
"Dia sangat menyenangkan". Seno tersenyum dan meletakan ponselnya kembali. Ia mengambil foto profil Renata dan menjadikannya sebagai wallpaper ponselnya.
"Cantik sekali". Seno melihat layar ponselnya yang menyala di meja.
"Mas ransh kemana ya. Ko mandi gak selesai-selesai". Seno melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamar kakaknya itu.
"Mas..". Panggil Seno membuka pintu kamar.
"Yahh malah tidur". Seno melihat Ransh yang sangat lelap di atas ranjang.
"Huh bete banget, pergi aja lah cuci mata". Seno pergi meninggalkan rumah Ransh nya.
Seperti kebiasaan Seno dia memang senang suasana yang ramai dan banyak orang. Seno menaiki mobil dan melajukan mobil mewahnya pergi dari kediaman Ranhs.
"Aku sudah tidak sabar untuk besok. Tapi untuk sekarang Sorry aku akan mencari kesenangan dulu".
Seno sangat berbeda dengan kakaknya Ransh. Jika bosan Seno akan pergi ke club malam dan pulang besok pagi dengan keadaan keloyongan karena minuman keras yang dijual bebas di sana.
Sedangkan orang tua dan kakak nya yang sudah tahu hanya bisa mengelus dada. Mereka tidak bisa menghentikan kebiasaan buruk Seni tersebut.
***
"Apa aku sudah keterlaluan pada Renata , tapi dia benar-benar berubah sejak bekerja di sana, aku hanya merindukan sosoknya yang dulu, aku malu untuk bilang kalau aku menyukainya". Arsen mengusap kepalanya dengan kasar. Ia menyesal sudah membuat Renata menangis..
"Aku takut, jika aku mengatakan perasaanku yang sejujurnya dia malah akan membenciku, dan sekarang dia benar-benar sudah membenciku karena ucapanku, harusnya aku bisa menahan diri untuk tidak mengatakan apapun pada Renata ".
"Tapi melihatnya tidak pulang, aku takut dia akan dimanfaatkan oleh bosnya". Arsen bingung dengan apa yang harus ia lakukan sekarang, mungkin meminta maaf adalah jalan satu-satunya agar ia bisa merasa tenang.
"Aku harus meminta maaf pada Renata , ucapanku pasti sangat menyakiti perasaannya, aku harap dia masih mau bersahabat denganku lagi".
"Aku juga tidak bisa egois, karena aku pun tidak bisa membantunya mendapatkan uang, jika aku melarangnya bekerja di sana, aku juga tidak bisa memberinya uang".
"Aku bodoh, maafkan aku Renata !!!".
__ADS_1
***
Renata masih tertidur ia bermimpi sedang bermesraan bersama bosnya, ia terlihat tersenyum dalam mimpinya itu. Entah apa yang sedang terjadi pada mimpinya. Tapi ia terlihat sangat bahagia.
"Boss, berhenti itu sangat geli". Ucap Renata dalam keadaan mata tertutup, entah apa yang sedang ia rasakan dalam mimpi di siang bolong tersebut.
Renata tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya kemarin, saat ia tertidur di kamar kantor. Jika ia tahu kebenaran yang sudah terjadi mungkin ia akan membenci bos kesayangannya itu.
Sejak ia masuk di kantor Ransh, ia sudah menaruh hati pada Ransh. Dan sekarang ia semakin tergila-gila. Apa lagi waktu ia di antar pulang dan di gendong oleh Ransh. Itu adalah momen yang akan selalu diingat.
Renata pun terbangun saat ia berbalik dan merasakan ada yang sakit di dadanya saat terkena guling. Ia bangun dan membuka sedikit kencing bajunya yang sesak karena ukuran dadanya yang besar.
"Auhh kenapa ya?". Renata memeriksa sedang perlahan
"Tadi pagi memang sudah merah, aku pikir alergi pakaian dalam, tapi ko sekarang aga sakit dah bengkak gini ya, kenapa ya?". Renata membuka bajunya dan melihat dadanya yang semakin memerah dan bengkak.
