Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif

Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif
bab 29


__ADS_3

"Sayang, bagaimana kalau kita pergi berlibur?" ajak Raiden pada Abigail yang tengah bersantai menikmati hari tenangnya.


Ya, hari berikutnya setelah Marisa membuat keributan di mansion, baik Clarisa maupun Marisa tak pernah menampakkan lagi batang hidung mereka di depan Raiden apalagi Abigail. Dirham juga tiba-tiba menghilang bak tertelan bumi setelah pria itu dinyatakan bangkrut dan kehilangan semua hartanya.


"Berlibur ke mana?" tanya Abigail.


"Ke mana pun. Ke tempat yang kamu mau," sahut Raiden ingin menyenangkan hati sang istri yang sebelumnya terusik karena Marisa dan Clarisa.


Namun, sekarang Abigail tak perlu lagi khawatir mendapatkan kesulitan dari keluarga yang tak pernah melimpahkan kasih sayang padanya itu. Clarisa dan Marisa sudah dibuat sibuk dengan penderitaan mereka sendiri, begitu pula dengan Dirham. Abigail pun berhasil mendapatkan kedamaian setelah bisa lepas dari Dirham dan Marisa, serta saudara tiri yang selalu mengusik ketenangannya.


"Aku sedang tidak ingin pergi ke mana pun," sahut Abigail. "Tapi kalau kamu mempunyai banyak waktu luang, kita bisa pergi ke tempat yang sejuk dan memiliki pemandangan alam yang indah. Bagaimana?" tanya Abigail mengusulkan tempat sejuk yang ingin ia kunjungi.


Wisata alam memang pilihan yang tepat untuk menghilangkan rasa penat yang menumpuk setelah menjalani aktivitas sehari-hari yang padat dan melelahkan. Setelah segala urusan keluarga Abigail selesai, Raiden berusaha memberikan hadiah tambahan untuk sang istri yang selama ini sudah cukup bersabar menghadapi keluarga Dirham.


"Sebelumnya ... boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Abigail pada sang suami.


"Tanyakan saja!" tukas Raiden santai.


"Beberapa hari ini aku tidak lagi mendengar kabar tentang papaku. Apa terjadi sesuatu pada mereka?" tanya Abigail penasaran dengan nasib Marisa dan Clarisa usai mendapatkan tatapan dingin dari suaminya yang pendendam.


Raiden mengulas senyum tipis. Karena tahu hubungan istrinya dan keluarga Dirham kurang baik, rasanya Raiden tak perlu merasa bersalah setelah menghancurkan kehidupan dari ayah istrinya itu.


"Kamu ingin tahu kabar mereka?" tanya Raiden.


"Terjadi sesuatu pada mereka, kan? Apa kamu yang melakukannya?" tanya Abigail balik.


Tanpa Raiden melakukan apa pun, sebenarnya keluarga itu juga akan tetap hancur. Raiden hanya mempercepat waktunya saja. Tanpa ia harus turun tangan pun, kejayaan keluarga Dirham juga akan runtuh dengan sendirinya.

__ADS_1


"Perusahaan papamu mengalami masalah. Apa kamu tahu?" tanya Raiden.


Tentu saja Abigail tahu. Apalagi sebelumnya Dirham pernah meminta bantuan pada Abigail agar Raiden membantu perusahaan Dirham. "Terjadi sesuatu yang buruk pada perusahaan papaku?"


"Perusahaannya sudah bangkrut. Semua aset Dirham hilang dan Clarisa menjadi gila," ungkap Raiden. "Ibu tirimu juga mungkin akan menjadi gila sebentar lagi karena jatuh miskin," sambungnya.


Abigail hanya diam mendengar penuturan Raiden mengenai kehancuran Dirham. Entah mengapa wanita itu tak merasa senang sedikitpun mendengar penderitaan Dirham, meskipun ia ingin sekali melihat Dirham dan Marisa hancur.


"Kenapa? Kamu tidak merasa senang mendengar berita ini?" tanya Raiden.


Abigail menggeleng. "Aku juga tidak tahu. Seharusnya aku merasa senang, tapi aku tidak bisa. Bersenang-senang di atas penderitaan orang lain bukanlah diriku," cetus Abigail.


"Aku tahu istriku bukan wanita jahat yang akan menyumpahi kehancuran seseorang!" tukas Raiden sembari memeluk sang istri dengan erat. "Tidak perlu dipikirkan. Hal terpenting sekarang adalah ... mereka tidak akan lagi mengganggumu," ungkap Raiden.


