
Ransh pergi dari rumah orang tuanya dan ingin kembali ke rumah pribadi miliknya. Tapi ditengah perjalanan ia melihat cctv di kantor melalui ponsel miliknya. Ia melihat Renata yang sedang menangis ketakutan. Ransh pun memutar mobilnya dan melajukannya ke arah kantor.
"Ya tuhan aku sangat takut, aku sama sekali tidak bisa tidur, apa harus seperti ini bertahan untuk tetap bekerja. Aku ini sekretaris atau anggota militer, kenapa sampai seperti ini hiks hiks hiks". Renata menangis di pojok ruangan dekat pintu
Ia sengaja duduk di dekat pintu, karena jika terjadi apa-apa di dalam ia bisa langsung keluar.
"Ayah ibu, anak mu yang sebatang kara ini sangat berat cobaannya, curiga nanti bakal jadi istri orang kaya". Ucap Renata menghilangkan takut.
"Kalau aku sudah jadi orang kaya nanti, akan ku buat CEO sengklek itu berlutut padaku, seenaknya membuat aku ketakutan seperti ini, mentang-mentang aku sangat membutuhkan pekerjaan ini". Ucap Leana.
Brukk..
Suara terdengar dari dalam kantor
"Ahhhh apa itu?". Ucap Renata terkejut.
"Ya tuhan apa itu, semoga bukan pocong".
"Aku harus apa ini?".
Renata menutup wajahnya dengan alas meja yang dia ambil. Ia menutup semua wajahnya, ia sudah berada di depan pintu jika suara itu datang lagi ia akan langsung kabur.
Tapi setelah itu muncul tikus dalam kantor.
"Huh jadi kamu yang ngagetin aku, dasar tikus jelek". Ucap Renata mencaci tikus yang tidak tahu apa-apa.
Renata sedikit tenang ia ingin menelpon Arsen sahabatnya untuk menghilangkan rasa takut.
"Semoga dia belum tidur". Ucap Renata menekan nomor Arsen.
Tidak ada jawaban.
"Pasti dia sudah tidur, dasar kebluk, aku akan terus menelponnya sampai dia bangun". Ucap leana
Sudah sepuluh kali Renata menelpon Ransh dan untuk yang ke sebelas kali baru Arsen mengangkatnya.
"Astaga Leana, kenapa ganggu malem-malem si". Ucap Arsen yang setengah tertidur.
"Sen lihatin kosan aku dong, ada cicak yang nemplok di depan gak, kalau ada suruh mereka pergi". Ucap Renata asal karena tidak tahu harus bicara apa.
"Astaga Leana, yang bener aja si aku di suruh liatin cicak, ini dan jam berapa, ngantuk banget kirain nelpon ada hal yang penting, dah ah matiin ya?". Ucap Arsen dengan nada ngantuk.
"Eh jangan di matiin dulu, sebenarnya aku lagi ketakutan nih, kamu tau gak aku lagi dimana coba tebak!". Ucap Leana
"Di hutan sendirian".
"Bukan". Jawab leana
"Di dalam goa sama gorila". Tanya Arsen
"Bukan".
"Dimana dong, jawab aja si". Ucap Arsen kesal
"Aku di dalam kantor sendirian". Ucap Leana.
"Oh di dalam kantor sendirian, apa di kantor sendirian jam segini". Arsen membulatkan matanya, dia pikir Renata hanya sedang bercanda dan berada di kosanya.
"Aku di suruh tidur di dalam kantor sama CEO sengklek itu, aku takut banget, dia benar-benar kejam lebih kejam dari ibu tiri". Ucap Leana.
__ADS_1
"Kan udah dibilangin, tapi kamu gak ngerti, sekarang kamu di kunci di dalam kantor?
"Iya tapi kuncinya aku yang pegang" . Ucap Leana.
"Hadeuh sejak kapan si Renata jadi bodoh, ya tinggal buka terus pergi aja". Ucap Arsen.
"Enak banget kalau cuma ngomong, masalahnya bos pea itu memperhatikan aku dari cctv yang terhubung ke ponselnya". Ucap Leana.
Bruk..
Tiba-tiba suara terdengar dari luar pintu.
"Ya tuhan suara apalagi itu". Ucap Leana.
"Mungkin tikus, kamu harus tenang". Ucap Arsen.