Ransh sudah menghisapnya dengan sangat kuat mungkin itu yang menyebabkan dadanya menjadi merah, jika sakit dan bengkak mungkin saja Ransh tak sengaja menggigitnya. Renata terlalu pulas sampai tidak bisa merasakan apa yang semalam yang sudah terjadi pada dirinya yang polos itu.
"Kayaknya harus di kompres deh biar gak bengkak". Renata mengambil air dingin dan mulai mengompres dadanya agar tidak bengkak lagi.
***
Rudransh juga bangun dari tidurnya ia tidak menyangka ia bisa selelap ini tidur, selama ini ia tidak pernah tidur siang, karena sibuk dengan pekerjaan ia tidak membiarkan waktu terbuang hanya untuk tidur siang, tapi kali ini ia merasa sangat lelah karena terus memikirkan Renata . Ia berusaha untuk tidur agar ia tidak memikirkan Renata terus menerus, tapi bukannya lupa ia malah memimpikan Renata dalam tidurnya.
"Dia tidak bisa hilang dari pikiranku, padahal sebelumnya sedetikpun aku tidak pernah memikirkannya". Ransh bangun dan mengusap wajahnya yang sepertinya masih mengantuk.
"Dimana ponselku". Ransh meraba saku celana dan bajunya yang tidak terisi oleh ponsel miliknya.
"Dimana ya?". Ia mencari keluar kamar ternyata ada di sofa. Ia mengambil dan membuka ponselnya, ia terkejut saat ia membuka ponsel langsung terlihat kontak nomor Renata .
"Siapa yang membuka ponselku, dan membuka kontak Renata ?". Ransh memperhatikan wajah Renata yang cantik di samping no telponnya.
"Sudah pasti Seno yang melakukannya, kemana dia sekarang?". Ransh mencari seno dan ke lantai bawah untuk memastikan kebenarannya.
__ADS_1
"Apa dia berhasil menelpon Renata dan mengajaknya bertemu?". Ransh menduga-duga.
"Jika benar ia sedang bersama Renata , aku tidak bisa tinggal diam, dia tidak bisa datang-datang langsung mendekati Renata begitu saja". Ransh mulai memiliki perasaan lebih pada Renata .
"Aku harus menelponnya". Ransh membuka ponselnya dan mencari nomor Seno lalu menekannya.
"Sial tidak di angkat, apa yang sedang ia lakukan bersama Renata , ini tidak bisa di biarkan, hanya aku yang boleh menyentuh Renata ". Ransh pun menelpon Renata untuk memastikan apakah Seno sedang bersama dengan Renata .
Ia menekan nomor Renata dan meletakan ponselnya di telinga. Dengan harap-harap cemas ia berharap Renata mengangkat teleponnya.
[Hallo]. Ucap Renata di ujung telepon dengan suara lembutnya.
[Hallo Renata , kamu sedang dimana]. Ransh langsung memastikan apakah Seno bersamanya.
[Saya sedang di kamar kosan pak, ada apa ya?]. Tanya Renata .
[Di kamar, sama siapa?]. Ucap Ransh dengan nafas dan memburu.
[Maksudnya sama siapa, gimana ya pak]. Renata merasa aneh dengan pertanyaan bosnya itu.
[Jawab aja, kamu di kamar sama siapa?]. Tanya Ransh sekali lagi.
[Hm saya sendiri pak, saya baru bangun tidur siang, ada apa ya pak?]. Renata bingung.
[Oh, syukurlah]. Ransh tersenyum.
[Maksudnya pak?].
[Gak ko, ya sudah saya sibuk]. Ransh langsung mematikan teleponnya.
[Hallo bos]. Tit telepon terputus.
"Ihh aneh banget si bos, telepon cuma nanya hal yang gak penting". Renata melihat ponselnya yang sudah tidak terhubung lagi.
__ADS_1
"Tapi gak apa-apa, aku senang dia sudah menelpon walaupun cuma sekedar menanyakan hal itu". Renata tersenyum baru saja ia memimpikan bosnya, setelah bangun tidur ia langsung mendapat telepon dari bosnya itu.
"Ah tidak sabar untuk besok, bekerja bertemu dengan bos lagi". Ucap Renata meletakan kain kompres dia meja.