
Arsen kembali ke kamar kos nya dengan hati yang kesal karena melihat Renata di antar pulang oleh pria lain, apa lagi tadi dia melihat pria itu tampan dan sepertinya kaya. Tentu dia tidak akan bisa menjadi saingannya. Itu terlalu berat.
"Aku harus apa, jika Renata di goda pria kaya itu, Renata sekarang sudah berubah sejak dia bekerja di sana, semalam sampai gak pulang yang lebih parah dia menginap di rumah pria kaya itu, keterlaluan". Arsen mengomel di dalam kamarnya, ia sangat menyukai Renata hanya saja belum memiliki keberanian untuk mengatakan pada Renata secara langsung, tapi harusnya Renata menyadari sikap dan perhatian Arsen padanya lebih dari seorang sahabat.
"Kenapa aku mau-maunya mengantar wanita itu pulang, sudah merampok uangku di resporan dengan memesan banyak makanan mahal, dan harus menggendongnya ke jalanan sempit, arghhh kenapa dengan aku ini". Ransh menutup pintu mobil dengan keras, ia merasa seperti bukan dirinya yang dulu, selalu tegas dan acuh pada semua karyawan, tapi kenapa pada Renata ia malah perhatian sampai mau mengantar pulang.
"Aku tidak suka padanya, dia hanya sekretaris kampungan dan selalu bikin malu". Ransh menasehati dirinya sendiri di dalam mobil.
"Huhh oke, sekarang kembali ke setelan pabrik, gak boleh sampai kejadian ini terulang lagi". Ransh membuang nafasnya kasar.
Bertemu dengan Renata membuat hari weekendnya terasa sangat lelah melebihi hari kerja, biasanya saat weekend Ransh memang tidak pergi kemana mana, hanya bersantai di dalam rumah.
\*\*\*
"Kenapa bodoh sekali sampai menghabiskan uang lima juta dalam sekali makan, ahhh coba kalau uang itu aku pakai membayar kuliah pasti tunggakanku akan segera lunas, bodoh Renata dan besok pagi uang lima juta ini akan berubah jadi,, ahhhhh kesal banget". Renata mengusap perutnya yang buncit karena kekeyangan. Ia tidak menyangka jika ia sampai menghabiskan uang Ransh sebanyak itu untuk sekali makan.
"Coba aku minta uangnya saja, aku bisa pakai sebulan makan enak tuh". Renata terus menyesali apa yang sudah ia lakukan.
"Mau gimana lagi, nasi sudah menjadi t\*i". Renata mengomel sendirian di dalam kosan.
"Besok-besok jika di traktir makan lagi, aku minta uangnya saja lah, aku makan saja di warteg sisa uangnya bisa aku pakai yang lain, tapi si bos baik banget hari ini sama aku, semoga saja besok saat mode kerja dia bisa sebaik ini juga padaku".
"Ahhhh hidup sangat kejam, tapi memang harus di jalani, hidup sendirian tidak ada tempat bersamdar memang menyedihkan".
"Tapi aku tidak akan pernah menyerah, aku akan tetap semangat, aku harus lulus kuliah dan menjadi orang sukses". Renata terus menyemangati dirinya sendiri, karena selain dirinya tidak ada lagi yang akan menyemangatinya.
Renata pun tertidur dalam keadaan kenyang. Dan berharap besok ada nasib baik lagi yanh menghampirinya lagi.
\*\*\*
"Kamu dari mana Ransh, ko pakainmu kotor sekali". Rahma ibu Ransh memperhatikan celana putranya yang kotor karena tadi ia berjalan di gang yang sempit.
"Hanya terkena debu sedikit". Jawab Ransh singkat.
__ADS_1
"Tumben banget pakaian mu kena debu, memangnya habis kemana?". Andrey menimpalin ucapan Ransh dan juga istrimya.
"Ke kosan karyawan tadi pah".
"Apa kosan karyawan, apa papah tidak salah dengar, mah pendengaran papah masih bagus kan". Andrey memegang telinganya.
