
Seakan tidak peka dengan ucapan Renata , ransh terus melanjutkan pekerjaannya yang menurutnya lebih penting dari perut Renata . Ia sangat egois dan dingin.
Sudah setengah jam Renata menunggu tapi bosnya belum juga selesai dengan pekerjaannya, padahal Renata sudah sangat lapar dan tidak kuat lagi. Badannya sudah bergetar dan berkeringat. Tapi ia tidak bisa melakukan apapun karena takut jika nanti bosnya akan marah.
Setelah sekian lama menunggu dan menahan perutnya yang lapar, akhirnya Renata tidak tahan lagi dan menjatuhkan dirinya ke lantai.
Bruk,, suara Renata pingsan.
Ransh langsung melihat ke arah Renata dan menemukan Renata sudah terjatuh di lantai.
"Astaga Renata , ada apa dengannya?". Ransh berlari dan mendekati Renata .
Ia memangku Renata dengan satu kakinya dan berusaha menyadarkan Renata .
"Renata , Renata bangunlah". Ransh mengguncang tubuh Renata tapi ia belum juga sadar.
Akhirnya Ransh menggendong Renata dan meletakkannya di atas sofa, ia menjadikan pahanya sebagai bantal untuk Renata .
"Renata sadar lah". Ransh menekan pipi Renata tapi tidak ada respon apapun.
"Badannya sangat dingin, apa dia sakit?". Ransh mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya banyak ke hidung Renata . Tanpa sadar Ransh terus saja mengoleskan minyak kayu putih ke hidung Renata sampai habis.
"Yah habis, ko belum bangun juga".
Akhirnya Ransh menggendong Renata ke UKS kantor yang ada dokter jaganya di sana. Ia harap Renata akan cepat sadar.
Rans tidak tahu bahwa Renata menahan lapar sejak tadi menunggunya menyelesaikan pekerjaan, ia pikir Renata tidak sedang dalam keadaan lapar karena baru saja pergi makan bersama Seno adiknya.
"Pak Ransh ada apa?". Salah satu karyawan melihat Ransh menggendong Renata .
"Pak mau saya bantu gak?". Salah satunya lagi ingin membantu.
"Tidak perlu". Ransh berlalu meninggalkan karyawannya yang ingin membantunya.
Ransh terus berjalan menggendong Renata ke ruang kesehatan bertemu dengan dokter yang memang berjaga di sana.
"Tolong periksa dia". Ransh saat masuk uks.
"Saya bantu bos". Dokter membantu Ransh menggendong Renata dan membaringkannya di bunker Uks.
"Dia kenapa bos?".
"Pingsan tiba-tiba".
Dokter langsung memeriksa Renata yang masih belum sadarkan diri.
"Bagaimana, kenapa dia pingsan?". Ransh bertanya pada dokter yang sedang memeriksa.
"Sepertinya dia hanya masuk angim karena menahan lapar bos". Dokter menjawab dengan singkat.
"Apa, menahan lapar, jadi dia benar-benar belum makan". Ransh menyadari sejak tadi Renata meminta untuk istirahat. Ia pikir Renata berbohong saat bilang ia tidak makan bersama Seno, jadi ia membiarkan Renata untuk tidak makan siang.
Hidung Renata memerah karena minyak kayu putih yang Ransh berikan tadi terlalu banyak.
"Lalu kapan dia akan sadar". Ransh merasa bersalah.
"Sebentar lagi juga dia akan sadar, kita tunggu saja bos". Dokter lun menarik selimut Renata .
Ransh menunggu Renata dengan sabar, ia duduk di samping ranjang Renata .
"Bos biar saya saja yang menunggu dia sampai sadar, bos bisa kembali ke ruangan". Dokter menawarkan bantuan.
"Tidak, saya ingin tetap disini menunggunya sampai sadar". Ransh bersikukuh untuk tetap menunggu Renata sampai sadar.
Berita Renata pingsan pun menyebar dengan cepat ke seluruh kantor apalagi dokter sudah mengatakan jika Renata pingsan karena kelaparan. Seisi kantor semua membicarakan Renata dan Ransh. Ia yakin Renata sangat tersiksa menjadi sekretaris Ransh. Mereka sangat prihatin dan kasihan dengan kondisi Renata .
"Semoga saja dia tidak mati". Ucap salah satu karyawan.