"Tapi Ars…."
Tittttt telepon terputus karena baterai ponsel Renata lowbet.
"Ahhh ngeselin nih ponsel malah lowbat. Suara apa ya itu". Renata menjauh dari pintu.
"Gak mungkin kan malam-malam gini ada yang bertamu". Renata semakin mundur.
"Tokk,,, tokk,,, tokk".
"Siapa itu yang mengetuk pintu, kalau pocong bisa gak ya mengetuk pintu, tangan dia kan di iket". Ucap Renata ketakutan.
"Tok, tok , tok" .
Suara ketukan pintu semakin keras
Tiba-tiba terdengar suara yang memanggil namanya.
"Renata buka pintunya".
"Kenapa dia tahu namaku".
Ransh yang melihat Renata dari ponselnya tertawa melihat Renata yang sangat ketakutan.
"Tuh kan bener kuntilanak, bukti nya dia tertawa". Renata semakin ketakutan.
"Renata buka pintunya".
"Jangan ganggu aku kuntilanak pria, dagingku tidak enak, dan darahku pahit". Ucap Leana.
"Ini saya". Ucap Ransh.
"Iya aku tahu itu kamu, jangan ganggu aku ya, pergi kamu ke alam kamu, jangan di sini gak enak mikirin cicilan". Ucap Renata .
"Ini saya" . Ucap Ransh sekali lagi.
"Iya aku tahu, pergilah ke alam baka". Ucap Leana.
"Astaga Renata buka pintunya, aku Rudransh".
"Apa, boss sengklek itu".
"Aku mendengar suaramu". Ucap Ransh.
__ADS_1
"Iya boss tunggu". Renata pun membuka pintu kantornya.
"Ayo pergi dari sini". Ucap Ransh
"Tapi boss, bos beneran bos saya kan bukan bos jadi-jadian". Ucap Leana.
"Apa maksud kamu".
"Ahhhh, kenapa kamu cubit saya". Ucap Ransh kesakitan.
"Hmm maaf bos sekarang saya baru percaya kalau bos memang bos saya". Ucap Renata tersenyum.
"Kamu pikir saya apa, hantu?".
"Saya pikir bos kuntilanak pria". Renata menutup mulutnya.
"Kamu ya". Ucap ransh kesal.
"Hehe maaf ya bos, habisnya saya takut ada hantu di sini". Ucap Renata tersenyum dengan polosnya.
"Ya sudah ikut saya sekarang". Ransh menarik tangan Renata dengan kasar.
"Kita mau kemana bos".
"Pergi dari sini, apa kamu tetap ingin tidur disini sampai pagi?". Tanya Ransh.
"Tidak bos".
"Ya sudah ayo, kunci pintunya dan letakan di situ, saya akan menyuruh satpam untuk mengambilnya". Ucap Ransh.
Renata pun mengikuti bosnya dan memasuki mobil, di perjalanan mereka hanya diam tidak ada yang bersuara di tambah suasana malam yang sepi.
Renata yang bingung mau diajak kemana pun langsung bertanya.
"Boss kita mau kemana?".
"Ke rumah saya, karena saya tidak tahu di mana rumah kamu". Ucap Ransh
"Tapi bos, kan bos bisa tanya".
"Siapa suruh diam saja". Ucap Ransh.
Uhh ngapain dia ngajak aku kerumahhya, awas aja dia macem-macem sama aku, aku aku jadiin ayam geprek nanti punya nya. Ucap Renata dalam hati.
"Bos saya mau pulang saja".
"Dimana rumah kamu". Tanya Ransh.
"Jalan melati bos". Ucap Renata singkat
"Itu sudah jauh dari sini dan kita harus putar balik, tidak aku tidak mau mengantarmu pulang, kalau kamu mau pulang, pulanglah sendiri". Ransh memberhentikan mobilnya.
"Tapi bos ini sudah jam 2 pagi, saya harus pulang dengan apa?". Ucap Leana
"Terserah, saya tidak peduli". Ucap Ransh yang sudah menepikan mobilnya.
"Cepat turun, kalau kamu ingin pulang". Lanjut Ranshn
Tega sekali bos satu ini. Ucap Renata dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa masih diam, cepat turun tadi katanya mau pulang". Ucap Ransh membuka pintu mobilnya.