Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif

Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif
bab 34


__ADS_3

"Astaga! Evan benar-benar keterlaluan!" geram Kakek Rafael.


"Doakan saja Abigail, Kek. Semoga Abigail baik-baik saja," cetus Raiden penuh harap.


Kakek Rafael tak dapat melakukan apa pun untuk menghibur sang cucu yang tengah diselimuti rasa pilu. "Hubungi Kakek kalau sudah ada kabar baik!" cetus Kakek Rafael.


"Tentu!"


Raiden menyimpan kembali ponselnya dan duduk dengan pikiran kacau sembari terus menatap ke arah pintu ruang pasien. "Kenapa Abigail belum keluar juga?" gerutu Raiden makin tak sabaran.


Luka bagian luar yang dialami oleh Abigail memang tidak banyak, tapi kemungkinan wanita itu mengalami luka dalam parah cukup membuat Raiden khawatir. Beruntungnya, tak lama kemudian dokter pun keluar dari ruangan penanganan pasien dan menemui Raiden.


Dilihat dari ekspresi dokter, seharusnya pria itu tidak akan mendapatkan kabar buruk. "Wali pasien Nyonya Abigail?"


Raiden langsung bangkit dengan semangat dan menghampiri dokter dengan harap-harap cemas. "Aku suaminya. Bagaimana keadaan istriku, Dok?"


"Pasien tidak mengalami luka dalam, Tuan. Beberapa luka luar pasien juga sudah ditangani. Kami juga melakukan pemeriksaan menyeluruh kepada pasien dan semua organ normal tanpa gangguan," terang dokter.


"Syukurlah! Istriku baik-baik saja, kan?"


Dokter mengangguk sembari mengulas senyum. "Benar, Tuan. Dan dari hasil pemeriksaan ... kami menemukan sesuatu," ungkap sang dokter.


"M-menemukan apa?"


"Ada janin di rahim pasien, Tuan. Pasien tengah mengandung," ujar dokter membuat Raiden terdiam seketika.


"A-apa?"


"Pasien hamil, Tuan!"


Raiden diam seribu bahasa. Ia benar-benar tak menyangka akan mendapatkan kabar mengejutkan setelah ini setelah dibuat geger oleh Evan.


"Dan kami melihat dua janin yang tumbuh. Pasien tengah mengandung anak kembar, Tuan!" cetus dokter.


Raiden makin bungkam. Bunga-bunga besar mulai bermekaran di hati pria yang akan menjadi seorang ayah itu.

__ADS_1


"Istriku ... hamil anak kembar?"


"Selamat, Tuan! Kondisi ibu dan janinnya sangat sehat. Tolong diperhatikan lagi keadaan pasien agar luka seperti ini tidak terulang kembali, terlebih disaat pasien tengah mengandung," jelas dokter.


Manik mata Raiden pun mulai basah. Setelah mendapatkan musibah yang membuat dirinya resah, pria itu kini mendapatkan hikmah indah.


"Boleh aku melihat istriku?" tanya Raiden tak sabar ingin melihat istrinya dan calon buah hati mereka.


"Pasien tengah beristirahat saat ini, Tuan. Mohon untuk membatasi waktu berkunjung!" pesan dokter.


Tanpa pikir panjang, Raiden langsung berlari menuju ke ruangan sang istri dan melihat kondisi Abigail yang masih memejamkan mata. Rasanya sakit sekali melihat istrinya masih terbaring di ranjang pasien dengan wajah pucat.


"Sayang, kamu baik-baik saja, kan?" gumam Raiden sembari mengusap lembut rambut sang istri.


Pria itu duduk di samping ranjang Abigail dan menggenggam erat tangan sang istri. "Tolong bangun, Abigail! Aku membawa berita gembira untuk kita!" pinta Raiden dengan wajah memelas.


Raiden masih harus menunggu sampai kondisi Abigail stabil. Sampai beberapa jam ke depan, wanita itu belum juga membuka mata dan masih dijaga dengan setia oleh sang suami tercinta.


Hingga malam tiba, akhirnya Abigail pun sadar dan membuka mata lebar-lebar di ruangan yang penuh dengan aroma obat itu. Bola mata wanita itu mulai mengarah ke sekeliling ruangan yang ia tempati saat ini.


