Terpaksa Menikahi CEO Psikopat

Terpaksa Menikahi CEO Psikopat
bab 23.


__ADS_3

Renata sampai di kosannya. Dan membuka kunci kamarnya. Saat ingin masuk tiba-tiba Arsen datang menghampiri Renata .


"Kamu baru pulang? Kemana kamu semalam?". Arsen langsung menanyai Renata dengan beberapa pertanyaan.


"Aku kerja". Jawab Renata cuek.


"Kerja apa sampai tidak pulang, kamu sekretaris atau simpanan om om?". Arsen sangat kesal melihat Renata yang jarang pulang.


"Apa maksud kamu bicara kaya gitu, maksud kamu aku wanita gak bener gitu?". Renata mulai emosi dengan ucapan Arsen.


"Lalu apa ada wanita baik-baik yang bekerja sampai tidak pulang seperti ini, dulu kamu tidak seperti ini Renata , dulu kamu adalah wanita yang sangat baik dan setelah kamu bekerja di perusahaan itu kamu jadi jarang terlihat dan jarang pulang juga. Sebenarnya kamu kerja atau open BO?". Arsen semakin kurang ajar


Plakk satu tamparan mendarat di pipi kanan Arsen.


"Cukup ya, aku tidak ingin mendengar ucapan kotor lagi lagi mulut kamu itu". Renata berusaha masuk dan meninggalkan Arsen.


"Tunggu dulu, jadi sekarang kamu bukan hanya jadi wanita yang tidak baik, kamu juga jadi wanita yang kasar". Arsen mengusap pipi nya yang merah.


"Aku akan menjaga sikap jika kamu tidak terus berbicara yang tidak benar". Renata mendorong arsen dan ingin masuk ke dalam kamarnya


"Apa yang tidak benar, apa aku mengatakan sesuatu yang salah? Sebutkan mana dari perkataan ku yang salah". Arsen menutup pintu Renata .


"Semua yang kamu katakan adalah salah, aku tidak menyangka kamu bisa mengatakan hal itu padaku, aku kira kita adalah sahabat sejati". Renata menunjuk wajah Arsen saat ia berbicara.


"Sebelumnya kita memang sahabat sebelum kamu berubah dan menjadi simpanan om om yang dulu pernah masuk ke dalam kamar kamu ini". Arsen menatap Renata .


"Dia bos aku, dia cuma nganterin aku karena aku sakit! Kenapa kamu jadi berpikiran jelek terus sama aku sen?". Ucap Renata dengan sedikit berteriak.


"Ya mana ada sekretaris kerja yang menginap terus di rumah bosnya. Kecuali".


"Kecuali apa?, aku memang orang miskin dan yatim piatu, aku memang orang yang membutuhkan uang, tapi aku tidak serendah itu melakukan segala hal untuk uang. Aku masih punya harga diri, aku pikir kita sudah saling mengenal". Renata menyingkirkan Arsen dan memasuki kamarnya.


"Tunggu Renata ". Arsen mengetuk pintu yang sudah di kunci dari dalam oleh Renata .


"Renata buka pintunya aku belum selesai bicara". Arsen berteriak dan mengetuk pintu.


"Renata buka, Renata ?". Arsen terus mengetuk pintu kamar Renata tapi tidak ada jawaban.


"Arghhhh". Arsen mengusap kepalanya dengan kasar lalu pergi begitu saja.

__ADS_1


Sedangkan Renata di dalam kamar langsung menangis mendengar ucapan Sahabatnya yang baru saja ia dengar itu.


"Arsen, dia tega sekali bicara seperti itu padaku, padahal kita sudah sangat lama mengenal kenapa dia menganggapku sangat rendah hiks hiks hiks". Renata mengusap air matanya yang tidak ingin ia keluarkan.


"Harusnya dia bertanya padaku, bukan langsung menuduhku seperti itu, dia tidak tahu aku sangat lelah bekerja di sana. Dia dengan mudah bicara kalau aku menjual diri, aku juga punya harga diri aku tidak ingin membuat orangtuaku kecewa di atas sana". Renata terus berbicara sendiri sambil menangis. Padahal ia sangat lelah dan ingin istirahat tapi kata-kata yang arsen ucapkan membuatnya tidak mengantuk.


"Aku pikir kita sudah saling mengenal, hanya dia yang menemaniku selama ini, tapi dia malah berkata seolah baru mengenalku, dasar cowok prik". Renata merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah karena harus lembur semalam.


