
"Aku merubah pikiran, aku ikut boss saja hehe". Senyum palsu terlihat di wajah Renata
."benar tidak mau turun saja".
"Tidak boss, tutup saja lagi pintu mobilnya hehe".
Ransh menutup pintu mobil cukup keras, Renata mengusap dadanya perlahan.
"Itu lebih baik daripada aku harus turun di tempat sepi seperti ini". Ucap Renata
"Membuang waktu saja
Rans pun melajukan mobil ke arah rumahnya, karena lebih dekat dari kantor ketimbang mengantar Renata ke kosan yang jalan nya harus memutar.
Setelah sampai Ransh langsung masuk ke dalam tanpa membukakan pintu mobil untuk Renata
"Tunggu bos". Panggil Renata yang berharap dibukakan pintu.
Renata pun berjalan mengikuti bos nya. Mulutnya tak henti nya menyatakan "wahh". Melihat kemewahan rumah Ransh yang seperti istana. Bahkan gudang di rumah ransh pun lebih luas dibandingkan kosannya.
"Tutup mulutmu". Ucap Ransh melihat Renata menganga.
Dengan malu Renata menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Ia benar-benar takjub dengan kemegahan rumah Ransh yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia melihat sekeliling ruang tamu yang seluas lapangan bola.
"Ikut aku". Ucap Ransh dengan nada dingin.
Renata mengikuti Ransh dengan polosnya seperti itik mengikuti kemana pun induknya pergi.
"Kamu tidur di sini". Ransh membuka kamar tamu yang sangat mewah.
Walaupun hanya kamar tamu tapi ini seperti kamar utama. Ya jelas kamar utama jauh lebih mewah.
"Kita akan tidur berdua di sini". Ucap Renata polos.
"Menghayal kamu, ini kamar tamu, saya tidur di kamar saya, jangan berharap lebih ingin tidur denganku". Ucap Ransh cuek.
"Bukan gitu maksud saya bos, saya kira ini kamar bos, soalnya bagus banget".
"Bisa gak kalau lagi di luar kantor jangan panggil bos-bos terus, risih saya dengernya". Ransh memegang telinganya.
"Maaf bos". Ucap Renata
"Panggil saya Ransh".
"Iya bos, maksud saya bos ransh". Ucap Renata
"Huh terserah kamu lah, pusing saya". Ransh meninggalkan Renata dan menuju ke kamarnya untuk istirahat.
Renata memasuki kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang empuk itu.
"Ahhh ini empuk sekali, beda dengan yang di kosan sudah sempit keras pula". Ucap Renata yang membandingkan ranjang di rumah rans dengan ranjang di kosannya yang jauh berbeda.
"Ahh nyamannya, tapi kenapa tidak ada guling, hanya ada bantal, apa orang kaya tidak memakai guling saat tidur".. Renata menutup matanya perlahan.
__ADS_1
"Ternyata bos sengklek itu tidak terlalu kejam, buktinya dia tidak tega menyuruhku tidur di dalam kantor, dan sekarang mengajakku menginap di rumahnya". Ucap Renata membuka matanya kembali.
"Semoga saja deh dia baik terus, jangan berubah jahat lagi, kalau dia baik seperti itu dia jadi terlihat tampan". Ucap Renata tersenyum.
"Tapi kalau dia sedang jahat, wajahnyaberubah jadi jelek hahah". Renata berbicara sendiri
"Aku harus tidur cepat, besok weekend aku ada jam di kampus". Renata segera menutup matanya.
Ia sangat nyaman tidur di ranjang empuk itu, badannya tidak sakit lagi seperti saat tidur di ranjang kosannya.
Karena sangat pulas ia sampai bangun terlalu siang.
"Astaga jam berapa ini, kenapa sinar matahari sudah sangat tinggi". Renata melihat ke luar jendela
Renata melihat jam pada ponsel jadul miliknya. Dan ternyata sudah jam sebelas siang.
"Ya tuhan, bodoh sekali aku baru bangun jam segini, aku ada jam kuliah jam 10". Renata segera membangunkan tubuhnya dari ranjang dan menuju keluarĀ ia melewati Ransh yang sedang duduk bersantai dengan setelan rumahan.
