Terpaksa Menikahi CEO Psikopat

Terpaksa Menikahi CEO Psikopat
bab 25.


__ADS_3

Pagi datang Arsen sudah berada di depan kamar Renata , rencana ia akan meminta maaf pada Renata atas ucapannya kemarin yang sudah keterlaluan. Ia menyesalinya semalaman semoga saja Renata mau memaafkannya.


Saat Renata membuka pintu untuk bekerja ia sudah menemukan sosok tak asing di depan kamarnya. Ia menatap Arsen lama tanpa bicara. Ia hanya melihat Arsen yang juga diam.


"Hmm Renata ". Arsen membuka percakapan setelah lama mereka berdiam diri.


Renata hanya diam, ia masih ingat semua ucapan yang Arsen katakan padanya. Dan itu sangat menyakiti hatinya.


"Renata , kamu mau pergi kerja ya?". Arsen basa basi.


"Iya aku mau melayani om-om dulu, minggir". Sindir Renata pada Arsen yang menghalangi jalannya.


"Tunggu Renata ". Arsen mengambil tangan Renata .


"Apa lagi, lepaskan". Renata mencoba melepaskan tangan Arsen yang menahannya untuk pergi.


"Aku akan telat melayani mereka". Ucap Renata .


"Renata aku minta maaf, aku salah maafkan aku Renata , aku sudah sangat keterlaluan sudah menuduhmu yang bukan-bukan aku yakin kamu tidak akan melakukan hal seperti itu". Arsen menarik Renata .


"Kenapa baru sekarang kamu yakin?". Tanya Renata dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku salah, aku hanya merasa kehilanganmu, kita selalu bersama selama ini tapi setelah kamu bekerja disana kamu sangat sibuk dan tidak ada waktu untuk kita, aku minta maaf Renata aku sangat salah". Arsen memohon pada Renata yang terlihat sangat marah padanya.


"Kamu tahu, aku tidak punya siapapun di dunia ini. Aku berjuang mencari uang untuk hidupku sendiri, aku memang kesusahan tapi aku tidak pernah berpikir sedikitpun untuk menjual diri, seharusnya jika kamu memang sahabatku kamu pasti tahu aku tidak akan melakukan pekerjaan kotor seperti itu, tapi kamu malah merendahkanku dengan ucapan-ucapanmu kemarin". Renata meneteskan air matanya. Padahal selama ini ia jarang sekali menangis ia adalah wanita yang kuat, saat kesusahan pun ia tidak menangis tapi kali ini ia merasa sangat di rendahkan dan di hinakan oleh sahabatnya sendiri.


"Iya aku tahu, aku minta maaf Renata aku terbawa emosi, aku hanya takut kamu..".


"Takut aku kenapa? Didikan orang tuaku tidak akan membuatku lupa jika diriku sangat berharga". Renata memotong ucapan Arsen.


"Aku minta maaf Renata , aku mohon Maafkan aku". Arsen memegang tangan Renata dengan kedua tangan.


"Renata aku harap kita masih sahabat, jangan lupakan semua kenangan kita, aku salah sebagai seorang sahabat apa kamu mau memaafkanku?". Arsen mengulurkan jari kelingkingnya.


"Arsen, cuma kamu satu-satunya sahabatku, aku tidak punya siapapun lagi, jadi aku pasti memaafkanmu, tolong jangan lakukan itu lagi". Renata meraih kelingking Arsen dengan kelingkingnya.


"Terimakasih Renata ". Arsen tersenyum


"Dasar anak bodoh, kemari kau". Renata memeluk Arsen .


Arsen pun membalas pelukan Renata dan mengusap punggungnya.


"Sudah, aku sudah telat aku harus segera berangkat". Ucap Renata melepaskan pelukan sahabatnya itu.


"Mau aku antar?". Tanya Arsen


"Antar pakai apa, kamu saja tidak punya kendaraan".

__ADS_1


"Aku antar kamu naik bus".


"Tidak, itu hanya merepotkanmu saja". Ucap Renata .


"Renata , aku akan menabung dan membeli motor setelah itu aku akan mengantar kemanapun kamu pergi". Ucap arsen bersemangat.


"Baiklah, bekerjalah dengan tekun agar gajimu bisa kamu belikan motor dan mengantarku bekerja".


"Kalau begitu aku berangkat sekarang ya, aku takut jika sampai telat". Renata melambaikan tangannya pada Arsen


"Iya Renata hati-hati". Arsen berdiri melihat kepergian Renata .


'Aku berjanji akan bekerja lebih keras lagi, agar bisa membahagiakanmu Renata '. Ucap Arsen dalam hati.


***


Sampai di kantor ia langsung masuk ke ruangannya. Dia sana Renata tidak banyak memiliki taman hanya sekedar say hai aja. Karena Renata tidak biasa memiliki banyak teman ia takut jika akan terjerumus ke pergaulan bebas.