"Iya pah, kayanya kita salah dengar ya. Apa karena kita sudah tua jadi pendengaran kurang berfungsi". Rahma menyambut ucapan suaminya itu.
"Mamah sama papah kenapa si, kaya aneh banget aku bilang kaya gitu aja". Ransh menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa empuk milik orangtuanya.
"Mamah dan papah tahu seperti apa kamu, Kamu adalah pria yang perfeksionis dan berkelas tinggi, masa mau si bertamu ke rumah karyawan biasa. Apalagi bukan rumah tapi kosan, ada apa Ransh?". Andrey merasa ada yang aneh.
"Huhh jangan terlalu mengkhawatirkanku, aku tak apa, hanya kunjungan kecil tak akan merubah diriku".
"Apa karyawan itu adalah wanita?". Tanya Rahma lagi.
"Ya, dia wanita, dia adalah sekretaris baruku". Renata meminum teh yang di sediakan pelayan.
"Apa sih mah, aku tidak suka dengannya".
"Kamu sudah umur berapa?, belum juga memiliki pasangan hidup, semua wanita yang mamah dan papah jodohkan selalu tidak suka, awas sampai suka pada karyawan kamu!". Rahma tidak mau anaknya menyukai wanita yang tidak selevel dengannya.
"Iya". Ransh menjawab dengan cuek.
"Benar yah, kalau sama Jenifer mau yah? Dia kan sudah beberapa kali bertemu denganmu di kantor, sepertinya dia menyukaimu". Rahma mendekati putranya yang sedang duduk.
"Tapi aku tidak menyukainya mah, dia terlalu banyak bicara". Ransh menolak dengan cara halus agar ibunya tidak tersinggung.
"Lalu dengan kimberly bagaimana, atau bianca?". Rahma terus menjodohkan Ransh dengan wanita-wanita karir yang ia ketahui.
"Semuanya aku tidak suka mah. Aku akan mencari wanita pilihanku sendiri". Ransh meninggalkan mamah dan papahnya, ia menuju kamar di rumah orangtuanya yang memang disediakan untuknya walaupun dia sudah pindah dan memiliki rumah baru.
__ADS_1
"Ransh tunggu, awas saja kalau pilihanmu itu salah". Rahma berteriak pada putranya yang berlalu begitu saja.
"Lihat lah putramu, sangat sulit diatur". Rahma mengadu pada suaminya.
"Sama sepertimu mah". Andrey juga berlalu meninggalkan Rahma yang masih ribut dengan wanita-wanita yang akan dijodohkan dengan Ransh.
"Papah, tunggu!!, mamah mencari menantu yang terbaik di sini, jangan sampai dia memilih wanita yang tak selevel dengan kita".
"Jangan seperti itu mah, cari menantu yang sayang pada Rans juga pada kita". Andrey menasehati istrinya.
"Tidak bisa, status sosial itu penting".
Terserah dirimu sajalah". Andrey pergi begitu saja
"Papah". Mereka pun bubar dan tidak membicarakan perjodohan lagi.
\*\*\*
Pagi datang seperti biasa Renata bangun lebih awal agar ia tidak telat mengantri di kamar mandi. Ia akan menjadi yang pertama menggunakan kamar mandi umum yang digunakan semua penghuni kosan.
Tapi kayaknya pagi ini aga berbeda ia melihat pintu kamar mandi terisi.
Siapa yang berani-beraninya mendahuluiku ke kamar mandi, kan selama ini aku jadi juara bertahan pemegang kamar mandi pertama selama bertahun-tahun. Hari ini jadi tergantikan dengan orang lain.
"Siapa di dalam". Renata mengetuk pintu kamar mandi yang terkunci itu.
Tidak.ada jawaban hanya ada terdengar suara guyuran air di dalam.
"Woy jangan lama-lama, aku akan telat jika kamu berlama-lama di kamar mandi, cepat lah". Renata mengetuk pintu kamar mandi lagi dengan keras.
Sama sekali tidak ada jawaban membuat Renata sangat kesal malah hari semakin terang.
__ADS_1
"Seseorang di dalam cepatlah".