Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif

Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif
bab 13


__ADS_3

#13_Rencana Baru


Rafael baru saja tiba di hunian mewahnya, langkahnya begitu pasti saat memasuki bagian dalam ruangan pribadinya. Raize yang tahu kedatangan tuannya, kini menghadap dan melaporkan apa saja yang terjadi di rumah itu semalam.


Setelah mendengar penjelasan Raize, Rafael menyuruh pengawal tersebut memanggil cucu kesayangannya ke kamar. Ada banyak yang perlu diperhitungkan oleh Rafael tentang kejadian ini. apalagi semua diluar dugaannya. Pria tua itu tidak pernah menyangka, cucu lainnya akan berbuat hal tidak pantas pada seorang wanita lemah seperti Abigail.


Rafael duduk di kursi kerjanya, menatap video dari CCTV yang menampilkan kejadian semalam. Rafael menghela napasnya beberapa kali ketika melihat Abigail dilecehkan.


“Dasar anak tidak tahu untung!” ujar Rafael kesal.


Di sisi lain, Raize mengetuk pintu kamar Raiden. Berharap sang tuan sudah membuka mata, Raize cukup lama menunggu di sana. Sementara di dalam kamar, Raiden belum tidur sejak matanya terbuka semalam. Dia baru saja memastikan Abigail terlelap pagi ini.


“Tidurlah dengan tenang, kamu akan baik-baik saja mulai sekarang,” ujar Raiden sembari mengecup kening Abigail sekilas.


Raiden segera beranjak dari sana, melihat apa yang dilakukan Raize dengan menggangunya pagi-pagi sekali.


“Maafkan saya, Tuan Muda. Tuan Rafael menunggu di ruangannya.”


“Rupanya kakek sudah datang. Aku segera ke sana setelah membersihkan diri. Pastikan tidak ada yang berani masuk dalam kamar ini lagi, Raize.”


“Baik, Tuan.”


Raize kembali berdiri di depan pintu kamar Raiden. Sedangkan sang pemilik kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Raiden menggosok bagian tubuhnya, merasakan busa bekerja untuk mengangkat kotoran yang menempel di kulit badan. Perasaan Raiden cukup membaik setelah berhasil menenangkan Abigail yang terlihat gelisah.


Setelah lima belas menit berlalu, Raiden mengakhiri kegiatannya. Dia ke luar dari kamar mandi dan mengenakan pakaiannya. Selesai dengan semua kegiatannya, Raiden membuka pintu lagi dan berpesan pada Raize untuk tidak meninggalkan pintu kamarnya sampai dia kembali ke sana.


Langkah kaki Raiden menuju kamar pribadi Rafael. Di sana adalah tempat teraman di rumah itu. Bagaimana tidak? Rafael mendesain kamarnya agar kedap suara, setiap percakapan dan kegiatan di kamar itu, tidak akan terdengar hingga ke luar.


Raiden masuk dan disambut dengan pelukan oleh Rafael. Setelah itu, tatapan tajam pun didapatkan Raiden. Ya, pria tua itu sangat kesal, kenapa Raiden lebih cepat bangun dari rencana awal. Seharusnya, dia bangun saat bukti didapatkan untuk menghukum Yudith dan Laos.

__ADS_1


“Jadi, kita harus membuat rencana baru,” ujar Rafael dengan posisi duduk di kursi santainya.


“Kakek, maafkan aku. Ini sungguh diluar dugaan. Aku tidak pernah menyangka dia akan bertindak bodoh seperti ini.”


“Aku tahu, tidak hanya dirimu yang terkejut dengan tindakan Evan. Sepertinya dia mentargetkan Abigail sejak awal. Apalagi … istrimu itu sangat pandai.”


“Benar, Abigail memang berbeda dari wanita lainnya.”


Mereka terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali berbincang.


“Jadi, apa yang perlu kita lakukan setelah ini, Kakek?”


“Tunggu, kita perlu mempersiapkan semua agar tidak salah dalam mengambil tindakan. Untuk Evan, bukti kuat sudah kita dapatkan, aku akan memberikan hukuman untuknya. Sedangkan Yudith dan Laos, kita perlu bukti.”


“Bukti … ini cukup sulit, Kakek. Selama ini … Abigail, dia sepertinya mendengar percakapan Yudith dan Laos. Mungkin saja dia tahu sesuatu tentang bukti atau lainnya?”


“Hem, kondisinya belum bisa kita paksa untuk membuktikan sesuatu, Raiden. Aku yakin, istrimu tidak dalam keadaan baik-baik saja sekarang.”


