
"Mungkin masih dijalan, kita tunggu saja dulu" ucap Ransh seolah benar-benar akan ada klien yang datang.
"Iya bos". Ucap Renata dengan polosnya yang tidak tahu kalau ini semua hanya kebohongan yang dibuat oleh Ransh
Akhirnya Ransh hanya memesan minuman karena Renata tidak mau makan. Minuman sampai Renata dan Ransh pun meminum minuman tersebut sambil terus menunggu klien yang tidak akan pernah datang
"Yahhh". Renata tidak sengaja menumpahkan minuman ke bajunya
"Ceroboh sekali". Ucap Ransh.
Minuman itu membasahi baju dada Renata , sampai bajunya menjadi transparan.
Ransh melihatnya dan mengingat kembali kejadian kemarin, saat ia dengan sengaja menyentuh dada Renata .
"Biar saya bantu". Ransh mengambil tisu dan mengelap dada Renata dengan tisu tersebut. Terasa lembut dan kenyal saat Ransh mengusap baju Renata yang basah tersebut, seolah ia ingin sekali mengulang kejadian kemarin.
Merasa tidak nyaman Renata pun mengambil tisu dan menyingkirkan tangan ransh dari dadanya.
"Saya bisa sendiri!!". Ucap Renata yang merasa bosnya sengaja mengusap dadanya dengan keras agar bisa menyentuh isi di dalamnya.
Ransh pun duduk kembali memperhatikan Renata yang membersihkan bajunya.
"Renata ayo kita pulang saja". Ucap Ransh berdiri dari duduknya.
"Ko pulang bos, meetingnya gimana?". Tanya Renata bingung.
"Meetingnya batal, saya baru dapat pesan masuk, ayo!!". Ransh berdiri dan meletakan uang seratus ribu di bawah gelas minuman miliknya.
"Ko tiba-tiba dibatalkan bos?". Renata mengikuti langkah Ransh sambil bertanya-tanya.
"Dia mendadak sakit perut". Ucap Ransh asal dengan sebuah alibi.
"Kasihan sekali dia". Renata percaya saja dengan semua yang diucapkan bosnya.
"Ayo masuk, udah sore". Ransh memasuki mobil di ikuti oleh Renata di sampingnya.
'Akhirnya Renata tidak curiga sama sekali'. Ucap ransh dalam hati
"Bos mau anterin saya pulang, atau kita kembali ke kantor?". Tanya Renata yang sudah duduk di samping Ransh di dalam mobil
"Saya ini lapar, tadi saya mau makan tapi kamunya tidak mau, kamu bilang mau ajak saya makan di tempat yang lebih enak dari restoran bintang lima". Ucap Ransh sambil terus menyetir.
"Oh iya bos saya lupa. Oke kita langsung kesana saja ya, saya yakin bos pasti suka!". Ucap Renata .
"Belum tentu, ingat ya perjanjian kita kalau sampai makanannya gak seenak makanan di restoran bintang lima, kamu harus masakin saya selama satu bulan". Ucap Ransh.
"Tapi bos juga ingat kalau makanannya enak harus traktir saya makan selama tiga bulan". Renata menoleh ke arah Ransh yang fokus menyetir.
"Oke!!".
"Tapi bos harus jujur, kalau enak bilang enak kalau gak enak bilang gak enak, jangan enak tapi bilangnya gak enak ya!!". Ucap Renata .
"Iya, saya ini selalu jujur. Kamu tenang saja". Ransh tersenyum kecil.
***
__ADS_1
Sedangkan Seno masih mencari Renata ke tempat yang mungkin saja Ransh datangi bersama Renata .
Seno datang ke restoran yang baru saja Ransh dan Renata kunjungi. Ransh dan Renata pergi sekitar 10 menit dia baru datang
"Ini restoran yang biasa mas Ransh datengin". Seno memasuki area Restoran.
"Dimana ya?". Seno mencari di sekitar Restoran sampai ke lantai atas.
Ia menemui pelayan dan bertanya.
"Mba kenal kakak gue kan, yang biasa makan di sini nama Rudransh". Ucap Seno.
"Oh pak Ransh ya". Para pelayan pasti kenal dengan Ransh karena Ransh sudah menjadi pelanggan spesial di tempat ini. Karena sering mengadakan acara juga meeting di restoran ini.
"Iya, dia tadi kesini gak?". Tanya Seno.
"Belum lama Pak Ransh dengan seorang wanita kesini, tapi tidak makan hanya memesan minum lalu pergi". Ucap pelayan
"Tuh kan bener gue bilang, mas Ransh pasti bawa Renata ke sini".
"Oke mba makasih ya". Ucap Seno lalu berjalan keluar Restoran
"Bener-bener ya mas Ransh". Seno memasuki mobilnya lalu pergi.
Seno memutuskan untuk pulang karena ia tidak tahu harus mencari Renata kemana lagi.
Dengan kesal ia sampai di rumah membanting tas miliknya ke Sofa.
"Kenapa si kamu?". Tanya Rahma pada putra bungsunya itu.
"Ada apa sama kakak kamu coba duduk dulu terus cerita sama mamah, jangan langsung marah-marah gini, mamah kan gak tahu apa-apa?". Rahma mencoba menenangkan Seno.
