
#12_Berdua dan Canggung
Setelah kepergian Yudith dan Laos, kini tinggallah Raiden dan Abigail di kamar itu. Keduanya duduk dalam kecanggungan, bagaimana tidak? Jika biasanya Abigail hanya melihat Raiden terbaring lemah di atas tempat tidur, kali ini Raiden duduk tepat di sampingnya dengan kesadaran penuh.
Raiden bisa melihat Abigail tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakan saat ini. Pria itu kembali beranjak untuk sekadar mengambil sebuah kemeja agar bisa dikenakan oleh Abigail.
"Kenakan ini," ujar Raiden sembari menyodorkan kemeja miliknya.
Abigail menerima kemeja itu dengan malu-malu lalu beranjak dari tempat tidur dengan tetap menutup tubuh itu menggunakan selimut. Abigail melepaskan selimutnya saat sampai di dalam lemari berjalan. Dia mulai mengenakan kemeja milik suaminya yang rupanya terlalu besar saat dikenakan.
"Sudah kuduga, kemeja ini terlalu besar untukku," gerutu Abigail sembari berjalan ke luar dari tempat itu.
__ADS_1
Tanpa sadar Raiden berpura-pura dalam keadaan yang masih lemah. Pria itu terlihat menyandarkan tubuhnya di badan tempat tidur dengan menghela napas beberapa kali. Hal itu membuat Abigail bergerak dengan sendirinya meraih saputangan lalu dibasahi dengan air untuk digunakan sebagai penyeka luka di tangan Raiden.
Melihat tindakan yang dilakukan Abigail, Raiden sepertinya bisa membaca apa yang akan terjadi selanjutnya?
Rupanya Abigail masih tetap menaruh perhatian pada Raiden meski pria itu sudah tidak lagi dalam keadaan vegetatif.
Sepertinya Abigail tidak peduli pada kondisi apapun yang aku alami, dia tetap memperhatikan aku seperti sebelumnya, batin Raiden yang terlihat bahagia.
Raiden berpura-pura seperti seseorang yang benar-benar baru sadar dari kondisi vegetatifnya. Siapa sangka? Apa yang dilakukannya berhasil menarik perhatian Abigail. Sang istri dengan penuh perhatian merawat luka di buku-buku tangan Raiden.
"Apa itu sakit? Aku rasa kamu terlalu bersemangat saat melakukannya." Abigail seakan tahu rasa sakit yang dialami Raiden.
__ADS_1
Tanpa Abigail ketahui, Raiden menyeringai lalu menjawab, "Aku spontan melakukannya, Sayang."
Tiba-tiba saja wajah Abigail merona setelah mendengar panggilan sayang dari bibir suaminya. Abigail tidak ingin terlalu percaya diri, mungkin saja Raiden hanya mengucapkan saja. Bahkan, bisa saja pria itu melakukannya pada semua wanita. Namun, untuk saat ini, Abigail ingin merasakan kebahagiaan dengan panggilan tersebut.
Kedua mata Raiden tak lepas dari wajah hingga seluruh tubuh istrinya. Apalagi saat ini Abigail mengenakan kemeja milik Raiden yang ukurannya lebih besar dari tubuh Abigail. Beberapa kali Raiden terlihat ingin tersenyum kecil, tetapi pria itu menahannya dengan sangat baik. Tubuh Abigail tampak menggoda, tidak heran jika kecantikan Abigail membangkitkan gairah Evan. Dalam keadaan kesal karena mengingat kejadian beberapa saat lalu, Raiden memutuskan untuk bernapas dengan teratur.
"Setelah ini beristirahatlah, Sayang. Aku bisa melihat wajah lelahmu." Raiden memperhatikan Abigail meski istrinya tidak sadar itu.
"Bagaimana bisa aku beristirahat? Hari telah berganti dan aku tidak bisa memejamkan mata saat semua orang sedang melakukan pekerjaannya masing-masing."
"Tidak ada yang salah dengan kamu beristirahat di saat mereka sedang bekerja. Aku ingin melihatmu tidur dengan tenang, jadi setelah ini berbaringlah dan aku akan berada di sampingmu."
__ADS_1
Abigail merasa tersanjung dengan apa yang akan dilakukan Raiden. Hanya saja rasa takut itu masih melekat dan membuatnya merasa tidak kecil. Entah apa yang ada di pikiran Abigail saat ini, hanya dirinya sendiri yang tahu.