“Seharusnya kamu lebih lama untuk bersandiwara. Namun, semua sudah terjadi, kita perlu mengatur ulang dan pergerakan yang sedikit terhalang setelah ini.”


“Bagaimana jika kita bongkar kejahatan mereka satu persatu, sampai bukti sabotase itu kita dapatkan?” celetuk Raiden.


Rafael mengangguk, lalu menyetujui apa yang disarankan cucunya. Pria tua itu meraih gelas berisi wine dan meneguknya. Kepalanya tiba-tiba saja berdenyut saat teringat kegagalan rencana besar itu. Lalu, Rafael menghela napasnya, seakan merelakan apa yang sudah terjadi kemarin.


“Bagaimana keadaan Abigail?”


“Dia baru tertidur pagi ini, aku menyuruh Raize berjaga di depan kamar. Aku tidak ingin dia kembali diganggu siapapun.”


“Tidak masalah, tapi … apa dia terluka?”


“Tidak, Kakek. Abigail sepertinya mengalami ketegangan, dia tampak sangat takut. Terlihat jelas saat tanganku ingin menyentuhnya. Namun, hal itu tidak terlihat saat dia yang melakukannya. Ini artinya ada trauma yang bisa membuatnya sedikit terganggu.”

__ADS_1


“Begitu rupanya. Sebaiknya segera hubungi dokter keluarga sebelum semua terlambat.”


“Aku tahu. Akan kulakukan semua yang terbaik untuknya. Dia … wanita yang sangat sulit untuk ditemukan.”


“Ah … pilihanku tidak pernah salah, bukan? Aku tahu yang terbaik untuk cucuku.”


Mereka tertawa bersama di tengah ketegangan rencana baru yang akan dilakukan. Keduanya mengangkat gelas dan minum bersama di sana. Tentu saja Raiden merasa bebas saat berada di sana, bagaimana tidak? Rafael adalah satu-satunya orang yang tahu tentang sandiwara kondisi Raiden.


“Kakek, setelah ini … apa yang akan Kakek lakukan?”


“Aku akan bertemu dengan mereka. Dan … masih banyak pekerjaan lain yang menunggu. Aku meninggalkan pekerjaan penting hanya untuk masalah ini, kamu tahu itu.” Rafael tampak kesal.


Raiden memilih untuk diam, tidak ingin memancing emosi Rafael saat ini.


Cukup lama percakapan di kamar itu terjadi. Akhirnya, rencana demi rencana dirangkai oleh keduanya. Membongkar kejahatan seseorang akan sulit dilakukan. Namun, jika berhasil, mereka bisa saja membuat penjahat menyerahkan diri dengan senang hati.


“Raiden, kamu harus kembali memimpin perusahaan. Jika kamu tidak bangun dari kondisi kemarin, mungkin kamu tidak akan kusuruh kembali bekerja. Jangan khawatirkan Abigail, aku akanmenempatkan penjaga untuk memastikan keselamatannya selama di rumah ini.”


“Aku mengerti, Kakek. Tapi, aku hanya tidak yakin pada Tante Yudith. Dia bisa saja menyentuh Abigail tanpa sepengetahuan kita.”


“Hei! Kamu lupa? Di rumah ini terpasang CCTV. Ada di setiap sudut dan kita berdua bisa mengaksesnya. Melihat setiap gerak-gerak orang yang ada di rumah ini. Lalu, apa yang kamu khawatirkan?”


“Buktinya, Evan masih bisa menyelinap masuk ke kamarku, Kakek. Aku kesal mengingat kejadian semalam, rasanya ingin sekali kubunuh dia saat itu.”


“Tenangkan dirimu, Raiden. Jangan gegabah!”


“Aku mengerti, Kakek.”


“Jika kamu mengerti, sekarang kamu kembali dan bersiap untuk kembali bekerja! Semua orang menunggumu, dan berkas yang menumpuk tidak bisa menandatangani diri sendiri.”


Raiden tersenyum miring, Rafael memang selalu mengkhawatirkan perusahaan. Bagaimanapun, semua yang dibangun dan menjadi besar, tidak akan dibiarkan kembali jatuh hanya karena masalah kecil yang menggagunya.

__ADS_1


“Kakek, aku permisi. Ah, jangan lupa istirahat sebelum bekerja, Kakek. Jaga kesehatanmu, meski aku tahu, masih banyak energi untuk melakukan kegiatan.”


__ADS_2