
Bruk! Seorang pria nampak berlari kencang di tengah-tengah tanah licin yang masih basah karena hujan lebat. Pria itu berlari tunggang langgang hingga berkali-kali jatuh ke tanah karena panik.
Ya, nampaknya pria itu tengah melarikan diri dari kejaran orang dan terus berusaha bersembunyi di balik pepohonan. Batang-batang pohon besar yang ada di pulau tersebut membuat pria itu makin mudah meloloskan diri.
"Tunggu kamu, Abigail! Aku akan kembali!" gumam pria itu yang tak lain dan tak bukan ialah Evan, sepupu Raiden yang diasingkan.
Pria itu nampaknya telah berhasil meloloskan dari bangunan yang mengurung dirinya selama ini. Di tengah malam yang diiringi rintik hujan, Evan berusaha melarikan diri dari pulau kecil tempat dirinya diasingkan oleh kakek Rafael.
"Sepertinya aku melihat sesuatu di tengah hutan," ujar seorang penjaga yang merasa melihat sekelebat sosok bayangan yang melintas di antara pepohonan.
"Pasti hanya perasaanmu saja!" cetus penjaga yang lain tak menggubris dan tak menyangka jika bayangan yang terlihat itu adalah tahanan mereka yang telah kabur.
Dengan langkah tertatih, Evan berusaha kembali ke kota dan mencari cara untuk meninggalkan pulau itu secepatnya sebelum para penjaga menyadari kepergiannya. "Aku harus segera meninggalkan pulau sialan ini!" geram Evan.
Keesokan harinya, para penjaga di rumah tahanan tempat Evan dikurung pun mulai mengawali aktivitas mereka seperti biasa. "Antarkan makanan ini! Sudah waktunya sarapan," titah pelayan yang bertugas memasak makanan untuk Evan.
Tak lama kemudian, seorang pelayan pun berteriak kencang saat ia melihat Evan yang sudah menghilang entah ke mana. Para penjaga pun mulai berkumpul memeriksa ruangan Evan dikurung yang sudah kosong, tanpa adanya Evan di sana.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa tahanan bisa kabur?" omel para penjaga saling menyalahkan.
"Bukan aku sendiri yang bertugas semalam! Kenapa hanya aku yang disalahkan?" balas penjaga lain yang tak terima.
Rumah tempat Evan ditahan itu pun mulia riuh dengan suara orang-orang yang berusaha mencari jejak Evan. "Cepat periksa seluruh pulau! Sekarang juga!"
__ADS_1
Beberapa penjaga mulai sibuk mencari Evan di sekitar rumah dan menyelidiki bagaimana Evan bisa kabur meninggalkan rumah tahanan yang dijaga ketat oleh banyak penjaga. Butuh waktu lama untuk Evan bisa melarikan diri dari bangunan yang sudah mencekik kebebasannya itu.
Sementara orang-orang di bangunan itu kelabakan mencari Evan, kini Evan sendiri sudah hampir sampai di kota tempat mansion RA berada. Ya, ke mana lagi tujuan pria itu pergi kalau bukan untuk mengganggu Abigail kembali.
Apalagi setelah dirinya diasingkan sebagai hukuman karena mencoba melecehkan Abigail, pria itu kembali dengan membawa tumpukan dendam yang sudah mengakar di hatinya. Dengan susah payah Evan mencari tumpangan di sana sini demi bisa kembali ke kota tempat dirinya tinggal sebelumnya.
"Abigail ... aku sudah datang! Aku sudah sampai!" gumam Evan sembari menampakkan senyum licik yang penuh dengan siasat buruk.
Pria itu segera mencari pakaian baru dan menutup tubuh serta wajahnya untuk menyembunyikan diri dari orang-orang yang kini mencari dirinya. Bak buronan yang mencoba bersembunyi dari polisi, Evan harus menutup wajahnya rapat-rapat dan tak bisa bebas menikmati udara segar yang ia hirup.