"Tidak perlu mempedulikan mereka lagi. Lebih baik kita urus liburan kita sendiri," ujar Raiden kembali ke topik awal membahas tentang liburan mereka.


Beberapa hari kemudian, Raiden dan Abigail benar-benar berangkat berlibur bersama ke luar negeri. Pasangan suami istri itu menikmati liburan sekaligus bulan madu di berbagai tempat yang ingin mereka kunjungi bersama.


"Wah, lautnya indah sekali!" gumam Abigail begitu terpesona dengan pemandangan Maldives.


"Kamu suka?" tanya Raiden nampak puas saat melihat wajah sumringah sang istri. "Tempat ini namanya Pulau Mirihi. Di sini ada banyak vila dan resort khusus untuk liburan pengantin baru," celetuk Raiden sembari menggoda sang istri.


"P-pengantin baru apanya?" cetus Abigail mulai salah tingkah.


Usai puas berjalan-jalan di sekitar pantai, Raiden pun bergegas memboyong sang istri menuju salah satu vila yang sudah ia siapkan untuk beristirahat bersama dengan sang istri.


"Tempat ini memang terkenal sebagai destinasi bulan madu. Sebaiknya kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya selama di sini," oceh Raiden berusaha mengirimkan kode pada sang istri.

__ADS_1


"Memanfaatkan waktu untuk apa?" tanya Abigail pura-pura tak mengerti.


Raiden yang dibuat jengkel pun tak ingin lagi berbasa-basi. Pria itu segera melucuti pakaiannya sendiri kemudian menerkam sang istri yang sudah bersiap di atas ranjang empuk vila indah dengan pemandangan laut yang menemani.


Pasangan suami istri itu menghabiskan waktu menyenangkan bersama di dalam vila yang begitu nyaman dan menyuguhkan suasana tenang nan romantis yang sangat pas untuk pasangan pengantin yang masih hangat-hangatnya memadu kasih.


"Masih ada tempat lain yang harus kita kunjungi, siapkan tenagamu untuk ronde malam nanti," bisik Raiden tak henti-hentinya memberikan kode pada Abigail dengan bahasa yang cukup vulgar.


"Kapan kita bisa berlibur kalau kita terus-terusan berbaring di ranjang seperti ini?" omel Abigail.


"Ini liburan kita! Memangnya apalagi liburan menyenangkan bagi suami istri selain di ranjang?" timpal Raiden. "Kamu harus menemaniku lembur sampai kita mendapatkan oleh-oleh," celetuk Raiden.


Belum juga menyelesaikan liburan, Raiden sudah sibuk memikirkan oleh-oleh. "Oleh-oleh apa?" tanya Abigail.


Raiden sontak melirik ke arah perut sang istri. Tentu saja oleh-oleh yang paling dinantikan oleh pasangan suami istri saat berbulan madu ialah hadirnya sang buah hati.


"Oleh-oleh yang akan muncul di sini," ujar Raiden sembari mengusap perut Abigail. "Kamu ingin anak berapa?" tanya Raiden tiba-tiba membahas tentang anak pada sang istri.


"Kamu sudah tidak sabar menjadi papa, ya?"


"Kamu sendiri bagaimana? Biasanya para wanita yang lebih antusias mengenai anak, kan?" timpal Raiden.


Abigail termenung sejenak. Suaminya kini sudah kembali normal dan pulih sepenuhnya. Wanita itu juga mendapat cinta kasih tak terduga dari keluarga mertua. Selain itu, pengganggu yang selama ini mengusiknya sudah tidak lagi ada. Hidup Abigail akan menjadi sempurna jika sebentar lagi akan ada malaikat kecil yang hadir di antara mereka.


"Aku juga sudah tidak sabar ingin segera menjadi ibu," ungkap Abigail. "Kalau kita mempunyai anak kembar, pasti lucu!"


"Baiklah! Kalau begitu aku harus berusaha lebih keras lagi!" cetus Raiden kembali "mengerjai" sang istri. Pasangan suami istri itu menikmati bulan madu romantis di Maldives selama beberapa hari, dan kembali ke tanah air tercinta usai agenda bulan madu mereka selesai.

__ADS_1


Sayangnya, kebahagiaan dan kedamaian yang dinikmati oleh Raiden dan Abigail nampaknya tidak akan bertahan lama. Ancaman baru mulai mengganggu keharmonisan pasangan suami istri yang baru saja memulai babak baru kehidupan bahagia sebagai keluarga kecil yang sempurna.


****


__ADS_2