Tiba-tiba ruangan Abigail pun terbuka dan Raiden muncul dari balik pintu. Pria itu langsung menghampirinya Abigail yang akhirnya terbangun dari tidur panjang.


"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Raiden pada Abigail.


Meskipun masih berwajah pucat, Abigail tetap berusaha tersenyum demi menenangkan hati sang suami. "Aku ada di rumah sakit?" tanya Abigail dengan suara lirih.


"Benar. Sekarang kamu ada di rumah sakit. Kamu sudah aman. Evan tidak akan lagi mengganggu kita," ujar Raiden.


Pria itu memeluk sang istri dengan erat diiringi tangis haru. "Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku kalau sampai terjadi sesuatu padamu. Bagaimana aku bisa hidup tanpamu, Abigail?" cetus Raiden.


Abigail membalas pelukan sang suami sembari menepuk-nepuk lembut punggung Raiden. "Aku tidak akan ke mana-mana. Terima kasih banyak, kamu sudah menjagaku dengan baik!" ucap Abigail.


"Maafkan aku! Ini semua terjadi karena aku! Aku yang tidak becus menjagamu. Aku yang sudah melibatkanmu pada hubunganku yang buruk dengan Evan," ujar Raiden penuh sesal.


Pria itu tak akan melupakan setiap detik rasa takut dan cemas yang ia alami karena ulah Evan. Raiden tidak akan lupa begitu saja pada peristiwa yang hampir saja membuat dirinya kehilangan Abigail.

__ADS_1


"Aku akan menjagamu lebih baik lagi, Sayang! Aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi," cetus Raiden.


"Aku tahu. Kamu pasti bisa menjagaku dengan baik," sahut Abigail dengan senyum manis.


"Aku akan menjagamu dan anak-anak kita dengan baik!"


"Anak?" tanya Abigail dengan dahi berkerut. Wanita itu mengira anak yang dimaksud oleh Raiden adalah anak yang akan mereka miliki nanti di masa depan.


"Ya, kamu pasti bisa menjadi ayah yang baik saat kita mempunya anak nanti," ujar Abigail.


"Anaknya sudah ada dalam perutmu, Sayang!" ungkap Raiden menyentuh lembut perut Abigail.


Abigail terdiam dan mencoba mencerna baik-baik maksud dari suaminya. "Anak apa yang ada dalam perutku?" tanya Abigail bingung.


Raiden mengulas senyum tipis. "Kamu hamil, Sayang!" ujar Raiden menyampaikan hal menggembirakan ini pada sang istri.


"H-hamil?"


Raiden mengangguk dan kembali memeluk sang istri. "Kamu hamil. Bukan cuma satu, tapi dua. Ada dua malaikat kecil dalam perutmu!" jelas Raiden membuat Abigail mendadak berurai air mata.


"Aku hamil? Aku akan menjadi seorang ibu?"


"Selamat, Sayang! Kamu akan menjadi seorang ibu!" cetus Raiden dengan penuh sukacita.


Lengkap sudah kebahagiaan pasangan suami istri itu. Setelah menghadapi hari yang berat karena Evan, akhirnya pasangan suami istri itu mendapatkan pelangi setelah badai.


"Selamat, Abigail! Keluarga kecil kita sekarang sudah lengkap! Akan ada bayi kecil yang akan menyempurnakan istana kita!"


"Selamat juga, Raiden! Kamu juga akan menjadi ayah. Kita akan menjadi orang tua," ucap Abigail dengan tangis haru.


Pasangan suami istri saling berpelukan erat menyambut hadirnya malaikat kecil yang sudah mereka tunggu-tunggu. Tak hanya itu, Abigail juga sudah terlepas dari gangguan keluarga Dirham, dan kini ia juga berhasil melepaskan diri dari Evan yang mendapatkan hukuman ekstra atas perbuatannya pada Abigail.


Akhirnya, pasangan suami istri dapat mencapai kebahagiaan sempurna. "Sehat-sehat ya, Nak! Kami menunggu kedatangan kamu!" ucap Raiden mengecup perut sang istri dan beralih mengecupi kening sang istri bertubi-tubi.


****

__ADS_1


akhir cerita. end. terima kasih sudah membaca😊


__ADS_2