"Dia terlalu memaksakan diri untuk terus bertahan menjadi sekretaris bos. Jadi gini deh hasilnya". Sahut yang lain.
__ADS_1
"Gue si ogah deh jadi sekretaris bos ganteng kalau sampai kaya gini, walaupun gaji lebih besar daripada gaji kita tapi gue si lebih mending kaya gini aja, dari pada kaya si Renata . Bisa mati pelan-pelan". Sambung yang lain mereka terus membicarakan Renata karena kasihan.
Renata mulai menggerakan jarinya dan perlahan membuka matanya.
"Renata ". Ucap Ransh saat Renata mulai sadar.
"Ahhh panas panas". Renata langsung kepanasan merasakan hidungnya.
"Kenapa Renata ?". Ransh ikut panik melihat Renata .
"Ahhhhh panas, panas tolong aku panas sekali". Renata menjerit sekeras mungkin karena tidak tahan dengan rasa panas luar biasa sampai hidungnya memerah.
"Aku ambilkan air ya tunggu". Ransh mengambil air di gelas dan langsung menyiramnya ke wajah Renata sampai basah semua.
Rasa panasnya mulai hilang karena tersapu air yang Ransh siramkan sampai 3 kali membuat Renata basah kuyup.
"Bagaimana apa masih panas?". Ransh kembali duduk di samping Renata
"Sudah banyak berkurang, tapi bajuku jadi basah". Renata melihat ia seperti kucing yang jatuh ke kolam.
"Tidak apa, nanti pakai baju saya aja". Renata ingat kemarin memakai baju Ransh dan itu terlihat sangat aneh.
"Tapi bos, baju bos sangat kebesaran di saya". Renata mencoba menolak.
"Kalau begitu ayo ikut saya". Ransh menarik tangan Renata dan membawanya keluar kantor.
"Lihat mau dibawa kemana Renata , dia kenapa basah seperti itu". Salah satu karyawan berbisik ke karyawan yang lain.
"Pasti habis di siram agar sadar dari pingsannya, kejam banget ya bos kita". Sahut yang lain.
Renata di bawa ke luar kantor dan di ajak naik mobil.
" Kita mau kemana bos?". Ucap Renata sangat lemah.
"Ikut saja".
"Pilihlah baju yang pas untukmu, lakukan dengan cepat". Ransh mengajak Renata masuk ke dalam butik.
"Tapi bos".
"Cepat saya bilang!". Teriak Ransh membuat Renata kaget dan langsung ke dalam untuk mencari baju. Tak lama Renata pun keluar dengan baju baru yang sangat indah.
"Ayo cepat masuk mobil lagi". Ransh menarik Renata masuk ke dalam mobil.
Ransh membawa Renata yang masih lemas itu ke taman yang tidak jauh dari kantornya.
"Duduklah di sini". Ransh menepuk bangku taman yang kosong di sebelahnya.
"Kenapa kita ke sini pak". Renata bingung padahal dia lapar kenapa dia dibawa ke taman.
"Saya kan tadi sudah bilang mau ajak kamu makan siang, jadi saya mau ajak kamu makan siang di sini, maaf lama membuatmu menunggu sampai pingsan". Ucap ransh dengan wajah dinginnya.
"Tidak apa-apa bos!". Renata merasa sangat lapar
"Ini adalah masakan ibuku, dia memberiku bekal seperti anak SD, kamu mau memakannya?". Ransh memberikan kotak makan mewah yang Ransh bawa.
"Kenapa di berikan pada saya bos, ini kan mamah bos buat kan untuk bos?". Renata bertanya-tanya.
"Saya tidak suka, seperti anak SD saja dibawakan bekal, kamu makan saja makanan mamah saya enak ko". Ransh memberikan kotak makanannya pada Renata .
"Terimakasih bos". Renata membuka bekal makanan Ransh yang ternyata berisi daging rendang dengan beberapa lauk di dalam nya.
"Bos ini terlihat sangat enak". Renata mengambil saupan pertamanya.
Dan benar saja masakan Mamah Ransh memang sangat enak, tak kalah seperti rasa masakan di restoran mewah.
"Saya sudah bilang, masakan mamah saya memang enak". Ransh menelan sesuatu di tenggorokannya.
"Bos mau?". Renata mengangkat tangannya ingin menyuapi bosnya.
__ADS_1
"Kamu mau nyuapin saya?". Ransh menoleh pada Renata .
