Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif

Terpaksa Menikahi Pria Vegetatif
bab 32


__ADS_3

Bab 42


Prang! Raiden menghancurkan sebuah vas di mansion begitu ia mendapatkan kabar kurang menyenangkan dari orang-orang yang ia bayar untuk mencari Abigail.


Setelah memeriksa CCTV di pusat perbelanjaan, Raiden melihat sang istri yang dibawa pergi seorang pria yang ia yakini adalah Evan. Setelah mencari selama sepanjang malam, Raiden juga belum bisa mendapatkan informasi apa pun mengenai keberadaan sang istri.


"Apa yang kalian lakukan sepanjang malam? Cepat cari keberadaan istriku sekarang juga!" geram Raiden dibuat kelimpungan karena sang istri yang menghilang.


Raiden juga sibuk berkeliling ke sana kemari hingga pria itu tidak tidur. Kakek Rafael juga ikut membantu Raiden hingga pria tua itu mengerahkan banyak orang untuk mencari istri Raiden.


Sementara di gudang tempat Abigail disekap, wanita itu tak henti-hentinya menangis di depan Evan. Pria yang menyimpan dendam besar pada Raiden itu mulai sibuk membuat rencana untuk memberi pelajaran pada sepupunya yang sangat ia benci itu.


"Bagaimana hidupmu akhir-akhir ini, Abigail? Aku melihat kamu terus tersenyum di depan Raiden. Kalian pasti menjalani kehidupan yang nyaman selama aku diasingkan?" cibir Evan pada Abigail.


"Tolong! Apa tidak ada orang di luar sana? Tolong selamatkan aku!" teriak Abigail dengan suara gemetar ketakutan.


Evan melirik Abigail sembari melempar senyum sinis. "Percuma, Abigail! Jangan buang-buang tenagamu!" tukas Raiden. "Tidak akan ada orang yang mendengarmu. Tempat ini sangat sepi dan jauh dari jalan raya. Lebih baik kamu duduk dan diam saja daripada kamu menyakiti tenggorokanmu," sinis Evan.


Pria itu mulai mengeluarkan senjata dan benda-benda tajam lainnya di depan Abigail. "Selama ini aku tinggal di pulau kecil yang jauh dari keramaian. Aku hanya bisa duduk di dalam ruangan kecil tanpa bisa menghirup udara segar. Aku sesak dan tercekik di pulau itu, tapi apa yang kamu lakukan bersama dengan Raiden? Kalian hidup bahagia berhaha-hihi di atas penderitaanku. Wajar saja kalau aku kesal, bukan?" cetus Evan.


"A-apa yang akan kamu lakukan padaku?" tanya Abigail dengan tangis sesenggukan. "Tolong lepaskan aku! Bukan salahku dan Raiden kalau kamu diasingkan, bukan? Kenapa kamu menyalahkan kami?"


Bruak! Evan tiba-tiba menendang kursi dan membuat jantung Abigail hampir melompat keluar karena terkejut. "Bukan salahmu? Bukan salah Raiden?" cibir Evan. "Raiden sudah membuat hidupku menderita! Sekarang giliranku membuat Raiden menderita!"


"Berhenti mencari orang untuk disalahkan! Jika kamu ingin menyalahkan orang lain, salahkan dirimu sendiri!"


Bruak! Evan kembali menendang barang yang berada tak jauh dari jangkauannya hingga membuat Abigail bungkam. Pria itu tertawa kencang mendengar perkataan Abigail yang menurutnya cukup menggelikan.


"Aku belum memutuskan apa yang akan aku lakukan padamu. Apa kamu bisa memberiku ide? Aku ingin ide paling kejam yang bisa membuat Raiden menderita," cetus Evan.

__ADS_1


"Haruskah aku menembak kepalamu di depan Raiden? Apa hal ini bisa membuat dia gila nantinya?" oceh Evan sembari mengarahkan senapan ke arah Abigail.


Abigail hanya bisa pasrah. Wanita itu tak dapat melakukan apa pun untuk melarikan diri apalagi melawan Evan.


"Kamu pikir setelah menyakitiku, kamu bisa menghancurkan Raiden?" tukas Abigail.


"Kamu lebih suka yang mana? Mati cepat dalam sekali tembak atau menikmati sayatan luka pelan-pelan? Mungkin sebaiknya aku mengulitimu di depan Raiden," ujar Evan mulai melontarkan ide-ide gila hanya demi membuat Raiden menderita dengan memanfaatkan Abigail.


"Sebaiknya kita bersiap sekarang sebelum pahlawan datang!"


