
"Eh mau kemana, aku masih ingin bersama Renata . Seno menarik tangan Renata dan kemudian berlalu begitu saja bersama Ranch.
Karena ransh takut semakin lama ia di kantor semakin banyak kekacauan yang akan terjadi
"Kita akan bertemu lagi, aku berjanji". Ucap Seno yang menghilang di tarik oleh Ransb ke luar ruangan, entah akan kemana adik dan kakak itu.
Renata melepas nafas lega karena dia tidak jadi dipecat,
"Ahh untungnya, pak Seno segera datang dan menjelaskan semuanya". Renata mengusap dadanya yang hampir copot.
"Tapi dua manusia itu sangat beda, seperti bukan adik dan kakak, sifatnya sangat bertolak belakang". Ia menoleh ke belakang dan duduk di bangkunya, sudah banyak pekerjaan yang menunggu Renata semoga saat bos datang dia sudah selesai.
"Jika Seno telat tadi, mungkin hidupku akan hancur, tidak bisa dibayangkan jika aku sampai di pecat, aku sudah janji dengan ibu kos dan juga bendahara kampus untuk membayar tunggakan di awal bulan karena menunggu gajian". Renata masih tidak percaya bahwa ia hampir saja dipecat.
"Jika aku mengikuti keinginanku tadi untuk menerima ajakan pak seno ke Mall, sudah pasti bos makin murka. Untung saja aku mendengarkan kata hatiku". Sambung Renata dan membuka laptop kerja miliknya.
"Benar saja, sudah banyak email masuk, ahhh lebih nikmat bekerja walaupun lelah, dari pada jalan-jalan ke Mall tapi di pecat". Renata berkali-kali mengucapkan syukur karena tidak mau diajak jalan-jalan setelah sarapan di restoran tadi.
Renata kembali fokus bekerja dan mencoba melupakan apa yang sudah terjadi padanya barusan. Ini menjadi pelajaran untukku agar tidak mudah percaya dengan orang lain.
***
"Ngapian si segala ngajak sekretaris baru makan di luar, pulang dari luar negeri bukannya ke rumah malah bikin masalah di kantor". Ransh mulai menceramahi Seno
"Yaelah gue bakal pulang ko, cuma bosen aja pengen main-main dulu, sekretaris lo sumpah cantik banget, dan gede anjir". Rasanya ingin sekali Ransh membungkus adiknya yang terus berkata Renata cantik.
"Kamu kucing di pakein lipstik juga cantik, buaya ko gak tobat-tobat". Ransh menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ini tuh beda, dia cantiknya gak bosenin dan bikin orang nyaman dekat dia, masa lo gak bisa ngerasain si?". Seno merasa heran dengan abangnya yang kaku banget apalagi soal wanita. Kehidupan percintaannya berbalik terbalik dengan dirinya yang sering gonta ganti pasangan. Sedangkan dia satu aja susah banget buat dapet pasangan.
Bukan karena tidak ada yang mau dengannya, tapi karena dia yang terlalu pemilih dan menutup hati untuk orang yang berusaha mendekat. Contohnya Jennifer berapa kali ia menolak Jenifer dengan sikapnya yang kaku dan dingin.
"Jangan cari alasan, kamu memang salah, segala bilang nyaman baru aja ketemu, pokoknya pulang sekarang jangan mampir kemana-mana lagi, tapi langsung pulang mamah sama papah pasti seneng banget liat kamu pulang, sudah lama tinggal di luar negeri gak jamin bisa rubah sikap kamu ya, malah makin parah kayanya". Ucap Ransh yang geregetan dengan Seno yang tidak pernah berubah karena memang karakter dia hangat dan mudah membaur dengan siapapun.
Bahkan ia sempat dimarahi karena berteman dengan seorang supir. Menurut mamah dan papahnya tidak pantas seorang anak konglomerat berteman dengan rakyat bawahan seperti supir.