"Iya, cobain deh enak banget". Renata memajukan tangannya sampai di suap oleh Ransh dengan malu-malu.
"Enak kan". Renata memastikan.
"Ini memang masakan mamah saya, dan memang enak". Ransh mengunyah makanan yang disiapkan oleh Renata . Terasa lebih enak kayanya sampai Ransh berkali-kali mengatakannya.
"Enak sekali". Ucap Ransh.
"Benar kan". Renata meyakinkan.
"Iya masakan mamah saya emang paling enak". Ransh memuji mamanya.
"Iya pak terima kasih ya sudah anak saya makan siang di sini, dan kasih saya makanan yang enak banget". Renata tersenyum.
"Iya, jangan senyum-senyum gitu emang kamu pikir kamu cantik senyum-senyum gitu". Ransh memalingkan wajahnya.
"He he he bos sangat beda dengan pak Seno". Ucap Renata .
"Beda kenapa?".ransh mengerutkan dahi.
"Hmm gak jadi pak". Renata kembali menyantap makanan nya.
"Cepat kasih tau saya, bedanya apa?". Ranch memaksa.
"Hehe gak ko pak nanti saya dimarahi lagi". Renata memalingkan pandangan.
"Gak, cepetan bilang beda nya kenapa?". Ransh sangat penasaran dengan apa yang akan Renata katakan.
"Gak ko bos saya salah bicara aja tad". Renata cari aman.
"Bohong kamu pasti ingin bilang saya galak dan jahat kan, sedangkan Seno baik hati , iya kan". Ransh menebak apa yang akan Renata katakan.
"Gak ko bos, negatif thinking banget, sama saya, maksud saya heheh". Renata malah ketawa.
"Tuh kan bener yang saya bilang, kamu mau bilang itu kan tadi". Ransh melihat Renata malah tersenyum dan seperti enggan untuk menjawab pertanyan Ransh.
"Gak ko bos, kata siapa bos gak baik, ni buktinya bos baik banget ajak saya makan di taman, dan inget gak bos kemarin berapa kali nolongin saya, bos sama-sama baik ko bedanya pak Seno lebih sering senyum he he he". Renata menatap Ransh dengan mukanya yang selalu dingin.
"Jadi kenapa kalau saya jarang tersenyum".ransh menjawab ucapan Renata dengan cuek.
"Ya gak apa-apa sih sebenarnya pak, cuma gantengnya jadi berkurang aja". Renata melirik Ransh yang sepertinya salting dibilang ganteng.
Ransh menyembunyikan senyum nya dan membuang pandangan ke sembarang arah.
"Kamu jangan suka bandingin saya sama adik saya ya". Ransh bersikap dingin lagi sama Renata .
"Iya bos maaf". Renata melanjutkan makan siangnya.
"Bos mau saya suapin lagi?". Renata mengarahkan sendok ke wajah Ransh.
"Jangan kurang ajar ya kamu?". Ransh malah ngomel
"Tapi tadi bos". Renata meletakan lagi sendoknya dan diam melanjutkan makan
Bosnya ini sangat ameh kadang baik, kadang kaya gini nih tiba-tiba cuek dan dingin padahal sebelumnya dia mau-mau aja di suapin sama Renata .
'Bos kenapa ya, ko tiba-tiba kaya marah gitu. Apa salah ngomong ya tadi'. Bisik Renata dalam hati melihat perubahan yang Ransh alami begitu cepat.
"Cepat dong makan nya. Lelet banget kita harus kembali lagi ke kantor". Ransh berdiri dan membentak Renata
"I-iya bos". Renata segera menghabiskan makanannya yang masih tersisa banyak ia memasukan masi dengan ukuran yang besar ke dalam mulutnya terlihat seperti sedang mukbang.
Ransh dan Renata pun kembali ke kantor dengan wajah ransh kembali dingin dan kaku, entah kenapa dia sangat kesal dengan apa yang Renata katakan tadi. Apa mungkin Ransh cemburu pada Seno karena Renata memuji Seno selalu tersenyum. Sangat beda dengan dia.
"Cepat kerjakan tugas kamu, jangan pulang kalau tugas belum selesai". Ransh memberikan berkas yang menumpuk pada Renata .
"Iya bos". Renata terkejut dengan berkas yang ada di depannya itu. Baru saja bosnya baik sudah memberikan bekalnya pada Renata . Sekarang kejamnya kumat lagi.
__ADS_1