Ternyata Memang Cinta

Ternyata Memang Cinta
Terjadi juga


__ADS_3

“Kamu kenapa?” tanya Davian bingung sekaligus khawatir.


Vidia yang sedang kalut ini pun tidak mampu menjawab pertanyaan dari Davian. Dia hanya terdiam dengan wajah yang sembab karena menangis.


Sementara itu, Davian yang tidak mendapatkan jawaban dari Vidia pun hanya bisa menyipitkan matanya dan kemudian menggandeng tangan Vidia dan membawanya masuk ke dalam.


“Nah, sekarang coba kamu ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi,” ucap Davian.


Vidia yang mendapatkan ucapan seperti itu bukannya menjelaskan, dia malah menangis sehingga membuat Davian jadi merasa tidak tahu harus bagaimana menenangkannya. Karena merasa bingung, Davian pun hanya bisa menghela nafas panjang dan menunggu hingga Vidia tenang.


Setelah beberapa saat kemudian, Vidia pun dengan lirih berkata, “Mas, soal ucapanmu semalam. Aku tidak keberatan jika aku tidak dapat mewujudkan keinginanku menyukai pria lain.”


Bagai mendengar bom yang meledak, jantung Davian tiba-tiba berdegup kencang karena terlalu terkejutnya dia mendengar ucapan Vidia.


“Vid, kamu itu kenapa sih?” tanya Davian yang merasa aneh dengan sikap Vidia.


Vidia pun terdiam. Dia sendiri juga bingung dengan apa yang telah terjadi pada dirinya. Namun hanya satu yang dia tahu. Dia sekarang sedang merasa putus asa dan juga kecewa.


“Vid,” tegur Davian.


Setelah beberapa saat terdiam, Vidia pun akhirnya menyahut, “Mas, tadi aku melihat orang yang aku sayangi sedang memeluk sahabatku sendiri. Hatiku sakit, Mas.”


Davian yang mendengar jawaban Vidia pun akhirnya tahu kalau wanita yang sekarang sedang berada di hadapannya itu sedang merasa patah hati.


“Vid, dengarkan aku baik-baik. Kita berdua kan tahu pernikahan kita ini dilandaskan atas apa. Kamu hanya karena sedang merasa sedang patah hati, akhirnya memutuskan untuk menerima pernikahan ini dengan ikatan yang sesungguhnya. Namun apa kamu pernah berpikir, jika kita mengubah hubungan pernikahan ini menjadi nyata, maka kita tidak bisa bermain-main atau bahkan menyesal? Apa kamu yakin akan hal itu? Apa kamu yakin akan tetap hidup bersama dengan orang yang tidak kamu cintai?” tanya Davian memberi pengertian sekaligus memastikan keseriusan Vidia.


Untuk sesaat Vidia pun terdiam namun setelah itu dia berkata, “Jika mas sendiri tidak keberatan dengan hal itu, maka aku sendiri pun tidak akan keberatan.”


Mendengar jawaban Vidia, Davian pun lagi-lagi menghela nafas panjang. Dia khawatir kalau apa yang Vidia putuskan saat ini adalah keputusan dalam keadaan emosi sesaat. Namun di saat yang bersamaan, Davian sendiri pun terdesak oleh permintaan orang tuanya untuk memberikan mereka cucu.


Dengan ragu namun harus, Davian pun akhirnya berkata, “Baiklah. Jika kamu tidak akan menyesal dengan apa yang kamu putuskan sekarang, kita akan membatalkan kesepakatan ini dan melakukannya. Namun, sebelum itu, sekali lagi aku ingin memastikan apa kamu benar-benar yakin dengan kpeutusanmu ini dan tidak akan menyesal?”


Dengan mantap Vidia pun berkata, “Aku yakin dan aku tidak akan menyesal asal selama mas juga berjanji untuk setia padaku walau pun tidak ada cinta di antara kita.”


“Baiklah,” sahut Davian.


Kerena mereka berdua sudah sepakat akan melakukannya dan menganggap pernikahan ini menjadi nyata, jadilah saat itu juga mereka melakukan hubungan suami istri.

__ADS_1


***


Sementara itu, di saat yang bersamaan namun di tempat yang berbeda, Pak Radit sedang merasa bingung dengan sikap yang di berikan Syina pada dirinya.


“Syin, kamu itu kenapa? Kenapa kamu menolakku? Alasannya apa?” tanya Pak Radit.


“Pak, Maaf. Tapi sampai kapan pun aku tidak akan mungkin bisa menerima Bapak sebagai calon suamiku,” ucap Syina.


“Iya. Aku tahu. Tapi alasannya apa?” tanya Pak Radit.