Pikiran pria itu sudah telanjur penuh dengan Abigail dan rencana untuk kembali menemui kembali Abigail yang begitu ia rindukan. "Abigail, bagaimana kabarmu sekarang? Kau pasti merindukanku," gumam Evan bak psikopat yang akan mengejar target sampai dapat.
"Hati-hati di rumah, aku akan pulang lebih awal nanti," ujar Raiden berpamitan pada sang istri di pagi hari sebelum pria itu berangkat ke kantor.
Abigail melempar senyum manis pada sang suami sembari melambaikan tangan pada pria yang begitu ia cintai itu. "Hati-hati di jalan. Tidak perlu terburu-buru untuk pulang. Aku akan memasak makan malam yang enak untukmu," sahut Abigail.
Abigail terus menampakkan senyum cerah sampai kendaraan yang ditumpangi oleh Raiden menghilang. Wanita itu tak sadar jika terdapat seseorang yang mengawasi dirinya dari kejauhan dan melihat raut wajah bahagia Abigail bersama dengan Raiden.
"Kau senang, Abigail? Kau senang?" geram Evan tak terima melihat kebahagiaan Raiden dan Abigail di atas penderitaannya di tempat pengasingan.
"Jangan harap kau bisa menunjukkan senyum seperti itu lagi pada Raiden!" gumam Evan.
Merasa seperti ada yang mengawasi, Abigail bergegas masuk ke dalam rumah dengan perasaan was-was sambil terus menatap ke arah pagar mansion. "Boleh aku minta tolong sesuatu?" ujar Abigail pada pelayan rumah.
__ADS_1
"Tentu, Nyonya!"
"Tolong periksa CCTV di sekitar mansion. Aku merasa cemas sejak tadi," pinta Abigail.
Pelayan itu pun bergegas menghubungi petugas keamanan mansion dan meminta seluruh area mansion dipantau dengan ketat. Abigail juga meminta laporan jika ditemukan orang asing mencurigakan yang berada di sekitar mansion.
"Kami tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan, Nyonya! Kami akan memperketat keamanan!"
"Apa hanya perasaanku saja?" gumam Abigail yang mendadak resah setelah ditinggal berangkat kerja oleh sang suami.
Setelah berhasil kabur dari tempat dirinya ditahan, Evan menjadi makin lihai bersembunyi dan berani mengawasi Abigail dari dekat, meskipun pria itu tak berani menyusup ke dalam mansion.
Sementara Evan sudah mulai berkeliaran di area mansion, kabar kaburnya pria itu pun mulai merebak hingga akhirnya sampai ke telinga Kakek Rafael. "Apa? Evan kabur? Bagaimana bisa?" omel Kakek Rafael pada para bawahan yang ditugaskan untuk mengawasi Evan di tempat pengasingan.
"Sepertinya Tuan Evan melarikan diri di malam hari dengan menjebol jendela sedikit demi sedikit, Tuan. Saat kami periksa, kami kira benda yang berbaring di ranjang adalah Tuan Evan. Tapi ternyata itu hanya tipuan untuk membuat kami lengah," terang penjaga yang memberikan laporan pada Kakek Rafael.
Ya, mereka telah tertipu rencana Evan yang menumpuk bantal dan pakaian di atas ranjang, kemudian menutupnya dengan selimut, persis seperti seseorang yang tengah berbaring. Siapa pun yang melihat pasti juga akan mengira kalau itu adalah sosok Evan yang tengah tertidur.
Tak hanya itu, Evan juga menutupi jendela yang ia jebol sedikit demi sedikit. Dan tepat dibalik di jendela itu, terdapat sebuah pohon yang menutupi dinding. Sehingga dari luar pun tidak terlihat terlalu jelas kalau jendela yang ada di kamar tempat Evan dikurung ternyata berlubang cukup besar hingga bisa membuat Evan melarikan diri.
"Temukan Evan secepatnya! Untuk memperketat keamanan agar Evan tidak mengacau kalau bocah itu kembali ke kota!" titah Kakek Rafael memberikan instruksi pada bawahannya.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
"Evan, awas saja kalau kamu berani berulah lagi!" geram Kakek Rafael.
****