
#17_Rencana yang Berjalan Baik
Setelah mendengar kalimat-kalimat manis yang diutarakan Raiden semalam. Abigail semakin merasa bahwa dirinya tidak pantas untuk bertahan di sana. Wanita itu tampak lesu dan kurang bertenaga pagi ini saat kedua matanya terbuka. Dia tahu, Raiden telah pergi bekerja karena itulah Abigail berani membuka mata dan melakukan kegiatan rutinnya di rumah mewah itu.
Entah mengapa Abigail merasa jenuh dan bosan, terus berada di dalam kamar membuatnya terlihat seperti seseorang yang kurang berkomunikasi dengan orang lain. Oleh sebab itu, Abigail memutuskan untuk berkeliling dan menikmati sejuknya angin pagi ini.
“Aku harap tidak ada orang yang melihatku, aku ingin sekali berkeliling tanpa adanya gangguan,” gumam Abigail sembari berjalan perlahan.
Kedua mata Abigail mengedar saat menuruni anak tangga, memastikan tidak akan bertemu dengan Yudith atau Laos. Ya, Abigail sangat tidak suka saat melihat dua orang itu berada di sekitarnya. Rasa tidak nyaman akan membuat Abigail resah dan khawatir.
“Indahnya taman pagi ini,” ucap Abigail sembari merentangkan tangan dan menghirup udara segar.
Cukup lama dia tidak berkeliling dan menikmati apa yang ada di rumah itu. Setelah kejadian mengerikannya, Abigail memang lebih banyak di kamar daripada di luar.
Langkah Abigail kembali berlanjut untuk melihat beberapa bunga yang terlihat bermekaran. Abigail menikmati sekali pemandangan di depannya.
“Wah, indah sekali! Berapa lama aku tidak melihatnya? Terakhir kali, bukankah dia belum menunjukkan kuncupnya?” Abigail sangat bersemangat saat melihat keindahan bunga-bunga di taman yang ada di samping rumah mewah milik Rafael.
Dari tempatnya berada, Abigail seperti melihat seseorang datang dan masuk ke rumah. Awalnya, Abigail tidak ingin peduli siapa yang datang berkunjung, tetapi suara wanita itu sungguh membuat Abigail membulatkan mata.
“Dona? Apa yang dia lakukan di sini? Bukankah … pria itu tak lagi ada di rumah ini?” tanya Abigail pada diri sendiri.
Tidak ingin ikut campur, Abigail memutuskan untuk kembali menikmati bunga-bunga di taman. Hingga akhirnya, dia bertemu seorang tukang kebun yang bekerja di rumah itu. Sosok pria tua dengan gunting taman yang besar berjalan mendekatinya dengan tersenyum.
“Selamat pagi, Nyonya. Sudah lama sekali saya tidak melihat Anda berkunjung ke taman ini.” Pria tua itu memang jarang berbincang dengan Abigail, akan tetapi sikap manis istri Raiden itu selalu membuat pelayan di sana merasa dihormati.
“Maafkan aku. Ada sesuatu yang membuatku tidak bisa keluar dari kamar. tapi, pagi ini aku dibuat bahagia dengan mekarnya bunga-bunga ini.”
“Anda datang di saat yang tepat, Nyonya. Apa Anda ingin kuperikkan beberapa untuk menghiasi kamar?”
“Tentu, jika tidak merepotkanmu.”
__ADS_1
“Tentu saja tidak.”
Pria tua itu berbalik badan dan mulai memilih bunga-bunga untuk diberikan pada Abigail. Setelah selesai, dia kembali dan memberikan bunga yang ada di tangannya pada Abigail.
“Nyonya, kupilihkan bunga terbaik dan indah untukmu.”
“Terima kasih banyak, ini sangat cantik.”
Selesai menikmati indahnya bunga di taman, Abigail berjalan masuk dan kembali ke kamar. Namun, saat Abigail hendak menaiki anak tangga, dia melihat Dona sedang berbicara dengan salah satu pelayan.
“Jangan sampai kamu gagal, ini adalah rencana besarku! Masukkan ini pada gelas yang akan diminum oleh Raiden. Aku akan bersamanya nanti malam dan membuatnya bersamaku.”
“Ba-baik, Nona. Ta-tapi, bagaimana jika ketahuan? Saya tidak ingin diusir dari tempat ini.”
“Tenang saja, kamu tidak akan diusir. Aku bisa menjaminnya.”
