Terpaksa Menikahi CEO Psikopat

Terpaksa Menikahi CEO Psikopat
bab 18.


__ADS_3

'Tapi ngomong-ngomong dimana Rudransh berada. Kenapa dia malah membiarkan pria ini mengajaku keluar'. Ucap batin Renata .


Seno terus saja melihat Renata dan tersenyum entah apa yang sedang ada di pikiran seno pada Renata Semoga saja itu bukan pikiran buruk ataupun jahat.


"Ini pesanannya tuan dan nona". Pelayan membawa nampan besar berisi menu makanan yang mereka pesan tadi.


"Kenapa ada kerang mentah, apa dia lupa memasaknya?". Renata terkejut melihat kerang-kerang mentah berjejer di hadapannya.


"Hehe lucu banget kamu, ini memang dimakan mentah, ini mahal tahu, cobain deh enak banget". Seno mengambil kerang menggunakan sumpit dan mencelupkannya ke dalam saus lalu menyantapnya.


"Enak banget seger namanya Oyster, cobain deh". Seno mendekatkan makanan ke depan Renata


"Hm kayanya aku minum aja deh". Renata merasa mual melihat Seno memakan kerang mentah itu dengan lahap.


"Mau aku suapin?". Seno mengambil kerang dari atas meja dan menyodorkan ke dekat mulut Renata


"Tidak-tidak". Renata menutup mulutnya dengan kedua tangan.mencium aromanya saja sudah membuat Renata ingin muntah.


"Kamu beneran gak suka? Padahal ini enak banget tau". Seno mengambil kerang dan menyantapnya lagi.


Renata hanya menggelengkan kepala sambil menutup mulut


"Kamu pesan yang lain aja gimana?". Seno mengambil buku menu yang tertinggal di meja.


"Tidak, aku sudah kenyang, aku minum saja". Renata sebenarnya lapar karena belum sarapan, tapi ia tidak ingin memesan apapun.


"Kamu jadi cuma liatin aku makan. Aja dong?".


"Gak apa-apa aku ingin cepat kembali ke kantor saja". Renata menatap jam di lengannya.


"Kita gak usah balik ke kantor, habis ini gimana kalau kita jalan-jalan saja". Seno memberi ide buruk untuk Renata


"Tidak, aku tidak ingin Ransh marah kalau aku tidak kembali ke kantor


"Tapi hari ini kan ransh tidak ada?".


"Tapi aku banyak pekerjaan di kantor, aku ingin kembali saja". Renata menolak ajakan seru yang ditawarkan Seno.


"Hmm padahal lebih seru jalan-jalan daripada ke kantor. Tapi kalau itu sudah menjadi pilihanmu aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi,. Setelah ini kita akan kembali ke kantor". Seno menuruti keinginan Renata juga.

__ADS_1


"Renata hanya minum dan melihat Seno dengan lahap memakan kerang mentah di atas meja itu, membuat Renata merasa mual.


"Aku ingin ke kamar mandi dulu ya". Renata menutup mulutnya dan berjalan ke kamar mandi.


Renata menuju kamar mandi, ia tidak tahan dengan bau kerang mentah yang ada di mejanya.


Ia mengecek ponselnya untuk memastikan tidak ada panggilan dari bosnya.


"Tidak ada notifikasi apapun dari bos, sepertinya benar apa yang dikatakan Seno tadi, bos sedang sibuk". Renata kembali meletakan ponselnya ke dalam tas miliknya dan pergi ke dalam toilet untuk buang air kecil.


Setelah selesai ia kembali ke meja makannya dan Seno juga terlihat sudah selesai makan.


"Sudah selesai". Renata menatap Seno yang mengelap mulutnya dengan tissue.


"Sudah, kemana kita sekarang, jalan-jalan di Mall gimana?". Seno merayu agar Renata tidak kembali ke kantor.


"Ayolah, aku hanya ingin kembali ke kantor". Renata memohon


"Ah payah, masa cewek sekarang ada sih yang gak mau di ajak ke Mall, kayanya cewek dari jaman purba aja yang bakal nolak!". Seno melirik Renata bermaksud menyindir.


"Jadi menurut kamu?". Renata menaruh tangannya di pinggang rampingnya.


"Ha ha ha,, Gak ko, ayo kita pergi dari sini". Seno mengambil kunci mobil dan beranjak dari meja makan.


