
Jam istirahat sudah tiba, Seno telah sampai di kantor Ransh. Dia segera menuju ruangan kakaknya dan Renata itu, ia sudah tidak sabar ingin mengajak Renata makan dan jalan-jalan, momen ini sudah ia tunggu sejak kemarin.
"Renata aku datang!". Ucap Ransh berjalan ke ruangan Rans.
"Gue akan mengajak Renata pergi dan gue akan mengembalikan Renata saat sudah sore, biarkan saja mas Ransh mengomel, yang penting gue bisa puas jalan-jalan dengan Renata , kalau ngomel tinggal di dengerin aja". Seno terus berjalan dengan khayalan yang indah bersama Renata .
"Renata cantik". Ucap Ransh saat membuka pintu ruangan yang ternyata kosong.
"Renata ?". Panggil Seno.
"Renata cantik, lo dimana Renata ?". Panggil Seno sekali lagi.
"Kemana Renata dan Mas Rash, kenapa ruangannya kosong ya, apa Renata sudah pergi ke kantin?".
Seno pun keluar ruangan dan mencari tahu kemana Renata dan kakaknya pergi.
"Hey apa lo liat Renata , sekretaris pak Ransh?". Tanya seno ke salah satu karyawan.
"Sepertinya tadi bos pergi bersama Renata , sejam yang lalu". Ucap karyawan tersebut.
"Pergi, sama Ransh? Kemana?". Seno sangat terkejut dengan jawaban karyawan tersebut.
"Iya tadi mereka seperti terburu-buru, tapi saya tidak tahu mereka kemana, permisi pak". Karyawan itu pun berlalu meninggalkan Seno yang masih mematung.
"Kemana mas Ransh bawa Renata pergi". Seketika wajah seno memerah.
"Gak bisa di biarin, gue harus telepon Renata sekarang juga!".
Seno mengambil ponselnya dan menekan nama [Renata cantik] di ponselnya.
Renata yang masih berada di dalam mobil bersama Ransh pun mengambil ponselnya yang berbunyi di dalam tas.
"Siapa yang telepon?". Tanya Ransh.
"Pak Seno bos". Ucap Renata melihat nama Seno di layar ponsel jadul miliknya itu.
"Matiin, jangan diangkat!". Perintah Ransh
"Kenapa bos?". Renata merasa heran
"Pokoknya jangan di angkat, dia hanya akan mengganggu kita, kita kan akan meeting". Ransh mencari alasan.
"Tapi bos meetingnya kan belum mulai, dan kita masih di dalam mobil". Ucap Renata yang memegang ponselnya yang berdering.
"Pokoknya jangan di angkat, kamu mau melawan bos kamu?". Ucap Ransh sekali lagi.
"Baik bos!". Ucap Renata mematikan telepon dari Seno.
'Kenapa ya sama si bos, ko dia kaya kesel aku dapat telepon dari adiknya. Apa adiknya gak boleh berhubungan sama aku, karena aku cuma orang biasa'. Ucap Renata dalam hati yang sama sekali tidak tahu bahwa sebenarnya Ransh cemburu.
Sedangkan seno masih berdiri di tempat yang sama.
"Renata kenapa tidak diangkat si?". Seno mengusap kepalanya dengan kasar.
__ADS_1
"Ini pasti mas Ransh sengaja nih, biar aku sama Renata gak bisa pergi bareng". Seno sudah bisa menebak, sepertinya kakaknya juga menyukai Renata . Hanya pria yang tidak normal yang tidak menyukai Renata .
"Gue harus menelepon mas Ransh nih". Seno kembali mengambil ponselnya yang baru saja ia letakan di saku jasnya.
"Mas Ransh, awas aja lo gak mau angkat juga". Ucap Seno yang sangat kesal.
Di dalam mobil.
"Ayo kita turun!". Ucap Ransh pada Renata yang sudah berada di depan restoran bintang lima.
"Iya bos". Renata membuka pintu mobil.
"Tunggu, ada telepon". Ucap Ransh melihat ponselnya yang berdering.
'Anak nakal ini lagi, dia pasti sangat kesal karena tidak bisa menemui Renata dan mengajaknya jalan'. Ransh hanya tersenyum dan meletakan ponselnya lagi.
"Tidak penting, ayo kita keluar". Ransh membuka pintu dan berjalan di depan Renata memasuki Restoran mewah.
"Tuh kan dimatikan juga, mas Ransh benar-benar ya, aku aduin ke mamah nanti". Seno pun keluar dari kantor mencari kemana kakaknya itu membawa Renata pergi.
**
"Kita meeting di sini bos?". Tanya Renata yang berjalan di belakang Ransh.
"Jangan banyak tanya, ikut saja". Ucap Ransh dingin.
'Uh dari dulu sikapnya gak pernah berubah, dingin dan ketus, pengen tak haahhh'. Ucap Renata mengepalkan tangannya di belakang Ransh, berlaga ingin menonjok
"Ada apa?". Tanya Ransh seakan tahu apa yang Renata lakukan di belakangnya.
