanjaya menepuk-nepuk pundak Davian yang kemudian membuat Davian tersadar dan langsung mengusap air matanya yang mengalir.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, Dokter datang membawa kabar kalau Vidia sudah bisa pulang besok. Tentunya pihak keluarga sangat menyambut bahagia dengan kabar ini.
Sedangkan Vidia masih sama saja seperti hari sebelumnya. Dia selalu diam dan murung. Tidak ada senyuman yang terlihat di wajahnya.
Hari tak terasa cepat sekali berlalu. Kini tiba di mana Vidia diperbolehkan untuk pulang.
“Sayang, sini aku bantu,…” ucap Davian memapah istrinya berjalan, “pelan-pelan aja jalannya.”
Sambil membawa tas yang berisi pakaian ganti selama Vidia dirawat, Davian dengan sabar menyetarakan langkahnya dengan Vidia yang terkesan agak lambat.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di halaman parkir.
Masih dengan penuh kesabaran, Davian membukakan pintu mobil untuk Vidia dan menyuruhnya untuk masuk.
Sementara itu, sesaat setelah Vidia masuk ke dalam mobil, Davian pun kemudian menaruh tas yang tadi dia bawa ke bagasi mobil dan menaruhnya di sana.
Setelah semua selesai ditaruh, Davian pun langsung masuk ke dalam mobil dan kemudian melajukan mobilnya menuju rumah mereka.
***
Tak lama kemudian setelah mereka menempuh perjalanan beberapa saat, kini akhirnya mereka berdua telah sampai di rumah.
Sama seperti sebelumnya, dengan sangat sabar dan berhati-hati, Davian membantu Vidia turun dari mobil.
“Sayang, kamu duduk di sini dulu ya. Aku akan ambil tas di bagasi mobil dulu,” ucap Davian setelah memastikan Vidia duduk di bangku.
Mendapatkan perlakuan seperti ini, Vidia pun perlahan-lahan mulai mengubah sikapnya yang kemudian mengangguk membolehkan Davian mengambil tas.
Davian yang melihat ini pun spontan tersenyum senang. Ternyata tidak sia-sia dia memperlakukan Vidia dengan tulus.
“Ya sudah,” ucap Davian singkat sambil mengelus-elus rambut Vidia.
Sementara itu, Vidia yang diam-diam memperhatikan sikap Davian ini pun tiba-tiba merasakan adanya desiran di dalam hatinya.
__ADS_1
Bersambung…