Setelah itu, pelayan tersebut berbalik badan dan kembali bekerja. Dona terlihat berbicara sendiri dengan wajah penuh ambisi.
Abigail menggeleng mendengar penuturan Dona. Tidak ingin Dona mengetahui keberadaannya, Abigail berjalan kembali menuju kamarnya.
***
Di sisi lain, Raiden tampak sibuk dengan kasus yang dilakukan Yudith dan Laos. Saat ini, di depannya sudah berdiri dua orang tersebut dengan wajah cemas. Yudith yang terbiasa banyak bicara, kali ini terdiam dan mengamati apa yang dikatakan Raiden.
“Aku sungguh kecewa pada kalian. Aku sudah mempercayai kalian karena kamu sebagai Tanteku, adik dari orang tuaku, anak dari kakekku. Tapi, apa yang kalian berikan padaku? Sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa dua pengawal setiaku. Sampai aku mengalami kondisi mengerikan beberapa waktu, kalian masih berusaha untuk menyingkirkanku.”
Ucapan Raiden tidak dipotong dan semakin membuat mereka tertunduk.
Tidak lama setelah itu, terlihat Rafael hadir dengan membawa dua orang berjas hitam. Rafael memerintahkan keduanya untuk menangkap Yudith dan Laos.
“Papa! Apa ini? kenapa … apa yang Papa lakukan? Papa ingin memasukkan anak sendiri ke penjara?” Yudith tampak protes dengan tindakan yang Rafael ambil.
__ADS_1
“Anakku bersalah, tentu aku tidak akan pilih kasih untuk tidak menghukumnya. Evan sudah berada di tempatnya, sekarang giliran kalian yang akan merasakan hal sama dengan anak kalian. Hanya saja, kali ini tempatnya sedikit berbeda.” Rafael memberi isyarat pada dua pria di belakangnya untuk mengambil tindakan penangkapan.
“Papa, jangan masukan aku ke penjara! Baiklah, bagaimana jika berikan aku kesempatan, aku … aku ingin diasingkan saja! sepertinya itu sudah cukup, bukan?” Yudith kembali berbicara dan membela diri.
Berbeda dari Yudith, Laos hanya diam dan menerima apa yang dilakukan Rafael. Pria itu bahkan tidak protes dengan penangkapan tersebut. Sementara Raiden hanya berdiri di belakang meja dengan menatap keduanya. Kedua tangannya bersedekap, pikirannya kini sedikit lega dengan kasus yang terselesaikan saat ini.
Rafael tidak peduli dengan ucapan Yudith dan memilih untuk segera membawa keduanya keluar dari ruangan Raiden. Pria tua itu kini duduk di depan Raiden dengan menghisap cerutu yang sedari awal sudah berada di jemarinya.
“Jadi, sudah selesai?” tanya Raiden.
“Ya, kamu bisa lega bukan?”
“Terima kasih, Kakek.”
Setelah selesai, mereka tampak menikmati kebersamaan dengan berbincang bersama. Ada banyak percakapan yang mereka bahas. Mengenai pekerjaan dan beberapa tender yang menunggu. Rafael yakin, setelah kembalinya Raiden, perusahaan akan kembali stabil dan berkembang.
“Semua ini hanya bisa terlihat dari kepemimpinan seseorang. Jika pemimpinnya saja tidak bisa melakukan dengan baik, perusahaan akan jatuh dan semakin tidak berdaya,” ucap Rafael sembari menyembulkan asap dari bibirnya.
“Kakek benar, aku ingin fokus pada pekerjaan dan … aku ingin Abigail merasakan apa itu bahagia.”
“Hahaha, aku melihatnya. Jadi, kamu akan mempertahankannya, bukan?”
“Dia wanita yang spesial. Keberaniannya, perhatiannya, semua tentang Abigail membuatku terus memikirkannya, Kakek. Pilihan Kakek tidak pernah salah. Hahaha.”
“Tentu saja.”
Di antara percakapan mereka, tiba-tiba saja dering telepon menghentikan keduanya. Rafael menerima panggilan tersebut dan berbicara pada seseorang di seberang sana.
“Ya, ada apa?”
“Tuan, kami telah mengantarkan keduanya. Lalu, pihak kantor ingin Anda dan Tuan Raiden datang memberikan penjelasan.”
__ADS_1
“Aku akan menghubunginya dari sini.”