Terpaksa Menikahi CEO Psikopat

Terpaksa Menikahi CEO Psikopat
bab 15.


__ADS_3

"Kenapa kamu selalu bikin masalah dan merepotkan saya". Ransh menggerutu di dalam mobil.


"Maaf bos". Renata menundukan kepalanya.


"Ko bisa saya dapet sekretaris kaya kamu gini, udah kampungan kerjanya bikin saya repot mulu, kamu di ajarin gak si sama orangtua kamu". Ransh memarahi Renata


"Orangtua saya lagi cosplay jadi singkong bos".


"Cosplay jadi singkong?". Ransh menoleh pada Renata karena bingung ko cosplay jadi singkong.


"Iya di tanem". Sahut Renata


"Astaga, maksud kamu sudah meninggal gitu, kenapa segala bilang cosplay jadi singkong si". Ransh menggelengkan kepalanya.


"Saya suka sedih kalau langsung bilang meninggal".


"Maaf kalau gitu". Ucap Ransh


"Iya gak apa-apa bos". Renata senyum pada bosnya dan langsung menunduk saat bosnya menoleh dengan tatapan sinis.


"Trus kamu tinggal sama siapa?".


"Sendirian di kost".


"Di kota besar tinggal sendirian di kosan?". Ransh terkejut karena Renata adalah perempuan, jika pria memang sudah biasa tinggal di kost sendirian.


"Mau gimana lagi bos". Renata mengangkat bahunya.


"Bos kasihan ya sama saya?". Tanya Renata melirik Ransh.


"Jangan kepedean kamu, dimana kosannya ko gak sampai-sampai".


"Di ujung jalan sana pak". Renata menunjuk jalan kecil ujung jalan.


"Masuk gang kecil?". Ransh mengerutkan dahi.


"Iya bos".


"Ya sudah turun sana, saya ga bisa anter sampe sana karena gak ada jalanan mobil".


"Tapi bos". Kaki Renata sangat sakit sepertinya tidak bisa jalan, tapi ia juga malu meminta tolong bos nya.


"Tapi apa lagi, jangan bikin saya pusing terus, cepat turun dari mobil saya". Ransh lupa bahwa tadi Renata habis terjatuh.


"Kenapa diam saja, cepat turun!". Ransh meninggikan suaranya


"Iya bos". Renata sekuat tenaga menuruni mobil bosnya itu tapi ia tidak bisa menahan sakit yang amat di kakinya karena terjatuh tadi.


"Ahhh". Suara rintihan Renata saat mencoba menggerakan kakinya.


"Arghh menyebalkan". Ransh lalu turun dari mobil dan menggendong Renata yang ada kesakitan.


"Eee Kenapa tubuhmu yang kecil ini sangat berat".


"Maaf bos". Renata menggigit jarinya merasa malu.


"Kenapa gangnya sangat kecil si". Ransh kesusahan saat menggendong Renata melewati gang kosannya.


"Ahhh". Kepala Renata terbentur tembok saat Ransh memasuki gang.


"Makanya jangan banyak gerak, udah tau sempit". Ransh menatap Renata yang mengusap kepalanya.


Renata pun mendekatkan wajahnya pada wajah Ransh, dan membuat merasa sangat dekat. Sampai hembusan hangat Renata sangat terasa di wajah ransh.


"Jangan menatapku seperti itu". Suara Ransh membangunkan Renata dalam lamunannya. Ia sedikit terpana dengan ketampanan pria yang saat ini wajahnya hanya beberapa inci saja dengannya.


Renata menundukan kepalanya dan tersenyum

__ADS_1


"Pake senyum lagi, seneng ya kamu membuat aku kesusahan seperti ini".


"Enggak kok bos. Saya malah kasihan, saya juga gak enak sama bos". Tubuh Renata sedikit merosot dan Ransh mengangkatnya lagi dengan sekuat tenaga.


"Berat ya bos".


"Pake nanya lagi, masih jauh gak?". Ransh sudah tidak kuat tangannya sudah gemetar menggendong Renata .


"Sedikit lagi bos, di sana". Renata menunjuk bangunan yang sempit dan kumuh dengan pintu-pintu berbaris.


"Kamar saya yang ini bos".


"Ya sudah buka pintunya". Ransh sudah sangat keberatan.


"Tapi kuncinya dimana ya bos". Renata mencari di sakunya tapi tidak ada.


"Cepat Renata .


"Iya bos, tapi sepertinya ketinggalan di mobil". Renata tersenyum menatap bosnya yang wajahnya sudah memerah.


"Lalu?".


"Maaf sekali lagi bos, tolong ambilkan tas saya di mobil bos". Renata menyatukan kedua tangannya seraya memohon


"Arghhh stres saya lama-lama deket kamu". Ransh mengacak rambutnya dengan kasar.


Dengan terpaksa dan amat terpaksa Ransh pun kembali lagi ke depan untuk mengambil tas Renata yang tertinggal di mobilnya


"Aku ini bosnya kenapa aku malah di suruh-suruh seperti ini, jika kerjanya tidak bagus mungkin saat ini juga aku sudah memecatnya". Ransj berjalan sambil menggerutu merasa tidak punya harga diri sebagai CEO.


"Ini dia tasnya". Ransh membuka pintu mobil dan mengambil tas Renata yang tertinggal.


Saat Ransh mengambil tasnya tiba-tiba dompet milik Renata terjatuh, dia ambil dan tak sengaja ia membuka dan melihat tidak ada selembarpun uang di dalam dompet yang usang itu.


"Lalu fungsi dompet ini apa?". Ransh meletakan dompet murah milik Renata ke dalam tas lagi.