"Ibu ayah, kenapa dunia sangat kejam padaku, kalian pasti sangat senang berada di surga, aku tidak boleh menyerah kan bu?". Renata menatap langit-langit kamarnya.


Tiba-tiba suara ponsel membangunkannya dari lamunan.


"Siapa ya. Ko nomornya tidak dikenal, angkat aja deh siapa tau penting".


[Hallo]. Ucap Renata saat mengangkat telepon.


[Hallo cantik, lagi apa?]. Suara di ujung telepon.


[Siapa ya?]. Tanya Renata seperti tidak asing dengan suaranya.


[Ini gue pria tampan yang akan merebut hatimu!]. Sambung pri tersebut.


[Hah?, siapa ya lagi males main tebak-tebakan, kalau gak penting aku matiin aja ya teleponnya?]. Ucap Renata dengan nada kesal.


[Udah ya gak penting, bye]. Renata ingin mematikan telepon


[Tunggu dulu, gue Seno]. Ucap seno dengan cepat.


[Pak seno, ada apa pak?]. Tanya Renata .


[Jangan panggil bapak. Tua banget gue, panggil seno atau sayang he he he]. Ucap Seno bersemangat.


[Pak seno dapet nomor saya dari mana, ko bisa tahu si?]. Renata merasa tidak pernah memberikan nomornya pada Seno.


[Kamu lupa ya. Kakak gue kan bos lo].


[Ko bos Ransh kasih-kasih no aku sembarangan si?]


[Sebenarnya dia gak ngasih, tapi gue yang ambil dari ponselnya he he he]. Seno seperti sangat senang bisa menelpon Renata sejak tadi ia terus saja tertawa.

__ADS_1


[Hmp gitu ya, ada apa pak Seno nelpon saya?]. Tanya Renata .


[Kan gue tadi udah bilang jangan panggil pak, tapi Seno aja].


[Iya seno, ada apa nelpon apa ada hal penting?]. Renata merasa malas di telpon oleh Seno.


[Gak ada hal penting ko, gue cuma kangen aja sama lo, tadi gue ke kantor kata mas Ransh lo libur ya?].


[Iya, soalnya kemarin lembur sampai malam, jadi bos suruh hari ini libur aja]. Jawab Renata .


[Mumpung libur, jalan-jalan yuk. Jangan di tolak ya ajakan gue kali ini!]. Seno sangat rindu Renata . Padahal ia baru sekali bertemu ,sepertinya pertemuan pertamanya dengan Renata sangat berkesan.


[Tapi saya].


[Gak ada tapi, gue jemput lo sekarang, cepet share lokasi lo dimana langsung gue jemput]. Ucap seno seolah sudah tahu jika Renata akan menolak ajakannya.


[Aku baru sampai di kosan, mau istirahat lelah banget kemarin lembur sampai malam]. Renata ingin menolak dengan cara halus.


[Sampai malam, jadi semalam lo sama kakak gue?].


[Iya, banyak sekali pekerjaan yang harus dikerjakan sampai lembur, jadi sekarang aku tidak ingin kemana-mana aku hanya ingin beristirahat]. Ucap Renata .


[Wahh itu si cuma alesan kakak gue aja biar bisa sama lo semalem. Kakak gue mulai modus nih]. Ucap Seno


'Pengen benget di modusin bos, tapi gak mungkin semalam memang banyak banget pekerjaan'. Ucap Renata dalam hati.


[Gak ko, memang kerjaan lagi banyak banget]. Jawab Renata .


[Jadi lo beneran gak bisa jalan-jalan sama gue nih, gue di tolak lagi ni?]. Hanya Renata gadis yang berani menolak ajakan Seno sampai dua kali.


[Maaf ya, mungkin lain waktu]. Jika Ransh yang mengajaknya jalan-jalan Renata pasti tidak akan menolaknya.walaupun tubuhnya sangat lelah sekali pun


[Aku anggap ini sebuah janji ya, dan janji harus ditepati]. Ucap Seno.


[Hmm iya].


'Iya saja lah agar telepon ini cepat berakhir'. Ucap Renata dalam hati.


[Oke, aku akan menagih janjimu, besok kita bertemu di kantor kakakku ya, aku mau ajak kamu sarapan lagi, kali ini tidak ada penolakan]. Seno memutuskan teleponnya.

__ADS_1


[Tapi. Nit]. Telepon terputus.


"Aahhh ngeselin banget". Renata meletakan ponselnya dan merebahkan tubuhnya kembali di ranjang kecil dan menutup matanya perlahan.


__ADS_2