"Aku mau jalan sama sekretaris mas Ransh. Dia bilang nanti aja pas jam istirahat, aku disuruh pulang dulu sama mas Ransh, lalu pas aku kembali di jam istirahat mas Ransh malah bawa Renata pergi". Seno menjelaskan masalahnya itu.
"Renata ?". Tanya Rahma.
"Iya namanya Renata . Dia sangat cantik dan anggun, aku sangat menyukainya". Seno membayangkan wajah Renata yang tersenyum.
"Mungkin saja Ransh pergi meeting bersama sekretarisnya". Ucap Rahma.
"Gak, aku yakin mas Ransh juga suka sama Renata dan sengaja ngajak Renata pergi supaya gak bisa jalan sama aku mah". Seno mengadu seperti anak kecil.
"Dia kan memang sekretaris Ransh. Jadi dia memang harus menemani Ransh dalam urusan pekerjaan, sudah jangan meributkan masalah sepele. Anak teman mamah pasti lebih cantik dari wanita itu, kamu mau gak kalau mamah kenalin". Ucap Rahma tersenyum pada Seno
"Gak mau ya mah, aku gak mau di jodoh-jodohin, aku cuma mau sama Renata , dan Renata lebih cantik dari gadis manapu ". Seno seolah sudah bisa membaca pikiran mamanya.
"Kamu nih ya, sama banget sama kakak kamu susah kalau di pilihin wanita yang berbobot". Ucap Rahma
"Pokoknya aku kesel banget sama mas Ransh, aku bakal ngambek sama dia". Ucap Seno berlalu ke kamarnya.
"Seno tunggu!!!". Panggil Rahma.
"Huh siapa si Renata itu, sampai di rebutkan oleh dua anakku ini, awas saja jika dia wanita yang tidak berbobot". Rahma bicara sendiri menatap kepergian Seno.
***
__ADS_1
"Baju kamu basah, pakai ini!". Ransh memberikan jasnya pada Renata .
"Tidak apa bos". Renata menolak.
"Pakai saya bilang!". Ransh memaksa.
"Iya". Renata mengambil jas milik bosnya itu
Ransh tidak bisa fokus jika tampilan Renata seperti itu ia takut tidak bisa menahan hasratnya untuk melakukan hal itu lagi pada Renata karena bajunya yang basah menjadi transparan membuat belahan dada Renata terlihat jelas.
"Macet lagi". Ucap Ransh yang mobilnya terjebak macet dan hari pun sudah berubah menjadi gelap.
Tidak banyak yang mereka bicarakan di dalam mobil, Renata lebih sering menatap ke luar jendela dan Ransh juga bingung ingin mengajak Renata bicara soal apa. Karena ia belum pernah menjalin hubungan dengan wanita, membuat dirinya menjadi kaku dan bingung jika berhadapan dengan wanita, apalagi wanita nya adalah Renata . Wanita yang sudah berhasil membuatnya memiliki perasaan lebih.
'Kenapa aku jadi sangat grogi berada dekat dengan Renata ya sekarang padahal kemarin- kemarin aku sempat merasa ilfil dengan sikapnya yang kampungan itu'. Hati Ransh berbicara.
Sesekali ia menoleh ke arah Renata yang terus saja memperhatikan ke arah luar. Renata terlihat cantik walaupun dari samping. Kenapa dia baru menyadarinya sekarang, kenapa Seno lebih dulu menyadari bahwa Renata memang secantik itu.
'Oh ya Seno. Dia pasti sangat kesal dan marah padaku, biar saja aku punya alasan membawa Renata pergi, dia adalah sekretarisku, pekerjaan dia memang untuk menemaniku'. Ucap Ransh dalam hati.
"Apa masih jauh?". Tanya Ransh memecah hening.
"Sedikit lagi bos, di depan sana". Renata menunjuk ke arah depan
"Baiklah, bilang jika sudah dekat!".
"Di sana bos!".
"Oke saya parkir dulu". Ransh memelankan laju mobilnya dan menepikannya di pinggir jalan.
"Ayo turun". Ucap Ransh
"Dimana tempatnya?".
"Ini". Renata menunjuk tempat pecel ayam.
"Kamu serius?". Ransh merasa ragu.
"Iya bos, ayo!". Renata menarik tangan bosnya untuk masuk ke dalam tempat makan yang hanya di alingi terpal.
"Duduknya dimana?".
"Di sini". Renata menunjuk bangku kayu yang panjang.
"Ayo bos cepat!". Dengan semangat Renata mengajak bosnya untuk duduk.
"Mang biasa ya, dua!". Ucap Renata pada pedagang pecel ayam tersebut seolah sudah tahu apa yang akan di pesan oleh Renata , karena Renata sudah sangat sering makan di tempat ini.
"Siap neng, pacar baru ya ganteng pisan". Ucap si mamang tukang pecel ayam.
"Bu-bukan mang". Renata merasa malu.
"Maaf ya bos, si mamang emang suka gitu". Ucap Renata pada Ransh.
Ransh hanya tersenyum tipis tanpa menjawab ucapan Renata .
__ADS_1