Renata membuka pintu dengan kaki yang pincang, ia mempersilahkan bosnya masuk untuk beristirahat sebentar.


"Ini kosan, atau gudang, bahkan gudang di rumah saya 5 kali lipat lebih luas dari tempat yang kamu bilang kosan ini". Ransh melihat ruangan hanya seluas 5x5 meter persegi. Bahkan tidak ada dapur ataupun kamar mandi, saat membuka pintu hanya ada kasur kecil dan satu lemari plastik.


"Hanya tempat ini yang mampu saya bayar setiap bulannya bos, jadi mau bagaimana lagi".


"Lalu dimana dapur dan kamar mandinya?".


"Di sana". Renata menunjuk pojok ruangan yang terdapat 1 kompor dan 1 panci kecil untuk Renata memasak mie instan.


"Kamar mandinya?".


"Di luar bos, gantian". Renata menunjuk keluar.


"Ini bukan tempat tinggal, bahkan gudang lebih nyaman daripada ini, nanti setelah gajian kamu pindah dari ini, kalaj terus tinggal di sini nanti kamu bisa gak bagus kerjanya. Jalanan jauh dan sempit, mandi bergantian kalau telat gimana, mau dipecat?". Ucap Ransh yang sedikit kasihan pada Renata


"Tapi bos, saya tidak bisa untuk membayar lebih mahal lagi, karena saya kan harus membayar uang kuliah, yang sudah menunggak karena sebulan saya tidak bekerja. Saya juga harus mengganti uang teman saya yang saya pinjam selama saya menganggur". Renata menjelaskan jika ia tidak punya pilihan.


'Kasihan juga ini cewek, tinggal sendirian gak punya orang tua lagi' batin Ransh sedikit tersentuh.


"Ya sudah yang penting jangan telat hanya karena alasan mengantri di kamar mandi, atau saya pecat nanti".


"Iya bos". Renata selalu bangun lebih pagi jadi sebelum penghuni kosan yang lain bangun ia sudah berada di kamar mandi.


"Saya bantu ke kasur".


"Ahhhh"..


"Kenapa?".


"Sakit banget bos".

__ADS_1


Ransh pun mengambil kaki Renata dan melihatnya, sedikit bengkak seperti terkilir, dulu saat ia masih kuliah ia sering menolong teman basketnya yang suka terkilir jadi sepertinya ia bisa menolong Renata


"Tahan ya!". Ucap Ransh memegang kaki Renata


"Mau di apain bos?".


"Mau di amputasi, diam!".


"Jangan bos".


"Diam, krek". Suara tulang kaki Renata terdengar


"Ahhhhh". Suara jeritan Renata membuat Arsen kepo dan mengintip di jendela.


"Bagaimana sekarang?". Ransh melepaskan kaki Renata


Renata menggerakan kakinya dan tidak terlalu sakit.


"Bos apain kok kaki saya jadi gak sakit lagi?". Renata tersenyum


"Saya ini banyak bakatnya".


"Oh ada bakat jadi tukang urut juga bos". Renata tersenyum.


"Kamu ya". Ransh melotot pada Renata yang meledeknya


"Maaf bos, saya cuma mau bilang terimakasih karena sejak semalam bos sudah sangat baik sama saya". Ucap Renata


"Siapa pria itu, kaya akrab banget sama Renata Renata sampai senyum-senyum gitu, dan kenapa dia pegang-pegang kaki Renata segala". Ucap Arsen mengintip dari Jendela.


"Bos juga udah ajak saya menginap di rumah bos, saya terimakasih banyak". Lanjut Renata


"Hah menginap, jadi Renata menginap di rumah pria itu semalam pantas saja dia tidak pulang, hah Renata kenapa dia sekarang seperti itu". Arsen meneruskan memperhatikan Renata lagi.


Tak lama Ransh pun bangun dan pamit ia membuka pintu dan ada Arsen yang menguping jadi terjatuh.


"Arghhh". Arsen terjatuh di kaki Ransh.


"Arsen!". Renata terkejut.


"Siapa kamu, kenapa kamu mengintip". Ransh melihat pria itu seperti ketakutan karena ketahuan mengintip.


"Dia teman saya bos, dia memang suka jail". Renata menyaut.


"Dasar aneh, jangan-jangan dia sering mengintipmu saat pakai baju". Ucap Ransh.


"Tidak, baru kali ini ko saya mengintip karena penasaran dengan siapa Renata berbicara". Arsen membela diri.


"Maling mana ada yang ngaku". Ransh meninggalkan Arsen dan Renata


"Bos makasih ya, hati-hati". Renata berteriak pada Ransh yang berjalan keluar.


"Heyy ngapain ngintip-ngintip segala". Renata menunjuk Arsen yang mematung di pintu.


"Heh ketauan kan kamu menginap di rumah pria itu, ngaku". Arsen mendekati Renata


"Dasar tukang nguping". Renata menjewer kuping Arsen


"Auhhh sakit, tapi bener kan kamu nginep di rumah dia, hayo ngapain aja semalem?". Ransh menginterogasi Renata


"Apaan sih, gak jelas banget dan sana aku mau tidur". Renata menutup wajahnya dengan selimut


"Na hidup memang kejam tapi jangan sampai segitunya lah, sampai menginap di rumah pria asing, di anterin lagi". Arsen menyindir Renata


"Kamu tidak tahu apa-apa, sana pergi". Renata tidak ingin menjelaskan apa-apa pada Arsen ia hanya ingin istirahat.


Pikiran Arsen yang kemana-mana di tambah lagi Renata tidak menjelaskan apa-apa, membuat dirinya sangat kecewa, karena dia sudah sangat lama menyukai Renata

__ADS_1


__ADS_2