
"Ini neng". Mamang tukang pecel ayam memberikan pesanan Renata .
"Ini kenapa banyak daun mentah, memangnya aku kambing?". Tanya Ransh yang melihat lalapan mentah di meja.
"Ini tuh lalapan bos, di cocol pake sambel, beh enak banget!". Ucap Renata
"Apa, jadi ini untuk dimakan?". Ransh mengangkat dedaunan yang ada di meja.
"Iya bos, ayo kita makan!".
"Sendok dan garpunya mana?". Tanya ransh
"Pakai ini?". Renata mengangkat tangannya dan mencuci di mangkok untuk mencuci tangan.
"Tangan?".
"Iya bos, coba deh makan pakai tangan itu lebih nikmat tau!". Renata segera menyantap makanan yang sudah tersaji di meja.
Ransh melihat Renata menyantap makanan dengan lahap. Ia menyomot nasi dengan ayam lalu mencocol sambal dengan lalapan dan memasukkannya ke mulutnya yang mungil itu.
"Enak banget bos, cobain deh!". Renata bicara dengan mulut terisi
Dengan ragu ransh mencuci tangannya di mangkok yang sudah tersedia, ia mengambil ayam dan nasi lalu menyuapnya dengan tangan yang bersih. Perlahan ia mengunyah dan merasakan makanan yang asing dengan lidahnya.
"Enak kan bos?". Renata menatap ransh yang belum mengatakan apapun.
'Lumayan juga. Tapi kalau aku bilang enak nanti Renata tidak jadi memasak untukku selama sebulan, aku ingin melihat Renata setiap hari di rumahku'. Batin Ransh bicara sambil terus mengunyah makanan yang masih ada di mulutnya.
"Bos gimana? Enak kan?". Tanya Renata sekali lagi memastikan.
"Hah pedes banget, makanan apa ini?". Ransh langsung mengambil minum di hadapannya.
"Pedes bos?". Tanya Renata melihat ransh kepedasan.
"Mau ngeracunin saya kamu ya huh hah". Ransh berpura-pura kepedasan.
"Aduh maaf bos, tapi menurut saya ini enak ko!". Renata merasa bersalah melihat bosnya kepedesan
"Pesankan saya minum lagi". Ucap Ransh dengan lidah menjulur
"I-iya bos". Renata segera berdiri dan memesan minum.
'Dia percaya'. Ucap Ransh dalam hati.
"Maaf ya bos".
"Huh hah kamu sengaja ya?". Ransh semakin membuat Renata tidak enak hati.
"Tidak bos, saya tidak sengaja ko, maafin saya bos".
__ADS_1
"Ahhh pedes banget!". Ransh pun meletakkan uangnya lalu pergi.
"Bos tunggu, mang makasih ya!". Renata berjalan mengejar Ransh sambil berteriak.
Sampai di depan mobil, ransh masih pura-pura kepedesan dan menunggu Renata datang.
"Bos!". Ucap Renata dengan nada memelas.
"Apa?"? Tanya Ransh
"Maaf ya!". Renata mendekati Ransh
"Ya sudah, sesuai perjanjian kamu harus memasakan saya selama satu bulan". Ucap Ransh.
"Iya bos". Ucap Renata .
"Kamu harus tinggal di rumah saya selama sebulan dan masak makanan untuk saya dari pagi sampai malam!". Ucap Ransh.
"Apa?, tinggal di rumah bos selama sebulan?". Tanya Renata terkejut.
"Iyalah, kamu harus masak di rumah saja dan memasak makanan yang enak selama sebulan pagi siang sampai malam". Ucap Ransh.
"Tapi bos saya pikir saya masak di kosan saya, lalu membawanya ke kantor!".
"Kamu pikir saya anak tk di bekelin makanan dari rumah, pokoknya mulai sekarang kamu harus masak di rumah saya, sekarang kamu harus masak untuk makan malam saya". Ransh memasuki mobil meninggalkan Renata yang masih mematung di depan mobil.
"Tiinn". Ransh membunyikan klakson dan membuat Renata terkejut.
"Cepat masuk!". Teriak Ransh sambil terus membunyikan klakson.
"Apa aku kabur saja ya, mana mungkin aku tinggal di rumahnya selama sebulan. Ah tapi jika aku kabur aku bisa dipecat!". Ucap Renata yang masih berdiri di depan mobil.