"Mau kemana kamu?". Ransh bertanya tanpa menoleh ia menyeruput kopi di tangannya.
Renata menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Bos kenapa gak bangun saya?". Renata dengan polos.
"Membangunkanmu, sudah merasa jadi nyonya kamu di sini". Ransh meletakan kopinya di meja.
"Bukan begitu bos, tapi saya jadi telat ada jam di kampus". Renata menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jadi kamu masih kuliah?".
"Lalu kamu mau pergi kuliah dengan rambut yang berantakan dan baju kumal seperti itu?". Rans melihat Renata dengan tampilan bagun tidur.
Sangat malu Renata merapikan rambutnya.
"Benar juga hehe". Renata menertawakan dirinya sendiri.
"Wanita aneh". Ransh membuang wajahnya.
"Kenapa bos?". Renata pura-pura tidak mendengar.
"Tidak, ya sudah sana pergi jika mau kuliah dengan tampilan seperti itu paling kamu akan ditertawakan di sana".
"Saya akan mandi dulu bos, terima kasih sudah perhatian dengan saya". Renata tersenyum.
Byur.
Ransh menyemburkan kopi yang sedang ia minum pada Renata karena terkejut dengan ucapan Renata barusan.
Renata mengusap wajahnya yang basah.
"Bos sengklek". Renata membersihkan wajahnya dan mencaci bosnya dengan nada pelan.
Tanpa rasa bersalah Ransh melanjutkan aktivitasnya
Renata berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan wajahnya.
__ADS_1
Saat Renata membuka shower dan mengambil air dengan tangannya tiba-tiba.
"Aaaaaa"... Renata berteriak membuat Ransh berlari menghampiri.
"Ada apa?". Ransh melihat Renata berteriak di dalam kamar mandi.
"Airnya sangat panas, lihat tanganku". Renata menunjukan tangannya yang memerah.
"Ya tuhan Renata kirain ada apa, kan bisa diubah dulu suhu airnya".
"Tapi bos saya gak ngerti, biasa pakai gayung". Renata dengan polos.
"Astaga". Ransh menepuk jidatnya.
Ransh pun membantu Renata merubah suhu air untuk mandi.
Renata pun mandi sambil bernyanyi karena baru kali ini ia mandi dengan shower, biasanya ia harus mengantri di kamar mandi kosan dengan air seadanya.
Suara nyanyian Renata terdengar oleh Ransh yang melanjutkan aktivitasnya bersantai.
"Sekarang dia membuat bising dengan bernyanyi di kamar mandi". Ransh menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya kesalahan besar membawanya ke rumahku".
Renata terus bernyanyi sampai membuat Ransh kehabisan kesabaran.
"Renata berhentilah bernyanyi, suaramu membuat gendang telinga hampir pecah". Ransh berteriak di depan kamar mandi.
Seperti tidak mendengar Renata terus saja bernyanyi dengan lagu terbaiknya.
Karena tidak bisa berbuat apa-apa Ransh pun harus menunggu sampai Renata selesai bernyanyi. Paginya yang cerah dibuat berantakan oleh Renata
Setelah selesai mandi dan konser mininya di kamar mandi ia pun berteriak lagi.
"Boss, boss, boss". Renata terus berteriak memanggil bosnya.
"Astaga ada apa lagi ini?". Ransh mendatangi Renata lagi di kamar mandi.
"Bos saya harus pakai baju apa?, bajuku sudah kotor terkena kopi". Renata masih menggunakan handuk kimono.
"Kenapa kamu jadi membuat aku pusing pagi-pagi seperti ini, pakai saja handuk itu ke kampus". Ransh meninggalkan Renata karena ia sudah sangat pusing karena Renata
"Tunggu bos, saya pakai baju apa bos?". Renata mengejar bosnya dan masih menggunakan handuk.
"Bos tunggu".
Brukk
Renata pun terjatuh karena handuknya tersangkut gagang pintu, dan membuat dirinya hampir telanj*ng di hadapan bosnya.
Ransh menoleh dan melihat Renata terjatuh dan dengan handuk tersangkut di gagang pintu, membuat Renata seperti tergantung.
"Boss tolong saya". Renata tidak bisa menarik handuknya yang tersangkut
"Ya tuhan".
__ADS_1