****


"Kalian sudah mendapatkan lokasinya?" tanya Raiden dengan senyum cerah begitu ia mendapatkan laporan bagus dari orang suruhannya.


"Sudah, Tuan! Kami sudah memastikannya. Nyonya ada bersama dengan Tuan Evan."


"Pria brengsek itu masih saja ingin bertingkah di depanku?" geram Raiden.


Akhirnya setelah semalaman dibuat cemas, Raiden pun berhasil melacak keberadaan Evan dan Abigail. Dengan membawa 50 orang bodyguard beserta tim pelacak, pria itu pun berangkat menuju gudang tempat Abigail dan Evan berada.


"Tunggu aku, Abigail!"


Di tempat lain, Evan mulai menyadari jika gudang yang ia gunakan telah diintai oleh beberapa orang. Nampaknya pria itu tahu tak lama lagi Raiden pasti akan datang.


"Raiden benar-benar hebat, ya? Dia bisa cepat sekali menemukan tempat ini," oceh Evan sembari menyiapkan tali tambahan yang akan ia ikatkan pada Abigail.


"Tapi wajar saja jika Raiden dan Kakek bisa menemukanku dengan cepat. Mana mungkin aku bisa melawan orang-orang seperti mereka. Ya, kan?" sambungnya.


Abigail hanya diam tanpa menanggapi Evan yang mengoceh tidak jelas. Separuh hati wanita itu merasa lega saat tahu suaminya akan datang, tapi separuh hatinya mulai cemas mengkhawatirkan hal apa yang akan dilakukan Evan padanya.

__ADS_1


"Sebelum suamimu datang, kita harus menyiapkan kejutan, kan?" ujar Evan sembari menyeret Abigail untuk berpindah tempat dengan tali yang masih melilit di tubuh wanita itu.


Tak lama kemudian, Raiden dan puluhan bodyguard yang ia bawa akhirnya sampai di gudang yang digunakan oleh Evan. Begitu ia turun dari mobil dan hendak menyergap markas Evan, Raiden langsung disuguhi pemandangan menenangkan dari Evan yang berdiri di atap bangunan.


"Raiden! Lihat ini!" pekik Evan dengan suara kencang. Pria itu berdiri di atap bersama dengan Abigail. Tepat saat Raiden menoleh, Evan pun mendorong Abigail dan menggulingkan wanita itu dari atas atap gedung dengan posisi tangan dan kaki terikat terbalik.


Raiden mendengar teriakan kencang sang istri saat Abigail jatuh ke bawah dan menggelantung di tepi atap. Evan menahan tali yang mengikat Abigail dengan kaki kanannya dan membiarkan wanita itu bergelantungan di ketinggian dengan posisi tubuh terbalik.


Hati Raiden dibuat hancur saat ia melihat sang istri yang disakiti oleh Evan tepat di depan matanya. "Turun kau, Pria Brengsek! Jangan bawa-bawa istriku dalam kebencianmu padaku! Lampiaskan saja kebencianmu padaku!" geram Raiden.


Bodyguard yang datang bersama dengan Raiden pun lekas bergerak untuk menghampiri Evan di atas atap. Namun, tentu saja Evan melayangkan ancaman sebelum dirinya dikeroyok oleh anak buah Raiden.


"Jika kau berani melangkahkan kaki kemari, aku akan melepas tali ini! Istrimu akan jatuh ke bawah saat aku melepaskan tali ini!" teriak Evan. "Suruh anak buahmu diam kalau kau ingin istrimu selamat!"


Raiden benar-benar dibuat frustasi karena ancaman Evan. Abigail sudah berada tepat di depan matanya, tapi sayangnya Raiden tak dapat berkutik dan tak bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan sang istri.


"Sialan! Lepaskan istriku, Brengsek!" pekik Raiden tak tahan lagi melihat Abigail.


"Apa yang akan kau berikan padaku kalau aku membiarkan istrimu hidup?" tanya Evan.


"Apa yang kau inginkan? Aku akan memberikan apa pun demi istriku!"


Evan menyunggingkan senyum sinis. "Apa pun?"


"Kau mau apa? Lepaskan istriku sekarang juga, Brengsek!"


"Raiden, aku mempunyai penawaran menarik!" cetus Evan. "Aku akan memberikanmu dua pilihan, bagaimana?"


"Katakan saja, Brengsek! Jangan membuang-buang waktu!" geram Raiden.

__ADS_1


"Mana yang akan kau pilih? Hidup Abigail atau ... hidupmu?" tanya Evan. "Aku akan membiarkan Abigail hidup, jika kau menembak kepalamu sendiri saat ini juga!"


****


__ADS_2