Ia segera duduk dan mengerjakan pekerjaan yang sudah menunggu, ia masih sendirian di dalam ruangan karena bosnya belum datang. Ia sudah merindukan bosnya itu walaupun baru sehari saja tidak bertemu.


Ransh pun datang, tanpa berkata apapun ia langsung duduk di meja kerjanya. Melewati Renata tanpa bicara apapun. Biasanya ada saja hal yang membuatnya mengomel.


"Selamat pagi bos". Ucap Renata saat Ransh melewatinya.


'Dug dug dug'. Suara jantung Ransh yang hampir copot mendengar suara Renata .


Ia tidak menjawab ucapan Renata ia langsung duduk di kursinya, tidak biasanya ia seperti ini saat bertemu Renata . Biasanya ia tidak merasakan hal apapun kenapa sekarang ia sangat grogi.


"Bos ini berkas yang harus di tanda tangani". Renata menghampiri Ransh di mejanya.


"I-iya". Ucap Ransh dengan terbata-bata.


'Tumben bos gak ngomong apa-apa, biasanya ada saja hal sepele yang membuatnya marah'. Ucap Renata dalam hati.


"Bos mau minum teh atau kopi?". Tanya Renata .


"Kopi saja". Ucap Ransh singkat.


Ia melihat tampilan Renata yang sangat menggoda dengan blouse berwarna pink muda dipadu dengan rok mini berwarna hitam. Tentu saja ada yang menonjol yang menjadi pusat perhatian Ransh.


Ia melihat Renata berlalu meninggalkan ruangan untuk membuat kopi.


"Ya tuhan kenapa aku seperti ini, Renata membuatku tidak bisa berkata-kata, semoga saja Renata tidak mendengar detak jantungku yang sangat kencang ini". Ucap Ransh melihat kepergian Renata .


"Ahhh aku tidak bisa menahan diri jika terus seperti ini"..


"Gak boleh, aku harus bisa tahan, aku harus seperti dulu lagi, jangan grogi di hadapan Renata , aku harus kuat". Ransh berbicara sendiri.

__ADS_1


Renata datang Ransh langsung merapikan posisi duduknya.


"Ini bos, sepertinya bos demam ya, ko pagi-pagi gini sudah keringetan". Ucap Renata melihat keringat di dahi bosnya padahal ruangan full AC.


"E-e tidak, saya hanya, e-e lupakan cepat kembali ke meja kerjamu". Ucap Ransh seperti salah tingkah.


"Iya bos, jika bos kurang sehat bos bisa istirahat di kamar saja". Sambut Renata .


"Di kamar". Ucap Ransh mengingat kejadian malam itu di kamar.


"Iya bos di kamar". Renata menegaskan sekali lagi.


"Sama kamu?". Tanya Ransh spontan.


"Maksudnya bos?". Renata terkejut dengan ucapan bosnya itu


"Maksud saya, kamu gimana kalau saya di kamar". Ransh memberi alasan, entah kenapa dia bisa mengatakan hal itu pada Renata . 'Bodoh sekali aku' ucap Ransh dalam hati.


"Ohh saya gak apa-apa ko sendiri". Ucap Renata tersenyum


"Tidak saya di sini saja".


"Benar bos gak butuh istirahat?". Renata memastikan karena bosnya terlihat tidak seperti biasa.


"Iya, jangan banyak bicara cepat kembali bekerja". Ransh memalingkan wajahnya dari Renata .


"Baik bos!". Renata melanjutkan pekerjaannya.


Setelah beberapa saat mereka berdiam diri sibuk dengan pekerjaan masing-masing tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara kedatangan Seno.


"Hallo cantik". Ucap Seno mengagetkan Renata .


"Ya tuhan, mengagetkan saja". Renata mengusap dadanya.


"Kalau kaget gitu makin cantik deh". Baru datang seno sudah menggombal.


"Hey, siapa yang menyuruhmu datang ke sini". Ransh melihat Seno merayu Renata .


"Mas kan gue udah bilang mau ikut ke kantor, ko malah di tinggalin si". Seno masuk ke dalam ruangan.


"Ngapain juga ikut ke sini, paling bikin rusuh". Ransh menatap Renata .


"Gue kan mau ketemu sama cewek paling cantik di dunia ini, siapa lagi kalau bukan sekretaris lo". Seno melirik Renata yang fokus bekerja.


"Dia sedang banyak pekerjaan sebaiknya kamu pergi". Ransh mendorong Seno agar pergi dari ruangannya dan tidak merayu Renata lagi.


"Eh eh tunggu dulu, gue mau nagih janji sama Renata ". Ucap Seno menahan dorongan kakaknya.

__ADS_1


"Janji apa?". Tanya Ransh


__ADS_2