Syina pun terdiam. Dia tidak dapat menjawab apa alasan yang sebenarnya dia menolak Pak Radit.


Melihat sikap Syina pada dirinya, Pak Radit pun akhirnya berkata, “Baiklah jika saat ini kamu menolakku. Tapi, Syin. Aku samapai kapan pun akan tetap menunggumu hingga kamu mau menerimaku.”


Syina pun masih saja terdiam tidak dapat mengatakan apa-apa.


***


Siang harinya di rumah Davian…


“Mas, bangun mas,” ucap Vidia sambil mengoyang-goyangkan tubuh Davian.


“Hmm.. ada apa?” tanya Davian dengan nada khas orang ang belum sadar sepenuhnya dari tidur.


“Mas, lapar. Ini udah siang. Udah waktunya buat makan siang,” ucap Vidia.


Sambil masih dengan rasa kantuk dan juga lelahnya, Davian pun berkata, “Ya sudah. Tunggu sebentar. Biar aku cuci muka dulu.”


Davian pun langsung bangun dan kemudian mencuci mukanya agar terasa segar dan tidak mengantuk lagi.


Setelah merasa lebih segar, Davian pun mendekati Vidia dan duduk di sebelah istrinya itu sambil berkata, “Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan makanan.”


“Hmm, aku mau makan gado-gado,” sahut Vidia.


“Eh? Gado-gado? Cari di mana?” tanya Davian yang memang tidak tahu tempat belinya di mana karena seumur-umur dia belum pernah makan gado-gado.


Mengetahui kalau suaminya ternyata tidak tahu tempat membelinya, sontak membuat Vidia menjadi tertawa terbaha-bahak dan hal ini membuat Davian protes dengan berkata, “Kok malah ketawa sih?”

__ADS_1


“Hehehe… sori.. sori.. habisnya mas lucu sih. Masa’ orang seperti mas yang katanya suka kliner ini tidak tahu di mana membeli gado-gado,” ucap Vidia.


“Aku beneran, Vid. Aku tidak tahu. Soalnya aku sendiri belum pernah memakannya,” jelas Davian yang membuat Vidia terkejut.


“Ya sudah kalau begitu. Bagaimana kalau kita makan siang di luar,” ucap Vidia sambil mencoba untuk bangun tapi di saat yang bersamaaan…


“Aw..” pekik Vidia sambil merasakan kesakitan di bagian perut bagian bawahnya.


Davian yang melihat itu pun langsung bertanya, “Kamu tidak apa-apa?”


“Hehehe.. sakit mas,” sahut Vidia yang merasa malu karena mengingat apa yang telah dia lakukan tadi dengan Davian.


Mendengar jawaban dari Vidia, Davian pun langsung tersadar dan tahu tentang apa yang di maksud oleh Vidia.


“Maafin aku, ya. Aku tadi masih belum tahu benar cara melakukannya,” ucap Davian sambil menunduk.


Vidia pun tersenyum melihat sikap dan juga ekspresi yang di tunjukkan dari Davian.


“Tidak apa-apa Mas. Aku maklum kok. Bukannya hal ini adalah hal pertama kali untuk kita berdua?!” ucap Vidia dan Davian pun mengangguk.


“Ya sudah. Aku akan coba pelan-pelan untuk bangun dan jalan ke kamar mandi. Mas tunggulahh aku di luar,” ucap Vidia.


Lagi-lagi Davian pun mengangguk dan kemudian dia pun menuruti ucapan Vidia yang menyuruhnya untuk menunggu di luar.


Sesaat setelah Davian pergi, Vidia pun mencoba berdiri dan berjalan. Di tahannya rasa sakitnya hingga ia masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, dia memandangi seluruh tubuhnya yang kini tidak seperti dulu lagi. Dalam hati dia berpikir betapa gilanya dia dan juga Davian karena telah melakukan hal tu semua tanpa didasari adanya rasa cinta.


Vidia pun langsung mengguyur seluruh tubuhnya dan menyabuninya. Hingga akhirnya dia pun merasa kembali segar dan rasa nyeri yang tadi dia rasakan menjadi sedikit menghilang.


Setelah selesai melakukan ritual mandinya dan memakai pakaian yang telah rapi, Vida keluar menemui Davian yang saat itu sedang duduk memainkan ponselnya.


“Ternyata setelah di lihat-lihat, orang yang sekarang jadi suamiku ini tampan juga,” batin Vidia.


Di saat yang bersamaan, Davian pun tersadar dengan kehadiran Vidia dan akhirnya melihat ke arah Vidia. Di saat itulah dalam hati Davian berkata, “Aku baru sadar kalau kamu ternyata cantik juga.”


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2