"Renata cepatlah". Teriak ransh sekali lagi.
"I-iya bos, arghhh". Renata pun berjalan perlahan dengan ragu ke dalam mobil Ransh yang sudah menunggu di dalam mobil.
"Kenapa lama sekali". Ucap ransh.
"Bos, masa saya harus tinggal di rumah bos sampai sebulan si". Ucap Renata .
"Bukannya enak, kamu jadi tidak perlu bayar kosan".
"Tapi bagaimana jika orang lain tahu". Ucap Renata
"Memangnya tidak boleh punya pembantu wanita?". Ucap Ransh
"Pembantu?". Renata menunduk.
***
__ADS_1
Sudah malam tapi Arsen belum pulang, ia masih di tempat pekerjaannya menjadi cleaning service di sebuah perusahaan kecil.
"Renata sudah pulang belum ya?". Ucap Arsen
"Aku mau membelikannya martabak coklat kesukaannya ah, untuk ucapan maaf atas kesalahanku kemarin". Arsen membuka dompetnya yang tersisa uang recehan.
"Tinggal ini saja uangku, tapi gak apa-apa deh yang penting Renata senang dan mau memaafkanku". Arsen mengambil uang recehnya.
Ia berjalan menghampiri tukang martabak yang tidak jauh mangkal di depan tempat kerja Arsen.
"Satu mang yang spesial!". Ucap Arsen pada tukang martabak.
Arsen menunggu pesanan martabaknya dan duduk di bangku plastik yang sudah disediakan. Ia menatap mobil dan motor yang lalu lalang di hadapannya. Ia berkhayal seandainya ia bisa memiliki mobil dan pergi bersama dengan Renata . Angan-angan yang selalu Arsen hayalkan adalah bisa membuat Renata bahagia. Tapi khayalan hanyalah khayalan entah kapan semua hayalan Arsen itu akan terwujud.
Setelah pesanannya selesai seperti biasa Arsen akan pulang dengan bus malam. Ia tidak punya kendaraan apapun, uang gajinya selalu habis untuk keperluannya juga keluarganya. Apa lagi adiknya yang masih bersekolah menjadi tanggung jawabnya juga karena ia adalah anak sulung yang menjadi tulang punggung.
"Renata ". Arsen melihat sosok seperti Renata berada di dalam mobil mewah yang baru saja lewat di depannya saat ia hendak naik ke dalam bus.
"Apa mungkin tadi itu Renata , atau aku salah lihat ya?". Arsen memandang mobil yang berlalu begitu saja.
"Tapi mana mungkin Renata naik mobil mewah seperti itu, mungkin aku salah lihat". Arsen melajukan langkahnya menaiki bus untuk segera pulang. Ia sudah tidak sabar ingin memberikan martabak spesial ini pada Renata .
Setengah jam akhirnya Arsen sampai juga di kosan Renata , ia mengetuk pintu kamar dengan semangat.
"Renata , bukalah lihat apa yang aku bawa!". Teriak Arsen sambil mengetuk pintu.
"Renata , tok tok tok". Arsen terus mengetuk pintu dan berharap Renata segera membuka pintu untuknya.
"Apa dia sudah tidur, tapi tidak biasanya".
"Renata buka pintunya!!!". Teriak Arsen sekali lagi.
"Dia belum pulang sejak tadi!". Ucap seseorang yang tinggal di sebelah kamar Renata .
"Belum pulang?". Ucap ulang Arsen.
"Iya aku belum melihatnya pulang!". Sekali lagi dia memastikan.
"Kemana ya Renata , kenapa belum pulang". Ucap Arsen.
"Aku tidak tahu". Ucap tetangga kamar Renata lagi.
"Aku tidak bicara padamu, aku bicara sendiri!". Ucap Arsen.
"Yee dah di kasih tahu bukannya terimakasih".
"Bodo amat!!". Arsen pun berjalan pulang ke kamar kosannya.
"Kemana ya Renata ?". Ucap Arsen sambil terus berjalan.
__ADS_1
Arsen mencoba mengambil ponsel jadul miliknya dan berusaha menelepon Renata . Ia sedikit khawatir juga ada perasaan kesal, ia takut Renata menginap lagi di rumah bosnya itu. Padahal mereka baru saja baikan karena hal itu