Tapi sikap seno yang biasa, dan memandang semua manusia sama tidak pernah mendengarkan ucapan mamah dan papahnya. Ia tetap ingin tetap berteman dengan siapapun.
"Iya gue pulang nih, cerewet banget punya abang satu, tapi inget ya gue bakal sering ke kantor lo buat nemuin gadis tadi, gue bakal dapetin hatinya". Seno bicara dengan kakaknya yang sepertinya juga suka dengan Renata hanya saja ia memilih untuk memendam perasaannya.
"Jangan banyak bicara, sana pulang". Ransh terus menyuruh adiknya itu pulang dengan semua kekacauan yang sudah ia lakukan di kantor Ransh pagi ini.
Seno pun pulang ke rumah menemui mamah dan papah yang sebenarnya sangat malas ia temui, karena pasti saja mamanya akan langsung membicarakan perjodohan. Walaupun ia sangat welcome dengan banyak wanita tapi perjodohan bukan jalan untuknya mendapatkan seorang wanita apa lagi yang dijodohkan oleh mamanya itu. Biasanya gadis manja kaya raya.
Rudransh juga kembali ke ruangannya, ia membuka pintu dan melihat Renata sedang fokus bekerja. Renata memang sekretaris yang rajin dan pintar itu salah satu alasan Renata masih bekerja bersamanya. Pemecah rekor untuk semua sekretaris yang pernah bekerja dengan Ransh, Renata lah yang paling lama.
"Saya tidak mau kejadian tadi terulang lagi. Kamu itu sekretaris saya bukan sekretaris siapapun jadi kalau ada yang mengajak kamu pergi keluar di jam kerja selain saya, jangan mau walaupun itu adik saya sendiri, paham?". Ransh duduk di kursinya sambil terus berbicara pada Renata
"Paham bos, saya minta maaf". Renata berdiri dan membungkukan badannya tanda minta maaf dan kembali duduk untuk melanjutkan pekerjaan yang hampir selesai.
Tidak banyak ucapan yang keluar dari mulut Renata maupun Ransh mereka hanya diam mengerjakan pekerjaan masing-masing sambil menunggu jam istirahat. Renata sedikit lapar karena belum sempat sarapan tadi, tadi di restoran ia hanya minum air putih.
Waktu berjalan sangat cepat di antara mereka yang terus bekerja tanpa bicara.
"Bos saya izin makan siang!". Renata berdiri menatap bosnya.
__ADS_1
"Bukannya baru makan tadi sama adik saya". Ransh membalikan lembar demi lembar berkas yang ada di depannya.
"Tapi saya tidak makan bos tadi cuma minum aja". Renata menjelaskan sedikit tentang sarapannya bersama Seno.
"Tunggu saya sedikit lagi, kita akan makan siang bersama". Ransh menjawab dengan wajah datar.
"Makan siang bersama?". Renata sedikit terkejut, apa dia akan dibawa ke restoran mahal lagi..
"Iya, tunggu sampai saya selesai".
"Tapi saya sudah lapar bos". Renata memegangi perutnya yang berbunyi.
"Saya tidak suka mengulang kata yang sudah saya ucapkan, jadi diam dan tunggu lah di sana". Ransh menyuruh Renata untuk tetap menunggunya.
"Baik bos". Renata menunggu bosnya dengan keadaan lapar yang luar biasa. Tidak bisakah dia membiarkan Renata untuk makan duluan di kantin.
"Bos apa masih lama?". Tanya Renata memberanikan diri karena dia benar-benar sudah lapar sekali.
"Sebentar lagi".
"Apa kita akan makan di restoran kemarin lagi?". Tanya Renata
"Dan kamu akan menghabiskan uangku dengan memesan banyak menu mewah?". Ransh mengingat kejadian kemarin dan melirik ke arah Renata
"Hehe tidak bos, saya cuma nanya aja"
Renata merasa sudah tidak tahan karena sangat lapar.
__ADS_1