"Gak ada apa-apa bos hehe". Senyum palsu Renata terpasang di wajah cantiknya.
"Awas macam-macam". Ucap Ransh menatap Renata yang berlagak aneh.
"Duduk di sana, saya duduk di sini". Ucap Ransh .
"Kenapa jauh sekali bos?". Tanya Renata .
"Yang penting masih satu meja, apa kamu mau berdekatan dengan saya?". Ransh menatap wajah Renata .
"E-e enggak ko bos". Renata menundukkan kepalanya.
"Pelayan". Panggil Ransh.
"Silahkan tuan, menunya". Pelayan memberikan buku menu.
"Ini saja". Ucap Ransh pada pelayan.
"Kamu tidak pesan apa-apa?". Tanya Ransh pada Renata yang hanya berdiam diri.
Renata hanya diam
"Hey saya bicara sama kamu, kenapa kamu malah diam". Ransh mengencangkan suaranya.
__ADS_1
"E-e saya gak pesan apa-apa bos!". Jawab Renata dengan nada yang terkejut.
"Kenapa, kamu mau liatan saya makan?". Tanya Ransh yang heran biasanya Renata selalu memesan banyak makanan.
"Saya tidak mau menghabiskan uang bos seperti kemarin lagi, kemarin saya menghabiskan setengah gaji saya hanya untuk sekali makan, jika di uangkan mungkin bisa untuk sebulan saya makan di kosan". Ucap Renata dengan nada yang memelas.
'Astaga, dia sampai memikirkan semua itu, mungkin karena dia selalu bekerja keras untuk mendapatkan uang, jadi dia merasa sedih jika menghabiskan uang begitu saja, padahal ini bukan uang dia' ucap ransh dalam hati setelah mendengar jawaban Renata
"Tapi ini kan uang saya". Ucap Ransh pada Renata .
"Hak saya berarti mau saya belikan apapun, termasuk makanan untukmu, lihatlah badanmu yang kurus itu, seperti tidak pernah makan makanan bergizi". Ucap Ransh menunjuk tubuh Renata yang memang sedikit kurus.
"Tapi bos, saya tidak biasa makan dengan harga yang sangat mahal itu, saya biasa makan di pinggir jalan". Ucap Renata .
"Jadi kamu tetap tidak mau memesan apapun di sini?". Tanya Ransh memastikan.
"Tidak bos". Ucap Renata .
"Ya sudah, saya pesan minum saja dua". Ucap Ransh pada pelayan.
"Kenapa bos gak jadi pesan makananya?". Tanya Renata .
"Lalu saya harus makan sendirian terus kamu cuma ngeliatin saja gitu, mana selera saya makan". Ucap Ransh.
"Maaf bos". Renata merasa bersalah.
"Susah memang kalau ajak orang kampung makan di restoran jadi mendang mending terus". Ransh hanya ingin Renata makan makanan yang sedikit bergizi jangan selalu makan makanan di pinggir jalan. Karena baginya uang lima juta untuk sekali makan adalah hal biasa.
"Saya memang orang kampung bos, tapi makanan di pinggir jalan gak kalah enak ko sama makanan di sini".
"Mana mungkin, makanan pinggir jalan lebih enak dari makanan restoran bintang lima".
"Kalau bos gak percaya, ayo kita buktiin, bos ikut saya makan di pinggir jalan, jangan di restoran mewah terus, gimana?". Tanya Renata dengan semangat.
"Gak , nanti saya sakit perut lagi". Ransh menolak mentah-mentah ajakan Renata .
"Ya sudah". Renata menundukan kepalanya lagi.
"Tapi saya juga penasaran apa benar rasanya lebih enak dari restoran bintang lima karena saya seumur hidup belum pernah makan di pinggir jalan". Ucap Ransh mengembalikan senyum Renata .
"Saya yakin bos pasti suka".
"Gimana kalau kita taruhan, kalau makanan itu enak saya akan teraktir kamu makan siang selama tiga bulan, tapi kalau ternyata gak enak dan masih enak makanan di sini, kamu harus masakin saya selama 3 bulan juga, gimana?". Tanya Ransh.
"Hmm oke, siapa takut!". Renata menjulurkan tangan tanda kesepakatan.
Ransh menyambut tangan Renata dan tersenyum tipis.
Baru kali ini ia merasa senang saat melihat seseorang tersenyum, rasanya aneh dan membuat irama jantung tidak menentu.
"Tapi kenapa klien bos lama sekali datangnya, katanya meeting jam satu, ini sudah hampir jam dua". Renata menyadari jika mereka pergi untuk Meeting bersama klien.
Ransh bingung harus berkata apa, karena meeting hanyalah sebuah alibi agar Seno tidak bisa bertemu dan mengajak Renata pergi.
__ADS_1