"Ko kamu gede si". Seno melirik Renata yang duduk di sampingnya.


"Apa?". Renata memastikan apa yang barusan ia dengar.


"Kamu pede si, maksud aku tadi". Seno ngeles dan tertawa.


"Pede gimana?".


"Ya kayaknya kamu percaya diri banget itu, apa sih resepnya?". Seno mencari alasan.


"Gak ada resep apa-apa, cukup jadi diri sendiri aja". Renata merasa ada yang aneh dengan pertanyaan Seno.


"Oh gitu ya". Seno tersenyum.


"Aku nyambung banget tahu ngobrol sama kamu, nanti mau kan kalau aku ajak makan di luar lagi". Seakan kesan pertama Seno melihat Renata dia sudah menaruh hati.

__ADS_1


"Ya tapi aku tidak bisa berjanji". Renata sama sekali tidak nyaman bersama Seno


Sampai di kantor Renata langsung masuk ke dalam ruangan, betapa terkejutnya ia melihat Ransh sedang berdiri melipat tangan melihat ke arahnya dengan tatapan tajam.


"Bo-bos". Renata seperti bertemu dengan hantu.


Ransh masih diam dan membiarkan Renata masuk.


"Jam segini baru ada di kantor, dari mana saja kamu, sudah bosan kerja rupanya. Di baikin sedikit langsung lupa diri". Ransh memulai dengan menyindir karena kemarin dia bersikap baik pada Renata


"Tapi bos". Renata ingin membela diri.


"Tapi mulai saat ini kamu saya pecat". Ransh melemparkan uang pesangon untuk Renata


"Jangan bos, saya bisa jelaskan semuanya, tunggu bos". Renata menangis melihat apa yang terjadi padanya sekarang.


"Tidak perlu penjelasan, pergi dari kantor saya". Ransh melepaskan tangan Renata yang menarik jasnya.


"Tapi bos, saya tidak salah"..


"Lalu siapa yang salah, saya yang salah?".


"Gue yang salah, gue yang paksa dia buat pergi sama gue buat sarapan, jadi jangan salahin dia". Seno datang tiba-tiba di belakang Renata


"Arseno?". Ransh terkejut dengan kedatangan adiknya yang lama tinggal di luar negeri. Seno sengaja tidak memberitahu Ransh jika ia ke kantornya untuk memberinya surprise.


"Kenapa kaku sekali si jadi bos, sekretaris keluar sarapan aja sampai mau di pecat, come on bro". Seno merangkul kakanya yang seperti kanebo kering itu.


"Kamu kapan datang. Ko gak langsung ke rumah, ngapain juga ke kantor dan ajak gadis ini makan di luar". Ransh menelepaskan tangan adiknya dari bahu kekarnya itu.


"Tadian memang mau ke rumah, tapi jarak kantor lebih dekat. Trus pas masuk ruangan lo, gue liat bidadari cantik banget, langsung gue ajak dia makan sarapan aja". Seno melirik Renata dengan nakal.


"Kamu tuh dari dulu gak pernah berubah ya. Kalau liat cewek, langsung di bungkus". Ransh tidak aneh dengan sikap adiknya yanh terkenal playboy.


"Bos bisa dengar sendiri kan, ini bukan salah saya, jangan pecat saya bos saya mohon". Renata menyatukan tangannya tanda memohon.


"Iya lu tega banget si sampe mau mecat dia, dia tuh asal lo tau aja ya, tadi gue ajak makan, dia ngajakin balik ke kantor terus, sampe gue berkali-kali ajak dia jalan-jalan ke Mall dia nolak mentah-mentah gitu aja, dia bilang takut lo marah, padahal gue dah bilang kalau lo lagi sibuk, tapi dia tetep maksa balik ke kantor. Dia itu sekeretaris baik, lo bakal nyesel kalau sampe kehilangan sekretaris kaya dia". Seno menjelaskan semuanya agar Ransh tidak memecat Renata


"Atau jika lo tetep mecat dia, gue bakal langsung ajak dia kerja sama gue, jadi sekretaris pribadi gue". Lanjut Seno

__ADS_1


"Oke saya gak akan mecat kamu, tapi kamu harus mastiin kalau kejadian ini gak akan terulang lagi". Ransh merendahkan nada bicaranya tidak seperti tadi yang penuh emosi.


"Dan kamu, ikut aku sekarang". Ransh menarik Seno seperti seekor kucing.


__ADS_2